Tips

Ini Bukan Soal Istri Yang Tak Bersyukur, Tapi Tentang Suami Pelaku Kekerasan Finansial

Mungkin istilah kekerasan fisik atau kekerasan verbal alias omongan lebih familiar di telinga. Sementara kekerasan finansial alias kekerasan keuangan, bisa jadi baru kali ini kamu dengar.

Apalagi di Indonesia, suami yang menjadi pelaku kekerasan finansial kerap berlindung di balik kata-kata “Rejeki sudah ada yang mengatur, jadi orang itu harus selalu bersyukur”. Walhasil perempuan seringkali tak paham sekaligus malu mengakui kalau dirinya menjadi korban kekerasan finansial.

Masalahnya kekerasan finansial ini biasanya tak berdiri sendiri. Pelaku juga umumnya melakukan kekerasan verbal yang bahkan berujung kepada fisik. Gawatnya kekerasan finansial ini tak jarang justru digunakan sebagai senjata ampuh, para laki-laki untuk mencegah perempuan meninggalkan hubungan yang penuh KDRT.

seperti dikutip dari situs Mommies Daily, Prita Hapsari Ghozie, Chief Financial dari Planner ZAP Finance menjelaskan tentang beberapa tipe kekerasan finansial ini.

Istri Dipaksa Bekerja Dengan Pendapatan Tinggi, Sementara Suami Ongkang-Ongkang Kaki

Jalannya rejeki memang kita tak pernah tahu. Bisa saja istri lebih punya penghasilan dibanding suami. Sehingga suami lebih memilih tinggal di rumah saja. Sampai disini tak masalah, karena memang ada yang disebut “stay home dad”

Tapi masalahnya kondisi istri bekerja ini akibat paksaan dan tekanan dari suaminya. Istri ditempatkan dalam situasi tertekan sehingga tak pernah terpikir kalau uang hasil kerjanya juga terdapat hak untuk dirinya sendiri. Dalam kondisi ekstrim kamu pasti pernah mendengar kasus suami yang menjual istrinya kepada banyak laki-laki lain dan menguasai uang “penghasilan” sang istri.

Istri Dilarang Bekerja, Tapi Nafkah Dari Suami Pas-Pasan

Ini tipe yang sebaliknya dari yang pertama. Istri dilarang total untuk bekerja oleh suami. Penyebabnya karena suami ingin menunjukkan otoritas dan kendalinyaa terhadap istrinya. Parahnya, istri hanya diberi uang bulanan yang pas-pasan. Situasi ini terus dipelihara agar istri merasa tergantung pada suaminya sebagai sumber keidupan.

Istri Sama Sekali Tak Diberi Uang Bulanan

Menurut Prita, ini adalah salah satu bentuk kekerasan finansial yang nyata. Ada 2 alasannya yang melatar belakangi kekerasan ini. Pertama karena memang karena si suami tidak bekerja. Sementara kedua karena suami memberikan pembatasan ketat terhadap keuangan.

Semua keluar masuk uang harus melalui dirinya sebagai suami.Serupa dengan yang sebelumnya Ini adalah suatu bentuk kontrol yang digunakan oleh suami agar menciptakan ketergantungan pada istri sehingga istri menjadi tergantung dan takut untuk pergi.

Istri Dipaksa Berhutang Untuk Menghidupi Biaya Bulanan

Bukannya mencari pekerjaan dan berusaha mendapat penghasilan, suami justru membiarkan istri begitu saja. Dengan sangat terpaksa harus berutang kiri kanan untuk mencukupi kebutuhan. Dan ketika utang sudah menumpuk suami memilih tidak mau tahu bagaimana cara menyelesaikan utang tersebut.

Suami Memakai Uang Istri Dan Tidak Pernah Merasa Perlu Mengembalikan

Prita menyebut tidak ada yang salah ketika istri memberikan bantuan modal kepada suami untuk memulai usaha. Namun tentunya jadi problem ketika istri mengajak diskusi dan bertanya soal realisasi keuntungan dari modal yang sudah dikeluarkan itu malah dimaki dan dibentak.

