Video

Kamu Sering Lihat Seleb Ini, Tapi Mungkin Belum Tahu Fakta Unik Mereka!

Julia Perez, lulusan pesantren. Ia pernah mengenyam pendidikan di Pesantren Al Ihya Insan Kamil di Bogor, Jawa Barat.

Jupe

Pages: 1 2 3 4 5 6

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Keputusanku Untuk Menikah Muda Itu Tak Selamanya Merepotkan, Bahagianya Sama Seperti yang Diceritakan Ayah Ibuku Dulu  

Menikah di usia muda seringkali masih jadi perdebatan. Aku pun menyadari hal itu. Aku dan pasanganku memutuskan siap mengarungi bahtera rumah tangga di usia yang terbilang muda. Jika berbicara tentang pasangan usia muda adalah kami yang menikah pada rentang usia 18-25.

Di usia tersebut kebanyakan orang memang masih mengejar karier dan melanjutkan pendidikan. Itulah mengapa keputusan menikah muda sering diributkan. Mungkin perdebatan muncul karena sebagian orang terlalu khawatir jika menikah di usia muda justru akan menimbulkan masalah lantara belum siap secara emosional.  Apalagi jika sejatinya dia masih diminta memenuhi tuntutan keluarga yaitu menyelesaikan studi dan mapan terlebih dulu.

Jadi, benarkah menikah dan punya anak di usia muda begitu merepotkan?

Ada yang Memutuskan Menikah Muda Karena Memang Anjuran dari Keluarga, Jika Sudah Demikian, Mengapa Harus Dilarang?

Kamu tahu kan, pernikahan dini itu lazim terjadi pada zaman orangtua kita? Ada yang saat masih 17 tahun sudah menikah. Ada juga pria yang berani menikah di usia yang baru menginjak awal 20-an. Sejatinya pernikahan dini bukanlah hal baru.

Aku dan dia memutuskan menikah pun karena anjuran orangtua kami. Mereka menikah di usia yang terbilang muda. Mengapa kami memutuskan demikian? Sederhananya begini, jika kami menikah muda, di usia 30 atau awal 40-an, anak-anak kami kelak sudah besar. Itu artinya, saat kami menikmati masa pensiun, setidaknya kami sudah melihat anak-anak kami sudah cukup usia serta siap menapaki jalan dan kariernya masing-masing.

Menikah Muda Tak Selalu Membuatmu Tertekan, Justru yang Ada Kita Dibentuk Untuk Memperbaiki Kondisi Psikologis

Ternyata ada satu hasil penelitian menarik, yaitu pernikahan yang dimulai lebih cepat pada usia 18-25 tahun akan memberikan pengaruh yang lebih cepat dan baik bagi perkembangan kesehatan psikologis pasangan. Penelitian ini dimaksudkan setelah mengadakan penelitian terhadap 8 ribu pasangan muda.

Memaknai Hidup Itu Penting, Para Pasangan yang Memilih Menikah Muda adalah Mereka yang Sedang Berjuang Meningkatkan Kualitas Hidup

Biasanya memang sebelum menikah, seseorang umumnya tak terlalu menganggap penting kondisi tubuh. Kebanyakan dari kita pasti berbuat sesuka hati dengan makan makanan apa pun bahkan mengonsumsi alkohol. Kebiasaan tak sehat lainnya seperti sering pulang malam bahkan tak giat merawat diri identik dengan seseorang yang belum menikah.

Orangtua pun pernah berpesan, dengan menikah biasanya seseorang akan terpacu menjadi sosok yang lebih baik lagi. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga demi pasangannya. Siapa yang tidak ingin membuat pasangannya bahagia? Peningkatan kualitas hidup pun kian terpacu terlebih sudah lahir seorang anak. Bukan tak mungkin dia yang semula hidup ‘asal-asalan’ namun setelah menikah terlihat jauh berperilaku lebih sehat.

Kami yang Menikah Muda Sejatinya Lebih Baik dalam Mengelola Stres

Menikah bukan hanya soal penyatuan dua individu dalam sebuah ikatan yang sah. Tapi juga tentang bagaimana kami berdua melakoni dan melanjutkan hari-hari kami ke depannya. Dengan hidup bersama, kami yakin dan siap untuk jadi sosok yang lebih mandiri dan bertanggung jawab. Seperti halnya nasehat ibuku, aku akan belajar untuk mengatur emosi lebih baik dibanding masa-masa sebelum menikah.

