Tips

Mereka yang Jarang Mencuci Jinsnya Belum Tentu Jorok Loh, Kamu Tahu Jins itu Tak Perlu Sering Dicuci

Demi berbagai alasan, mencuci pakaian konon jadi sesuatu yang wajib dilakukan. Namun ternyata ini tak berlaku untuk semua pakaian, terlebih yang berbahan jins. Selama ini kita mungkin sering mendengar jika mencuci jins terlalu sering akan merusak materialnya.

Terdengar aneh memang, bagaimana mungkin pakaian yang sudah dipakai bahkan mungkin sudah tercampur oleh debu dan kotoran, namun justru sebaiknya tidak terlalu sering dicuci. Jangan salah, katanya kerap mencucinya hanya akan merusak jins itu sendiri.

Tapi memang begitulah faktanya, bahkan dilansir dari situs Independent, pada salah satu kesempatan, Chip Bergh, Presiden Levi’s berkata bahwa, “Intinya kami hanya pemberikan pengetahuan kepada konsumen untuk menggantungkan jins mereka setelah beraktivitas dan dapat menggunakannya kembali setelahnya, bahkan celana jins benar-benar tidak perlu untuk dicuci di mesin cuci kecuali sangat kotor atau lakukanlah sejarang mungkin,”.

Dan seolah menguatkan pernyataan yang disampaikan oleh Bergh, situs ahli denim Hiut Denim, juga mengatakan hal yang serupa. “Denim baru idealnya akan tahan baik jika tidak dicuci selama enam bulan. Bahkan semakin lama Anda membiarkannya tanpa dicuci, jins Anda akan terlihat lebih menarik,”.

Lalu bagaimana kita harus merawatnya?

Logikanya, Ada Beberapa Alasan yang Memang Masuk Diakal Mengapa Kita Tak Boleh Terlalu Sering Mencuci Jins

“Dibandingkan dengan jins yang baru kering, bau jins sebelum dicuci lebih baik.” begitu kata CEO Levi’s, Bergh di kesempatan yang sama.

Nah untuk itu mari kita coba ingat kembali, bagaimana aktivitas yang kita lakukan selama mengenakan jins sehari-hari. Umumnya hanya untuk duduk, dan berjalan serta bepergian ke beberapa tempat bukan? Sekalipun itu dilakukan di luar ruangan, nampaknya tetap tak akan meninggalkan kotoran yang amat berarti. Dengan kata lain, ini tak akan membuat materialnya terlalu kotor.

Lagi pula kata Bergh, jins telah dirancang dengan teknologi tinggi yang membuat materialnya tahan terhadap suhu yang ekstrem. Jadi jika ternayata kita justru mencucinya terlalu sering, ini hanya akan mengganggu kinerja teknologi material jins tersebut. Kalau tak percaya, kita bisa mencoba untuk melakukan eksperimen sendiri, beberapa lama jins tahan tanpa dicuci.

Hal menarik lain yang perlu untuk kita ketahui adalah hasil temuan dari penelitian yang dilakukan di University of Alberta pada tahun 2009, meski 15 bulan tanpa dicuci, jumlah bakteri yang terdapat pada celana jins masih dalam jumlah wajar (tidak berbahaya).

Dan setelah dicuci dan dipakai selama 13 hari, jumlah bakteri akan sama dengan kondisi celana jins yang selama 15 bulan tanpa dicuci. Bagaimana menarik bukan? Temuan ini sekaligus jadi jawaban atas kegusaran kita yang selama ini berpikir jika tak dicuci tentu banyak bakteri yang akan bersarang. Padahal tidak selalu demikian.

Namun semua ini kembali pada keputusan kita masing-masing, jika ternyata merasa jins tersebut sudah tidak nyaman untuk dikenakan silahkan dicuci saja. Dan durasi mencuci yang memang disarankan pun ternyata 3 bulan sekali, atau setiap 5 – 30 kali pemakaian. Tapi untuk kualitas jins yang masih tetap terjaga, sebisa mungkin hindari mencuci jins terlalu sering.

