Trending

Kamu Bisa Berteriak Senang Untuk Gol Yang Tercipta, Tapi Lupa Pada Mereka Yang Juga Telah Berjuang Untuk Bangsa

Hiruk pikuk peristiwa yang melanda tanah air jelas jadi sorotan masyarakat Indonesia. Tak terkecuali perhelatan akbar olahraga yang digelar setiap empat tahun sekali. Ya, SEA Games 2017 yang berlangsung di Malaysia ternyata telah berhasil menyatukan suara seluruh penduduk negeri ini.

Berkaca dari bersatunya suara warga Indonesia pada peristiwa terbaliknya bendera Indonesia di Kuala Lumpur belum lama ini, harusnya membuat kita bisa jauh lebih kompak dalam segala hal. Namun alih-alih tetap kompak mendukung segala ajang perlombaan yang diikuti Indonesia, sebagian besar dari masyarakat kita masih lebih fokus pada ajang-ajang tertentu saja. Seolah perlu diingatkan bahwa masih ada putra-putri  bangsa yang juga turut berjuang mati-matian demi menghadiahkan medali emas untuk Indonesia.

Benar Memang Seluruh Belahan Dunia Tahu Bahwa Sepak Bola Jadi Olahraga Nomor Satu, Tapi…

Meski Amerika dan Australia tak menempatkan sepak bola jadi olahraga paling populer, rasanya seluruh warga bumi memang akan setuju jika cabang olahraga ini digemari oleh hampir seisi penduduk d

Sepak bola sendiri lahir di daratan Cina yang berawal dari masyarakat negeri tirai bambu ini pada abad ke-2 sampai dengan ke-3 SM. Pada perkembangannya olah raga ini berhasil jadi pemenang dalam hal olah raga. Tak perlu jauh-jauh, kita bisa merasakan seniri bagaimana luar biasanya antusiasme orang-orang terdekat setiap kali ada pertandingan sepak bola.

Sepak bola bak sihir yang susah untuk disembuhkan, pesonanya sanggup mempengaruhi orang untuk menjadikan hal ini sebagai fokus pikiran. Kita bisa melihat ini dari luar biasanya antusiasme sebagian besar orang pada pertandingan di SEA Games 2017 yang sedang berlangsung saat ini hingga 31 agustus 2017 nanti.

Besarnya harapan masyarakat atas kemenangan tim sepak bola yang sedang bertandang, menjadi sesuatu yang justru menunjukkan betapa diskriminatifnya kita. Ya, kita terlalu mengelu-elukan sepak bola, hingga lupa pada cabang olahraga lain yang atletnya pun sedang berjuang keras untuk mengharumkan nama Indonesia.

Obsesi Yang Tinggi Pada Suatu Hal Bukanlah Masalah, Tapi Tentu Juga Harus Peduli Pada Sisi Lain Yang Sama Pentingnya

Jika ditanya bagaimana hasil terakhir pertandingan sepak bola tim Garuda melawan Kamboja kemarin, dipastikan hampir semua akan bisa menjawabanya. Sungguh itu tak salah, toh mereka juga membawa nama bangsa.

Tapi jika ada pertanyaan, tahukah kamu jajaran nama atlet lain yang sudah menyumbang emas untuk Indonesia? Mungkin kamu akan terdiam, lalu berdalih jika tak suka pada olahraga lainnya. Kamu memang tak salah bila bersikap demikian, sebab untuk memutuskan suka dan tak suka adalah hak masing-masing individu.

Namun adilkah kita yang hanya antusias pada salah satu cabang olahraga tertentu, namun lupa pada mereka yang juga telah berjuang dengan tujuan yang sama? Mungkin kamu juga tak mengenal sosok pada foto di atas.

Dia adalah Rifda Irfana Luthfi salah satu atlet peraih medali terbanyak dibanyak nomor, terutama medali emas pada cabang olahraga Gymnastic. Ya, dia melakukan hal itu hanya untuk Indonesia. Bukankah dia juga memiliki hak yang sama untuk dielu-elukan?

