Feature

Karier Istri Boleh Lebih Sukses, Tapi Jangan Sampai Jadi Alasan Untuk Bercerai

Saat membina bahtera rumah tangga, tak sedikit pria yang mengizinkan istrinya untuk bekerja. Tapi saat istrinya lebih sukses, pada kenyataannya masih banyak pria yang belum bisa menerima hal itu. Padahal, bukankah kesetaraan gender telah lama diserukan? Bahkan kondisi tersebut acap kali menjadi pemicu perceraian.

Padahal keputusan seorang istri untuk bekerja pada dasarnya atas izin suami bukan? Pertimbangan awalnya mungkin karena faktor finansial. Namun tak jarang ada juga suami yang memberikan izin bekerja demi mengejar karier dan kesuksesan yang memang sejak lama menjadi impian istrinya. Sehingga pernikahan diharapkan tak lagi menjadi batu sandungan untuk mengejar karier. Jika memang demikian, bukankah seharusnya tak perlu ada perceraian?

 

Sebagai Suami, Tak Perlu Minder Jika Istrimu Lebih Sukses, Apalagi Sejak Awal Pun Kamu Selalu Memberinya Dukungan

Psikolog Mira Anin menilai, pada dasarnya fenomena perceraian yang dipengaruhi karena kesuksesan seorang istri memang cenderung lebih banyak terjadi di masyarakat dengan budaya ketimuran seperti Indonesia. Apalagi seorang suami yang notabene seorang laki-laki memang lebih ditekankan untuk bisa mengungguli keberhasilan istri.

Situasi dimana istri lebih sukses akhirnya membuat suami cenderung minder. Entah kepada keluarga, teman dekat, bahkan tetangga sekitar.  Sebagai suami, sebaiknya kamu harus menepis rasa minder yang mulai muncul. Istrimu bisa mencapai suksesnya seperti sekarang ini juga berkat dukungan dan semangat darimu.

 

Menepis Rasa Minder Adalah Satu-satunya Kunci Agar Kamu Tak Melampiaskannya Pada Perselingkuhan

Sebagai suami, mungkin kamu akan merasa tersisihkan saat mengetahui karier istrimu kian memuncak. Rasanya berat sekali bertemu orang-orang yang menanyakan kabarmu dan memberi apresiasi begitu mendengar karier istrimu yang jauh lebih melesat. Di lain sisi, teman-temanmu yang tak mengerti kondisi hatimu justru menjadikan situasi ini sebagai bahan bercanda.

Rasa minder yang timbul dalam diri pun kian besar karena semakin lama kamu kian termakan situasi. Jika sudah berada dititik ini, tandanya kamu perlu mengontrol diri. Mira Anin menilai jika seorang suami tak mampu mengendalikan diri terhadap rasa mindernya, bukan tak mungkin ia justru memilih melampiaskan pada hal yang tidak benar seperti perselingkuhan dan perubahan sikap yang kian tertutup bahkan pada istrinya sendiri.

 

Untuk Istri, Jangan Lupa Berikan Apresiasi Terbaikmu Kepada Suami. Bagaimanapun Situasinya, Tetap Tunjukkan Padanya Kalau Dia Adalah Belahan Jiwamu!

Meski secara finansial, jenjang karier istri lebih tinggi maka bukan berarti kamu lantas mulai melupakan prinsip jika suami tetaplah pemimpin di dalam rumah tangga. Sebagai istri, jangan lupa untuk terus memerhatikan suamimu dalam berbagai aspek. Jangan lupa untuk memberikan apresiasi entah lewat kado kecil atau hal-hal romantis yang biasa kamu lakukan untuknya. Hal itu akan membantu menepis rasa mindernya serta membuatnya tetap percaya diri jika dia adalah suami terbaik untukmu. Jangan membuat situasi justru jadi lebih kaku dan perlahan lupa jika kalian adalah belahan jiwa yang telah disatukan lewat ikatan pernikahan.

