Trending

Kamu Yang Gemar Berbohong Demi Simpati Dan Pujian, Kamu Itu Sakit Mythomania!

hidung gatal bohong

Kemarin kita sempat tersentak oleh Dwi Hartanto. Anak muda bergelar profesor yang sempat dijuluki “The Next Habibie” dengan segudang prestasi. Penyebutan sebagai “penerus habibie” memang bukan tanpa alasan.

Sebab, Dwi adalah salah satu orang Indonesia yang dianggap mempunyai capaian luar biasa untuk disandingkan dengan BJ Habibie. Pada tahun 2015, ia muncul di media massa atas karyanya di dunia aeronautika, karena disebut menciptakan Satellite Launch Vechile/SLV dengan teknologi termutakhir yang disebut The Apogee Ranger V7s (TARAV7s).

Tapi toh, kehebohan terakhir kemarin sedikit berbeda. Bukan karena prestasinya, tapi justru karena publik akhirnya mengetahui bahwa semua klaim prestasi Dwi Hartanto selama ini adalah kebohongan semata. Jangankan soal satelit, bahkan urusan gelar profesor pun ternyata belum dimiliki oleh Dwi yang masih berstatus mahasiswa doktoral.

Ini Bukan Kasus Besar Pertama, Malasnya Media Melakukan Investigasi Dituding Sebagai Penyebab

Ini memang bukan kali pertama publik kecele luar biasa dengan klaim sesat macam ini. Peran media yang cenderung malas menginvestigasi dituding jadi penyebab mudahnya orang macam Dwi mendapat panggung.

Kamu tentu masih ingat soal pria bernama Joko Suprapto yang mengklaim air yang bisa menggantikan bensin. Tidak main-main pria asal nganjuk Jawa Timur itu bahkan sampai diundang bertemu Presiden SBY di tahun 2007. Belakangan klaim soal energi air ini diketahui sesat dan tidak benar. Trafo pembangkit listrik yang semula didirikan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dibongkar dan ditemukan bahwa pembangkit listrik itu ternyata palsu.

Hal tersebut hanya secuil dari deretan kasus serupa. Mulai dari calon suami artis yang mengaku bekerja di Bulog, selebritis mengaku keturunan bangsawan hingga soal puisi-puisi adik sekolah menengah atas yang sempat heboh kemarin dan ternyata hanya di copas dari luar negeri.

Di Dunia Pun Skandal Pembohongan Publik Macam Ini Juga Terjadi 

Kasus besar seperti ini memang tak cuma di Indonesia. Di luar negeri “pembohong besar” macam ini juga ditemukan. Salah satu contoh paling parah adalah skandal Enric Marco. Pria Spanyol ini menghabiskan 30 tahun hidupnya dengan mengatakan bahwa dirinya telah dipenjara oleh Nazi di kamp konsentrasi Flossenburg, Jerman. Dia menerima penghargaan dari dunia internasional atas keberaniannya. Namun belakangan ditemukan bahwa Enric Marco hanya bohong belaka. Bohong selama 30 tahun lamanya!

Mereka Yang Gemar Berbohong Macam Ini Terkena Sakit Mythomania 

hidung gatal bohong

Di dunia psikologi, ada istilah mythomania atau kebohongan patologis. Seorang pembohong patologis tak hanya untuk mengelabui orang lain, tapi juga membohongi dirinya sendiri hingga ia percaya kebohongan itu benar.

Berbeda Dengan Orang Umumnya, Mythomania Berbohong Bukan Karena Ingin Mengambil Keuntungan

Semua orang pasti pernah berbohong dalam hidupnya. Namun kebohongan yang dilakukan oleh penderita gangguan Mythomania ini berbeda dengan kebohongan yang dilakukan orang umum.

Orang umum biasanya berbohong karena mekanisme pertahanan diri atau karena ingin mendapatkan keuntungan. Misalnya berbohong pura-pura sakit ketika hendak diperiksa KPK, karena tak mau bertanggung jawab. Atau berbohong hendak memberangkatkan puluhan ribu jemaah umroh padahal uangnya dipakai berfoya-foya.

Hal semacam itu tidak termasuk Mythomania. Karena pada penderita Mythomania, kondisi dan keadaan mereka sebetulnya tidak membutuhkan mereka berbohong. Dan mereka juga berbohong bukan karena ingin mengambil keuntungan.