Bukan Tak Suka Bola Atau Ingin Menyudutkan Pecintanya, Ini Hanya Sebuah Pertanyaan Atas Banyaknya Ketimpangan Yang Ada 

Tanpa bermaksud untuk memojokkan satu pihak saja, sebenarnya ini hanya sebuah renungan atas cerita panjang yang rasanya telalu lelah bila masih saja akan terjadi berkali-kali. Cerita yang selalu saja diulang, bagaimana kita mengelu-elukan mereka yang sedang bertaruh nyawa. Lalu berubah jadi beringas ketika yang diharapkan tak jua jadi nyata.

Pernahkah kita memikirkan isi hati atlet lain? Bisa jadi mereka juga berharap hal yang sama. Dielu-elukan dan diberi semangat dengan teriakan dari luar lapangan. Lah masak atlet berharap seperti itu? Tentu tidak demikian. Ini hanya sebuah gambaran bagaimana mereka juga sebenarnya juga membutuhkan teriakan semangat dari kita.

Jika Menyatukan Suara Untuk Protes Pada Malaysia Saja Bisa, Harusnya Kita Juga Bersatu Untuk Hal Lain Yang Lebih Baik

Kesalahan tuan rumah SEA Games atas insiden terbaliknya bendera negara kita, tentu jadi sesuatu yang memang sangat disayangkan. Bahkan Menpora Imam Nahrawi juga menunjukkan kekesalannya. Tak pelak seruan para netizen tanah air lewat tagar #ShameOnYouMalaysia jadi respon kekesalan sekaligus menunjukkan kompaknya warga Indonesia. Kekompakan tersebut jelas angin segar untuk kita yang setahun terakhir ini dihadapkan dengan perseteruan beberapa kelompok.

Meski sudah menyampaikan permintaan maafnya melalui Perdana Menteri Malaysia, hal itu tak lantas menghentikan beberapa seruan yang tetap dilontarkan Padahal kita tentu tahu, bahwa semua yang kita bagikan dengan tagar tersebut tentu tidaklah menyelesaikan masalah. Bukankah akan menjadi lebih baik bila kekompakan tersebut kita gunakan untuk mendukung mereka yang tengah berjuang keras demi mengharumkan Indonesia?

Tak ada niatan untuk menyalahkan kesukaanmu, hanya saja sikap kita memang terasa masih jauh dari kata adil bagi mereka yang juga berjuang sama kerasnya untuk negeri ini.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Karena Naik Motor Bukan Sekedar Menyalakan Mesin, Ini Safety Riding Yang Wajib Dilakukan

Berkendara di jalanan, bisa berarti kita sedang berataruh nyawa. Tak percaya? coba lihat berapa banyak nyawa yang hilang karena kecalakaan di jalan saat sedang berkendara. Bahkan dari data dari Analisa dan Evaluasi (Anev) Laka lantas POLRI, ada sekitar 105.374 kasus kecelakaan lalu lintas yang terjadi sepanjang tahun 2016. Dan sebagian besar penyebabnya adalah kelalaian saat bekendara.

Sebagian dari kita mungkin merasa sudah paham bagaimana cara berkendara dengan benar. Tapi justru karena merasa diri sudah tahu, kita malah mengabaikan tindakan yang seharusnya dilakukan. Nah untuk itu, demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan selama dijalan. Cobalah pahami dan jalankan prosedur safety riding ini dengan benar.

Pastikan Jika Kepala Milik Kita Selalu Memakai Helm Yang Akan Melindunginya

Benar, memakai helm jadi salah satu kebutuhan saat berkendara. Bahkan ini juga telah di atur dalam undang-undang lalu lintar. Namun faktanya masih banyak pengendara yang justru mengabaikannya. Coba tengok berapa banyak acara televisi yang sering menayangkan kegiatan para polisi dijalan yang sering menilang pengendara karena tak pakai helm.