 

Pernikahan Adalah Ikatan Seumur Hidup, Karenanya Penting untuk Selalu Terbuka Satu Sama Lain Demi Mempertahankan Ikatan Itu

Salah satu cara yang sangat efektif demi langgengnya pernikahan kalian adalah keterbukaan ditengah situasi apa pun. Mira mengatakan, istri harus mau menerima masukan dan pandangan dari suami meski dia merasa sudah meraih kesuksesannya. Saat di posisi ini, istri sebaiknya memahami ego pria. Begitu pun dengan suami, ia juga harus mengatakan ketidaksukaannya pada hal-hal yang terjadi lantaran target sang istri yang sibuk mengejar karier.

Dengan keterbukaan, komunikasi yang terjalin diantara kalian pun semakin berkualitas. Dengan demikian, baik istri maupun suami pun akan kompak saat menghadapi komentar keluarga besar maupun lingkungan sekitar. Karena pada dasarnya, kalian harus tetap saling support.

 

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Agar Tak Termakan Stresnya Jalanan Ibu Kota

INRIX, sebuah lembaga penganalisis data kemacetan lalu lintas yang berbasis di Washington, AS belum lama ini merilis peringkat kemacetan kota-kota di dunia. Terdapat sekurangnya 1.064 kota di seluruh dunia yang diteliti INRIX berkaitan dengan tingkat kemacetan ini.

Parahnya, dari ribuan kota di seluruh dunia itu, Jakarta sudah menempati peringkat 22 dunia sebagai kota dengan tingkat kemacetan terburuk. Menurut penelitian ini, para pengendara mobil di Jakarta menghabiskan waktu total 55 jam terjebak kemacetan selama satu tahun.

Cuma Jakarta? Jangan senang dulu, karena beberapa kota lain di Indonesia juga masuk ke dalam daftar kota termacet di dunia ini. Di bawah Jakarta ditempati Bandung (42,7 jam), Malang (39,3 jam), Yogyakarta (39,2 jam), dan Medan (36,7 jam).

Masalahnya urusan macet ini bukan cuma perkara kehabisan waktu di jalan. Namun juga merembet perkara lainnya. Menurut studi yang dipimpin oleh Profesor Psikologi dan Perilaku Sosial, Susan Charles, kekesalan yang dihadapi setiap hari akibat terjebak macet dapat menumpuk terus-menerus dan menyebabkan masalah kejiwaan di kemudian hari.

Nah, tak mau kejiwaan terganggu cuma karena urusan macet bukan? Setidaknya ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi stres di jalan ini.

Lebih Baik Menunggu Sebentar Daripada Harus Bertarung Di Jalan

Sesungguhnya macet juga tidak terjadi setiap waktu. Ada jam-jam tertentu dimana tingkat volume kendaraan mencapai puncaknya. Terkadang memang kita ingin segera sampai tujuan, namun memaksakan menerjang kemacetan di jam sibuk tentunya akan membuat kita lebih stres.

Pilihlah jam yang sedikit lebih bersahabat. Ketika pulang kantor misalnya, kamu bisa memundurkan sedikit waktu pulang agar terhindar dari puncak kemacetan ini. Meski sedikit lebih malam namun waktu tempuh biasanya lebih singkat dan kamu sedikit terbebas dari tekanan kemacetan.

Coba Ajak Teman Agar Tak Suntuk Sendirian

Kesendirian di dalam perjalanan bisa menimbulkan pikiran-pikiran yang negatif. Untuk itu, Kamu bisa mencari teman ngobrol selama perjalanan. Walaupun sedang macet, kehadiran teman ngobrol dapat membuat mood jadi lebih baik.

