Feature

Jangan Menikah Karena Dituntut Usia, Karena Hidup Berdua Tak Semudah Kelihatannya

“Kamu sudah bekerja, berpenghasilan dengan usia yang cukup matang. Lalu apa lagi? Menikahlah!”

Hampir merasa bosan, kalimat ini sering kali terdengar di telinga. Sebagian besar masyarakat kita memang masih percaya, bahwa usia dan penghasilan yang cukup jadi bukti kesiapan untuk sebuah pernikahan. Hah? Masa iya sih?

Perjalanan cerita ke jenjang dewasa hadir dengan berbagai macam konsekuensinya. Mulai bertanggung jawab pada kehidupan sendiri, hingga kesediaan diri saat akan dicecar pertanyaan, “Kapan nikah?”

Seakan lupa hak yang kita punya, orangtua dan keluarga kerap bertanya, tanpa coba memahami apa yang sedang memenuhi isi kepala. Kita perlu merenungkan pertanyaan ini pada diri sendiri. Apakah diri ini mau menikah hanya karena diburu usia?

Tak Perlu Takut Dianggap Telat Menikah, Jika Diri Ini Masih Ingin Hidup Sendiri dan Bahagia

Ilustrasi akan bahagianya hidup orang-orang yang baru menikah, tak selalu berjalan lurus dengan kenyataan. Kamu mungkin akan sedikit iri, melihat beberapa postingan liburan seorang teman bersama pasangan halalnya. Hingga gemasnya bayi-bayi lucu yang telah mereka punya. Bukan tak ingin percaya bahwa mereka memang benar-benar bahagia. Kamu perlu tahu bahwa,ada berbagai macam kelelahan yang sebenarnya sedang mereka sembunyikan.

Toh tanpa harus menikah buru-buru, kamu juga bisa bahagia dengan caramu. Tak ada yang perlu terlalu keras dikejar. Apalagi kata telat yang selalu dijadikan acuan.

Memang Benar Ini Adalah Kebutuhan Tapi Keputusan yang Dipaksakan Tak Akan Berumur Panjang

Katakanlah kamu memang akan menikah, demi kebutuhan akan desakan dari orangtua atau keluarga. Tak ingin jadi anak yang tak berbakti, kamu pun menuruti keinginan mereka. Tapi tunggu dulu, apa iya itu adalah keinginan dari hatimu? Kalau ternyata tidak. Lantas untuk apa?

Meski cinta katanya akan tumbuh jika sering bersama. Tapi sesuatu yang datang bukan dari hati sering berakhir dengan luka. Entah itu melukaimu atau melukai dirinya. Karena semuanya dilakukan dengan terpaksa.

Tidak Ada Aturan yang Mengharuskanmu Untuk Menikah, Semua Pilihan Tetap Ada Padamu Sepenuhnya

Entah bermula dari mana, orang-orang di negara kita menganggap jika mereka yang dirasakan telah pantas sebaiknya harus buru-buru menikah. Mulai dari masalah usia, adat hingga ibadah pun dibawa-bawa. Kalau kamu tak cukup kuat untuk menerima semua desakan yang ada. Bisa jadi siapa pun yang telah didepan mata, akan diterima.

Coba bayangkan, memangnya ada undang-undang yang mengatur kita harus menikah? Kalau ternyata tidak, kenapa harus resah? Sebagai manusia yang telah dewasa kita bebas menentukan apa saja yang akan kita lakukan.

Tutup Telinga Untuk Semua Cibiran, Jalani Hidupmu Seperti Biasa

“Kasihan ya sudah dewasa, tapi tak pernah terlihat menggandeng pacar!”

Jika didengar secara sekilas, kalimat tersebut terlihat sebagai bentuk perhatian. Tapi isi didalamnya malah jauh lebih menyakitkan. Banyak orang yang akan mencibirmu, dengan berlaku seperti hakim yang berhak memvonis seorang tersangka. Padahal kamu juga tak berbuat salah.