Suami Bekerja Namun Tak Memberikan Nafkah, Dengan Alasan Pendapatan Istri Lebih Dari Cukup

Dalam kasus ini, suami bekerja dan penghasilannya lebih dari cukup. Namun sang suami enggan untuk memberikan nafkah untuk menghidupi keluarga. Alsannya karena pendapatan istrinya yang juga bekerja sudah cukup untuk biaya bulanan rumah tangga.

Lantas Harus Apa?

Prita menyebut bahwa langkah paling pertama yang harus dilakukan adalah mencoba membicarakannya dengan suami. Penting bagi istri untuk mengutarakan perasaannya terhadap situasi yang menekannya tersebut.

Sekali lagi, ini bukan karena tak bersyukur tapi ini bisa merusak psikologis seseorang. Nah, masalahnya berbicara dengan suami soal ini memang kadang tak mudah.

Menurut Prita Seorang laki-laki yang mengalami kesulitan finansial akan mengalami fase depresi yang kemudian akan dilontarkan ke orang terdekatnya yaitu istri dan anak-anaknya. Kekerasan verbal dan finansial yang dilontarkan bisa jadi merupakan perwujudan dari permintaan pertolongan yang tertutupi oleh rasa marah.

Ketika kodisinya sudah sangat parah kehadiran pihak ketiga diperlukan untuk mencari solusi kekerasan tersebut. Bisa dimulai dari orang terdekat, seperti meminta pendapat orang tua istri atau suami. Bahkan jika memang diperlukan harus melibatkan psikolog, psikiater untuk menangani tekanan mental suami. Sementara urusan finansial bisa meminta bantuan perencana keuangan.

Ingat, kekerasan finansial biasanya taak berdiri sendiri. Kekerasan ini juga umum disertai kekerasan verbal dan fisik. Kamu tak mau dirimu dan anak-anakmu jadi korban bukan?

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

1 Comment

1 Comment

  1. Rina

    November 2, 2017 at 3:56 pm

    Yes.. Itu kondisi Aq… Gagal komunikasi.. Berakhir diperceraian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Karena Berhemat Bisa Dilakukan Secara Menyenangkan

Sebetulnya kenapa sih kita harus melakukan penghematan? Kenapa kita harus menabung? Toh kita selama ini mampu membayar kebutuhan kita, kenapa pulak kita harus repot menyisihkan penghasilan untuk menabung?

Meski tidak selalu eksplisit mungkin pertanyaan macam itu kerap muncul di benakmu. Apalagi sedari kecil kita memang ditanamkan untuk tidak boros. Tapi sayangnya kita memang tak pernah diajarkan alasan kenapa kita harus berhemat dan menabung.

Dalam hal menabung, hal paling penting yang harus kamu ingat adalah kondisimu tidak akan selalu sama seperti sekarang ini. Kamu tidak selalu bisa seproduktif seperti saat ini.

Coba bayangkan saja kalau kamu sakit, tentunya kamu tidak akan bisa bekerja seperti biasanya. Atau nanti ketika tua kamu juga sudah tak lagi bisa menghasilkan seperti ketika muda. Pada saat itulah kita akan menuai hasil penghematan yang kita lakukan saat ini.

Lagi pula, bicara soal hemat itu jangan langsung mengasosiasikan dengan hidup susah dan tak menyenangkan. Kita bisa kok, melakukan penghematan dengan cara yang mengasyikkan.

Berhemat Itu Di depan Bukan Belakangan Karena Terpaksa Tak Punya Uang

Ini kekeliruan utama yang sering kita lakukan. Penghematan dan menabung itu dilakukan belakangan ketika duit hanya tinggal sisa remah-remah akhir bulan. Pada saat itu tentunya berhemat jadi tak menyenangkan karena terasa seperti keharusan karena kehabisan uang. Ditambah lagi cara ini sering kali gagal.