Lagi pula dengan perasaan senang biasanya waktu akan berlalu dengan cepat tanpa disadari. Jadi cobalah mengajak pulang teman yang pandai mencairkan suasana agar terhindar dari situasi stres.
Putar Lagu Agar Hati Tak Ragu

Penelitian yang dilakukan di University of Gothenburg menemukan bahwa dengan mendengarkan musik yang disukai setiap hari bisa menurunkan tingkat stres. Jika kamu sedang berkendara sendirian, cobalah memutar lagu kesukaan dan bernyanyilah.

Masalahnya lagu-lagu favorit biasanya ada di smartphone bukan? Nah, cobalah menghubungkan smartphone kamu dengan headunit yang ada di mobil. Seperti yang ada pada layar sentuh berukuran 7 inci milik mobil Renault KWID yang bisa mengatur sistem hiburan di dalam kabin mobil. Sistem pada Renault KWID ini bisa terintegrasi dengan ponsel menggunakan Bluetooth maupun melalui USB dan AUX.

Gunakan Aplikasi GPS, Agar Tak Melas Di jalan

Dengan kecanggihan teknologi kamu bisa menghindari titik kemacetan dengan menggunakan aplikasi map dan GPS. Sebelum berangkat kamu bisa memeriksa laporan lalulintas pada aplikasi tertentu untuk bisa memilih jalan. Dan ketika sudah dalam perjalanan tetap aktifkan aplikasi ini agar mudah jika ingin mencari jalur alternatif.

Tapi tentunya merepotkan jika harus bolak-balik memeriksa smartphone kamu ketika sambil menyetir. Seolah menjawab tantangan ini, Renault KWID juga membuat headunit layar sentuhnya bisa terintegrasi dengan smartphone termasuk membuka aplikasi peta. Perangkat tersebut juga bisa terintegrasi navigasi satelit dengan tampilan 2D/3D. Jadi tidak perlu menambahkan perangkat navigasi tambahan karena sudah tersedia dari pabrikan.

Pilih Kendaraan Yang Nyaman Dan Sesuai Dengan Perkotaan

Salah satu sumber stres di jalan adalah tidak sesuainya kendaraan yang digunakan dengan kondisi jalanan perkotaan. Apalagi jika kendaraan yang digunakan tidak bisa membuatmu merasa nyaman. Tentunya stres di jalan akan semakin meningkat.

Renault KWID bisa kamu pertimbangkan sebagai kendaraan yang menemanimu membelah macetnya perkotaan. Renault KWID memiliki dimensi panjang 3.679 mm, lebar 1.750 mm, dan tinggi 1.472 mm dengan jarak sumbu roda (wheelbase) mencapai 2.422 mm. Jika menilik dari dimensi ini KWID memang masuk di kategori City Car. Alias cukup ramping dan lincah dipakai di perkotaan.

Selain itu nilai plusnya KWID punya desain unik yang membuatnya bertipe cross over dengan tampilan SUV. Ciri paling kentalnya adalah ground clearance alias jarak bodi terendah ke tanah yang mencapai tinggi 180 mm. Jadi tak perlu khawatir kalau terpaksa melalui jalan yang tidak terlalu mulus.

Sementara untuk kelincahan Renault KWID ditopang mesin 1.000 cc tiga silinder dengan dua katup yang punya tenaga maksimal sebesar 68 PS torsi sebesar 91 Nm. Tentunya ini bisa membuat KWID lincah meliuk di perkotaan mengingat berat kosongnya yang hanya 670 kg.

Di sisi kenyamanannya, mobil seharga 119 jutaan ini lebih unggul dibandingkan kompetitor sekelasnya. Penggunaan suspensi depan MacPherson Strut dan suspensi belakang Twistbeam dengan coil spring turut mendukung kenyamanan ala Eropa.

Sementara untuk handling, Renault Kwid ringan untuk dibelokkan karena penggunaan electric power steering. Namun layaknya mobil Eropa lain setirnya terasa mantap dan tidak terlalu ringan sehingga masih enak untuk dikendalikan di dalam kota atau jalur tol bebas hambatan.
Jadi kendali ada di tanganmu, jangan sampai kamu termakan stresnya macet ibu kota ya!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Adakah yang Salah dari Laki-laki yang Ingin Menjadi Bapak Rumah Tangga?