Alih-alih tak mau disalahkan, kita sering berdalih “Cuma kesitu saja kok, deket!”
Mungkin kita akan sadar jika nanti, tiba-tiba di jalan kita kehilangan keseimbangan hanya karena ada debu yang masuk ke mata. Dan bukan tak mungkin, sesuatu yang tak di inginkan bisa saja terjadi.

Latih Diri Dengan Beberapa Gerakan Yang Mungkin Akan Ditemukan Sepanjang Perjalanan

Karena jalanan tak akan selalu lurus, kita perlu tahu bagaimana menyeimbangkan diri dengan baik dan benar sesuai medan yang dilalui. Jangan hanya ketika akan mengambil SIM kita berlatih slalom. Ingat lagi semua ujian pak polisi ketika itu.

Ketika di area rumah, coba buat angka delapan ketika naik motor, lalu putar balik tanpa kaki menyentuh tanah. Lalu latih jalan zig zag untuk menajamkan refleks ketika di jalan. Berjalan pelan sambil menjaga motor tetap stabil. Dan cobalah beberapa alternatif situasi lain di area rumahmu yang aman.

Kemudian Teknik Tarik Rem Yang Tak Boleh Asal-asalan

Untuk beberapa kasus kecelakaan lalu lintas, beberapa dari mereka jatuh karena teknik pengereman yang tak baik. Padahal komposisi mengerem yang ideal adalah 60:40. Dengan kata lain, pengguna rem depan sebanyak 60 persen dan rem belakang sebanyak 40 persen.
Aktualisasi teknik pengereman yang benar akan menghindarkan kita dari terjadinya slip saat sedang menarik rem.

Hal lain yang perlu di ingat, kita juga harus selalu memperhatikan jalanan yang sedang kita lalui. Serta tingkat kecepatan saat kita ingin menarik tuas rem pada motor.

Lalu Pastikan Keadaan Motor Dalam Keadaan Baik Dan Pilih Motor Yang Oke Seperti Suzuki All New Satria 150

Apapun alasannya, keadaan motor yang tak baik, tak seharusnya dibawa untuk berkendara. Karena itu salah satu hal yang wajib kita lakukan adalah memastikan kondisi motor terlebih dahulu.

Cek keadaan motor, mulai dari rem, lampu, termasuk lampu sein. Apakah masih berfungsi dengan baik atau tidak. Selanjutnya pastikan pula bahwa tekanan angin pada kedua ban telah sesuai dengan anjuran dari pabrik. Perhatikan pula kaca spion yang akan membantu kita selama perjalanan dan jangan lupa untuk tetap menyalakan lampu selama perjalanan.

Untuk mendukung safety riding tentunya memilih motor yang mumpuni jadi syarat utama. Pilihlah motor yang memiliki perbandingan tenaga dan bobot yang cukup, sehingga tak merepotkan jika harus melewati pengendara lain di jalan.

Kamu bisa memilih Suzuki All New Satria 150. Sebagai motor berdimensi kompak, ringan dan berperforma tinggi, All New Satria F150 tentunya mampu melaju tanpa hambatan. Mendominasi performa di kelasnya, All New Satria F150 dibekali mesin berteknologi fuel injection dan DOHC (Double Over Head Camshaft) yang memberikan akselerasi spontan dan padat saat kapanpun diinginkan pengendaranya. Penggunaan radiator beukuran besar sebagai sistem pendingin suhu mesin, memastikan kondisi terbaik untuk konsistensi performa dan keawetan komponen mesin.

Sementara itu All New Satria F150 juga sudah dilengkapi dengan cakram di depan dan belakang. Tentunya kendaraan berbobot hanya 19 Kg ini akan dengan mudah dihentikan jika kita membutuhkannya. Kita juga tak perlu khawatir jika harus berkendara malam. Karena motor ini sudah dilengkapi dengan lampu LED tipe baru.