Karena itu cobalah untuk melakukan penghematan itu di depan. Rencanakan semua pengeluaran itu sebelum bulan berjalan. Jadi yang kita lakukan adalah mengatur pemasukan dan pengeluaran, bukan melakukan pengetatan ikat pinggang karena kekurangan uang. Tentukan dulu sedari awal prosentase uang yang ingin kita hemat setiap bulannya.

Irit Itu Tak Perlu Rumit, Menabunglah Menggunakan Rumus 80-20!

Seorang pemikir manajemen bisnis bernama Joseph M. Juran memperkenalkan konsep menabung 80-20. Konsepnya dari rumus ini sangat sederhana. Kamu hanya perlu menabung sebesar 20% dari pendapatan bersih yang telah kamu peroleh. Kemudian gunakan sisanya untuk dibelanjakan. Sebesar 50% dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sedangkan 30% sisanya dipakai untuk membeli apa yang kita inginkan.

Sertakan Impianmu Dalam Rencana Penghematan, Karena Menabung Dengan Tujuan Itu Jauh Lebih Mudah

Tak perlu menabung dengan jumlah sangat besar dengan tujuan yang tak jelas. Sikap “yang penting punya tabungan” biasanya sumber dari kegagalan menabung. Karena kita tak akan punya motivasi jelas kenapa harus berhemat.

Karena itu cobalah untuk menetapkan terlebih dahulu tujuanmu. Misalnya, berhemat karena ingin mengganti smartphone terbaru dengan harga tertentu, ingin membeli sepatu merk tertentu yang harganya tak murah, ingin menabung untuk penghasilan di hari tua, berhemat untuk dana darurat ketika sakit, dan tujuan spesifik lainnya.

Dengan membagi tujuanmu secara rinci manajemen keuanganmu juga akan lebih baik. Dan kamu akan punya banyak pos keuangan yang tidak saling tumpang tindih.

Jangan Salah ya, Barang Yang Keren Tak Selalu Idientik Dengan Boros

Kamu keliru kalau berpikir barang-barang yang hemat itu tak bagus. Dan sebaliknya barang-barang yang keren itu harus boros. Coba ambil contoh misalnya lampu LED yang hemat energi. Bentuk dan nyala lampunya jauh lebih baik dari lampu biasa. Pendingin ruangan juga punya karakteristik yang sama. AC dengan teknologi low watt punya bentuk yang lebih langsing dan jauh lebih bisa disesuaikan dengan tampilan interior rumah.

Kendaraan Yang Hemat Pun Bisa Juga Tampil Keren Loh

Sementara untuk kendaraan kamu bisa menengok Suzuki Nex. Motor satu ini memegang rekor MURI untuk kategori motor matic paling irit. Ketika pemecahan rekor mampu mencapai 109,8Km/L. Hal ini dimungkinkan karena Suzuki Nex dibekali mesin 113cc dengan teknologi SUPER FI (Suzuki Performance Fuel Injection) dan mesin berkonsep LeaP (Light, Efficient and Powerful) yang telah terbukti menghasilkan tenaga besar secara presisi dan minim gesekan sehingga mampu mengoptimalkan efisiensi konsumsi bahan bakar.

Tapi meski lekat dengan irit dan hemat bukan berarti Nex akan membuat kita jadi tampil seadanya. Karena Suzuki menawarkan rasa elegan dan mewah pada skutik yang dibandrol Rp12.950.000 ini. Pilihan warna misalnya disediakan Mat Titanium Silver, Titanium Silver, dan Matt Black. Warna-warna yang masuk kategori berkelas.

Desainnya sendiri juga berkelas dengan lampu depan model V dengan bodi keseluruhan yang ramping. Nah, terkait dengan dimensi, pada Suzuki Nex ini memiliki ukuran dimensi dengan panjang 1850 mm, lebarnya 665 mm, dan tinggi 1035 mm serta memiliki berat hingga 90 Kg saja. Suzuki pun juga melengkapi Suzuki Nex ini dengan velg roda berpalang tiga dengan rem cakram di depan. Sebuah tampilan yang tentunya elegan sekaligus sporty.