Iya, bapak rumah tangga!

Tak perlu mengernyitkan kening tanda tak percaya, kamu memang tak salah baca. Pilihan setelah menikah kadang memang terlihat tak seimbang, konon perempuan boleh tetap bekerja atau memilih tinggal di rumah saja. Sedangkan laki-laki? Sebagai kepala rumah tangga ya harus bekerja.

Stereotip akan sekat antara peran laki-laki dan perempuan nampaknya memang sudah mendarah daging. Padahal, kini untuk urusan bekerja dan berpenghasilan perempuan tak lagi menemukan pagar penghalang. Lalu mengapa seorang laki-laki yang berkeinginan menjadi bapak rumah tangga, masih sangat tabu untuk kita terima?

Ini Bukan Tentang Siapa yang Akan Jadi Kepala dan Ibu Dalam Rumah Tangga, Tapi Bagaimana Membagi Peran Sesuai Kesepakatan

Sebagian besar kaum adam percaya, bahwa merekalah yang pantas jadi tulang punggung keluarga. Bukan tak ingin menghargai perspektif mereka akan peran seorang laki-laki dalam keluarga. Tapi ada pandangan lain yang memang harus kita terima pula, yaitu mereka yang ingin berbagi peran dengan istrinya.

Jangan dulu bilang ini adalah bentuk dari kelemahan seorang suami, karena keputusan tersebut tentu sudah melalui mediasi. Siapa yang akan tinggal di rumah, dan siapa yang akan bekerja keluar rumah. Tak ada yang salah, jika kedua belah pihak merasa nyaman untuk tetap menjalaninya.

Dan Masalah Utamanya, Jelas Pada Ideologi yang Dipercaya Oleh Masyarakat Kita

“Perempuan bebas memilih, mau di rumah atau bekerja, yang penting laki-laki tetap cari nafkah!”

Kalimat-kalimat seperti ini kerap kita dengar, ketika sedang berada pada acara kumpul keluarga atau penikahan seorang saudara. Meski didalam hati kadang kita tak terima, karena nampaknya itu tak selalu adil untuk kita. Baik laki-laki atau perempuan.

Tak hanya datang dari kepercayaan masyarakat saja, ternyata undang-undang di negara kita juga punya pandangan serupa. Tak percaya? Coba saja lirik UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pada pasal 31 ayat yang ke 3, disana dijelaskan bahwa “Suami adalah kepala keluarga dan istri adalah ibu rumah tangga”.

Dan paham semacam ini, masih berlaku hingga kini. Ketakutan tak akan diterima oleh masyarakat kadang meluluhkan niat akan keinginan untuk menentang sesuatu yang kadang tak bisa kita terima. 

Padahal Memilih Untuk Berada di Rumah, Tak Lantas Membuat Laki-laki Kehilangan Jati Dirinya

Melonjaknya kesempatan kaum hawa untuk menunjukkan eksistensinya kadang jadi sesuatu yang membuat laki-lak mengalah. Dari hal ini sepasang suami istri mungkin bisa belajar, bahwa bertukar peran tak akan menghapus kewajiban dan tanggung jawab masing-masing. Walau untuk urusan nafkah keluarga mungkin akan ditanggung sang istri. Tapi tak selalu penuh. 

Bukan Tentang Pantas Atau Tidaknya, Semua Akan Terlihat Baik Jika Dilihat dari Sisi yang Berbeda

Katakanlah tadinya kalian bedua tadinya sama-sama bekerja, kemudian mau tak mau harus ada yang mengalah untuk mengurus rumah tangga. Tak perlu bertahan pada gengsi, tapi bagaimana kenyataan yang akan kita dapati.

