Trending

Instagram Jadi Sosial Media Perusak Mental, Penelitian Ini Membuktikannya

Media sosial telah menjadi salah satu alat interaksi yang tak bisa lepas dari kehidupan era digital. Hadir dengan berbagai jenis yang beragam membuat kita lebih leluasa untuk menyampaikan gagasan. Dari banyaknya sosial media yang ditawarkan, Instagram jadi salah satu media sosial yang banyak digunakan. Platform yang tadinya hanya diperuntukan untuk berbagi foto dan video kini meluaskan sayapnya dengan berbagai fitur baru yang lebih menarik, sehingga membuat seseorang lebih leluasa untuk mengutarakan rasa. Bahkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting bagi orang lain. Dinilai sebagai aktivitas interaksi yang baik, justru kegiatan ini telah merusak kesehatan mental penggunanya.

Hal ini juga dibenarkan oleh survey bertajuk Status of Mind yang dilakukan oleh The Royal Society for Public Health. dengan melibatkan 1.479 orang remaja usia 14 hingga 24 tahun, yang berasal dari Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia. Mereka diminta untuk menilai media sosial apa saja yang mempengaruhi kehidupan mereka. Hasilnya instagram jadi media sosial pertama yang paling berdampak buruk untuk kesehatan mental seseorang. Tanpa bermaksud untuk menerka-nerka, beberapa hal ini mungkin bisa menjadi gambaran.

Platform Yang Tadinya Ditujukan Untuk Berbagi Foto, Berubah Jadi Sumber Depresi Hingga Intimidasi

Berada pada urutan pertama media sosial yang berpotensi merusak kesehatan mental, bukan hanya dugaan belaka. Instagram tercacat sebagai wadah yang memberi dampak negatif berbahaya. Dimulai dari membahayakan persepsi citra tubuh, meningkatkan rasa takut kehilangan dan menyita waktu tidur yang dimiliki. Hadir dengan lebih menonjol pada sisi gambar, memang membuat instagram lebih digandrungi orang.

Namun siapa sangka justru dari sanalah pengaruh buruk itu berasal. Sisi visual yang dihadirkan pada instagram membentuk citra baru akan bentuk tubuh indah dan wajah tampan yang dijadikan patokan. Belum lagi berbagai macam iklan produk kecantikan, fashion style, berbagai foto barang mewah hingga gaya hidup para selebgram yang ingin diaplikasikan kemudian berubah jadi bumerang yang menyakitkan baik secara fisik maupun mental karena kenyataan hidup yang dipunya tak sebanding dengan apa yang ditonton pada instagram. Kemampuan yang tak mencukupi pun akhirnya melahirkan depresi pagi jiwa, hingga intimidasi pada diri sendiri.

Seakan Tak Mau Ketinggalan, Berusaha Untuk Sempurna Di Mata Orang Meski Tak Seperti Kenyataan

Media sosial memang bisa jadi sihir yang mematikan. Membuat orang berubah hingga menjadi sosok yang bahkan dirinya sendiri saja tak mengenalinya. Segala yang dilihat di instagram seakan memaksanya untuk menjadi serupa. Berusaha untuk tampil sempurna dimata orang lain yang akan memandang feed instagram miliknya. Hingga tak lagi berani untuk menunjukkan sisi nyata dari hidup yang sebenarnya. Semua hal yang ia ingin tunjukkan selalu melewati beberapa proses kekhawatiran yang menyiksa. Mempertanyakan apakah suatu foto sudah layak dikatakan sempurna, atau memusingkan pendapat orang lain pada kolom komentar.

Dampak yang lebih buruk lagi, sikap tersebut sering menyeret seseorang pada kebohongan besar dalam hal penampilannya. Segala hal yang dia tunjukkan pada instagram bukanlah kenyataan hidup yang dia jalankan. Jelas hal itu adalah penyakit yang merusak mental.

Hingga Pada Rasa Putus Asa Yang Menilai Hidupnya Tak Semenarik Hidup Yang Orang Lain Punya

Jika kamu masih belum lupa, kontroversi dari salah seorang selebram yang cukup menghebohkan dunia maya. Kehidupannya dianggap sebagai patokan, mulai dari bagaimana ia menikmati liburan, menghabiskan waktu di klub malam hingga gaya berpacaran yang dianggap panutan. Meski banyak yang mencela tak sedikit pula yang justru membela. Imbasnya banyak orang terlebih para remaja yang masih dibawah usia berlomba-lomba untuk melakukan hal serupa, memamerkan foto yang tak seharusnya agar dinilai sama.

Tanpa berniat menyalahkan pihak yang dijadikan contoh, dari fenomena ini kita bisa melihat bahwa pengaruh instagram terhadap perkembangan mental dan cara pandang seseorang. Hingga kemudian merasa putus asa, karena menilai hidup sendiri tak semenyenangkan kehidupan orang lain yang dilihat di Instagram.