Mythomania Berbohong Untuk Mendapatkan Simpati Dan Pengakuan, Kamu Salah Satunya?

Nah, pada penderita gangguan Mythomania, mereka berbohong hanya demi mendapatkan simpati dan pengakuan dari orang lain. Ketika ingin mendapatkan simpati mereka cenderung memperparah kondisi mereka yang sebenarnya. Menunjukan betapa tidak beruntungnya keadaan mereka. Betapa menderitanya hidup mereka.

Dan Sebaliknya ketika ingin mendapatkan pujian mereka cenderung melebih-lebihkan pencapaian mereka. Membual tentang prestasi yang tak ada atau membesar-besarkan skala pencapaiannya. Juara makan krupuk tingkat RT diakui sebagai level provinsi misalnya.

Jika kebohongan pertama berhasil, Mythomania akan makin membesar-besarkan ceritanya dan mereka menikmati itu. Menurut Psikolog Ajeng Raviando, Jika tidak ditangani lingkungan sekitarnya, mythomania bisa bertambah parah, tidak bisa bedakan mana yang benar dan salah.

Berbohong Bagi Penderita Mythomania Itu Serupa Candu 

Berbeda dengan manusia normal yang berbohong hanya untuk penyelamatan dan aksi ambil untung, untuk Mythomania, berbohong itu serupa candu. Menurut psikolog Ratih Zulhaqqi, orang yang memiliki gangguan psikologis ini kadang melakukannya tanpa sadar. Malah mereka tak merasa bersalah karena sudah terlalu sering berbohong dan jadi hal yang wajar. Sifatnya candu, dia harus selalu melakukan itu untuk membuat dirinya puas.

Gawatnya Karena Sudah Terbiasa Berbohong Para Mythomania Kadang Sulit Dideteksi 

Kadang kala, penderita mythomania sudah sangat lihai dalam berbohong sampai bahasa tubuhnya terlihat sangat wajar saat sedang membual. Bila sudah terbiasa bohong, mereka juga bisa membual soal hal-hal sepele. Sulit mencari sendi kehidupannya yang tak dibalut hal yang tak dibesar-besarkan.

Mythomania Penyebabnya Bisa Karena Dibiarkan Berbohong Sedari Kecil

Memang banyak hal yang bisa menyebabkan seseorang terkena gangguan Mythomania. Namun salah satunya adalah karena kesalahan dididikan orang tua dan lingkungan.

Mythomania bisa muncul ketika orang tua hanya memberikan perhatian pada hal-hal ekstrem yang terjadi pada anak. Baik itu hal yang buruk maupun hal yang baik. Misalnya anak hanya diberi tepukan tangan jika ia berhasil mencapai rangking satu saja. Tak ada penghargaan terhadap proses jika ia tidak mencapai peringkat satu.

Walhasil seorang anak mengaku-aku sebagai juara satu, padahal dia sama sekali tidak mendapat peringkat di kelas. Ketika orangtua dan lingkungan mendiamkan, maka dia merasa kebohongannya sah-sah saja dilakukan.

Adalah wajar bila orangtua membiarkan buah hatinya bicara hal yang tak sesuai kenyataan karena sewajarnya anak-anak memiliki imajinasi sendiri. Namun, orangtua harus waspada bila anak masih melakukan hal itu saat usianya sudah di atas 6-7 tahun.

Kasihannya Mythomania Ini Sesungguhnya Merasa Kosong Di Dalam

Mungkin bagi kita yang tak mengalami gangguan ini akan merasa bingung, kenapa sih harus berbohong untuk hal-hal semacam itu? Nah sebetulnya, mereka yang menderita Mythomania ini merasakan adanya kekosongan di dalam jiwa mereka.

Tidak ada cinta dan kasih sayang yang melingkupi mereka. Karena itu mereka merasa perlu melakukan kebohongan-kebohongan itu demi mendapat simpati dan pujian secara terus menerus.

Kamu Menghadapi Si Mythomania? Berhati-hati ya!

Kamu mungkin salah satu orang yang menghadapi para Mythomania ini. Mereka yang selalu mengundang drama dalam kehidupan mereka. Cari perhatian luar biasa dan beberapa kali kamu sudah menemukan kebohongannya.