Dan Perhatikan Pula Tips Untuk Merawat dan Mencuci Jins yang Sebenarnya

Demi menjaga ketahanan dan kekuatan jins, tak hanya meski memahami kapan dan berapa kali jins bisa dicuci, kita juga perlu tahu bagaimana trik dan tips untuk merawatnya dengan benar. Dan kamu boleh menconteknya di sini:

  • Jika memang tidak ingin langsung dicuci, letakkan jins pada gantungan pakaian agar tetap terkena angin.
  • Dan setiap kali dicuci, usahakan untuk membalik bagian dalam jins keluar sehingga bahan yang akan terkena sinar matahari adalah bagian dalam, bukan bagian luar. Hal ini juga berlaku pada proses penyetrikaan, demi mencegah pudarnya warna pada material jins.
  • Pada saat proses pencucian, sebisa mungkin gunakan detergen yang tidak terlalu keras, dan detergen cair nampaknya jadi pilihan terbaik.
  • Cucilah jins dengan air dingin, dengan tidak merendamnya terlalu lama dalam air.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Dibandingkan Spanyol Atau Italia, Pecinta Motor Tanah Air Jauh Lebih Gila

Kalau bicara soal motor apalagi MotoGP rasanya Italia dan Spanyol merupakan dua negara teratas. Sebagian besar pembalap kasta tertinggi balap motor dihuni oleh warga dari kedua negara tersebut. Setiap gelaran di kedua negara itu juga hampir selalu pecah rekor untuk soal jumlah penonton.

Tapi jangan salah, kalau saja MotoGP diadakan di Indonesia, bisa jadi negara kita jadi nomor satu soal antusiasme masyarakatnya dengan motor. Beberapa kali pembalap MotoGP singgah di Indonesia selalu takjub dengan kegilaan orang Indonesia akan motor.

Tak terkecuali Rrasa antusias bikers di Indonesia yang membuat Andre Iannone dan Alex Rins terpukau. Mereka tidak menyangka kalau para bikers di Indonesia sebegitu besar dan heboh. Hal ini disampaikan kala Iannone dan Rins sedang melakukan kunjungan ke Indonesia dalam event Suzuki Bike Meet Jambore Nasional 2018 yang diadakan di sentul.

Event kali ini merangkul 3.000 bikers dari 63 klub dan komunitas Suzuki yang saling bekerjasama dengan PT.SIS (Suzuki Indomobil Sales). Acara dihelat di Sentul Sirkuit, Bogor daerah Jawa Barat. Yang mana acara pembuka dilakukan dengan iring-iringan yang dipimpin kedua pembalap Team Suzuki Ecstar MotoGP 2018.

Andrea Iannone dan Alex Rins disuguhkan Suzuki GSX-R150. Tak cuma mereka brand ambassador GSX-R150, Hamish Daud sebagai ambasador GSX juga ikut serta di acara ini. GSX dipilih karena mencirikan aura MotoGP.

Tampil dengan model full fairing, GSX-R150 tampilannya memang tampak serupa dengan tunggangan pebalap di arena MotoGP. Lampu depan yang menyudut tajam memberikan kesan yang sangat agresif. Struktur jok pengemudi dan penumpang yang tinggi makin memperkuat kesan ini, karena posisi berkendara jadi menunduk.

Berbekal mesin overbore, DOHC (Double Over Head Camshaft) dengan kapasitas 150cc dan berkompresi 11,5 : 1 yang sudah dilengkapi teknologi fuel injection yang canggih untuk pembakaran maksimal, GSX-R150 menghasilkan tenaga sebesar 14,1 kw/10.500 rpm dan torsi sebesar 14 nm/9.000 rpm yang tersalurkan dengan kuat melalui transmisi 6 percepatan.