Selain Itu Ketakutan Akan Ketinggalan Tren Atau Berita Hangat Yang Sedang Diperbincangkan Juga Jadi Pengaruh Buruk Instagram

Dalam sebuah hasil studi dari beberapa ahli, disebutkan bahwa seseorang akan menghabiskan lebih dari dua jam perhari untuk online di media sosial. Bukannya untuk membuat mereka saling berinteraksi dengan teman atau kerabat jauh, sebagian besar dari mereka justru dilaporkan cenderung memiliki kesehatan mental yang buruk termasuk tekanan psikologis karena terlalu lama online. Rentan waktu yang lama justru digunakan untuk selalu up to date akan tren baru yang sedang diperbincangkan banyak orang. Hal ini dikenal dengan sebutan FOMO atau fear of missing out.
Merasa bahwa ada bagian dari hidup yang terasa tertinggal, jika barang sehari saja tak buka instagram. Berubah jadi kebutuhan, media sosial memang jadi sesuatu yang sulit dipisahkan dari kehidupan seseorang. Namun sisi buruknya justru bisa membahayakan,

Dan Fungsi Instagram Yang Harus Dipertanyakan, Jadi Alat Untuk Interaksi Atau Penjara Baru Untuk Berekspresi

Sejak awal kemunculannya, media sosial memang jadi ruang interaksi baru bagi banyak orang. Individu yang tadinya hanya bisa menyimpan segala gagasan dalam kepala, kini lebih leluasa untuk menyampaikan saran. Tak tangung-tanggung, kini siapa saja berhak untuk menyurakan pendapat lewat media sosial. Cakupannya yang cukup luas membuat siapa saja bebas untuk menujukkannya pendapat di era digital. Diciptakan untuk ruang ekspresi dan wadah interaksi, namun sepertinya media sosial justru hadir dengan fungsi lain yang patut untuk dipertanyakan.

Masih hangat dalam ingatan beberapa kasus perkusi yang beberapa waktu lalu ramai diperbincangkan. Beberapa orang justru mendapatkan intimidasi atas apa yang ia tuangkan pada media sosial. Media yang katanya jadi ruang untuk menyuarakan pendapat, justru berubah jadi penjara baru yang mengawasi gerakmu. Seakan tak ingin melanggar aturan dan undang-undang, justru ini jadi masalah baru yang akan dihadapkan. Mereka yang tadinya ingin menyuarakan banyak hal, jadi diam karena merasa tak lagi memiliki ruang. Hasilnya semua hal akan disimpan dalam kepala seorang diri.

Alih-alih memandang instagram sebagai ruang untuk menyuarakan kebebesan. Justru ia hadir merusak mental. Bagi kamu yang mungkin merasa sama, sebaiknya hati-hati. Karena bisa saja mentalmu juga telah rusak hanya karena kecanduan instagram.

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Warna Favorit Tak Sekedar Soal Selera, Tapi Menentukan Karakter Juga

Semua orang pasti punya warna favorit. Meskipun kamu bilang “tak punya warna kesukaan” secara tak sadar pasti ada preferensi khusus ketika memilih warna. Coba tengok isi lemari pakaianmu, pasti kamu bisa segera menemukan jumlah warna yang lebih banyak dibanding lainnya.

Dari penelitian, secara statistik warna biru adalah yang paling banyak difavoritkan oleh orang. Termasuk juga warna yang paling banyak dipilih mayoritas laki-laki. Sementara perempuan paling banyak memilih warna hitam. Sementara warna yang paling sedikit difavoritkan adalah warna kuning. Hanya 5 persen orang yang memilih warna ini sebagai kesukaan. Itu pun semakin menua, mereka yang tadinya memilih kuning akan beralih ke warna orange.

Dalam cabang ilmu psikologi, warna ini tak cuma dianggap angin lalu. Ada cabang keilmuan psikologi khusus yang mempelajari hal ini. Disebut pemilihan warna dipengaruhi oleh karakter. Lantas apa kata ilmu tersebut mengenai warna pilihanmu?

Biru Itu Tenang Dan Senang Keteraturan

Biru itu serupa warna lautan. Seringnya di asosiasikan dengan ketenangan. Mereka yang memfavoritkan warna biru biasanya gemar mencari kedamaian dan keteraturan dimanapun dia berada. Biasanya penyuka warna biru mudah bergaul dan sangat bisa diandalkan.

Merah Itu Senang Menjadi Pusat Perhatian Dan Ingin Terlihat Menarik

Meski belum ditemukan sebabnya, namun sejumlah studi menyebut bahwa warna merah cenderung lebih menarik perhatian dibandingkan warna yang lain. Beberapa menyebut hal ini berkaitan dengan insting dasar biologis tubuh yang cenderung memanas dan memerah jika merasa tertarik.

Meski tanpa sengaja, orang yang menyukai warna merah umumnya berasal dari kesadaran ini. Mereka merasa lebih diperhatikan jika menggunakan warna merah. Keinginan untuk selalu mendapat perhatian inilah yang kemudian mendorong seseorang menyukai warna merah.