Meski kamu belum merasakan kerugiannya secara langsung bagi dirimu, kamu tetap harus berhati-hati. Karena kebohongan yang satu akan berimbas untuk kebohongan yang lainnya. Kamu yang ada disekitarnya bukan tak mungkin akan dilibatkan dalam kebohongannya. Jika ini terjadi kamu juga yang akan rugi bukan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Untuk Kamu Yang Masih Punya Cita-Cita Jadi PNS, Ini Badan Pemerintah Tempatnya Para Milenial

Siapa bilang bekerja sebagai PNS identik dengan rekan kerja yang sudah paruh baya? Kalau di benakmu masih ada pola pikir yang demikian, wah berarti mainmu kurang jauh nih. Karena ada institusi pemerintah yang didominasi kaum milenial. Namanya Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan.  Apa menariknya institusi yang satu ini?

Hampir Separuh dari Total Pekerja di BKF adalah Milenial, Inilah Mengapa BKF Menawarkan Lingkungan Pekerjaan yang Dinamis

Yup, kamu tidak salah baca. Hampir separuh pegawai BKF itu kaum milenial loh! Kamu perlu tahu, BKF ini menawarkan hal baru untuk para generasi milenial yang punya dedikasi tinggi ingin membangun negeri.  Mungkin terdengar berat, tapi inilah yang memang dirintis oleh BKF terutama untuk generasi muda yang tengah berkarier di sana. Presentase pekerja BKF ini cukup variatif nan menarik lantaran sebanyak 58 persen dari total pekerja adalah para milenial!

Bukan cuma sekedar penghias, para pekerja milenial itu pun sudah dilibatkan dalam proses perumusan rekomendasi kebijakan di bidang perpajakan, penyusunan APBN, hingga melakukan penelitian dan analisis yang melibatkan banyak lembaga asing ternama. Betapa mereka sudah berkontribusi untuk negeri, bukan? Untuk mengakomodasi peran milenial ini pola kerja mereka pun dibuat lebih dinamis oleh BKF.

Peran Milenial Di BKF Itu Sangat Penting, Bahkan Jadi Penentu

Berbeda dengan di institusi lain, dimana milenial hanya sebagai pegawai entry level yang tak punya suara, di BKF para anak muda ini justru punya peran besar. Tak cuma sekedar ikut meeting sana sini dan buat laporan, mereka justru punya tugas menganalisa dan memberi pandangan terhadap sebuah kebijakan.

Lewat acara Bincang BKF: Peran Milenial Dalam Menyusun Kebijakan Fiskal  di Gedung Notohamiprodjo, Kemenkeu, pada Jumat (6/10) lalu, sejumlah pegawai muda BKF sangat antusias menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka menjadi bagian dari penyusun kebijakan fiskal.  Satu hal yang menguatkan kesan milenial dalam acara saat itu yaitu mereka memang masih berusia di bawah 30 tahun!

Para milenial Di BKF Bercerita Tentang Pengalamannya Bekerja Di Luar Kantor

Selagi muda, bukankah ini waktu yang tepat untuk membangun karier semaksimal mungkin? Kesempatan melihat kondisi di luar kantor tentunya akan jadi pengalaman menarik. Nah, BKF membuka peluang tersebut. Misalnya, di Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multirateral (PKPPIM) dan di Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral (PKRB), dari namanya saja sudah mengesankan betapa luasnya cakupan jobdesc pegawai BKF karena sampai mengurusi persoalan kebijakan lintas negara. Dalam bincang BKF kemarin diceritakan juga tentang pegawai BKF yang  merkesempatan diberangkatkan ke luar negeri demi mengemban tugas sebagai perwakilan dari Tanah Air. Menarik bukan?

Tepis Jauh-jauh Bayangan ‘PNS itu Magabut’, Hal Itu Tak Berlaku Bagi Para Milenial di BKF

Kamu yang masih lekat dengan stereotip PNS itu magabut alias makan gaji buta, percayalah, kamu tak akan menemukan hal itu di BKF. Setiap harinya selalu ada yang dikerjakan oleh para milenial BKF ini, sehingga bisa dikatakan mereka yang bekerja di BKF adalah para milenial yang produktif.