Menikah akan menyadarkan kita bahwa hidup tak lagi tentang diri sendiri saja. Banyak hal yang harus rela kita tanggalkan, untuk memulai hidup baru yang berbeda. Jika ternyata belum cukup kuat untuk menerima, berjalanlah ke manapun engkau suka, tanpa perlu menghiraukan komentar mereka.

Karena Pilihan Ini Tak Cuma Soal Cinta Dua Manusia, Tapi Bagaimana Menyatukan Dua Keluarga

Kalau saja menikah hanya tentang dua kepala manusia, rasanya tak akan ada lagi kasus batal menikah cuma karena tak disetujui orangtua. Alasan semacam ini jadi hal lain yang patut dipikirkan matang-matang. Jangan sampai ketika hubungan sudah berjalan, tiba-tiba kamu merasa terjebak dan menyesal.

Selain berusaha menyakinkan diri bahwa dia adalah sosok yang kita cari. Dua belah keluarga tentu jadi pihak yang harus kita pikirkan. Adakah kecocokan yang memang ada titik temunya atau tidak? Jika ternyata dirasa tidak, sebaiknya jangan diteruskan.

Meski Kemapanan Katanya Membuat Bahagia Apa Artinya Jika Kamu Tak Nyaman Berada Disampingnya

Manusia lajang, khususnya perempuan kadang salah dalam mengartikan pasangan. Dan semoga kamu tidak akan bernasib sama dengan mereka. Entah atas dasar kemauan sendiri atau didesak orangtua dan orang-orang di sekeliling, masalah finansial jadi salah satu hal terkuat yang dijadikan patokan.

Seakan-akan kalau calon pasanganmu adalah sosok yang telah mapan, maka hidupmu akan lebih bahagia. Hal yang jadi pertanyaanya, apakah benar demikian? Tentu saja tidak. Ini bukan soal pergi ke KUA, lalu menikah saja. Tapi bagaimana kamu bisa mengikat diri untuk setia selamanya, meski tak akan langsung hidup bahagia. Merintis semuanya dari awal berdua dengannya tentu saja lebih membahagiakan. 

Semua Ini Tentu Jadi Perkara Kesiapan, Jika Masih Merasa Tak Mampu Cobalah Untuk Memantaskan Diri Dulu

Menikah jadi pilihan besar dengan segala konsekuensinya, kamu tak bisa tiba-tiba bilang ,“Ah aku udah nggak suka kamu lagi!”, lantas memilih pergi. Pernikahan adalah sebuah hubungan sakral. Kita tentu tak dapat mengakhiri sesuatu yang tak lagi disukai secara tiba-tiba.

Karena pada dasarnya tak ada istilah terlambat menikah. Semua ada masanya, kapan dan di mana kita akan menikah. Tak perlu memaksa diri untuk segera melepas masa lajang. Ini masalah kesiapan diri, baik mental, jiwa, serta materi.

Belum menikah sekarang bukan berarti kamu lebih buruk dari mereka yang lebih dulu menikah. Toh, dengan belum menikah bukan berarti kamu lantas tak bahagia!

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Karena Berhemat Bisa Dilakukan Secara Menyenangkan

Sebetulnya kenapa sih kita harus melakukan penghematan? Kenapa kita harus menabung? Toh kita selama ini mampu membayar kebutuhan kita, kenapa pulak kita harus repot menyisihkan penghasilan untuk menabung?

Meski tidak selalu eksplisit mungkin pertanyaan macam itu kerap muncul di benakmu. Apalagi sedari kecil kita memang ditanamkan untuk tidak boros. Tapi sayangnya kita memang tak pernah diajarkan alasan kenapa kita harus berhemat dan menabung.

Dalam hal menabung, hal paling penting yang harus kamu ingat adalah kondisimu tidak akan selalu sama seperti sekarang ini. Kamu tidak selalu bisa seproduktif seperti saat ini.