Hijau Itu Sangat Memperhatikan Keuangan, Keamanan Dan Kesejahteraan

Hijau memang sering dikaitkan dengan alam dan lingkungan. Namun menurut psikologi warna,mereka yang memilih hijau umumnya adalah orang-orang yang mengutamakan kestaabilan keuangannya, sangat ingin mendapatkan rasa aman dan mengutamakan kesejahteraan.

Orange Itu Pembawaannya Santai Dan Mudah Bersahabat

Merka yang gemar warna oranye atau orange umumnya juga gemar menjadi pusat perhatian. Cenderung bersifat flamboyan, punya banyak teman dan tak senang sesuatu yang serius. Konon katanya penyuka warna oranye ini cenderung menunda pernikahan loh!

Abu-Abu Itu Senang Kebebasan Dan Sulit Berkomitmen

Warna ini berada diantara hitam dan abu-abu. Seperti warnanya yang “tak jelas”, karakter penyukanya juga tak terlalu senang komitmen. Menurut psikologi warna, penggemar warna ini hanya punya sedikit emosi, mudah bosan dan tak mau terikat.

Mereka tak punya sesuatu yang benar-benar disukai atau sesuatu yang benar-benar dibenci. Semua biasa saja untuk mereka. Hidupnya yang bebas dan tak mau terikat biasanya justru membuat penasaran banyak orang.

Merah Muda Itu Sedikit Naif Dan Apa Adanya

Penyuka merah muda itu bisa diibaratkan mereka yang selalu dalam kondisi anak-anak. Tak punya banyak kecurigaan, polos dan tidak punya perasaan negatif kepada orang lain. Sayangnya penyuka pink ini sering dimanfaatkan oleh orang lain.

Hitam Itu Moody, Tak Mau Ribet Namun Inginnya Yang Berkelas

Para penyuka hitam ini tidak mau berhadapan dengan segala keribetan. Mereka selalu ingin hal-hal yang berkualitas dan berkelas. Ujungnya karakternya cenderung moody alias mudah berubah-ubah jika menemui hal yang kurang disukainya.

Putih Itu Menganggap Dirinya Polos

Putih itu sering dikaitkan dengan suci dan kepolosan. Namun sesungguhnya penyuka warna putih itu tak begitu polos-polos amat. Namun mereka ingin meyakinkan orang lain bahwa diri mereka polos. Sementara sebetulnya mereka sama sekali tidak polos dan cenderung “pintar”.

Kuning Itu Idealis Dan Perfeksionis

Penyuka warna kuning itu cenderung idealis dan bahkan perfeksionis. Mereka juga punya optimisme yang di atas rata-rata. Sayangnya keinginan untuk segala sesuatu itu selalu sempurna mendorong orang dengan karakter ini jadi mudah cemburu dan iri.

Jadi Pilihan Warnamu Apa? Coba Sesuaikan Dengan Kendaraanmu!

 

Guna memperkuat karaktermu tentunya pas kalau kendaraan sehari-hari yang digunakan warnanya sesuai dengan yang kamu favoritkan.

Pilihan warna motornya tak banyak? Mungkin begitu alasanmu. Memang tak semua varian motor punya beragam warna. Tapi Suzuki Address Playful mencoba menjawab tantangan ini. Tak tanggung-tanggung varian ini punya 10 pilihan warna yang diterapkan pada aksesoris panel bodi menarik dan penuh gaya yang dapat disesuaikan dengan karakter kamu. Terdapat warna Stronger Red, Aura Yellow, Fresh Green, Macho Bright Blue, Majestic Gold, Dark Grey, Brilliant White, Hyper Pink, Luminous Orange dan Ice Silver. Suzuki juga menerjemahkan warna-warna ini sesuai karakter kamu.

Aura Yellow misalnya cocok untuk kamu yang mudah bergaul dan keberadaanmu selalu membawa keceriaan dengan orang sekelilingmu. Semangat, kreativitas dan kelucuanmu adalah kelebihan utamamu. Kegiatan favoritmu tak jauh-jauh dari kegiatan sport dan ekstrem.

Sementara untuk kamu yang selalu ingin tampil sempurna pasti lebih memilih warna Majestic Gold. Karena warna emasnya menggambarkan hal yang tak ternilai sekaligus elegan.

Fresh Green akan dipilih kamu yang punya sifat loyal terhadap kawan. Kamu juga termasuk orang-orang yang jujur dan senang berada di dalam komunitas untuk bersosialisasi. Warna hijau juga idientik dengan lingkungan dan warna yaang aktif.

Kalau kamu orang yang memilih stronger red adalah orang-orang yang optimis, passionate dan percaya diri. Kamu selalu semangat dan kreatif dalam melakukan segala sesuatu.

Nah, untuk kamu yang punya pengendalian diri yang baik akan diwakili dengan warna macho bright blue. Kamu cenderung hati-hati, tenang dan patuh terhadap aturan. Tapi meski teratur dan stabil bukan berarti kamu membosankan.