Kini All New Satria F150 hadir dengan pilihan warna untuk varian standard, yaitu Brilliant White, Stronger Red dan Titan Black. Selain itu, masih ada 2 pilihan warna spesial untuk varian High Grade, yaitu Titan Black/Red Casting Wheel dan Metallic Triton Blue yang identik dengan tampilan Suzuki GSX-RR milik Team Suzuki Ecstar MotoGP 2017.

Hindari Pemakaian Aksesoris Pada Tubuh Atau Motor Yang Bisa Memicu Bahaya

Niatnya sih melindungi diri, tapi jika sudah bernasib buruk tentu kita tak bisa berbuat apa-apa. Salah satu contoh yang dapat kita ambil adalah pemakaian jas hujan saat berkendara. Jas hujan model ponco masih banyak dipilih pengguna motor. Bukan hanya karena bentuknya yang lebar hingga bisa melindungi dari basah, namun model ini juga sangat mudah untuk di gunakan.

Akan tetapi ponco menyimpan bahaya yang tak bisa dianggap remeh jika bagian belakangnya dibiarkan berkibar, tentu ini jadi masalah besar. Karena bisa saja, bahan belakang dari jas yang sedang berkibar terkait pada benda lain. Hingga tergulung dan masuk pada lingkar roda motor yang kita pakai. Untuk itu jika memang akhirnya memilih model seperti ini, pastikan kita akan memakainya dengan benar. Agar tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

Jangan Lupa Pula Untuk Memastikan Kondisi Tubuh Kita

Semuanya tentu tak akan bisa berjalan tanpa adanya kita sebagai pengendaranya. Sebelum memulai perjalanan, jangan lupa untuk memeriksa kondisi tubuh kita. Karena walau bagaimanapun kondisi tubuh yang baik, jadi modal yang harus kita punya jika naik motor. Ini akan membantu kita terhindar dari hal-hal yang tak kita inginkan tentunya.

Berhenti jika memang mengantuk, kumpulkan tenaga dalam beberapa waktu. Ini akan jauh lebih baik daripada tetap memaksakan diri berjalan terus. Karena tujuan bepergian adalah sampai dengan selamat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Menikah Itu Momen Sekali Seumur Hidup, Benarkah Kamu Rela Tampil Manglingi?

Setidaknya sudah ada tiga artis cantik Tanah Air yang resmi melepas masa lajang pada bulan September ini. Raisa, diva berusia 27 tahun itu resmi dipersunting Hamish Daud pada 3 September lalu. Lima hari setelahnya, giliran aktris cantik Laudya Cynthia Bella yang dipinang Engku Emran. Sementara di penghujung bulan, tepatnya pada Sabtu, 29 September lalu, Vicky Shu yang melangsungkan pernikahannya.

Di lain sisi, warganet pun ada yang ikut berbahagia. Namun tak sedikit juga yang bersedih lantaran berkurangnya jumlah artis cantik yang melajang. Tapi yang paling menarik, ternyata warganet ini masih gemar berkomentar soal riasan wajah. Misalnya Raisa, meski kecantikannya sudah diakui oleh publik Indonesia, tetap saja ia tak luput dari komentar ‘galak’ warganet. Di hari bahagianya, Raisa yang memilih konsep pernikahan adat Sunda pun sebenarnya terlihat cantik (karena memang sudah cantik dari sananya) ala pengantin wanita Sunda. Hanya saja, warganet menilai riasan wajahnya tak jauh berbeda saat hendak tampil di atas panggung.

Duh, serba salah ya jadi Raisa…

Di Indonesia, Berdandan All Out Saat Hari Pernikahan Itu Wajib Hukumnya. Padahal Bukankah Biarlah yang Menikah yang Memutuskan Konsepnya?