Coba bayangkan saja kalau kamu sakit, tentunya kamu tidak akan bisa bekerja seperti biasanya. Atau nanti ketika tua kamu juga sudah tak lagi bisa menghasilkan seperti ketika muda. Pada saat itulah kita akan menuai hasil penghematan yang kita lakukan saat ini.

Lagi pula, bicara soal hemat itu jangan langsung mengasosiasikan dengan hidup susah dan tak menyenangkan. Kita bisa kok, melakukan penghematan dengan cara yang mengasyikkan.

Berhemat Itu Di depan Bukan Belakangan Karena Terpaksa Tak Punya Uang

Ini kekeliruan utama yang sering kita lakukan. Penghematan dan menabung itu dilakukan belakangan ketika duit hanya tinggal sisa remah-remah akhir bulan. Pada saat itu tentunya berhemat jadi tak menyenangkan karena terasa seperti keharusan karena kehabisan uang. Ditambah lagi cara ini sering kali gagal.

Karena itu cobalah untuk melakukan penghematan itu di depan. Rencanakan semua pengeluaran itu sebelum bulan berjalan. Jadi yang kita lakukan adalah mengatur pemasukan dan pengeluaran, bukan melakukan pengetatan ikat pinggang karena kekurangan uang. Tentukan dulu sedari awal prosentase uang yang ingin kita hemat setiap bulannya.

Irit Itu Tak Perlu Rumit, Menabunglah Menggunakan Rumus 80-20!

Seorang pemikir manajemen bisnis bernama Joseph M. Juran memperkenalkan konsep menabung 80-20. Konsepnya dari rumus ini sangat sederhana. Kamu hanya perlu menabung sebesar 20% dari pendapatan bersih yang telah kamu peroleh. Kemudian gunakan sisanya untuk dibelanjakan. Sebesar 50% dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sedangkan 30% sisanya dipakai untuk membeli apa yang kita inginkan.

Sertakan Impianmu Dalam Rencana Penghematan, Karena Menabung Dengan Tujuan Itu Jauh Lebih Mudah

Tak perlu menabung dengan jumlah sangat besar dengan tujuan yang tak jelas. Sikap “yang penting punya tabungan” biasanya sumber dari kegagalan menabung. Karena kita tak akan punya motivasi jelas kenapa harus berhemat.

Karena itu cobalah untuk menetapkan terlebih dahulu tujuanmu. Misalnya, berhemat karena ingin mengganti smartphone terbaru dengan harga tertentu, ingin membeli sepatu merk tertentu yang harganya tak murah, ingin menabung untuk penghasilan di hari tua, berhemat untuk dana darurat ketika sakit, dan tujuan spesifik lainnya.

Dengan membagi tujuanmu secara rinci manajemen keuanganmu juga akan lebih baik. Dan kamu akan punya banyak pos keuangan yang tidak saling tumpang tindih.

Jangan Salah ya, Barang Yang Keren Tak Selalu Idientik Dengan Boros

Kamu keliru kalau berpikir barang-barang yang hemat itu tak bagus. Dan sebaliknya barang-barang yang keren itu harus boros. Coba ambil contoh misalnya lampu LED yang hemat energi. Bentuk dan nyala lampunya jauh lebih baik dari lampu biasa. Pendingin ruangan juga punya karakteristik yang sama. AC dengan teknologi low watt punya bentuk yang lebih langsing dan jauh lebih bisa disesuaikan dengan tampilan interior rumah.

Kendaraan Yang Hemat Pun Bisa Juga Tampil Keren Loh

Sementara untuk kendaraan kamu bisa menengok Suzuki Nex. Motor satu ini memegang rekor MURI untuk kategori motor matic paling irit. Ketika pemecahan rekor mampu mencapai 109,8Km/L. Hal ini dimungkinkan karena Suzuki Nex dibekali mesin 113cc dengan teknologi SUPER FI (Suzuki Performance Fuel Injection) dan mesin berkonsep LeaP (Light, Efficient and Powerful) yang telah terbukti menghasilkan tenaga besar secara presisi dan minim gesekan sehingga mampu mengoptimalkan efisiensi konsumsi bahan bakar.