Selain warnanya yang menarik motor ini cocok untuk penggunaan harian karena dimensi bodinya yang mungil dengan dimensi pas dan seimbang. Dimensi bodi panjang 1855 mm, lebarnya 655 mm dan tinggi 1095 mm serta memiliki jarak sumbu roda atau wheelbase 1260 mm. Bodi yang cukup mungil dan ramping hanya memiliki bobot sebesar 97 Kg.

Skutik ini juga nyaman karena didukung suspensi depan dan belakang yang tangguh. Untuk bagian depan menggunakan suspensi tipe Telescopic Coil Spring Oil Damped. Sedangkan untuk belakang Suzuki Address Playful menggunakan suspensi tipe Swingarm Coil Spring Oil Damped.

Suzuki Address Playful ini dibekali mesin SOHC 4 langkah kapasitas 113 yang cc yang menghasilkan performa yang baik. Teknologi full injectionnya mampu menekan konsumsi bahan bakar dengan perbandingan kompresi yang mencapai 9.4:1.

Jadi kamu pilih yang mana?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Sponsored Content

Hasil Surveynya, Mereka Yang Pakai Motor Ini Yang Bahagia

PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) berhasil meraih penghargaan dalam kategori survei “Indeks Kebahagiaan Berkendara (IKB) 2017” yang diselenggarakan oleh Tabloid OTOMOTIF selama bulan Juni – Agustus 2017. Dalam acara yang dilangsungkan di Will’s Café & Resto, Plaza Kelapa Gading, Jakarta Utara, Suzuki berhasil menang dalam kategori bebek 150cc untuk Suzuki Satria F150 dan kategori skutik 110-125cc untuk Suzuki Address FI (Kategori Skutik 110-125cc).

Indeks Kebahagiaan Berkendara merupakan formulasi dari kepuasan berkendara, kondisi kendaraan dan tingkat emosi saat berkendara yang semuanya mempengaruhi seberapa besar kebahagiaan seseorang dalam berkendara. Survei ini adalah cerminan konsumen Suzuki yang mendapatkan pengalaman menyenangkan melalui produk-produk Suzuki.

“Apresiasi yang diberikan oleh publik melalui survei IKB sangat berarti bagi kami sebagai upaya agar kami dapat terus mengembangkan inovasi di setiap produk Suzuki, termasuk ketiga produk yang unggul di kelasnya masing-masing pada survei ini. Karena pada akhirnya, kepuasan dan kebahagiaan konsumen saat menggunakan produk-produk Suzuki merupakan pencapaian yang tak ternilai, selaras dengan tujuan utama Suzuki dalam menciptakan produk bernilai tinggi yang berorientasi pada konsumen.” ujar Arviane D.B. Corporate PR PT. Suzuki Indomobil Sales.

Suzuki Satria F150 kembali bertahta sebagai jawara motor bebek 150cc dengan menyematkan teknologi Fuel Injection untuk motor hyper-underbone ini, sehingga pengendara dapat mengoptimalkan performa setiap fiturnya dengan mudah saat mengendarai Satria F150 yang diklaim sebagai motor bebek tercepat di kelasnya.
Sementara Suzuki Address FI merajai kategori Skutik 110-125 cc berkat transmisi CVT yang membuatnya semakin nyaman dikendarai. Selain itu, walau memiliki kabin yang luas bodi Suzuki Address FI cukup ramping dengan desain sporty yang menjadi andalan ke-210 responden yang mengendarai motor.

Survey IKB 2017 ini sendiri melibatkan total 455 responden yang berusia lebih dari 18 tahun, mengendarai kendaraan sendiri, tahun produksi kendaraan minimal tahun 2000, serta kendaraan milik pribadi. Para responden yang terdiri dari pria dan wanita dengan kategori SES A sampai SES C melakukan survei IKB 2017 dengan mengisi angket online di website OTOMOTIFNET melibatkan pengguna kendaraan motor dan mobil.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Trending

Supaya Tak Lupa, Janji Manis Mas Anies Kutaruh Disini

Kemenangan Anies-Sandi di laga Pilkada Ibu Kota Jakarta jadi sorotan hampir seluruh rakyat Indonesia. Mereka yang pro, tentu akan tersenyum bangga dan berterima kasih pada semesta. Akhirnya sosok pilihannya jadi gubernur juga.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tak suka? Pahit memang, tapi seorang kesatria tak pernah malu mengakui kekalahannya. Babak ini akan jadi pembelajaran pada pertarungan berikutnya. Meski nyatanya banyak kebohongan yang tercium dari duel kemarin, kami sungguh tak apa. Begitu kira-kira kata mereka.

Tutur kata dari pasangan gubernur dan wakil gubernur ini memang begitu apik saat kampanyenya kemarin. Walau kini banyak yang menuding cara bicara sang wakil kini lebih mirip Vicky Prasetyo, mantan tunangannya Zaskia Gotik. Bertele-tele dan tak jelas arahnya. Untuk ini, saya harap Bang Sandi tak marah, karena memang begitulah netizen di negara kita. Toh 56% penduduk Jakarta melabuhkan hati pada mereka.