Sekali Lagi, Jarak Usia Anak dan Orangtua Nantinya yang Tidak Terlalu Jauh Tak Akan Membuat Sang Anak Kesulitan

Dengan kondisi psikologis yang baik, pasangan yang menikah muda diketahui punya potensi menghasilkan keturunan yang lebih berkualitas. Di samping itu, kamu juga perlu tahu jika peningkatan kualitas relasi antar keluarga sejatinya bisa dimulai jika jarak atau rentang usia anak dan orang tua tidak terlalu jauh.

Sekarang, keputusan menikah muda yang telah kupilih memang karena aku ingin membangun keluarga yang punya hubungan yang berkualitas. Tekadku kian kuat lantaran aku melihat ayah ibuku kini masih terbilang bugar saat mereka mengantarkanku menikah. Merekalah indikator terdekat bagiku untuk berani mengambil keputusan menikah muda.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Nyatanya Kamu Memang Bebal, Apalagi Caramu Menguntit Aktivitasku Benar-benar Membuatku Sebal

Punya penggemar itu tak selalu menyenangkan. Bukannya aku terlalu bermegah diri, tapi yang aku rasakan memang seperti ini. Aku pun tak ingin menjelma bak artis yang punya banyak penggemar. Aku hanya ingin hidupku tenang. Tapi ketika kamu datang, hal itu hanya tinggal angan belaka.

Aku tahun kamu memang karena kita pernah berkenalan. Tapi tak lantas hal itu meninggalkan kesan yang cukup spesial. Aku menjabat tanganmu hanya karena memang demikian etika dalam berkenalan, bukan?

Kamu mungkin perlu tahu, aku pun bukan orang yang suka pilih-pilih teman. Hanya saja, caramu yang ingin berteman denganku justru membuatku risih. Sebenarnya ada apa denganmu?

Kita Tak Pernah Bertukar Nomor, Tapi Tiba-tiba Kamu Mengirimi Pesan Singkat dengan Alasan Ingin Berkenalan Lebih Jauh Denganku

Siapa yang suka nomornya disebar untuk keperluan yang tidak bertanggung jawab? Tiba-tiba saja hari itu ada pesan singkat yang mampir ke ponselku. Lantaran penasaran, kubalas hanya karena aku ingin tahu siapa pengirimnya. Tapi kamu justru salah arti, memancing-mancing agar durasi obrolan kian panjang.

Sebentar, aku masih tak tahu siapa kamu. Selain karena kamu enggan memberitahukan siapa dirimu, pertanyaan yang kamu lontarkan pun membosankan. Jangan salahkan aku jika akhirnya pesanmu hanya kudiamkan.

Kamu Mengaku Sering Melihatku dari Jauh dan Merasa Penasaran Denganku. Mengapa Kamu Tidak Menyapaku Secara Langsung? Diam-diam Begini Justru Membuatku Risih

Sejujurnya aku lebih nyaman berteman dan berkenalan dengan orang yang wujudnya pernah kulihat. Mengapa? Karena dari situ aku bisa mengenalnya secara terbuka, bukan dengan kucing-kucingan sepertimu ini. Kamu mengaku malu kalau harus berkenalan. Tapi kukira bukankah lebih baik kamu mengatasinya dengan mengajakku berkenalan secara langsung? Bukankah itu juga akan melatihmu agar bisa berinteraksi lebih baik lagi saat berada di lingkungan sosialmu?

Aku tak keberatan jika harus menyapa orang baru. Sekalipun mungkin kita belum pernah bertemu sebelumnya, dengan mendapat teman baru, aku akan jauh lebih menghargai dibanding caramu yang kelihatan seperti penguntit begini.

Percakapanmu Denganku pun Terbatas, Tapi Tiba-tiba Saja Kamu Tahu Alamat Rumahku dan Mulai Mengirimiku Paket-paket yang Tak Pernah Aku Minta

Tiba-tiba saja ada sebuket bunga tanpa nama pengirim. Atau ketika aku tiba di kantor, ada paket berisi makanan di atas mejaku. Bukannya aku tak menghargai, tapi hal-hal seperti ini membuatku kesal sendiri. Mungkin menurutmu aku akan tersenyum melihat upaya ‘so sweet’-mu, tapi untuk apa jika mencantumkan nama pengirim saja kamu tidak berani? Aku akan sangat menghargai siapa pun yang berusaha peduli padaku, tapi bukankah ada cara yang lebih lazim dibanding seperti ini?

Sebentar, aku tak pernah sembarangan menyebarkan alamat rumahku. Tapi dengan tindakanmu ini, aku jadi berpikir yang tidak-tidak tentangmu. Kamu mungkin harus tahu, tingkah seperti ini sama sekali tak mengusik rasa penasaranku. Sebaliknya, aku jadi was-was dan tentu saja menguji kesabaranku.