Bukankah menyenangkan jika di usia kurang dari 30 tahun, kamu dapat menyalurkan produktivitasmu untuk pekerjaan yang berkontribusi membangun bangsa? Karena pada dasarnya, peluang semacam ini belum tentu dimiliki setiap orang. Terpenting, BKF ini bukan hanya sebagai tempat mencari nafkah, tapi juga wadah untuk mengekspresikan potensi diri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Kenapa Sih Istilah Pribumi Masih Sensitif?

Kalau merujuk dari Kamus Besar Bahasa Indonesia alias KBBI, Pribumi diartikan sebagai penghuni asli; yang berasal dari tempat yang bersangkutan. Sebuah kata yang umum sebetulnya dan tak memiliki muatan apa-apa. Tapi kenapa istilah ini bisa menjadi begitu sensitif?

Di Era Kolonial Belanda Istilah Pribumi Digunakan Sebagai Alat Pecah Belah Dan Dalih Pembantaian

Belanda lewat organisasi VOC yang menguasai Indonesia saat itu membagi masyarakat menjadi tiga golongan. Pribumi alias Inlanders dipakai sebagai kelompok penduduk dari suku asli. Vreemde Oosterlingen, digunakan sebagai penyebutan keturunan Cina, India, Arab. Dan terakhir masyarakat Eropa Belanda sendiri. Sedari awal masing-masing golongan ini dibagi kastanya dengan hak dan kewajiban yang tak sama.

Memasuki Abad 17 imigrasi warga keturunan Tiong Hoa makin deras. Para pendatang ini dikenal baik tingkah lakunya dan lebih bisa berbaur dibanding warga Belanda Eropa. Ditambah kemampuan berdagang mereka yang di atas rata-rata, membuat VOC menjadi cemas.

Untuk mencegah kekuasaannya tergusur, akhirnya penangkapan dan penindasan dilakukan Belanda terhadap warga Tionghoa. Dengan menggunakan cap “non pribumi”, pembantaian pun dimulai 9 Oktober 1740 dan memakan korban jiwa lebih dari 10.000 jiwa. Mula-mula 500 orang Tionghoa yang ditahan dibantai. Kemudian VOC bergerak ke rumah sakit dan setelah itu meluas ke seantero kota. Peristiwa pembantaian orang-orang Cina di Batavia ini dikenal dengan Geger Pecinan.

Malapetaka Lima Belas Januari, Malapetaka Yang Juga Menggunakan Istilah Pribumi

Memasuki era 70-an sejumlah cendekiawan dan mahasiswa mulai merasa tak puas dengan kepemimpinan presiden Soeharto pada waktu itu. Besarnya peran modal asing khususnya Jepang dituding tak berpihak pada warga lokal.

Puncaknya pada 15 Januari 1974 bertepatan dengan kedatangan Perdana Menteri Jepang, Tanaka Kakuei ke Indonesia yang disambut aksi demonstrasi. Dengan menggaungkan istilah keberpihakan kepada pribumi, demo itu pun berubah menjadi kerusuhan yang dikenal dengan Malapetaka lima belas Januari alias Malari.

Jakarta berasap, penghancuran dan penjarahan terjadi di mana-mana. Belakangan tidak hanya menyasar produk-produk Jepang, massa juga melampiaskan kekesalannya kepada perusahaan-perusahaan Tionghoa. Pada Peristiwa Malari ini, setidaknya sebelas orang tewas dan 300 lainnya luka-luka. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dibakar, 144 bangunan ikut rusak. Sekitar 775 orang ditahan menyusul aksi pemerintah memadamkan kerusuhan tersebut, beberapa terdiri dari anak di bawah umur.

Mei 98, Ketika Istilah Pribumi Jadi Tameng Kekerasan Dan Istilah Non-Pribumi Jadi Alasan Menghunus Pedang

Selanjutnya tentu saja peristiwa kerusuhan 1998. Saat itu etnis Tionghoa menjadi korban kekerasan, penjarahan dan diskriminasi hebat. Peristiwa ini merupakan buntut dari kesenjangan ekonomi dan kebencian berdasar prasangka kepada etnis Tionghoa.