Barangkali penghuni Jakarta sudah mulai lupa, atau bahkan tak tahu apa saja janji dari pemimpinnya. “Ya saya mah yang penting seiman dan nggak suka ngegusur”.

Kali ini dengan senang hati, saya akan membantu mengingatkan. Apa saja kira-kira janji kampanye yang kemarin gencar disuarakan Gubernur Jakarta kini.

Dari Banyaknya Janji yang Telah Dibuat Anies-Sandi, Setidaknya Ada Beberapa Janji yang Patut Untuk Ditagih


Resmi dilantik pada 16 Oktober 2017 lalu oleh Presiden Joko Widodo, Gubernur Anies-Sandi telah jadi pelayan rakyat Jakarta untuk 5 tahun kedepan. Berhubung masa kerja mereka hanyalah setengah dekade, mari kita bayangkan dengan logika, agaknya kita tak boleh terlalu berharap jika semua janji itu akan terpenuhi.
Akan tetapi ada 8 janji yang nampaknya layak ditagih.

1. DP rumah nol persen
2. Membuka 200 ribu lapangan kerja baru, dengan menbangun 44 pos pengembangan kewirausahaan untuk warga.
3. Penutupan Hotel Alexis
4. Tak ada lagi kasus penggusuran selama 5 tahun ke depan
5. Membangun stadion mewah setaraf Old Trafford untuk Persija
6. Melanjutkan program KJP dari gubernur terdahulunya
7. Menghentikan reklamasi Teluk Jakarta
8. Meningkatkan nominal UMP DKI Jakarta

Mengingat baru satu bulan genap menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Kita tentu tak bisa mendesak mereka untuk buru-buru merealisasikan janjinya. Bahkan pada salah satu kesempatan beberapa minggu yang lalu, Anies meminta masyarakat bersabar dan memberi mereka waktu terlebih dahulu.

Bak pasangan yang baru jadian, kita memang tak boleh buru-buru mencintainya terlalu dalam. Tapi tidak juga harus membencinya meski awalnya tak suka. Biarlah mereka bekerja sesuai dengan alur yang telah dirancang bersama beberapa orang dibelakang. Maksud saya timnya, bukan oknum lain yang mungkin kamu kira.

Satu Kabar yang Mungkin Jadi Awalan, Kini Izin dari Hotel Alexis Tak Lagi Diperpanjang

Nama Alexis kian melambung kala pilkada kemarin. Hotel yang berlokasi jalan RE Martadinata, Pademangan, Jakarta Utara ini memang terus dibicarakan. Mulai dari aktivitas prostitusi yang meresahkan, hingga lantai 7 yang katanya jadi surga kaum adam.

Pada masa kerja gubernur sebelumnya, Alexis memang masih melenggang santai dan tetap beroperasi seperti biasanya. Namun setelah Anies Baswedan resmi jadi gubernur, secara sah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak memperpanjang Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDPU) Hotel Alexis dan Griya Pijat Alexis.

Sekilas ini tentu jadi awalan yang baik untuk pembuktian janji manis saat kampanye, tapi apa iya Alexis akan benar-benar tutup dan memberhentikan aktivitasnya? Sekedar mengingatkan saja, jika bicara tempat prostitusi di Jakarta, harusnya hal ini berlaku untuk semuanya, bukan hanya Alexis saja Mas Anies!

Akan Tetapi Ada Janji Lain yang Justru Membuat Sang Gubernur Dicap Sebagai Pembohong

Saya tak akan bilang jika ini adalah salah satu kecurangan pemenang pertarungan. Namun jika kamu akan menilainya seperti itu silahkan saja, toh semua orang berhak punya pandangan berbeda bukan?

Pada Rabu, 8 November dan Jumat, 10 November 2017 lalu, buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) melakukan unjuk rasa di depan Balai Kota. Mereka menuntut pemerintah DKI Jakarta merevisi penetapan upah minimum provinsi tahun 2018 dari Rp 3,6 juta menjadi Rp 3,75 juta, sesuai janji politik Anies-Sandi saat berkampanye.

Hasilnya gubernur malah hanya mengumumkan nilai UMP Jakarta menjadi Rp 3.648.035,00, naik dari nilai sebelumnya Rp 3.335.000,00. Dengan kata lain, keputusan ini hanya menaikkan sekitar 300 ribu rupiah dari UMP sebelumnya.

Bahkan Presiden dari KSPI, Said Iqbal, dalam jumpa pers di Jakarta, hari Rabu kemarin blak-blakan mengatakan bahwa keputusan yang ditetapkan oleh Pemkot DKI tersebut tak sesuai dengan janji politik Anies-Sandi pada buruh ketika kampanye Pilkada.