“Saya tidak menyangka kekuatan bikers Suzuki di Indonesia sangat luar biasa seperti ini. Senang sekali saya mendapatkan pengalaman yang sangat beragam dan berbeda bersama rekan balap saya dan ribuan bikers Suzuki,” ungkap Alex Rins.

Kehebohan dari komunitas dan klub terpancar dari acara yang diadakan sejak pagi hari jam 10, sudah dipenuhi oleh ribuan bikers yang berdatangan dari Tanggerang, Cikarang, Cengkareng, Parung dan lain-lain. Bahkan beberapa dari mereka ada yang berangkat ketika matahari belum terbangun dari tidurnya.

Rasa antusiasme total yang diperlihatkan bikers juga dirasakan oleh Andrea Iannone. Ia pun beranggapan antusiasme publik tanah air jadi dorongan luar biasa baginya untuk lebih berprestasi di ajang MotoGP.

“Ini adalah kali pertama bagi saya bisa larut dalam kegembiraan fans Suzuki. Saya sangat menikmati momen hari ini, dan semoga semangat teman-teman bikers Suzuki bisa menambah semangat saya sendiri untuk tampil lebih mengensankan di musim MotoGP 2018 bersama tim saya,” kata Iannone.

Meskipun acara seperti ini bukan yang pertama bagi kedua pembalap. Namun, Iannone mengungkapkan bahwa di Indonesia lebih meriah dari pada Italia dan Spanyol. Lantaran banyak bikers yang ikut serta dalam event ini apalagi pada saat konvoi yang dilakukan sepanjang track Sentul sirkuit.

“Seperti yang Iannone katakan, kami beberapa kali mengadakan acara serupa. Tapi di sini berbeda karena kami (Iannone dan Rins -red) berkendaraan dengan banyak orang. Apabila tahun ini sukses kami ingin mengdakan acara yang lebih besar,:” tambah Alex Rins.

Antusias yang diperlihatkan oleh para bikers dapat menghipnotis Alex Rins dan Andrea Iannone untuk mewujudkan kembali acara serupa di tahun mendatang. Karena selain menjadi wadah berjumpa dengan pembalap luar, hal ini juga menjadi ajang silaturahmi para klub dan komunitas Suzuki

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kenapa Rindu (Itu Berat)?

“Jangan rindu…berat…kamu gak akan kuat…biar Aku saja”

Begitu kata tokoh Dilan dalam film dan novel Dilan kepada Milea sang kekasihnya. Kalimat sederhana itu pun sempat bikin heboh netizen. Banyak bahkan yang memberikan tanggapan dengan status, cuitan dan meme yang menyatakan ada hal lain yang lebih berat dari rindu.

Namun sebetulnya yang dibicarakan Dilan itu memang bukan omong kosong. Setidaknya menurut sains, rindu memang sesuatu yang sangat berat untuk ditanggung oleh tubuh. Namun untuk sampai pada penjelasan soal rindu, sebelumnya kita coba bahas pangkal penyebabnya yaitu cinta.

Kata orang cinta itu sesuatu yang abstrak dan sulit dijelaskan. Jauh lebih rumit dari penjelasan hukum relativitas Einstein. Namun jika kita tarik menggunakan ilmu psikologi dan biologis, sesungguhnya cinta tidak lah serumit itu.

Menurut jurnal Psychopharmacology yang dirilis tahun 2012, Cinta hanya lah sekumpulan reaksi-reaksi kimia dalam tubuh. Dan reaksi psikologis kita atas keadaan-keadaan tertentu. Cinta merupakan “jebakan” alamiah dimana kita sama sekali tak punya kendali di dalamnya. Serupa dan setingkat dengan memicingkan mata ketika silau atau bersin ketika ada yang gatal di hidung.