Tapi meski lekat dengan irit dan hemat bukan berarti Nex akan membuat kita jadi tampil seadanya. Karena Suzuki menawarkan rasa elegan dan mewah pada skutik yang dibandrol Rp12.950.000 ini. Pilihan warna misalnya disediakan Mat Titanium Silver, Titanium Silver, dan Matt Black. Warna-warna yang masuk kategori berkelas.

Desainnya sendiri juga berkelas dengan lampu depan model V dengan bodi keseluruhan yang ramping. Nah, terkait dengan dimensi, pada Suzuki Nex ini memiliki ukuran dimensi dengan panjang 1850 mm, lebarnya 665 mm, dan tinggi 1035 mm serta memiliki berat hingga 90 Kg saja. Suzuki pun juga melengkapi Suzuki Nex ini dengan velg roda berpalang tiga dengan rem cakram di depan. Sebuah tampilan yang tentunya elegan sekaligus sporty.

Jadi kamu siap berhemat dengan cara yang menyenangkan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Apa Saja yang Dilakukan Orang Cerdas di Media Sosial?

Tak hanya untuk urusan akademik saja, perilaku seseorang yang memang cerdas akan tergambar dari segala aspek kehidupannya. Dan salah satu hal yang berhubungan erat dengan kita adalah aktivitasnya di media sosial.

Sekilas hal ini mungkin terlihat tak terlalu menarik perhatian, namun mengingat banyaknya hal-hal yang kerap berujung pada pertengkaran di media sosial. Agaknya sayang sekali jika tak jadi bahan perbincangan.

Tak perlu berteriak untuk bilang bahwa kamu ini adalah sosok yang cerdas. Karena tanpa kamu beritahu sekalipun, seseorang di luar sana bisa menilaimu dari apa yang kerap kamu bagikan.

Setiap Orang Punya Hak yang Sama Untuk Berekspresi, Akan Tetapi Mereka Punya Cara Berbeda Untuk Berbagi

Kita tentu telah bosan, oleh suguhan status yang tak jelas juntrungnya. Akan tetapi mereka yang memiliki pemikiran tak biasa, punya cara lain untuk menunjukkan isi hatinya. Senangnya tak selalu disampaikan dengan kata-kata syukur yang berlebihan, hingga sedih yang tak semuanya harus dibagikan.

Tahu bahwa ada ribuan pasang mata yang siap mengakses apa yang akan mereka kerjakan, tautan dan status yang mereka bagikan selalu bernada positif bagi semua orang.

Platform Ini Jadi Personal Branding Baginya, Kamu Tak Akan Menemukan Konten Murahan di Timelinenya

Figur-figur cerdas tahu bagaimana memanfaatkan sesuatu agar berpengaruh baik bagi hidupnya. Bahkan hal-hal remeh yang bagi orang lain tak penting, bisa jadi sesuatu yang bermakna besar untuknya.

Dimata mereka sosial media adalah gambaran atas jati diri yang ia punya, jadi jangan heran jika suatu kali kamu akan menemukan postingan-postingan bernada serupa dalam setiap harinya. Bukan tak ingin mencari tahu hal lain diluar yang ia suka. Tapi baginya segala yang ia bagikan akan jadi hal yang menjelaskan siapa sebenarnya dirinya.

Berdebat Untuk Hal yang Benar Tentu Bukanlah Kesalahan, Tapi Mereka Tahu Kapan Akan Membuka Suara di Kolom Komentar

Banyak orang mengaku berpendidikan, namun kerap terlibat perang pendapat pada kolom komentar. Dan disaat itu kamu harusnya membuka mata, karena mereka yang cerdas sungguhan tak akan melakukan hal yang sia-sia.