Jadi kamu siap berhemat dengan cara yang menyenangkan?

1 Comment

1 Comment

  1. Rina

    November 2, 2017 at 3:56 pm

    Yes.. Itu kondisi Aq… Gagal komunikasi.. Berakhir diperceraian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Adakah yang Salah dari Laki-laki yang Ingin Menjadi Bapak Rumah Tangga?

Iya, bapak rumah tangga!

Tak perlu mengernyitkan kening tanda tak percaya, kamu memang tak salah baca. Pilihan setelah menikah kadang memang terlihat tak seimbang, konon perempuan boleh tetap bekerja atau memilih tinggal di rumah saja. Sedangkan laki-laki? Sebagai kepala rumah tangga ya harus bekerja.

Stereotip akan sekat antara peran laki-laki dan perempuan nampaknya memang sudah mendarah daging. Padahal, kini untuk urusan bekerja dan berpenghasilan perempuan tak lagi menemukan pagar penghalang. Lalu mengapa seorang laki-laki yang berkeinginan menjadi bapak rumah tangga, masih sangat tabu untuk kita terima?

Ini Bukan Tentang Siapa yang Akan Jadi Kepala dan Ibu Dalam Rumah Tangga, Tapi Bagaimana Membagi Peran Sesuai Kesepakatan

Sebagian besar kaum adam percaya, bahwa merekalah yang pantas jadi tulang punggung keluarga. Bukan tak ingin menghargai perspektif mereka akan peran seorang laki-laki dalam keluarga. Tapi ada pandangan lain yang memang harus kita terima pula, yaitu mereka yang ingin berbagi peran dengan istrinya.

Jangan dulu bilang ini adalah bentuk dari kelemahan seorang suami, karena keputusan tersebut tentu sudah melalui mediasi. Siapa yang akan tinggal di rumah, dan siapa yang akan bekerja keluar rumah. Tak ada yang salah, jika kedua belah pihak merasa nyaman untuk tetap menjalaninya.

Dan Masalah Utamanya, Jelas Pada Ideologi yang Dipercaya Oleh Masyarakat Kita

“Perempuan bebas memilih, mau di rumah atau bekerja, yang penting laki-laki tetap cari nafkah!”

Kalimat-kalimat seperti ini kerap kita dengar, ketika sedang berada pada acara kumpul keluarga atau penikahan seorang saudara. Meski didalam hati kadang kita tak terima, karena nampaknya itu tak selalu adil untuk kita. Baik laki-laki atau perempuan.

Tak hanya datang dari kepercayaan masyarakat saja, ternyata undang-undang di negara kita juga punya pandangan serupa. Tak percaya? Coba saja lirik UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pada pasal 31 ayat yang ke 3, disana dijelaskan bahwa “Suami adalah kepala keluarga dan istri adalah ibu rumah tangga”.

Dan paham semacam ini, masih berlaku hingga kini. Ketakutan tak akan diterima oleh masyarakat kadang meluluhkan niat akan keinginan untuk menentang sesuatu yang kadang tak bisa kita terima. 

Padahal Memilih Untuk Berada di Rumah, Tak Lantas Membuat Laki-laki Kehilangan Jati Dirinya

Melonjaknya kesempatan kaum hawa untuk menunjukkan eksistensinya kadang jadi sesuatu yang membuat laki-lak mengalah. Dari hal ini sepasang suami istri mungkin bisa belajar, bahwa bertukar peran tak akan menghapus kewajiban dan tanggung jawab masing-masing. Walau untuk urusan nafkah keluarga mungkin akan ditanggung sang istri. Tapi tak selalu penuh. 

Bukan Tentang Pantas Atau Tidaknya, Semua Akan Terlihat Baik Jika Dilihat dari Sisi yang Berbeda

Katakanlah tadinya kalian bedua tadinya sama-sama bekerja, kemudian mau tak mau harus ada yang mengalah untuk mengurus rumah tangga. Tak perlu bertahan pada gengsi, tapi bagaimana kenyataan yang akan kita dapati.