Berkaca dari fenomena Raisa-yang-terlihat-biasa-saja, mungkin benar saja masyarakat Indonesia masih terbiasa dengan stereotip tertentu. Pengantin itu harus berdandan manglingi. Itulah alasan mendasar mengapa jadi banyak yang berkomentar pedas pada riasan wajah Raisa. Masih banyak yang berpendapat kalau pernikahan itu hanya berlangsung sekali seumur hidup, jadi sudah saatnya membuat riasan yang manglingi.

Tapi, jauh di lubuk hatimu, apakah nyaman ketika kamu justru harus terlihat seperti bukan dirimu padahal hari itu adalah hari bahagiamu? Itulah mengapa kamu perlu mempertimbangkan matang-matang urusan riasan ini.

Soal Raisa, Untung saja, pelantun Usai Di Sini itu memilih menimpali ribuan komentar pedas dengan elegan. Sesudah melangsungkan resepsi, ia mengunggah pernyataan pribadinya dengan mengatakan jika konsep riasan wajah sudah sesuai keinginan sang suami yang tak ingin Raisa justru terlihat seperti bukan dirinya jika ia justru memilih make up yang manglingi.

Kesan Manglingi Bukan Jadi Tuntutan Utama, Lebih Baik Berdandan Biasa Asal Kesehatan Kulit Wajah Tetap Terjaga

Tak semua pengantin terbiasa dengan riasan wajah yang tebal. Memang sih akan memberi kesan manglingi, alias kamu terlihat berbeda dari biasanya, Tapi siapa yang bisa menebak kondisi kulit sang pengantin wanita saat dan sesudah memakai riasan tersebut?

Dalam budaya kita, riasan memang masih menjadi hal yang cukup vital saat pesta pernikahan. Belum lagi lantaran munculnya permintaan manglingi dan sesuai adat tertentu, riasan pun dibuat lebih teliti nan dekoratif. Tapi menurut seorang make up artist, Adi Adrian, riasan dekoratif ini seharusnya tak jadi perhatian utama. Meski riasan itu penting, tapi jauh ada yang lebih penting yaitu kesehatan kulit wajah.

Calon Pengantin Sebaiknya Tak Hanya Fokus pada Konsep Semata, Mulailah Rutin Menjaga Kesehatan Kulit Wajah demi Tampilan yang Paripurna

Inilah yang sering diabaikan para calon pengantin. Mereka sudah punya konsep sedemikian rupa untuk hari H. Sayangnya lupa menjaga kesehatan kulit wajah sehingga saat stres, jerawat akan muncul dengan mudah. Belum lagi jika jenis kulitnya yang cenderung sensitif, itulah mengapa kamu tak boleh lalai.

Menjaga kesehatan kulit wajah pun tak melulu dari luar. Calon pengantin harus paham asupan makanan yang membuat wajah tetap cerah dan terjaga kelembabannya, disamping itu juga hindari makanan yang mampu meningkatkan produksi minyak berlebih pada wajah.

Kamu Yang Mau Menikah dalam Waktu Dekat, Yakin Ingin Tampil Manglingi? Bukannya Tren Riasan Wajah Sudah Mulai Bergeser?

Dhirman Putra, seorang make up artist profesional mengatakan ada perubahan tren riasan wajah untuk pengantin. Terlebih sejak era masuknya beragam kosmetik dan skin care asal Korea Selatan. Perempuan jadi berlomba-lomba memakai make up seminimal mungkin atau yang populer disebut no make up make up. Tren ini berlaku tak hanya demi penampilan sehari-hari tapi juga berbagai kesempatan termasuk pernikahan. Meski namanya demikian, bukan berarti kamu harus terlihat seperti tidak berias, justru ini jadi tantangan tersendiri bagi para MUA agar dapat membuat riasan minimalis namun pengantin tetap terlihat glowing.

Setidaknya itulah yang dirasakan MUA Marlene Hariman saat merias Raisa. Marlene mengaku kliennya itu memang menolak riasan tebal dan memilih nuansa soft pink. Bahkan disaat banyak artis lekat dengan penggunaan contact lens, sekali lagi istri Hamish Daud itu enggan memakainya.