Sedihnya ketika itu masyarakat kita menuliskan kalimat “milik pribumi” pada rumah dan toko mereka agar aman dari pembakaran. Kalimat singkat tersebut kalau kita renungi sebetulnya berarti “ini milik pribumi, jangan dijarah dan dibakar” dan sebaliknya kalau tak ada tulisannya berarti “ini milik non pribumi silahkan di…”

Nyatanya ketika itu jatuh korban dari kita semua. Ya, kita semua! Sekian banyak korban jiwa yang meninggal karena terjebak dalam toko atau rumah yang terbakar. Harta benda banyak yang ludes terbakar dan dijaarah. Semua dikecam ketakutan dan ekonomi pun lumpuh.

Guna Meredam Rasa Sensitif Tersebut Habibie Pun Mengeluarkan Instruksi Presiden

Membaca urusan kata pribumi dan non pribumi yang begitu sensitif, Presiden Habibie yang menggantikan Presiden Soeharto pun bergerak cepat untuk melakukan rekonsiliasi nasional. Instruksi Presiden Nomor 26 tahun 1998 pun dikeluarkan, intinya tentang Menghentikan Penggunaan Istilah Pribumi dan Non pribumi dalam Semua Perumusan dan Penyelenggaraan Kebijakan, Perencanaan Program, ataupun Pelaksanaan Kegiatan Penyelenggaraan Pemerintahan. Dalam peraturan tersebut, penggunaan istilah pribumi dihentikan dalam semua kegiatan penyelenggaraan pemerintah. Penggunaan kata Warga Negara Indonesia alias WNI pun lebih dikedepankan.

Kampret Itu Binatang Sejenis Kelelawar, Tapi Salah Konteks Ketika Digunakan Dalam Kalimat Bisa Membuat Orang Marah Bukan?

Kata memang punya arti baku dalam kamus. Serupa kampret yang diterjemahkan sebagai kelelawar kecil pemakan serangga, hidungnya berlipat-lipat. Tapi pasti berbeda artinya jika kamu lontarkan itu kepada orang lain dengan nada yang kesal.

Nah, gambaran di atas hanya sebagian contoh kecil dari sekian banyak letupan peristiwa urusan yang berkaitan dengan istilah pribumi dan non pribumi. Dengan sejarah panjang soal kata pribumi dan non pribumi macam itu, menjadi wajar jika sebagian kita masih begitu sensitif dengan istilah tersebut.

Namun, tokoh-tokoh nasional macam Presiden Jokowi sampai yang terakhir Gubernur DKI Anies Baswedan sudah mulai menggunakan lagi istilah ini. Kita hanya bisa berharap, jika pun istilah itu masih akan digunakan, semoga sesuai konteks yang lebih positif.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Untuk Para Calon Istri, Bekali Diri dengan Skill Tertentu Agar Tetap Produktif Meski Tidak Bekerja

Menikah dan berumah tangga berarti siap menata kehidupan yang baru. Nantinya kamu tak lagi sendiri sebab harus tinggal bersama suami. Jika sebelumnya rutinitasmu adalah bekerja, bekerja, dan bekerja, setelah menikah jelas berbeda. Apalagi jika kamu dan suami sepakat kalau yang bekerja cukup suami saja, sementara istri tetap tinggal di rumah. Sudahkah kamu membayangkan apa saja yang bisa kamu lakukan? Kesampingkan dulu urusan rumah tangga (jelas itu sudah jadi tanggung jawab). Kali ini, kamu perlu tahu pentingnya skill lain yang wajib dimiliki. Sekalipun kamu nantinya hanya akan berada di rumah, bukan berarti tak bisa produktif. Karenanya, sebelum menikah, ada baiknya kamu perbanyak ilmu yang pastinya akan berguna saat kamu punya banyak waktu senggang. Bahkan kalau kamu terus meningkatkan kemampuanmu, barangkali skill itu justru bisa jadi pekerjaan sampingan yang menjanjikan.