Bahkan tahun lalu industri perfilman India memberikan suguhan nuansa baru lewat sebuah film berjudul “Ki & Ka”. Dimana sang suami “Ka” memutuskan untuk menjadi bapak rumah tangga yang akan mengurusi semua pekerjaan rumah, sedangkan istrinya “Ki” pergi bekerja. Meski digambarkan pada sebuah film saja, tak menutup kemungkinan bahwa ada orang-orang yang seperti mereka.  

Emansipasi Tentu Jadi Salah Satu Hal yang Memicu Keinginan Mereka

Jangan dulu pikir bahwa pilihan ini justru akan menyusahkan istri dan para perempuan lain, toh ini sudah era emansipasi. Disamping itu, tidak sedikit perempuan yang mengaku tak mampu jadi ibu rumah tangga yang baik.

Toh menggantikan peran istri di rumah bukanlah sesuatu yang mudah. Dan laki-laki yang berani untuk mengambil pilihan ini tentulah mereka yang juga punya kemampuan baik dan pemahaman luas.  

Orang-orang seperti ini sadar, bahwa emansipasi yang banyak digadang-gadang tak hanya kesetaraan gender pada hal-hal tertentu saja. Peran didalam rumah tangga juga termasuk didalamnya.

Pilihan Ini Memang Masih Dipandang Sebelah Mata, Tapi Bukan Berarti Salah

Barangkali kita masih jarang mendengar istilah “stay home dad” atau Bapak Rumah Tangga. Tapi perlahan, seiring dengan perubahan zaman dan pemikiran beberapa orang yang telah sadar, banyak kampanye yang menyuarakan arti pentingnya laki-laki dalam mendukung pengembangan diri perempuan. Mulai dari partisipasi laki-laki dalam ranah domestik hingga peran ayah yang memang harusnya mendominasi untuk tumbuh kembang anak. Pasalnya menurut Psikiatris anak dari Amerika Serikat, Dr. Kyle D. Pruett, seorang bayi yang berusia 7 hingga 30 bulan, jauh lebih responsif pada sentuhan yang berasal dari ayah dibanding ibunya. 

Karena Bisa Jadi, Ini Adalah Salah Satu Cara Untuk Menikmati Hidup Bersama

Sebagai dua orang yang akan hidup bersama setelah menikah, tentu banyak hal yang patut dipertimbangkan. Salah satunya adalah keinginan pasangan yang akan tetap bekerja atau tidak. Jika ternyata cerita hidup yang kamu punya, justru berisi keinginan suami yang akan berhenti bekerja itu bukanlah pilihan buruk tentunya.

Bagi laki-laki yang mungkin tak nyaman dengan aturan serta ikatan dalam perusahaan, ini akan jadi berita baik. Tetap bisa bekerja dari rumah, sembari manggantikan tugas sang istri. 

Sejatinya orang yang tahu hal baik dan buruk dalam hidupmu adalah kamu dan pasangan. Tak perlu risau untuk cibiran orang. Jika ternyata itu adalah salah cara untuk hidup yang lebih bahagia, kenapa tidak?

1 Comment

1 Comment

  1. Rina

    November 2, 2017 at 3:56 pm

    Yes.. Itu kondisi Aq… Gagal komunikasi.. Berakhir diperceraian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Mendidik Anak Dengan Baik; Menuntun Tanpa Melibatkan Ambisi Orangtua

Penting untuk membantu anak agar mereka bisa menjadi sosok yang membanggakan. Namun membantu anak untuk mewujudkan keinginan dan mimpi-mimpinya pun tak kalah krusial. Mendidik anak untuk menjadi seperti yang dinginkan orangtuanya jelas bukan tindakan tepat. Pada kenyataanya untuk mewujudkan hal itu tidaklah mudah. Terkadang orangtua masih saja menyalahkan anak atas kenakalan atau kesalahan yang diperbuatnya tanpa bercermin apa yang telah diajarkannya padanya. Padahal, bukan tak mungkin orangtualah yang justru berperan paling besar dalam hal ini. Akan lebih baik bila orangtua menerapkan cara mendidik anak yang lebih baik dan efisien. Bukan waktunya lagi menggunakan cara kolot untuk mendidik anak, apalagi hingga menggunakan kekerasan.