Karena menurut Iqbal salah satu hal yang mempengaruhi kemenangan Anies-Sandi adalah janjinya kepada kaum buruh. Hal ini terlihat dari penyataan Iqbal yang mengatakan bahwa, “Kontrak politik ini yang membuat ratusan ribu buruh DKI Jakarta memilih pasangan ini,”.

Jadi wajar saja, jika akhirnya mereka memberi gelar kehormatan kepada Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai “Bapak Upah Murah”.

Untuk kesepakatan politik terhadap para kaum buruh, dia memang mengaku pernah menandatanganinya. Namun ia berharap buruh dapat bersabar dan memberinya waktu.

Lagi pula menurut saya, kita memang harus bersabar. Barangkali tahun depan nominalnya akan naik lagi. Toh masih ada 4 tahun masa kerja setelah penetapan UMP 2018.

Sebagai warga yang baik, mari kita kawal janji-janji kampanye dan kinerja Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta. Jangan terlalu banyak mendesak dan menuntut ini itu. Apa lagi ini adalah kali pertama Sandiana Uno duduk diranah pemerintahan. Takutnya ia kerap tak siap jika tiba-tiba ada wartawan dan masyarakat yang bertanya banyak. Karena hanya sedikit gugup dan tak jelas arah bicaranya saja, ia sudah disebut wagabener oleh netizen.

Akhirnya, semoga semua janji yang telah diberikan tak hanya bualan belaka. Karena warga Jakarta tentu ingin hidup sesuai yang telah digambarkan Mas Anies dan Bang Sandi. Ya benar, Maju Kotanya Bahagia Warganya!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Fitness Memang Sehat, Tapi Sering Posting Foto Fitness Jadi Pertanda Jiwa yang Tak Sehat

Mari kita buka-bukaan, dari sekian banyak teman yang kamu punya, mungkin ada satu orang yang kerap membagikan aktivitas olahraganya di laman media sosial, khususnya Facebook. Atau bisa jadi diri ini adalah salah satu dari mereka?

“Lumayan, lari 5 km sebelum ngantor pagi ini,” lengkap disertai foto yang menunjukkan diri sedang berkeringat dipagi hari. Meski kita sendiri kadang tak tahu betul, itu keringat sungguhan atau sisa air yang dipakai membasuh wajah.

Beberapa saat sebelum membagikan foto dan postingan status tersebut, kamu mungkin akan tersenyum tipis. Sembari berpikir bahwa hidupmu jauh lebih baik dibanding yang lain. Tapi jangan dulu senang Kawan, karena bisa jadi kamu sedang mengalami gangguan dalam hal kejiwaan.

Tidak percaya? Para ahli dari Universitas Brunel di London melakukan sebuah penelitian terhadap mereka yang kerap membagikan aktivitas fitness di laman media sosial, hasilnya ditemukan bahwa mereka yang kerap melakukan aktivitas tersebut adalah seseorang yang sedang mengalami gangguan jiwa. Hasil ini jadi bukti yang cukup untuk membuat kita bertanya? Seberapa gilakah diriku?

Kecanduan Akan Sebuah Penghargaan, Jadi Faktor Utama yang Kerap Memicu Seseorang Berbuat Demikian

Teknologi telah mengubah banyak perilaku manusia dalam melakukan sesuatu. Dan salah satunya adalah mendokumentasikan kegiatan melalui telepon genggam jadi sesuatu yang wajib untuk dilakukan. Bahkan kebiasaan ini nyaris dilakukan semua orang.

Untuk mereka yang kebetulan berprofesi sebagai personal trainer olahraga, ini tentu jadi salah satu kebutuhan akan pekerjaan. Lalu bagaimana dengan mereka yang tak berprofesi sebagai personal trainer olahraga? Kegiatan ini kerap jadi ajang untuk menunjukkan brand yang dikenakan hingga sejauh mana mereka telah menghasilkan keringat.

Bahkan penelitian dari profesor James Fowler dari University of California mengatakan tak hanya untuk diakui oleh sesama, media sosial jadi salah satu wadah yang mempengaruhi motivasi seseorang untuk berolahraga. Beliau mengatakan bahwa seseorang akan mencoba berolahraga dan makan sehat apabila dia melihat dan mendengar temannya melakukan hal tersebut.

Padahal Bentuk Tanda Suka dan Komentar Berisi Pujian yang Disampaikan Orang-orang Tak Selalu Benar

Konon hal ini lebih sering dirasakan oleh generasi muda yang dibesarkan kemajuan zaman lewat sosial media Facebook dan Twitter. Orang-orang ini kerap berpikir bahwa membagikan potret yang memperlihatkan aktivitas olahraga, jadi salah satu rangkaian kehidupan masa kini.

Kita boleh merasa bangga atas jumlah like yang diterima pada setiap postingan. Tapi jika semua itu tak berarti  untuk kehidupan nyata, untuk apa? Toh tanda suka yang orang lain kirimkan, bisa juga jadi salah satu bentuk tak suka yang mereka resahkan.