Banyaknya konten-konten bernada negatif yang sudah memenuhi hidup kita beberapa tahun terakhir, bak makanan sehari-hari. Sebagian orang yang peduli akan berjuang melawan satu per satu komentar yang kontra terhadapnya. Sedangkan yang lain terkesan cuek dan tak peduli, cukup dengan membaca saja.

Jangan pikir mereka tak punya kepedulian terhadap sekeliliingnya. Hanya saja mereka paham bahwa orang-orang yang tak suka akan tetap mencari cara untuk menyuarakan pendapatnya.

Pribadi yang cerdas hanya akan membuka suaranya pada hal-hal yang memang harus diluruskan dan dibenarkan.

Bukan Tak Punya Masalah, Mereka Paham Media Sosial Bukanlah Kotak Keluhan

“Konon berbagi masalah akan mengurangi beban yang kita punya”

Dan hampir setiap kita mungkin akan percaya, padahal pernyataan ini jadi sesuatu yang perlu dicari tahu kebenarannya. Memang sih tak ada masalah yang tak terselesaikan, dan berbagi cerita mungkin akan sedikit mengurangi beban.

Akan tetapi, mereka yang benar-benar cerdas tak akan melakukan hal-hal konyol yang tak berguna. Di kepala mereka ada sesuatu yang nampaknya sudah terpatri. Bertugas untuk memilah-milah hal yang harus dibagikan, dengan sesuatu yang tidak seharusnya dibagikan.

Tutur Kata dan Gaya Bahasa yang Menyebalkan, Tak Akan Kamu Temukan Di Sepanjang Postingannya

Bagaimana riuhnya media sosial pada era pilkada DKI kemarin, tentu telah membuat kita merasa jengah. Untuk dapat memastikan mereka-mereka yang memang memiliki kecerdasan yang tak biasa, cobalah tengok kembali timeline media sosial dari teman-temanmu.

Tahu situasinya sedang genting, pribadi yang cerdas tak akan unjuk gigi demi menaikkan eksistensi. Tak mau jadi pihak yang memperkeruh situasi, ia malah bertindak sebagai seseorang yang menabur kasih.

Berbeda Pandangan adalah Hal Biasa, Namun Bisa Menerima Masukan itu Luar Biasa

Media sosial dan perdebatan jadi sesuatu yang saling berhubungan. Tak percaya? Coba saja lihat kolom komentar di laman instagram milik artis Rina Nose yang kemarin tengah menjadi perhatian atas keputusannya untuk melepas hijab yang telah dipakainya hampir setahun terakhir.

Dari puluhan ribu komentar yang ada, hampir setengahnya berisi hujatan bernada menyalahkan. Jika punya cukup banyak waktu untuk memerhatikan satu per satu komentar yang ada, kita bisa melihat akun mana yang dikendalikan orang cerdas dan yang tidak.

Sosok yang memang benar-benar cerdas, tentu cukup bijak untuk menilai sebuah pandangan. Walau meski kadang kala akan tak sesuai dengan apa yang ia pikirkan, bukan berarti berhak untuk menyalahkan orang lain. Sebaliknya, ia akan membuka diri untuk menerima hal-hal yang tadinya tak diketahui sama sekali.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Hubungan Tanpa Status: Kerugian yang Terlihat Menyenangkan

Sering terlihat bersama, namun ketika ditanya apa status hubungannya, malah dijawab dengan tidak ada apa-apa. Pemandangan akan dua orang yang seperti ini, nampaknya kerap kita temui. Bahkan sikap dan perilaku mereka pun biasa, sama seperti pasangan yang pacaran pada umumnya.

Tapi jika kamu adalah salah satu orang yang ingin berniat untuk menjalani hubungan serupa, sini aku kasih tahu sedap dan tidaknya menjalani hubungan tanpa status. Meski katamu itu akan membuatmu lebih leluasa, sebenarnya kamu sedang dirugikan oleh rasa.  