Jangan Terlalu Sering Mengucapkan Kata-kata Kasar Di Depan Anak

Orangtua adalah guru anak yang utama sekaligus contoh konkret baginya. Apa yang dilakukan dan diucapkan orangtua adalah salah satu hal yang pasti akan ditiru oleh sang anak. Tidak hanya itu, jika orangtua tidak pandai dalam mengontrol perkataan, ucapan yang dilontarkannya bisa menjadi bumerang suatu saat nanti. Jangan pernah berkata kasar kepada anak. Selain hal itu akan mereka tiru, berkata kasar juga akan membuat mereka merasa selalu dipojokkan dan tak berharga.

Kekerasan Saat Mendidik Anak Jelas Tak Bisa Ditolerir Lagi

Banyak orangtua yang menyangka kekerasan adalah hal yang perlu dilakukan untuk mendisiplinkan anak. Tetapi terkadang orangtua lupa, mendidik anak dengan kekerasan akan melatih anak untuk melakukan hal yang sama pula. Kepribadian anak muncul dari cara orangtua mendidiknya. Saat mereka tumbuh di lingkungan yang keras, mereka pun dapat menjadi sosok dengan pribadi keras. Hal ini berlaku sebaliknya. Intinya, sebagai orangtua jangan pernah sesekali menggunakan cara kekerasan untuk membuat anak jera dan mengubahnya jadi pribadi yang disiplin. Kedisiplinan muncul bukan karena kekerasan, tetapi kebiasaan.

Berhenti Mengekang Anak, Apalagi Hingga Mengatur Masa Depannya

Hal ini yang kerap menjadi problematika dalam mendidik anak. Orangtua sudah sepatutnya mendampingi anak-anak. Tetapi bukan dengan cara mengekang dan mengatur segala hal termasuk masa depan sang anak. Anak perlu diberi kesempatan untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan keinginannya sendiri. Anak yang sering dikekang cenderung akan liar saat mereka berada jauh dari pengawasan orangtua. Biasakanlah memberi kesempatan pada mereka untuk mengambil langkah yang diinginkannya.

Sesekali Perhatikan Bakat Anak, Bantu Dia Untuk Mengembangkan Bakat Yang Dimilikinya

Bagaimana orangtua dapat mendidik anak dengan baik dan benar jika orangtua tidak memahami seperti apa anak mereka? Sebagai orangtua kita perlu memerhatikan apa bakat dan kekurangan anak-anak kita. Hal ini perlu dilakukan agar orangtua tidak salah dalam mengembangkan kemampuan yang menjadi bakat mereka, tapi pada kenyataannya itu adalah kekurangan mereka.  Orangtua yang baik adalah mereka yang mampu memahami bagaimana anaknya serta tahu cara paling tepat mendidiknya.

Biarkan Anak Memilih Jalannya Sendiri, Namun Tetap Ingatkan Saat Dia Tidak Berada Dijalan Yang Semestinya

Jangan mengekang dan biarkan anak-anak memilih jalannya sendiri. Tapi yang perlu diingat dan diperhatikan orangtua adalah dengan tidak melepas tapi memberikan kesempatan bagi anak untuk mencari tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan dan lakukan, serta usaha apa yang harus mereka kerjakan untuk mengembangkan kemampuannya.

Hargai Setiap Pencapaian Yang Berhasil Diraih Oleh Anak

Tidak perlu berlebihan dalam memberikan rewards kepada sang anak. Terkadang hal kecillah yang akan membuat anak-anak sadar bahwa orangtuanya selalu memperhatikan mereka dan selalu ada untuk mereka. Orangtua dapat memberikan penghargaan dengan sebuah pelukan, kecupan, atau mungkin ucapan yang membangun mereka untuk tetap semangat dan berjuang demi mimpinya.