“Aku nggak mau jadi orang lain, aku ingin suamiku melihat aku tetap jadi diriku sendiri,” kata Raisa. Duh, beruntungnya Hamish…

Persiapan Jelang Akad Itu Memang Tak Mudah, Kamu Patut Menghargai Setiap Konsep dari Mereka yang Hendak Menikah

Bagimu yang sudah pernah merasakan keribetan jelang pernikahan, semua itu terasa berat bukan? Setiap detail persiapan tak boleh terlewat karena kamu tak ingin konsep yang sudah didambakan sejak lama tiba-tiba jadi tak sesuai karena satu atau dua hal. Bayangkan kamu ada diposisi para seleb yang sudah sedemikian sibuknya mempersiapkan hari bahagia mereka, tapi yang ada warganet dengan mudahnya muncul seperti juri-juri lomba make up yang sibuk berkomentar mengenai riasan para seleb.

Tak ada yang suka dibanding-bandingkan. Baik Raisa, Bella, maupun Vicky, semuanya tentu sudah punya konsepnya masing-masing, bukan? Kalau Raisa lebih suka make up bergaya flawless, tentu akan beda dengan Bella dan Vicky yang berani tampil lebih bold.

Tapi bukan berarti kamu pun bisa dengan lincah kembali membandingkan riasan Bella dengan Vicky, sebab lagi-lagi keduanya pasti punya konsepnya masing-masing. Nah, jika sudah demikian, bukankah lebih baik jika ibu jari kita digunakan untuk mengetik dan menyampaikan kalimat yang membangun? Ucapan selamat berbahagia misalnya…

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Sahabatku, Salahkah Aku Mencintai Mantan Pacarmu?

Cinta itu rumit. Bahkan logika pun terkadang tak bisa mengurai peliknya jalinan cinta. Ketika rasa itu mulai tumbuh, memang seringkali logika tak mampu menembusnya. Sehingga membuat realita dan cinta pun jadi berbenturan. Di lain sisi, ketika kamu siap jatuh cinta, itu berarti kamu harus sedia jika sewaktu-waktu terjebak pada situasi yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Contoh nyata yang sering terjadi seperti ini, bagaimana jika dia yang kamu cintai sekarang adalah sosok yang pernah mengisi hati sahabatmu? Situasi ini jelas menciptakan perasaan sungkan bahkan serba salah yang berkepanjangan, tapi nyatanya kamu pun tak bisa membohongi perasaan yang kamu miliki.

Situasi Semacam Ini Patut Diakui Sebagai Ujian Persahabatan, Kamu Harus Bijak Menyikapinya

Sebentar, posisimu kali ini bukanlah sebagai orang ketiga. Kamu harus yakini hal itu terlebih dahulu. Sebaik-baiknya kamu ketika sudah mulai merasa ada getaran cinta padanya, kamu harus kuat melawan intimidasi yang bisa datang dari mana saja.

Di lain sisi, meski kisahnya dan sahabatmu telah usai, bukan berarti juga kamu melenggang semaumu. Karena itu sama saja kamu tak menghargai arti sahabatmu. Padahal, jauh sebelum kamu mengenalnya, sahabatmu lah orang yang paling setia berada di sampingmu. Bisa jadi ini adalah ujian persahabatan antara kamu berdua. Karena yang muncul bukan lagi drama murahan, tapi lebih ke bagaimana kalian menyikapi hal ini dengan bijaksana.

Tetaplah Bangun Komunikasi yang Baik dengan Sahabatmu, Karena Hal Itu Akan Membantu Meleburkan Situasi Canggung

Jangan pernah menjauh dari sahabatmu. Kalaupun dia yang mulai menjauh, rangkul dan ajaklah berbicara empat mata. Berkata jujur dalam situasi semacam ini jelas sulit. Ada kalanya kata-kata yang ingin kamu ungkapkan tiba-tiba tercekat di ujung kerongkongan. Tapi biar bagaimana pun, berusahalah untuk membangun komunikasi sebaik mungkin. Agar tak ada lagi kesalahpahaman antara kamu, sahabatmu, dan mantan pacarnya.