Witing Tresno Jalaran Soko Kulino Cuma Mitos?

pasangan berdua

Ya, konsep “Cinta tumbuh karena terbiasa” tidak dikenal dalam bidang neuro science. Karena ternyata cinta tak bisa tumbuh karena terbiasa. Cinta hanya ditentukan 90 detik sampai 4 menit setelah kita bertemu seseorang. Dalam rentang waktu ini, otak manusia akan menentukan apakah dia jatuh cinta atau tidak.

Cinta itu sangat primitif, tak ditentukan kata-kata romantis, tapi berdasarkan bahasa tubuh dan intonasi suara saja

kaki

Rupanya cinta bukanlah produk kebudayaan hasil olah pikir yang rumit dari manusia. Cinta atau tidaknya kita pada seseorang ternyata ditentukan dari insting primitif setingkat dengan takut dan jijik. Dari sekian banyak faktor yang menentukan kita mencintai atau tidak seseorang, 55 persen diantaranya adalah faktor bahasa tubuhnya. Kemudian  sebanyak 38 persen adalah intonasi suaranya.

Sementara pemilihan kata dan kalimat-kalimat hanya mempunyai peranan 7 persen saja. Atau dengan kata lain, kita bisa bicara hal omong kosong dan tetap membuat seseorang jatuh cinta, kalau bahasa tubuh kita dan intonasi suara kita cocok dengannya.

Secara Kimiawi, Jatuh Cinta Itu Menghasilkan Hormon Dopamine, Setara Pecandu Menggunakan Narkoba

rokok

Ketika kita secara tak sadar menyukai bahasa tubuh dan intonasi seseorang di 90 detik awal pertemuan, bagian otak kita yang bernama Hypothalamus akan sangat aktif. Pada saat itu secara terus menerus sisi otak ini akan menghasilkan hormon Dopamine.

Hormon kimiawi inilah yang juga memberikan perasaan bahagia pada diri manusia. Karena secara simultan akan menciptakan perasaaan senang secara intensif serupa ketika tubuh menggunakan narkotika kokain atau heroin.

Ciri tubuh yang sedang menghasilkan dopamine adalah peningkatan energi yang drastis, penurunan nafsu makan dan penurunan kebutuhan untuk tidur. Selain itu mereka yang kelebihan dopamine hanya fokus pada hal tertentu dan cenderung memperhatikan hal-hal detail. Jangan heran makan kita menjadi sedikit ketika jatuh cinta. Kemudian kita mampu bergadang berjam-jam meski pun mata sudah mengantuk.

Menurut ilmu Neuroscience Cinta Buta Itu Nyata Adanya

pasangan malam

Ketika kita jatuh cinta, jalur syaraf negatif di otak kita yang menghubungkan Nucleus Accumbens dan Amygdala menjadi non aktif. Padahal sesungguhnya jalur ini digunakan otak kita untuk menilai sesuatu itu baik atau buruk yang berguna untuk insting mempertahankan hidup.

Namun ketika jatuh cinta, jalur ini tidak aktif. Jangan heran jika kita tidak mampu merasakan makanan yang tidak enak, bau yang kurang sedap dan hal negatif lain termasuk di dalamnya faktor-faktor negatif yang terdapat pada pasangan.

Lalu Darimana Datangnya Rindu? Itu Karena Hasil Dari Produksi Hormon Oxytocin dan Vasopressin

bersama di hutan

Ketika jatuh cinta bagian otak Hypothalamus selain menghasilkan hormon Dopamine,   juga menghasilkan setidaknya dua hormon lagi. Kedua Hormon ini adalah Oxytocin dan Vasopressin.

Hormon Oxytocin ini secara alami dihasilkan ketika seorang ibu melahirkan bayinya. Oxytocin lah yang membuat payudara ibu secara otomatis menghasilkan susu ketika anaknya menangis. Hormon inilah yang membuat anak secara insting akan merasa aman dan ingin terus berada dekat pelukan ibunya. Nah, paham bukan, kenapa mereka yang sedang jatuh cinta selalu ingin dekat berpelukan? Karena ketika jatuh cinta, hormon Oxytocin kembali diproduksi secara massal.