Di kolom komentar dirinya bisa saja memuji pencapaian yang kamu bagikan. Akan tetapi jauh didalam hatinya, hal-hal seperti ini dianggap sebagai salah satu bentuk kesombongan.

Biar Bagaimana pun Membakar Kalori Hanya Dilakukan dengan Gerakan Bukan dengan Posting Foto di Media Sosial

Seorang psikolog olahraga dari Amerika Serikat bernama Jerry Lynch, Ph.D., mengatakan bahwa sifat adiktif seseorang terhadap smartphone membuat pelari menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial ketimbang aktivitas berlarinya.

Ungkapan ini sekaligus jadi gambaran akan sikap-sikap yang kerap kita tunjukkan. Tak perlu olahraga dengan durasi waktu yang lama, jika sudah berhasil mengirimkan status atau foto di timeline media sosial rasanya sudah cukup, mungkin begitu pikir kita.

Karena Olahraga yang Baik Tentu Membutuhkan Fokus, Pikiranmu Tak Boleh Terbagi

Menurut Dr Michael Rebold, asisten profesor ilmu latihan integratif di Hiram University, “Menggunakan handphone berarti perhatian Anda terbagi. Hal ini dapat mengganggu kestabilan bentuk postur tubuh Anda, serta memungkinkan Anda jatuh atau mengalami cedera muskuloskeletal”.

Karena biar bagaimana pun, membagi fokus pikiran dengan smartphone saat tengah berolahraga, sebenarnya membuang-buang waktu saja. Agaknya kita memang harus memfokuskan pikiran pada aktivitas olahraga. Bukan malah sibuk berpikir akan bagaimana caranya mengambil angle foto yang pas untuk di-posting di Instagram.

Dan Posting Status Sesaat Sebelum Berolahraga Jadi Bukti Kamu Tak Sedang Sungguh-sungguh Berolahraga

Tak pelak lagi, jika sudah begini sebagian besar waktumu pun akan terpotong begitu saja hanya karena menunggu respon dari mereka atas apa yang sedang kamu lakukan.  Sebagai contoh kamu mungkin bisa berlari sepanjang 15 menit setiap pagi. Namun oleh karena keinginanmu untuk dilihat dan dipuji oleh teman-temanmu di media sosial, waktu yang seharusnya bisa pakai untuk berolahraga justru terpotong begitu saja. Ini jelas mengurangi kesungguhanmu berolahraga.

Sesuatu yang harus kita pahami, jika memang ternayata hanya untuk pamer saja, sebaiknya tak perlu olahraga. Kecuali kamu memang menjadikan hal tersebut sebagai kebutuhan. Entah itu instruktur senam atau olahragawan yang kerap memberikan tips seputar olahraga.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Trending

Yang Kudapat dari Menonton Film “My Generation” Hari Jumat Kemarin

“Zaman papa dulu…”

Jadi satu-satunya kalimat yang membuat saya tersenyum dan ingat Bapak di rumah.

Dan jika kalian ingin tahu, itu adalah kata-kata pamungkas dari Papanya Konji (Joko Anwar) kepada sang anak Konji (Arya Vasco), setiap kali memberi petuah jika anaknya berulah.

Di tengah hiruk pikuk fenomena generasi micin yang katanya jadi generasi tak bermoral, tadinya saya berpikir bahwa film ini akan jadi salah satu peyegaran jiwa untuk orang tua dan anak muda.

Konon menurut orangtua Konji, sikap dan perilaku anak muda zaman sekarang sama sekali tak menunjukkan nilai-nilai moral. Budaya timurnya telah tergeser dengan perilaku kebarat-baratan yang lebih mendominasi. Babak ini berhasil menyeret saya untuk berpihak pada Konji bahwa “Tak semua anak muda seperti yang Papanya Konji pikirkan”.

Beruntungnya Konji tak sendiri, anak SMA ini punya 3 orang teman lain yang merasa senasib dengannya, mereka adalah Zeke (Bryan Langelo), Orly (Alexandra Kosasie), dan Suki (Lutesha).

Diawali dengan hukuman yang mereka terima dari orangtua masing-masing, perkara video YouTube yang mereka buat. Padahal bagi saya, isinya patut diacungi jempol. Saya dan kamu tentu sudah bosan dengan Vlog yang bertebaran di kanal per-YouTube-an Tanah Air. Harusnya para YouTuber muda belajar dari mereka berempat.

Ya, setidaknya menyuarakan bentuk ketidaksukaan jauh lebih berfaedah daripada nangis sesenggukan karena diputusin pacar ,atau peluk-pelukan di kolam renang dengan laki-laki yang bukan pasangan halalnya. Kenapa? Kamu ingat seseorang ya? 

Dari kacamata perempuan muda berusia 22 tahun, tadinya saya berpikir ini akan jadi jembatan penghubung untuk menyuarakan isi hati saya juga. Tapi nampaknya saya terlalu berharap pada Mbak Upi selaku sutradaranya.