Jangan Pernah Merasa Bersalah Dengan Apa yang Terjadi di Hari Ini, Karena Bisa Saja Itu Terjadi di Luar Kendali

Terpenting, kamu harus menyadari jika hubungan sahabatmu dengan mantan pacarnya adalah masa lalu. Dan kenyataannya mereka tak lagi hidup di masa itu. Lagi pula bisa jadi kamu pun tak tahu bagaimana akhir dari cerita mereka yang telah lalu.

Mungkin seringkali kamu merasa bersalah karena telah mencintai mantan pacar sahabatmu, tapi sebaiknya kesampingkan perasaan itu. Karena sejatinya kamu tak bersalah dalam hal apa pun. Itulah mengapa kamu tak perlu memberikan banyak penjelasan kenapa kamu menyukainya.

Di samping itu, kamu pun harus bisa meminimalisir perasaan cemburu yang mungkin akan muncul. Hal ini yang jadi pondasi agar kamu pun belajar menerima hubungan masa lalunya.

Simpan Kisahmu dengan Dia yang Kamu Cintai Hanya untuk Kalian Saja, Tak Perlu Mengumbar atau Bahkan Menceritakannya pada Sahabatmu

Meski biasanya kamu selalu tak bisa menahan diri untuk berbagi cerita pada sahabatmu, tapi lebih baik tahan dirimu apalagi jika situasinya seperti ini. Walau sahabatmu memang bisa menerima keadaan dan situasi semacam ini, alangkah baiknya jika kamu bisa menghormatinya. Kita tak pernah tahu isi hatinya. Bisa saja dia merasa sedih atau cemburu dengan kebahagiaanmu, jadi lebih baik jika kamu menyimpan cerita itu hanya untuk dirimu saja.

Kalau Kamu dan Si Dia Baru Sebatas Dekat Saja, Sebaiknya Tak Perlu Buru-buru Meresmikan Hubungan Kalian Berdua

Meski hubungan kalian terlihat berjalan mulus, sebaiknya tahan diri dan jangan terburu-buru untuk meresmikan hubungan ke tahap pacaran. Penting, mungkin kamu telah mengenalnya ketika dia menjalin hubungan dengan sahabatmu, tapi kali ini situasinya berbeda. Kamu tetap perlu mengenalnya lebih jauh. Jangan-jangan dia memang memiliki sifat jelek yang tidak bisa ditolerir dan mungkin hal itu pula yang membuat sahabatmu memutuskan mengakhiri hubungannya. Tentu kamu tak ingin bernasib sama ‘kan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Keputusanku Untuk Menikah Muda Itu Tak Selamanya Merepotkan, Bahagianya Sama Seperti yang Diceritakan Ayah Ibuku Dulu  

Menikah di usia muda seringkali masih jadi perdebatan. Aku pun menyadari hal itu. Aku dan pasanganku memutuskan siap mengarungi bahtera rumah tangga di usia yang terbilang muda. Jika berbicara tentang pasangan usia muda adalah kami yang menikah pada rentang usia 18-25.

Di usia tersebut kebanyakan orang memang masih mengejar karier dan melanjutkan pendidikan. Itulah mengapa keputusan menikah muda sering diributkan. Mungkin perdebatan muncul karena sebagian orang terlalu khawatir jika menikah di usia muda justru akan menimbulkan masalah lantara belum siap secara emosional.  Apalagi jika sejatinya dia masih diminta memenuhi tuntutan keluarga yaitu menyelesaikan studi dan mapan terlebih dulu.

Jadi, benarkah menikah dan punya anak di usia muda begitu merepotkan?