Sementara Vasopressin secara natural sebenarnya adalah hormon yang menciptakan rasa haus untuk menjaga kesehatan ginjal. Ketika jatuh cinta, hormon ini juga diproduksi secara masif. Inilah yang bertanggung jawab terhadap rasa haus (rindu) kita pada pasangan.

Kenapa Rindu Berat, Terlebih Ketika Kamu Putus Cinta? Karena Otak Butuh Waktu Untuk Berhenti Memproduksi Dopamine

putus

Ketika kita putus cinta dan hubungan berakhir, otak kita tak serta merta menghentikan produksi dopamine. Otak akan terus aktif menghasilkan hormon “bahagia” ini.

Walaupun begitu di sisi lain, ketika putus, sisi otak kita yang bernama Orbital Frontal Cortex yang mengatur kontrol diri dan emosi akan aktif. Bagian otak ini akan berusaha mengambil alih fungsi otak dan berusaha melupakan pasangan kita.

Pertentangan dua bagian inilah yang membuat putus cinta menjadi begitu sulit dan ujungnya membuat diri tertekan dan sedih. Tapi dari sini kita bisa menyimpulkan satu hal. Bahwa idiom bahwa “waktu akan mampu menyembuhkan luka hati putus cinta” adalah benar adanya. Karena menghentikan produksi Dopamine yang berkaitan dengan si Dia butuh waktu yang tidak singkat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Bukan Hanya Gonggongannya yang Membuat Nyali Ciut, Lima Jenis Anjing Penjaga Ini Siap Membuat Pencuri Balik Badan

Awas anjing galak!

Setidaknya itu peringatan paling umum yang terpampang di gerbang rumah mereka yang memelihara anjing untuk dijadikan penjaga rumah. Lolongan anjing penjaga nyatanya berbeda dengan tipe anjing yang hanya dijadikan peliharaan dalam rumah. Ya, faktanya, orang memilih anjing sebagai penjaga lantaran hewan ini dianggap paling cerdas dan memiliki jiwa penjaga. Bahkan kepolisian saja memanfaatkan anjing yang kemudian dilatih sebagai anjing pelacak untuk membantu mereka dalam melakukan investigasi atau dikenal dengan istilah anjing pelacak.

Dari berbagai jenis anjing penjaga, kamu perlu mengenali masing-masing jenisnya. Terutama untukmu yang dalam waktu dekat memang sudah berencana untuk mendatangkan anjing jenis ini ke rumah dan dijadikan penjaga. Sebab tak hanya kuat dan berbahaya, anjing penjaga yang baik harus benar-benar bisa melindungi rumah dari gangguan pencuri. Lantas jenis anjing apa saja yang memiliki kualitas seperti itu?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Gawai Bukanlah Segalanya, Tinggalkan Sejenak Apabila Keberadaannya Justru Membuatmu Banyak Lupa

Dalam sehari, kira-kira berapa lama kamu menghabiskan waktu untuk menatap gawai? Adakah yang sampai 12 jam lebih? Wah, hati-hati, bisa jadi kamu sejatinya sedang kecanduan gawai. Ya, terlepas dari sebuah ‘tuntutan zaman’ lantaran setiap orang sekarang ini sepertinya selalu mengandalkan gawai, bukan berarti hidupmu sepenuhnya harus terikat dengan gawai.

Memang, tanpa gawai, rasanya ada yang kurang. Kita tidak bisa memantau media sosial, tak bisa menelpon atau berkabar dengan orang terdekat dan teman-teman. Tapi faktanya, keberadaan gawai juga membawa dampak lain yang tak cukup baik untuk kesehatan mentalmu. Bahkan, terlalu sering bergantung dengan gawai, membuatmu rentan terdistraksi dan tidak bisa fokus. Akibatnya, kamu malah jadi sering lupa dengan banyak hal.