Bahkan tahun lalu industri perfilman India memberikan suguhan nuansa baru lewat sebuah film berjudul “Ki & Ka”. Dimana sang suami “Ka” memutuskan untuk menjadi bapak rumah tangga yang akan mengurusi semua pekerjaan rumah, sedangkan istrinya “Ki” pergi bekerja. Meski digambarkan pada sebuah film saja, tak menutup kemungkinan bahwa ada orang-orang yang seperti mereka.  

Emansipasi Tentu Jadi Salah Satu Hal yang Memicu Keinginan Mereka

Jangan dulu pikir bahwa pilihan ini justru akan menyusahkan istri dan para perempuan lain, toh ini sudah era emansipasi. Disamping itu, tidak sedikit perempuan yang mengaku tak mampu jadi ibu rumah tangga yang baik.

Toh menggantikan peran istri di rumah bukanlah sesuatu yang mudah. Dan laki-laki yang berani untuk mengambil pilihan ini tentulah mereka yang juga punya kemampuan baik dan pemahaman luas.  

Orang-orang seperti ini sadar, bahwa emansipasi yang banyak digadang-gadang tak hanya kesetaraan gender pada hal-hal tertentu saja. Peran didalam rumah tangga juga termasuk didalamnya.

Pilihan Ini Memang Masih Dipandang Sebelah Mata, Tapi Bukan Berarti Salah

Barangkali kita masih jarang mendengar istilah “stay home dad” atau Bapak Rumah Tangga. Tapi perlahan, seiring dengan perubahan zaman dan pemikiran beberapa orang yang telah sadar, banyak kampanye yang menyuarakan arti pentingnya laki-laki dalam mendukung pengembangan diri perempuan. Mulai dari partisipasi laki-laki dalam ranah domestik hingga peran ayah yang memang harusnya mendominasi untuk tumbuh kembang anak. Pasalnya menurut Psikiatris anak dari Amerika Serikat, Dr. Kyle D. Pruett, seorang bayi yang berusia 7 hingga 30 bulan, jauh lebih responsif pada sentuhan yang berasal dari ayah dibanding ibunya. 

Karena Bisa Jadi, Ini Adalah Salah Satu Cara Untuk Menikmati Hidup Bersama

Sebagai dua orang yang akan hidup bersama setelah menikah, tentu banyak hal yang patut dipertimbangkan. Salah satunya adalah keinginan pasangan yang akan tetap bekerja atau tidak. Jika ternyata cerita hidup yang kamu punya, justru berisi keinginan suami yang akan berhenti bekerja itu bukanlah pilihan buruk tentunya.

Bagi laki-laki yang mungkin tak nyaman dengan aturan serta ikatan dalam perusahaan, ini akan jadi berita baik. Tetap bisa bekerja dari rumah, sembari manggantikan tugas sang istri. 

Sejatinya orang yang tahu hal baik dan buruk dalam hidupmu adalah kamu dan pasangan. Tak perlu risau untuk cibiran orang. Jika ternyata itu adalah salah cara untuk hidup yang lebih bahagia, kenapa tidak?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Tips

Ini Bukan Soal Istri Yang Tak Bersyukur, Tapi Tentang Suami Pelaku Kekerasan Finansial

Mungkin istilah kekerasan fisik atau kekerasan verbal alias omongan lebih familiar di telinga. Sementara kekerasan finansial alias kekerasan keuangan, bisa jadi baru kali ini kamu dengar.

Apalagi di Indonesia, suami yang menjadi pelaku kekerasan finansial kerap berlindung di balik kata-kata “Rejeki sudah ada yang mengatur, jadi orang itu harus selalu bersyukur”. Walhasil perempuan seringkali tak paham sekaligus malu mengakui kalau dirinya menjadi korban kekerasan finansial.