Katamu Ini Tak Berarti, Namun Pelan-pelan Kamu Malah Menaruh Hati

“Apalah arti sebuah status, jika kita berdua sudah sama-sama nyaman”

Hati mana yang tak akan luluh, mendengar kalimat manis seperti itu. Tentu kita akan menggangguk setuju, dan lantang bersuara bahwa status memang tak selalu perlu. Ya, benar memang. Tapi, apa yakin bisa tetap bertahan dengan status yang demikian?

Jika hubunganmu hanya akan berjalan, satu atau dua minggu. Mungkin alasan itu bisa diterima. Gawatnya, kalian berdua justru semakin sering bertemu. Entah itu sekedar mengobrol atau makan bersama setiap malam Minggu. Percaya atau tidak, seiring dengan berjalannya waktu, salah satu dari kalian akan mulai sayang. Dan ketika rasa sayang yang tumbuh dari kebersamaan itu justru bertepuk sebelah tangan, kamu pun jadi terluka.

Satu Kebohongan Untuk Menutupi Hubungan, Akan Ada Kebohongan Lain di Belakang

Tak perlu ditanya satu per satu, hubungan ini tentu jadi rahasia kalian berdua. Seolah tak ingin ada yang tahu, kalian kerap bertemu secara diam-diam. Awalnya mungkin akan merasa baik-baik saja, lalu kamu pun akan merasa bahwa semuanya mulai membuatmu tak nyaman untuk menjalaninya.

Kebohongan yang awalnya dilakukan demi hubungan, akan melahirkan kebohongan lain yang kamu pikir akan menyelamatkan. Bertindak jadi sosok yang sedang berjuang, bisa jadi kamu hanya dimanfaatkan.

 

Kamu Mungkin Selalu Ada Untuknya, Tapi Dirinya Justru Sebaliknya

Konon hubungan tanpa status memang membuatmu lebih leluasa dalam menjalaninya. Tak ada perasaan yang harus dijaga hingga masih bisa bepergian dengan siapa saja. Anehnya kamu justru bertindak sebagaimana pasangan yang sedang berusaha menyenangkan hati pacarnya.

Baik, kamu mungkin telah menganggap dirinya sebagai pacar yang sah. Hingga apa pun yang dia butuhkan dalam hidupnya, kamu selalu ada untuk memenuhinya.

Anehnya, perlakuan yang kamu terima justru berbanding terbalik dengan apa yang sudah kamu lakukan untuknya. Hatimu bisa saja ingin berontak dan meminta hal yang sepadan. Tapi ada daya, dimatanya kadang diri ini bukanlah siapa-siapa.

 

Tak Akan Bisa Berbuat Banyak, Meski Kerap Takut Kehilangan Jejak

Dia yang kamu sebut pacar mungkin akan dengan senang hati memenuhi segala permintaan. Masalahnya, orang yang kini kamu panggil sayang bukanlah pacar sungguhan. Kalian berdua hanya sedang terjebak pada keinginan yang mungkin saling menguntungkan. Kamu butuh pacar, dirinya butuh sandaran.

Berbekal sayang semuanya mengalir begitu saja tanpa adanya deklarasi hubungan. Bahkan apa pun yang akan dilakukannya, kamu hanya bisa terima apa adanya. Karena jika salah satu berupaya untuk menuntut yang lain untuk sesuatu yang terlalu banyak, maka kita perlu ingat jika diri ini bukanlah siapa-siapa baginya.

Cemburumu Menguras Hati, Namun Dirinya Bisa Jadi Tak Peduli

Tak hanya ada pada lirik lagu saja, hal seperti ini kerap membuat kamu panas hati. Bahkan ketika dia sedang bersama dengan yang lain tepat di hadapanmu, tak ada yang bisa kamu perbuat, karena nyatanya statusmu tak cukup kuat untuk menghentikan sikapnya.