Perbanyak Kegiatan Outdoor dan Matikan Gawai Selama Berkegiatan

Terlalu sering memainkan gawai mengindikasikan kalau kamu pasti tipe orang rumahan. Selain jarang berinteraksi dengan orang-orang di sekitar, kamu pun tak suka berlama-lama berada di luar rumah. Padahal, sejatinya kamu jelas perlu melakukan kegiatan di luar rumah. Kenapa? Hal itu akan membantumu mengurangi distraksi dengan gawai. Tak perlu kegiatan outdoor yang kelewat ekstrim atau sukar dilakukan, cobalah untuk bepergian ke alam entah untuk bersepeda, hiking, atau hanya jalan-jalan saja. Sepanjang aktivitas itu, tahan diri untuk tidak membuka gawai. Perbanyaklah komunikasi dengan teman-teman atau keluarga yang menemani perjalananmu. Selain mengurangi distraksi dengan gawai, kamu pun jadi semakin dekat dengan keluarga.

Tekad Kuat Jelas Diperlukan Sekalipun Hanya Soal Kecanduan Gawai

Kamu pasti memahami, hal yang paling dasar sebelum memulai sesuatu adalah niat. Seberapapun besar niat kita, kalau tidak dilakoni dengan sungguh-sungguh, maka sukar berhasil. Karenanya, cobalah untuk mengumpulkan niat untuk berhenti, atau setidaknya mengurangi kebiasaan bermain gawai. Ketika tekad kita sudah betul-betul bulat, sejatinya kamu pun tinggal melakoni  niatmu tersebut. Semakin besar niat, tentu saja kita bisa menepis setiap godaan yang mengarah agar kita terikat kembali dengan gawai.

Kembali Nikmati Hobimu di Waktu Luang dan Simpan Gawai di Tempat yang Tak Mudah Kamu Jangkau

Meski kamu sangat menggemari bermain game di gawai, tapi sebaiknya cari alternatif yang lain. Coba ingat lagi hobi lama yang mungkin hampir kamu lupakan karena saking sibuknya dengan gawai. Mungkin membaca, bernyanyi, melukis, atau sekalipun memasak. Lakukan kegiatan tersebut di waktu luangmu. Saat kamu beraktivitas dengan hobimu, cobalah untuk menyimpan gawai di tempat yang sukar kamu jangkau. Entah yang jaraknya sekian meter dari tempatmu, atau cukup menyimpannya di dalam lemari. Meski sepele, hal itu akan membuatmu tidak terdistraksi dengan gawai.

Sekali Lagi, Jaga Jarak Tak Cuma dengan Orang, Adakalanya Lakukan dengan Gawaimu

Untuk menghindari interaksi, tentu saja bermainlah dengan jarak. Akan lebih baik kalau kamu tak usah membawa gawai jika ingin bepergian ke tempat yang relatif dekat. Misalnya, kamu hendak ke minimarket, atau kamu sedang berencana lari pagi, atau bahkan mengantarkan adikmu ke sekolah, lebih baik simpan dahulu gawaimu. Pelan tapi pasti, hal itu akan membuat kadar kecanduan terhadap gawai jadi berkurang.

Buatlah Jadwal Pasti Kapan Kamu Bisa Menggunakan Gawai

Untukmu yang benar-benar merasa sukar menyembuhkan kecanduan dengan gawai, maka langkah yang paling tepat adalah dengan mengurangi kebiasaan tersebut. Solusi yang tepat adalah membuat jadwal kapan kamu memegang gawai, bekerja, dan beraktivitas tanpa gawai. Aturlah hal-hal yang berkaitan tersebut menjadi sebuah jadwal. Dengan membuat jadwal, tentu kamu akan lebih teratur dan lebih disiplin mengenai waktu yang kamu gunakan setiap harinya. Kalau kamu tidak membuat jadwal, pasti ada ada saja godaan dan hal hal yang membuat kita terpaksa ingin memainkan gawai secara terus-menerus.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top