Masalahnya kekerasan finansial ini biasanya tak berdiri sendiri. Pelaku juga umumnya melakukan kekerasan verbal yang bahkan berujung kepada fisik. Gawatnya kekerasan finansial ini tak jarang justru digunakan sebagai senjata ampuh, para laki-laki untuk mencegah perempuan meninggalkan hubungan yang penuh KDRT.

seperti dikutip dari situs Mommies Daily, Prita Hapsari Ghozie, Chief Financial dari Planner ZAP Finance menjelaskan tentang beberapa tipe kekerasan finansial ini.

Istri Dipaksa Bekerja Dengan Pendapatan Tinggi, Sementara Suami Ongkang-Ongkang Kaki

Jalannya rejeki memang kita tak pernah tahu. Bisa saja istri lebih punya penghasilan dibanding suami. Sehingga suami lebih memilih tinggal di rumah saja. Sampai disini tak masalah, karena memang ada yang disebut “stay home dad”

Tapi masalahnya kondisi istri bekerja ini akibat paksaan dan tekanan dari suaminya. Istri ditempatkan dalam situasi tertekan sehingga tak pernah terpikir kalau uang hasil kerjanya juga terdapat hak untuk dirinya sendiri. Dalam kondisi ekstrim kamu pasti pernah mendengar kasus suami yang menjual istrinya kepada banyak laki-laki lain dan menguasai uang “penghasilan” sang istri.

Istri Dilarang Bekerja, Tapi Nafkah Dari Suami Pas-Pasan

Ini tipe yang sebaliknya dari yang pertama. Istri dilarang total untuk bekerja oleh suami. Penyebabnya karena suami ingin menunjukkan otoritas dan kendalinyaa terhadap istrinya. Parahnya, istri hanya diberi uang bulanan yang pas-pasan. Situasi ini terus dipelihara agar istri merasa tergantung pada suaminya sebagai sumber keidupan.

Istri Sama Sekali Tak Diberi Uang Bulanan

Menurut Prita, ini adalah salah satu bentuk kekerasan finansial yang nyata. Ada 2 alasannya yang melatar belakangi kekerasan ini. Pertama karena memang karena si suami tidak bekerja. Sementara kedua karena suami memberikan pembatasan ketat terhadap keuangan.

Semua keluar masuk uang harus melalui dirinya sebagai suami.Serupa dengan yang sebelumnya Ini adalah suatu bentuk kontrol yang digunakan oleh suami agar menciptakan ketergantungan pada istri sehingga istri menjadi tergantung dan takut untuk pergi.

Istri Dipaksa Berhutang Untuk Menghidupi Biaya Bulanan

Bukannya mencari pekerjaan dan berusaha mendapat penghasilan, suami justru membiarkan istri begitu saja. Dengan sangat terpaksa harus berutang kiri kanan untuk mencukupi kebutuhan. Dan ketika utang sudah menumpuk suami memilih tidak mau tahu bagaimana cara menyelesaikan utang tersebut.

Suami Memakai Uang Istri Dan Tidak Pernah Merasa Perlu Mengembalikan

Prita menyebut tidak ada yang salah ketika istri memberikan bantuan modal kepada suami untuk memulai usaha. Namun tentunya jadi problem ketika istri mengajak diskusi dan bertanya soal realisasi keuntungan dari modal yang sudah dikeluarkan itu malah dimaki dan dibentak.

Suami Bekerja Namun Tak Memberikan Nafkah, Dengan Alasan Pendapatan Istri Lebih Dari Cukup

Dalam kasus ini, suami bekerja dan penghasilannya lebih dari cukup. Namun sang suami enggan untuk memberikan nafkah untuk menghidupi keluarga. Alsannya karena pendapatan istrinya yang juga bekerja sudah cukup untuk biaya bulanan rumah tangga.

Lantas Harus Apa?

Prita menyebut bahwa langkah paling pertama yang harus dilakukan adalah mencoba membicarakannya dengan suami. Penting bagi istri untuk mengutarakan perasaannya terhadap situasi yang menekannya tersebut.