Bersyukur jika dirinya mengerti bahwa hatimu sedang tak sehat atas pemandangan yang dibuatnya. Hal lain yang akan semakin mencabik-cabik hati adalah saat dia justru bersikap biasa tanpa rasa bersalah. Wajar memang, toh kamu dan dirinya hanyalah sebatas teman.

Hingga Pada Pandangan Buruk yang Kerap Orang-orang Katakan

Bohong jika katamu, tak akan ada yang curiga atas hubungan yang kalian punya. Setidaknya akan ada satu dua orang yang akan memerhatikan apa yang kerap kalian lakukan. Baik itu bertemu diam-diam, hingga membantunya dibeberapa kesempatan.

Beberapa orang akan mulai bersikap sebagai hakim atas pilihan yang sedang kamu jalani. Menganggap kamu gampangan hingga menilai hubunganmu tak punya masa depan  Kamu bisa saja tak peduli dengan apa yang orang lain katakan, apalagi jika ternyata pelan-pelan kalian justru saling menguatkan karena sudah punya rasa yang sama. Lalu bagaimana jika apa yang selama ini orang lain kerap katakan, akan berubah jadi kenyataan. Sakit kan?

Dan Ketika Kamu Mulai Mematrikan Hati Untuknya, Dia Justru Pergi dengan Pilihan Barunya

Ini akan jadi bagian terperih dari hubungan tanpa status yang tadinya kamu anggap tak akan sia-sia. Hatimu bisa saja sudah berubah, karena sadar bahwa sebenarnya dia bisa jadi sosok yang melengkapi kekuranganmu. Tapi untuk isi hati dari miliknya? Tentu hanya dialah yang tahu.

Setelah sekian lama memendam rasa, akhirnya kamu hanya bisa kecewa saat dia memilih orang lain. Bukan kamu yang kemarin katanya bisa menenangkan jiwa, namun ternyata hanya sebatas teman untuknya. Bukan jadi pasangan yang akan dicintai selamanya.

Bukan tak percaya pada pilihan hidupmu, namun memilih untuk menjalin hubungan tanpa status kadang hanya membuatmu jadi manusia yang merugi.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Bukannya Aku Anti dengan Seni, Tapi Sebuah Tato di Tubuh Hanya Akan Menuai Kontroversi

Entah sudah berapa kali kamu bilang padaku soal keinginanmu yang ingin membuat tato kecil di lenganmu itu. Hal ini jelas membuatku gusar dan sedikit kesal. Rasanya sukar sekali membuatmu mengurungkan niatmu  itu. Aku tahu, keinginanmu membuat tato tak lepas dari kesukaanmu pada seni. Pun dengan aku, bukannya aku anti dengan seni dan segala hal yang kamu suka, aku hanya tidak ingin kamu jadi perbincangan orang-orang yang tak mengerti maksud dan tujuanmu itu.

Kamu bilang padaku, “Cuek saja dengan apa kata orang,” tapi aku tak bisa demikian. Mungkin teman-teman kita sudah menganggap tato jadi hal yang lazim, tapi tidak dengan keluargamu atau keluargaku. Seringkali, pola pikir lintas generasi membuat kita berbenturan dengan mereka yang lebih tua, atau yang sejak awal sudah menganggap sesuatu yang tak lazim maka selamanya tetap seperti itu. Bukan hanya itu, aku tak rela kamu bertato karena yang kutahu tato justru mendatangkan dampak yang tak baik bagi kulitmu.