Meski Setiap Orang Kini Punya Gawai Canggih, Punya Skill Fotografi Masih Jadi Nilai Lebih

Punya gawai canggih? Jangan cuma bisa selfie, lebih baik kamu perdalam skill fotografi. Mulailah menyediakan waktu untuk sekadar membaca buku panduan dasar fotografi yang mudah kamu temukan di toko buku. Atau kalau sekiranya terlalu mahal, kamu bisa belajar lewat internet bukan? Sekarang ini kalau mau belajar tapi malas baca, kamu bisa menonton tutorialnya lewat YouTube. Tapi saranku, tetap perdalam bahan bacaanmu ya! Bukan hanya teori, kamu pun bisa mendapat referensi bermain dengan angle kalau kamu rajin membaca dan praktik langsung. Dengan belajar fotografi, banyak hal menyenangkan yang kamu dapat. Apalagi kini postingan yang menonjolkan sisi visual nan artsy tengah digandrungi. Kamu bisa buktikan sendiri di Instagram, bagaimana orang berlomba-lomba mengabadikan momen lewat foto yang semenarik mungkin.

Mengasah Skill Menulis Lambat Laun Bisa Membentukmu Jadi Sosok yang Berkarakter dan Inspiratif

Siapa yang tidak bangga jika hasil karyamu dinikmati orang banyak? Mungkin itu yang dirasakan para penulis. Kamu pun bisa meniru jejak mereka. Sekiranya kamu yakin kalau bisa menulis, mengapa tidak? Belajar menulis sejak usia muda itu baik demi skill-mu di masa depan. Dibanding menghabiskan waktu untuk bergosip atau hal-hal yang tidak penting, lebih baik tuangkan pemikiranmu lewat tulisan. Siapa tahu saat orang membacanya, mereka jadi terinspirasi oleh karyamu itu. Belum  lagi jika tulisanmu tiba-tiba dilirik oleh para penerbit, bukan tak mungkin ini akan jadi kesempatan emas untuk lebih baik lagi.

Memasak Itu Bukan Semata Karena Kodrat Perempuan, Melainkan Keahlian yang Bisa Membuat Hati dan Perut Nyaman

Selain menyenangkan hati suami, punya skill memasak itu jadi nilai plus tersendiri. Kamu tak akan merasa bosan di rumah hanya karena merasa tak ada kerjaan. Kamu bisa coba resep baru dan bereksplorasi dengan beragam jenis makanan sampai akhirnya kamu menguasai resep tersebut. Kalau sekiranya mendapat respon positif dari suami dan keluargamu kelak, tak menutup kemungkinan kamu bisa coba usaha katering kecil-kecilan yang bisa menambah pundi-pundi tabunganmu. Menarik bukan?

Kamu Bisa Merajut? Percayalah, Skill Rajut Itu Tak Lekang Oleh Waktu

Kamu tak perlu takut dianggap kuno hanya karena skill merajutmu. Sekarang ini di Instagram justru banyak ibu muda yang sibuk membuka usaha kreasi rajutan sembari menjalankan peran mereka sebagai istri dan ibu rumah tangga. Selain ampuh mengusir rasa bosan, hasil rajutanmu pun punya bermanfaat. Kalau tertarik, kamu bisa coba menilik beragam tutorial merajut di YouTube. Bahan-bahan yang diperlukan pun cenderung mudah dan bisa dibeli lewat online. Intinya, saat ini banyak perempuan yang membekali diri mereka dengan skill DIY (Do-it-yourself) yang bisa membawa manfaat pada kemudian hari. Apalagi saat ini kehadiran tutorial di internet yang bersifat borderless kian memudahkan kita semua mempelajari hal baru. Jika mereka sudah berani mencoba, kamu kapan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Punya Banyak Teman Itu Tak Selalu Membuat Bahagia, Seringkali Hidup Malah Jadi Tak Nyaman

Apa sih rasanya punya banyak teman? Benarkah hidup jadi terasa seru saat jumlah teman melampaui jumlah Kurawa? Terasa populer, sudah pasti. Nongkrong ke mall A, tiba-tiba ketemu teman A, jalan-jalan ke tempat B, tiba-tiba ketemu teman yang lainnya. Mungkin itu yang akan kamu rasakan saat kuantitas temanmu cukup banyak.

Bukan berarti tak baik, justru itu tandanya kamu supel dan mudah menerima orang baru untuk jadi temanmu. Belum tentu semua orang bisa sepertimu. Tapi kalau bicara kualitas pertemanan, coba kamu renungkan sebentar. Sudahkah mereka yang hadir di kehidupanmu adalah teman yang benar-benar akan membawa dampak yang baik untukmu? Karena pada dasarnya, ternyata ada dampak negatif yang muncul dari mereka yang lebih mementingkan kuantitas teman dibanding kualitas pertemanan.