Tiba-tiba Saja Ada Paket dan Pesan Masuk Lainnya yang Kuterima. Kamu Bilang, Kamu Menyukaiku dan Ingin Jadi Pacarku

Tak ada angin tak ada hujan, tetiba kamu menghujani pesan masukku dengan kata-kata romantis yang berujung sebuah pengakuan jika kamu sudah memendam perasaan padaku sekian lama. Benarkah? Inikah caramu setiap kali menyatakan perasaanmu?

Aku sampai kehabisan kata dengan tingkah lakumu, yang bahkan aku saja tak mengenalmu. Tapi kamu benar-benar sudah mengganggu hari-hariku. Bukan aku menutup kesempatan dan membuatmu patah hati, hanya saja caramu kali ini yang membuatku risih. Mau sampai kapan kamu terus begini?

‘Terormu’ Terus Berlanjut. Kamu Mulai Mem-follow Semua Teman Dekatku. Bahkan Ketika Aku Punya Kekasih Baru, Kamu Tak Segan Mencari Tahu Tentangnya. Siapalah Aku Hingga Harus Menghadapi Orang Sepertimu?

Kamu benar-benar menjadi stalker tingkat dewa! Hampir semua orang di lingkup pertemananku sudah masuk dalam daftar wajibmu untuk di-follow. Pun dengan dia yang kini resmi jadi kekasihku, kamu bahkan menyerangnya dengan pertanyaan yang sejatinya tak perlu kamu lontarkan.

Sadarkah kamu jika tingkahmu sudah melanggar privasi seseorang? Mungkin ini yang dirasakan banyak selebritis Hollywood saat ingin hidup bebas tapi tak bisa menghindari sorotan paparazzi. Tapi, siapalah aku? Aku hanya ingin bernapas lega. Pagi dan malamku tak lagi setenang dulu sebelum kamu melancarkan ‘terormu’.

Maaf, Tapi Tampaknya Semua Keresahan Yang Selama Ini Aku Rasakan Hanya Akan Hilang Dengan Memblokmu Di Semua Sosial Media Milikku

Jika kamu tak lagi dapat menghubungiku, atau hanya tertera ceklis satu di pesan instan itu, setidaknya kamu perlu sadar akan satu hal: aku sudah memblokmu. Nyatanya memang itu yang bisa aku lakukan dibanding repot-repot melaporkan tingkahmu dan menjadikannya sebuah perkara besar.

Aku yakin kamu masih punya kehidupan layak yang lebih menyenangkan untuk dinikmati. Semoga kamu bisa menemukan hobi yang lebih positif dan hidupmu bisa berdampak bagi teman-temanmu. Cukuplah aku yang menjadi ‘korbanmu’. Sampai jumpa, Stalker!

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Aku Bukan Takut Menikah, Aku Hanya…

Ucapan selamat saat teman menikah, sering sekali dibalas dengan “semoga cepat nyusul ya!”. Aku tahu itu memang jadi sebuah doa, tapi apa salah jika saat ini aku masih belum juga ingin untuk menikah?

Tak hanya dari orangtua, mereka yang mengaku teman juga turut serta memborbardirku dengan pertanyaan seputar pernikahan. Hingga kadang membuatku kewalahan.

Bukan tak suka, aku tahu itu adalah bentuk cinta dari mereka. Namun nampaknya aku memang perlu untuk menjelaskan. Karena sesungguhnya keputusanku ini bukan karena takut menikah. Aku hanya sedang menjalani apa yang kupercaya. Dan itu hanya untuk saat ini, bukan berarti selamanya. 

 

Pasti Aku Juga Ingin Menikah, Tapi Masih Ada Mimpi Yang Mesti Aku Lunasi

Tak ubahnya malam yang berganti dengan pagi, pertanyaan atas kapan waktu bahagia itu akan tiba selalu datang silih berganti. Tak perlu merasa takut atau khawatir terhadapku. Sama seperti yang lainnya, aku ini tentulah manusia normal biasa yang juga tentu ingin menikah.

Kalimat-kalimat yang terangkai jadi pertanyan kapan akan menikah, rasanya akan jauh lebih baik jika disampaikan dengan doa yang tak perlu di dengar oleh siapa-siapa. Lagi pula masih ada banyak janji dan mimpi yang harus kulunasi sendiri. Jadi tak perlu memburuku dengan pertanyaan itu lagi, setiap waktu. 