Sekali lagi, ini bukan karena tak bersyukur tapi ini bisa merusak psikologis seseorang. Nah, masalahnya berbicara dengan suami soal ini memang kadang tak mudah.

Menurut Prita Seorang laki-laki yang mengalami kesulitan finansial akan mengalami fase depresi yang kemudian akan dilontarkan ke orang terdekatnya yaitu istri dan anak-anaknya. Kekerasan verbal dan finansial yang dilontarkan bisa jadi merupakan perwujudan dari permintaan pertolongan yang tertutupi oleh rasa marah.

Ketika kodisinya sudah sangat parah kehadiran pihak ketiga diperlukan untuk mencari solusi kekerasan tersebut. Bisa dimulai dari orang terdekat, seperti meminta pendapat orang tua istri atau suami. Bahkan jika memang diperlukan harus melibatkan psikolog, psikiater untuk menangani tekanan mental suami. Sementara urusan finansial bisa meminta bantuan perencana keuangan.

Ingat, kekerasan finansial biasanya taak berdiri sendiri. Kekerasan ini juga umum disertai kekerasan verbal dan fisik. Kamu tak mau dirimu dan anak-anakmu jadi korban bukan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Mendidik Anak Dengan Baik; Menuntun Tanpa Melibatkan Ambisi Orangtua

Penting untuk membantu anak agar mereka bisa menjadi sosok yang membanggakan. Namun membantu anak untuk mewujudkan keinginan dan mimpi-mimpinya pun tak kalah krusial. Mendidik anak untuk menjadi seperti yang dinginkan orangtuanya jelas bukan tindakan tepat. Pada kenyataanya untuk mewujudkan hal itu tidaklah mudah. Terkadang orangtua masih saja menyalahkan anak atas kenakalan atau kesalahan yang diperbuatnya tanpa bercermin apa yang telah diajarkannya padanya. Padahal, bukan tak mungkin orangtualah yang justru berperan paling besar dalam hal ini. Akan lebih baik bila orangtua menerapkan cara mendidik anak yang lebih baik dan efisien. Bukan waktunya lagi menggunakan cara kolot untuk mendidik anak, apalagi hingga menggunakan kekerasan.

Jangan Terlalu Sering Mengucapkan Kata-kata Kasar Di Depan Anak

Orangtua adalah guru anak yang utama sekaligus contoh konkret baginya. Apa yang dilakukan dan diucapkan orangtua adalah salah satu hal yang pasti akan ditiru oleh sang anak. Tidak hanya itu, jika orangtua tidak pandai dalam mengontrol perkataan, ucapan yang dilontarkannya bisa menjadi bumerang suatu saat nanti. Jangan pernah berkata kasar kepada anak. Selain hal itu akan mereka tiru, berkata kasar juga akan membuat mereka merasa selalu dipojokkan dan tak berharga.

Kekerasan Saat Mendidik Anak Jelas Tak Bisa Ditolerir Lagi

Banyak orangtua yang menyangka kekerasan adalah hal yang perlu dilakukan untuk mendisiplinkan anak. Tetapi terkadang orangtua lupa, mendidik anak dengan kekerasan akan melatih anak untuk melakukan hal yang sama pula. Kepribadian anak muncul dari cara orangtua mendidiknya. Saat mereka tumbuh di lingkungan yang keras, mereka pun dapat menjadi sosok dengan pribadi keras. Hal ini berlaku sebaliknya. Intinya, sebagai orangtua jangan pernah sesekali menggunakan cara kekerasan untuk membuat anak jera dan mengubahnya jadi pribadi yang disiplin. Kedisiplinan muncul bukan karena kekerasan, tetapi kebiasaan.