Kamu yang Tergolong Populer Justru Rentan Mengalami Masalah Kesehatan

Sepuluh tahun lalu, para peneliti dari Universitas Virginia melakukan studi yang melibatkan 169 remaja berumur 15 tahun dengan latar belakang ekonomi dan ras yang bervariasi. Hasil studi tersebut baru diterbitkan baru-baru ini dan banyak temuan baru yang diperoleh para peneliti itu. Berdasarkan penelitian tersebut, remaja yang memiliki lingkaran sosial kecil justru memiliki risiko menderita social anxiety yang lebih rendah. Mereka juga lebih mampu menghargai diri sendiri serta tak akan mudah didera depresi saat usianya 25 tahun. Sementara mereka yang dikenal populer dalam lingkup pergaulannya, risiko mengidap social anxiety jauh lebih tinggi.

Merasa Populer Membuat Seseorang Jadi Ketagihan Ingin Selalu Dianggap Trendsetter Sampai Melupakan Kehidupan yang Sebenarnya

Kita hidup di zaman media sosial dimana tingkat kepopuleran seseorang dinilai dari tingginya jumlah likes dan followers. Sayangnya tak semua orang bisa mengendalikan diri saat ia dianggap kategori populer. Karena terbiasa membaca kolom komentar dan mengikuti saran-saran para warganet demi terkesan keren, ada juga seseorang yang akhirnya kecanduan dengan media sosial sampai mood-nya pun diatur oleh bagaimana respon warganet atas postingannya. Kalau sudah demikian, kamu perlu hati-hati. Bukan apa-apa, hanya saja sewaktu-waktu kesehatan mentalmu bisa terancam.

The World Economic Forum and Harvard School of Public Health telah menunjukkan bahwa biaya yang harus dikeluarkan oleh ekonomi global untuk menanggulangi masalah kesehatan mental ini diperkirakan meningkat dari $2,5 trilliun pada 2010 menjadi $6 trilliun pada 2030. Biaya tersebut dikatakan lebih besar dari biaya yang harus dikeluarkan untuk menanggulangi penyakit kanker, diabetes serta penyakit pernapasan ringan yang dijadikan satu.

Teman Itu Bukan Hanya Kuantitas, Tapi Kamu Juga Perlu Membangun Pertemanan yang Berkualitas

Joseph Allen, seorang peneliti dari Universitas Virginia mengatakan, “Disukai oleh banyak orang tidak serta merta bisa menggantikan hubungan persahabatan yang saling mendukung satu sama lain.” Menambah teman memang dapat menambah wawasan. Tapi membangun kualitas pertemanan yang harusnya lebih diprioritaskan. Saat remaja, kamu mungkin tak sadar dengan siapa saja kamu mulai memupuk persahabatan itu. Kabar baiknya, berdasarkan penelitian tersebut, hubungan persahabatan yang baik kala remaja ternyata baru bisa dirasakan dampaknya ketika kita dewasa.

Para peneliti itu mengungkapkan, jalinan persahabatan yang sehat dapat membantu seseorang dan sahabatnya itu melewati masa pencarian jati diri dengan baik. Keberadaan sahabat pun mendorong terbentuknya perasaan positif pada diri seseorang. Kalau perasaan semacam ini senantiasa terjaga, maka kamu tak perlu lagi mengkhawatirkan kesehatan mentalmu.

Punya Banyak Teman Justru Jadi Keblinger Atau Punya Sedikit Teman Tapi Saling Mendukung?

Seperti halnya hubungan, kamu pun harus memiliki tujuan dalam persahabatan. Tujuannya tentu bukan perkara saling menguntungkan atau semacam ada maunya, tapi bagaimana kamu dan dia sama-sama dapat berkembang dan mampu menggali potensi diri. Teman yang baik adalah mereka yang terus mendukungmu agar terus maju. Mereka yang tulus berteman denganmu tak akan menjerumuskanmu pada hal-hal negatif. Situasinya berbeda jika lingkup pertemananmu cenderung luas. Bisa saja kamu dibutuhkan dua orang teman pada saat yang bersamaan. Apalagi kalau dua-duanya sama-sama tak mau mengalah, bukannya bisa membantu temanmu, kamu malah jadi keblinger sendiri. Duh…

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top