 

Lagipula Menemukan Dia Yang Bisa Sejalan Tak Semudah Memilih Baju Yang Kita Disuka

Untuk urusan menikah, tentu aku butuh orang lain untuk melakukannya. Dia yang kelak jadi pasangan mungkin masih jadi rahasia dari semesta. Untuk itu tak perlu berkali-kali bertanya untuk hal yang sama. Pahamilah bahwa hal itu juga jadi sesuatu yang sedang aku upayakan sepenuhnya. Meski mungkin tak akan dijadikan nyata untuk sekarang.

Memang tentu mudah untuk menemukan dia yang kita suka. Namun lagi-lagi semua yang terjadi kadang tak sejalan dengan apa yang kita harapnya. Dia yang kita jadikan pilihan, belum tentu jadi jawaban.

 

Menikah Bukan Hanya Perkara Mengucap Janji Untuk Sehidup Semati, Lebih Dari Itu Ada Banyak Hal Yang Sedang Berusaha Aku Penuhi Saat Ini

Tak hanya mereka yang gagal menikah saja, dia yang terlihat bahagia juga tentu tahu bahwa menikah tak selalu bahagia. Hidup berdua dengan pasangan kita, menabung untuk membeli rumah, punya anak lalu membesarkannya. tentu itu semua tak semudah saat kita mengucapkannya.

Ibadah yang satu ini tentu tak seperti ibadah yang lainnya. Aku tak ingin salah dalam melangkah. Jadi wajar saja jika saat ini aku masih memilih untuk sendiri, sembari membenahi diri agar lebih baik lagi. Tak apa jika akan memakan waktu lama, karena aku ingin pernikahanku kelak untuk selamanya.

 

Kalian Mungkin Sudah Bosan Untuk Bertanya, Begitu Pula Aku Ketika Mendengarnya

Sebenarnya tak perlu repot-repot untuk mengingatku apalagi untuk sekedar menikah. Aku tentu sangat berterimakasih untuk segala bentuk cinta yang kalian jadikan pertanyaan. Tapi bagaimana jika semua rasa penasaran dan kegundahan yang ada, disatukan dalam doa. Kurasa itu jauh lebih baik daripada sekedar bertanya.

Lagi pula kalian juga tentu akan merasa bosan, karena setiap kali bertanya. Jawaban yang kuberi masih sama. Dan jika ingin tahu apa yang sedang aku rasa, mungkin sama seperti yang kalian rasa. Aku bosan untuk menjawab dengan hal yang sama.

 

Tapi Terserah Jika Memang Ingin Menilaiku Takut Menikah, Karena Ini Adalah Pilihan Yang Sedang Kupercaya

Dia yang masih belum menikah sering sekali dihubungkan dengan hal-hal buruk yang kadang belum tentu benar. Mulai dari terlalu pemilih hingga tak ada yang mau menikahi. Namun meski sering diterpa dengan bahasa yang begitu kerasnya. Aku tentu tak akan merasa keberatan ataupun marah.

Sesuatu yang sedang aku jalani adalah sebuah pilihan yang memang sudah aku yakini. Jadi meski alasanku yang belum ingin menikah dinilai sebagai sesuatu yang terlalu naif. Aku tentu tak akan membantah atau balas melempar tanya. Toh semua orang berhak menilai apa pun.

 

Karena Menikah Bukanlah Ajang Lomba Yang Harus Dimenangkan, Begitu Pula Dengan Usia Yang Sering Dijadikan Batasan

Pernikahan tak sekedar hidup berdua dengan pasangan, lebih dari itu ada hal dan tanggung jawab lainya yang patut untuk dipertimbangkan. Ketika nanti aku sudah berani untuk memutuskan untuk menikah. Itu artinya diriku telah berjanji untuk tak lagi sama.

Hidup yang kita punya tentu akan berubah, berjalan bersama dengan dia untuk menyamakan langkah. Dan tentu saja separuh hidup milikku akan menjadi miliknya.

Disisi lain, semua hal itu tentu masih jadi bahan pertimbangan. Dan jika memang sudah benar-benar ingin dan siap tentu saja aku akan menikah. Ini semua bukanlah perkara siapa yang lebih dulu dan siapa yang lebih lambat. Karena ini bukanlah sebuah ajang lomba yang harus dimenangkan. Apalagi jika alasannya adalah batas usia yang katanya sudah saatnya.

Jika saatnya akan tiba, tentu aku juga akan menikah!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Gobagi berusaha menyajikan informasi yang layak untuk diperbincangkan. Tak perlu khawatir dengan berita hoax, bohong dan lainnya, karena info menarik yang ditemui dalam situs ini sebelumnya sudah melalui proses kurasi. Dengan begitu situs ini ingin menghindari kesalahan informasi yang tak perlu.

Facebook

To Top