Beri Anak Contoh Kontekstual Dalam Kehidupan Agar Dia Bisa Menjadi Pribadi Yang Bijaksana

Sebagian anak akan belajar dengan baik saat mereka diberi contoh langsung secara kontekstual. Orangtua sudah sepatutnya menunjukkan hal-hal yang ada di dalam kehidupan ini untuk dijadikan bahan pelajaran bagi anak-anak kita. Dengan cara ini, anak akan lebih bisa mengambil pelajaran langsung dari apa yang mereka lihat, dengar dan mereka alami sendiri. Jika orangtua hanya memberitahu anak-anaknya dengan cerita dan cerita, bukan hanya kebosanan yang mereka dapatkan, tetapi juga rasa meremehkan karena mereka tidak tahu dengan mata kepala mereka sendiri saat mereka berada pada posisi seperti yang kita ceritakan kepada mereka.

Didik Anak Dengan Contoh Nyata, Sebab Orangtua Adalah Contoh Dan Guru Utama Bagi Anak

Orang yang pertama dicari dan dibutuhkan oleh anak adalah orangtuanya. Oleh karena itu orangtua harus mampu menjadi contoh yang baik untuk anak. Bukan hanya dari tingkah laku saja, namun juga dari segala sisi. Orangtua menyandang tugas sebagai guru utama yang dibutuhkan anak untuk mendidiknya agar menjadi pribadi yang baik di waktu nanti. Bukan tidak mungkin saat orangtua menjadi contoh yang buruk, maka anak pun akan bertingkah laku buruk. Sesuai dengan pepatah yang menyebutkan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Begitu pula anak-anak kita, secara alamiah, mereka akan mewarisi segala tindak tanduk yang dimiliki orangtuanya.

1 Comment

1 Comment

  1. Rina

    November 2, 2017 at 3:56 pm

    Yes.. Itu kondisi Aq… Gagal komunikasi.. Berakhir diperceraian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Tak Kalah Asyik, 9 Cara Bermain Bersama Anak Tanpa Smartphone Ini Bisa Diterapkan Orangtua

Semakin banyak saja smartphone yang diiklankan dengan fitur-fitur yang unggul. Tidak hanya kebutuhan komunikasi tapi juga pendidikan, bisnis, dan hiburan pun terpenuhi. Beberapa orangtua, dengan alasan rasa sayang, membiarkan anak-anak bermain dengan smartphone.

Pada kondisi tertentu, smartphone untuk permainan anak dianggap lebih simpel. Tidak perlu bawa bahan dan alat tertentu. Apalagi ketika anak rewel mendadak. Misalnya saat di restoran dan sedang menunggu pesanan makanan, bingung juga apa yang harus dilakukan.

Sebenarnya, Smartphone untuk anak-anak bukan pilihan yang bijak. Jika berlebihan bisa bikin kecanduan. Dunia anak adalah dunia bermain, mereka sangat menyukai permainan. Kalau anak mulai bosan, Jangan buru-buru mengeluarkan smarphone. Simak dulu beberapa cara bermain bersama anak tanpa smartphone. Beberapa diantaranya tidak membutuhkan peralatan khusus dan praktis. Dijamin menyenangkan!

Meski Tahun Terus Berganti, Bermain Tebak-tebakan Tetap Ampuh Membuat Suasana Berubah Ceria

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Orangtua dapat memanfaatkannya dengan main tebak-tebakan. Misalnya orangtua yang menyebutkan ciri suatu benda, anak yang menebak namanya. Cara ini bisa dilakukan di mana saja, karena tanpa menggunakan alat apa pun.

Buat Suasana Jadi Menyenangkan Dengan Mengajak Anak Bernyanyi

Anak-anak senang sekali mengekspresikan dirinya. Minta mereka menyanyikan lagu seperti Balonku Ada Lima, Pelangi-Pelangi, Bintang Kecil hingga lagu berbahasa asing seperti Twinkle-twinkle Little Star. Tepuk tangan dan menari juga disarankan. Eits, jangan lupakan juga lagu dari animasi kesayangannya.