Mimpi mereka untuk berjemur di Bali pada liburan sekolah akhirnya musnah. Mau tak mau liburan kali ini akan dihabiskan di Jakarta. Tak ingin dicap sebagai pecundang yang akan meratapi nasib atas hukuman, titik ini justru jadi garis start memulai petualangan.

Mulai dari cerita putusnya Suki dengan sang pacar, sampai mengerjai mobil mantan, dan manisnya kisah cinta Konji, serta peliknya perasaan Zeke atas kematian adiknya, atau rasa tak pernah dimengerti oleh sang ibu yang dirasakan Orly.

Tayang serempak sejak tanggal 9 November 2017, film hasil rumah produksi IFI Sinema ini memang terlihat ingin mengangkat hal-hal yang berhubungan dengan keseharian anak muda. Hanya saja, bagi saya ini terlalu jauh. Karena faktanya tak semua anak di Indonesia ini bisa seperti mereka ini. Meski saya sendiri mungkin akan melakukan hal yang sama, jika dalam posisi mereka.

Melawan aturan dengan menyuarakan kepercayaan akan pilihan sendiri. Namun agaknya kurang pas, jika tak disertai kemampuan yang bisa dijadikan alasan untuk tidak mengikuti apa kata orangtua.

Memang sih, ini cerita saat liburan jadi wajar jika tak ada adegan yang menunjukkan mereka belajar. Tapi masa iya, kamu akan protes besar-besaran menuntut orangtuamu untuk tak terlalu mengekang, sedang kamu tak punya apa-apa untuk dibanggakan? 

Kalaupun kita akan bertanya pada anak-anak SMA, tentu mereka akan mengangguk setuju dan bilang bahwa sesungguhnya gambaran hidup dalam film ini adalah sesuatu yang menyenangkan. Hidup mewah dengan segala fasilitas, bisa bermain sesuka hati tanpa beban, bahkan Zeke bepergian dengan mengendarai mobil sendiri tanpa dilarang. Kurang apa lagi coba?

Satu-satunya hal yang mungkin akan membuat mereka berhenti protes, adalah ketika orangtuanya memberinya pilihan. Tetap jadi anak dari orangtuanya saat ini, atau jadi anak dari Bapak saya yang ketika SMA cuma di kasih uang jajan lima ribu rupiah.

Tapi meski agak sedikit kecewa, saya harus akui bahwa ada sosok yang cukup menarik perhatian yakni Orly. Perempuan kritis yang pintar, dan berprinsip. Keluar dari zona cinta-cintaan yang kerap kita saksikan di beberapa film anak muda. Dari scene yang terlalu terkonsep, serta cerita yang jauh dari kehidupan saya ini, Mbak Upi berhasil memberi penawar lewat sosok Orly.

Meski nyatanya 4 orang ini adalah artis pendatang baru, Faktanya mereka adalah squad pemeran utamanya. Tapi lagi-lagi saya merasa karakter Orly jadi satu-satunya peran yang mendominasi dan punya persona cukup kuat.

Lewat bentuk pemberontakan akan kesetaraan gender, dan hal-hal yang kerap dibebankan pada perempuan. Hingga  rasa tak sukanya kepada sang ibu (Indah Kalalo), yang kerap bersikap bak anak milenial dan berpacaran dengan laki-laki lebih muda darinya.

Cerita lain yang menjadi nilai plusnya, adalah scene yang menampilkan sosok yang selalu ingin tahu. Salah satunya, pertanyaan Konji kepada teman-temannya. Tentang bulan kelahirannya yang lebih cepat 3 bulan dari tanggal pernikahan orangtuanya. Hingga ditutup dengan manis oleh kesadaran mereka akan pentingnya rasa saling mengerti dan menghargai dalam hubungan anak dan orangtua.

Diharapkan akan jadi jembatan bagi orang tua dan anak, namun saya melihat ada beberapa sisi yang dirasa kurang. Saya merasa beberapa orangtua atau bahkan anak muda justru akan mempertanyakan letak nilai-nilai yang seharusnya dapat diambil pelajaran. Ya, setidaknya ini jadi gambaran akan beberapa komentar dari para orangtua, yang kini berseliweran di beberapa media sosial.

Akan tetapi sebagaimana yang Mbak Upi bilang, “Film ini bukan bermaksud menggurui atau menghakimi generasi millenial. Akan tetapi memberikan referensi terkini bagaimana kondisi generasi milenial lebih dekat. Pada akhirnya, antara generasi sekarang dan dulu harus saling memahami,”

Kamu bisa sependapat dengan saya, bisa juga tidak. Toh ini adalah beberapa hal yang berdasarkan sudut pandang saya sendiri. Jika ternyata kamu tak setuju tentu saya tak akan marah. Jika dirasa masih kurang, cobalah pergi ke bioskop dan tonton sendiri. Barangkali kamu punya penilaian yang berbeda. 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

MOST SHARE

To Top