Berhenti Mengekang Anak, Apalagi Hingga Mengatur Masa Depannya

Hal ini yang kerap menjadi problematika dalam mendidik anak. Orangtua sudah sepatutnya mendampingi anak-anak. Tetapi bukan dengan cara mengekang dan mengatur segala hal termasuk masa depan sang anak. Anak perlu diberi kesempatan untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan keinginannya sendiri. Anak yang sering dikekang cenderung akan liar saat mereka berada jauh dari pengawasan orangtua. Biasakanlah memberi kesempatan pada mereka untuk mengambil langkah yang diinginkannya.

Sesekali Perhatikan Bakat Anak, Bantu Dia Untuk Mengembangkan Bakat Yang Dimilikinya

Bagaimana orangtua dapat mendidik anak dengan baik dan benar jika orangtua tidak memahami seperti apa anak mereka? Sebagai orangtua kita perlu memerhatikan apa bakat dan kekurangan anak-anak kita. Hal ini perlu dilakukan agar orangtua tidak salah dalam mengembangkan kemampuan yang menjadi bakat mereka, tapi pada kenyataannya itu adalah kekurangan mereka.  Orangtua yang baik adalah mereka yang mampu memahami bagaimana anaknya serta tahu cara paling tepat mendidiknya.

Biarkan Anak Memilih Jalannya Sendiri, Namun Tetap Ingatkan Saat Dia Tidak Berada Dijalan Yang Semestinya

Jangan mengekang dan biarkan anak-anak memilih jalannya sendiri. Tapi yang perlu diingat dan diperhatikan orangtua adalah dengan tidak melepas tapi memberikan kesempatan bagi anak untuk mencari tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan dan lakukan, serta usaha apa yang harus mereka kerjakan untuk mengembangkan kemampuannya.

Hargai Setiap Pencapaian Yang Berhasil Diraih Oleh Anak

Tidak perlu berlebihan dalam memberikan rewards kepada sang anak. Terkadang hal kecillah yang akan membuat anak-anak sadar bahwa orangtuanya selalu memperhatikan mereka dan selalu ada untuk mereka. Orangtua dapat memberikan penghargaan dengan sebuah pelukan, kecupan, atau mungkin ucapan yang membangun mereka untuk tetap semangat dan berjuang demi mimpinya.

Beri Anak Contoh Kontekstual Dalam Kehidupan Agar Dia Bisa Menjadi Pribadi Yang Bijaksana

Sebagian anak akan belajar dengan baik saat mereka diberi contoh langsung secara kontekstual. Orangtua sudah sepatutnya menunjukkan hal-hal yang ada di dalam kehidupan ini untuk dijadikan bahan pelajaran bagi anak-anak kita. Dengan cara ini, anak akan lebih bisa mengambil pelajaran langsung dari apa yang mereka lihat, dengar dan mereka alami sendiri. Jika orangtua hanya memberitahu anak-anaknya dengan cerita dan cerita, bukan hanya kebosanan yang mereka dapatkan, tetapi juga rasa meremehkan karena mereka tidak tahu dengan mata kepala mereka sendiri saat mereka berada pada posisi seperti yang kita ceritakan kepada mereka.

Didik Anak Dengan Contoh Nyata, Sebab Orangtua Adalah Contoh Dan Guru Utama Bagi Anak

Orang yang pertama dicari dan dibutuhkan oleh anak adalah orangtuanya. Oleh karena itu orangtua harus mampu menjadi contoh yang baik untuk anak. Bukan hanya dari tingkah laku saja, namun juga dari segala sisi. Orangtua menyandang tugas sebagai guru utama yang dibutuhkan anak untuk mendidiknya agar menjadi pribadi yang baik di waktu nanti. Bukan tidak mungkin saat orangtua menjadi contoh yang buruk, maka anak pun akan bertingkah laku buruk. Sesuai dengan pepatah yang menyebutkan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Begitu pula anak-anak kita, secara alamiah, mereka akan mewarisi segala tindak tanduk yang dimiliki orangtuanya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

MOST SHARE

To Top