Menggambar Dan Mewarnai Dapat Membuat Anak Lebih Kreatif

Menggambar dan mewarnai adalah kegiatan anak-anak yang umum dilakukan. Menggambar atau mewarnai benda-benda yang disukai memang seru. Alternatif yang tidak biasa misalnya melukis dengan menggunakan cap tangan. Gunakan cat yang aman untuk anak. Bakalan lebih kreatif nih mereka!

Atau Bisa Dengan Membuat Kerajinan Kertas Bersama-sama

Kerajinan kertas bisa terdiri dari melipat maupun menggunting. Ajak anak membuat perahu kertas, pesawat kertas, maupun binatang seperti katak dan lainnya. Menggunting berbagai gambar dan menempelkannya juga bisa. Tingkat yang lebih sulit misalnya ajak anak menghias foto atau buat scrapbook. Jangan lupa, berikan penghargaan dengan memajang atau menempel hasilnya. Anak akan termotivasi membuat karya yang lebih bagus.

Menyusun Puzzle Dan Lego Tentu Akan Membuat Anak Antusias

Puzzle mengasah daya ingat dan konsentrasi anak. Kalau ada waktu lebih, bikin puzzle sendiri juga gampang kok. Anak tidak akan pernah bosan bermain puzzle yang beragam. Selain puzzle, menyusun lego atau balok juga meningkatkan kemampuan fokus anak.

Membaca Dongeng Pun Tak Kalah Menarik. Lagi Pula Pesan Moral Yang Terdapat Dalam Dongeng Berpengaruh Positif Untuk Perkembangan Anak

Membaca memang tidak masuk dalam kategori permainan. Tapi membaca dongeng bisa jadi salah satu pilihan. Kegiatan ini tidak harus dilakukan menjelang tidur. Setelah membaca dongeng bersama-sama, tanyakan apa tanggapannya mengenai beberapa tokoh. Tantang mereka untuk memainkan peran tokoh tersebut. Secara tidak sadar ia belajar mengenai kehidupan.

Libatkan Anak Dalam Permainan Mencari Harta Karun Dan Buat Dia Bersemangat Menemukannya

Amankan barang berharga mereka, misalnya mainan kesayangan. Ajak anak untuk menemukannya. Memberi daftar barang-barang lain juga lebih menantang. Berilah batasan wilayah di mana harus mencari, misalnya sebatas ruang tidur dan ruang keluarga saja.

Permainan Bola Selalu Bisa Membuat Suasana Jadi Ceria

Ada banyak macamnya permainan bola, sebut saja lempar dan tangkap bola, menendang bola atau basket dengan ring yang lebih rendah. Menggunakan balon warna-warni juga menarik. Tinggal modifikasi saja aturan mainnya.

Membuat Permainan Sendiri? Kenapa Tidak?

Beli mainan sih udah sering, kalau buat sendiri? Cobalah membuat mainan bersama anak, pasti asyik. Kalau ada barang bekas seperti botol, kardus atau kain, manfaatkan saja. Anak-anak pasti menikmati proses pembuatannya. Apalagi kalau disesuaikan dengan kesukaan mereka. Bermainlah bersama mereka dengan hasil karyanya, pasti bangga.

Pilih permainan yang sesuai dengan usia anak. Tapi sebenarnya, semua kegiatan yang menyenangkan juga termasuk kategori permainan. Lebih bagus lagi kalau yang bermanfaat. Tidak hanya memberikan kesenangan tapi pengalaman dan pembelajaran. Ikatan antara orangtua dengan anak juga jauh lebih erat. So, jangan mau dikalahkan dengan smartphone. Kalau mereka tidak bermain dengan kita, maka dengan siapa lagi?

1 Comment

1 Comment

  1. Rina

    November 2, 2017 at 3:56 pm

    Yes.. Itu kondisi Aq… Gagal komunikasi.. Berakhir diperceraian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

MOST SHARE

To Top