Ada yang Memutuskan Menikah Muda Karena Memang Anjuran dari Keluarga, Jika Sudah Demikian, Mengapa Harus Dilarang?

Kamu tahu kan, pernikahan dini itu lazim terjadi pada zaman orangtua kita? Ada yang saat masih 17 tahun sudah menikah. Ada juga pria yang berani menikah di usia yang baru menginjak awal 20-an. Sejatinya pernikahan dini bukanlah hal baru.

Aku dan dia memutuskan menikah pun karena anjuran orangtua kami. Mereka menikah di usia yang terbilang muda. Mengapa kami memutuskan demikian? Sederhananya begini, jika kami menikah muda, di usia 30 atau awal 40-an, anak-anak kami kelak sudah besar. Itu artinya, saat kami menikmati masa pensiun, setidaknya kami sudah melihat anak-anak kami sudah cukup usia serta siap menapaki jalan dan kariernya masing-masing.

Menikah Muda Tak Selalu Membuatmu Tertekan, Justru yang Ada Kita Dibentuk Untuk Memperbaiki Kondisi Psikologis

Ternyata ada satu hasil penelitian menarik, yaitu pernikahan yang dimulai lebih cepat pada usia 18-25 tahun akan memberikan pengaruh yang lebih cepat dan baik bagi perkembangan kesehatan psikologis pasangan. Penelitian ini dimaksudkan setelah mengadakan penelitian terhadap 8 ribu pasangan muda.

Memaknai Hidup Itu Penting, Para Pasangan yang Memilih Menikah Muda adalah Mereka yang Sedang Berjuang Meningkatkan Kualitas Hidup

Biasanya memang sebelum menikah, seseorang umumnya tak terlalu menganggap penting kondisi tubuh. Kebanyakan dari kita pasti berbuat sesuka hati dengan makan makanan apa pun bahkan mengonsumsi alkohol. Kebiasaan tak sehat lainnya seperti sering pulang malam bahkan tak giat merawat diri identik dengan seseorang yang belum menikah.

Orangtua pun pernah berpesan, dengan menikah biasanya seseorang akan terpacu menjadi sosok yang lebih baik lagi. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga demi pasangannya. Siapa yang tidak ingin membuat pasangannya bahagia? Peningkatan kualitas hidup pun kian terpacu terlebih sudah lahir seorang anak. Bukan tak mungkin dia yang semula hidup ‘asal-asalan’ namun setelah menikah terlihat jauh berperilaku lebih sehat.

Kami yang Menikah Muda Sejatinya Lebih Baik dalam Mengelola Stres

Menikah bukan hanya soal penyatuan dua individu dalam sebuah ikatan yang sah. Tapi juga tentang bagaimana kami berdua melakoni dan melanjutkan hari-hari kami ke depannya. Dengan hidup bersama, kami yakin dan siap untuk jadi sosok yang lebih mandiri dan bertanggung jawab. Seperti halnya nasehat ibuku, aku akan belajar untuk mengatur emosi lebih baik dibanding masa-masa sebelum menikah.

Sekali Lagi, Jarak Usia Anak dan Orangtua Nantinya yang Tidak Terlalu Jauh Tak Akan Membuat Sang Anak Kesulitan

Dengan kondisi psikologis yang baik, pasangan yang menikah muda diketahui punya potensi menghasilkan keturunan yang lebih berkualitas. Di samping itu, kamu juga perlu tahu jika peningkatan kualitas relasi antar keluarga sejatinya bisa dimulai jika jarak atau rentang usia anak dan orang tua tidak terlalu jauh.

Sekarang, keputusan menikah muda yang telah kupilih memang karena aku ingin membangun keluarga yang punya hubungan yang berkualitas. Tekadku kian kuat lantaran aku melihat ayah ibuku kini masih terbilang bugar saat mereka mengantarkanku menikah. Merekalah indikator terdekat bagiku untuk berani mengambil keputusan menikah muda.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top