Urusan Kesehatan Menjadi Alasan Utama Mengapa Aku Keberatan Kalau Kamu Bertato

Kamu harus tahu, salah satu risiko membuat tato adalah menyebabkan infeksi. Munculnya infeksi bisa saja berasal dari tinta yang telah terkontaminasi bakteri Mycobacterium chelonae. Efeknya, akan muncul ruam di kulit dan terasa perih setelah berbulan-bulan lamanya. Bahkan infeksi virus ini juga bisa berkembang jadi tumbuhnya kutil. Yakin? Masih kekeuh mau menato?  Aku hanya mengingatkan. Belum lagi munculnya alergi. Bisa berupa kemerahan pada kulit yang kemudian jadi gatal-gatal. Alergi yang muncul karena tato bahkan sulit diobati.

Tak Sedikit dari Mereka yang Sudah Bertato Pada Akhirnya Menyesal dengan Tato yang Telah Dibuat

Menutup kulit dengan tato lagi-lagi berimbas pada kesehatan kulit. Pasalnya, adanya tato ternyata membuat dokter sulit melakukan deteksi dini adanya kanker. Akibatnya, kanker pun jadi terlambat untuk ditangani. Maka tak heran jika tidak sedikit orang yang pernah merajah tubuhnya dengan tato akhirnya menyesal di kemudian hari, bahkan berniat menghapus tato tersebut. Berdasarkan penelitian, sebanyak 28 persen orang Amerika menyesali tato yang dibuatnya dalam jangka waktu setahun. Aku tak mau kamu menyesal pada kemudian hari. Jadi, bukankah lebih baik tak usah bertato?

Belum Lagi Soal Restu Orangtuaku, Mereka Tahunya Kamu Tak Bertato, Apa Jadinya Kalau Suatu Saat Kita Terganjal Restu Hanya Karena Tato yang Terlanjur Melekat?

Sekian waktu kita menjalani relasi, orangtuaku memang sudah setuju. Tapi bukan berarti mereka tak menanyakanmu lebih lanjut. Aku tahu, keinginan mereka adalah agar aku mendapatkan orang yang memang tepat untukku. Tapi apa iya, saat aku mengira kamulah yang paling tepat, orangtuaku justru tidak merasa demikian.

Kuakui orangtuaku masih sangat kaku, mereka pasti tidak bisa dengan mudah memahami alasanmu jika kamu benar-benar ingin bertato. Inilah mengapa kukatakan, tato hanya akan menuai kontroversi. Semula kamu datang tanpa tato, apa jadinya kalau mereka mendapati fakta baru? Aku hanya tak siap berpisah denganmu hanya karena urusan tato.

Lagipula, Bukankah Agama Pun Melarang Soal Menato Tubuh?

Bukannya aku ingin menceramahi, hanya saja setahuku demikian. Kamu dan aku sama-sama beragama, bukankah sebaiknya kamu mengurungkan niatmu daripada kepalang terlanjur padahal kamu tahu hal itu dilarang? Aku hanya tak ingin kamu mendapat cap yang tak seharusnya hanya karena sebuah tato.

Mungkin kini kamu tahu, tekadku untuk menentangmu agar tak bertato memang cukup kuat. Kalau dibandingkan antara manfaat dan tidaknya, aku bahkan belum melihat adanya faedah dari sebuah tato. Tapi bila akhirnya kamu enggan mendengarkan segala masukanku, maafkan jika aku marah padamu.

Suatu Saat Bila Aku Marah, Kuharap Kamu Mengerti. Atau Setidaknya, Jelaskanlah Alasan Logis Dari Sebuah Tato yang Begitu Kamu Dambakan Itu

Aku dan kamu sedang tak sepemikiran untuk hal yang satu ini. Karenanya, bila akhirnya kamu memilih jalanmu tanpa mempertimbangkan saran-saranku, tolong maklumi jika aku marah padamu. Sebagai partner, aku mencoba menuntunmu untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Toh kalau kamu tak melihat usahaku yang demikian adanya, baiklah, mungkin suatu saat aku akan mengerti. Atau setidaknya, berikan aku satu penjelasan logis yang bisa membuatku mengerti mengapa harus menato.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

MOST SHARE

To Top