Feature

Sebab Melepaskan Itu Tak Pernah Mudah, Maka Ketahuilah Meski Bahagia Ibumu Pun Berat Melepasmu Menikah

Nak, pacarmu sekarang siapa? Kamu kapan seriusnya? Jadi mau sama yang mana? Pacaran terus, kapan nikahnya? Dan sederet pertanyaan lain sebagai bukti kasih sayangnya saat kamu sebagai putrinya sudah masuk ke usia yang “harus” menikah. Tetapi setelah kamu menemukan si dia yang kamu yakini bisa melewati sisa usia bersama, Ibu masih tetap mengkhawatirkanmu.

Tak bisa dipungkiri ada perasaan-perasaan dari seorang ibu yang tidak bisa diungkapkan saat harus melepaskan putrinya untuk hidup bersama laki-laki pilihannya. Meskipun tidak terucap, tetap ada perasaan yang sulit tergambarkan dan juga diucapkan kepada siapapun saat mengetahui kenyataan anaknya akan memulai hidup yang baru dengan orang lain sebagai jodohnya.

Hal pertama yang dirasakan seorang Ibu begitu putrinya menikah adalah bahagia. Putri kecilnya yang sejak dulu dijaga dengan hati-hati kini akan melepas masa lajang bersama laki-laki pilihannya

“Iya Jeng, alhamdulillah anak saya beberapa bulan kedepan mau menikah. Ini saya lagi repot urusin pernikahannya dia, nanti jangan lupa datang ya!” kira-kira seperti itulah percakapan ibumu dengan teman-temannya. Salah satu bentuk ungkapan rasa bahagia yang meliputi hatinya, karena akhirnya anak yang dia rawat dari kandungan hingga besar sudah menemukan tambatan hatinya dan siap untuk melepas masa lajang. Saking bahagianya terkadang ibumu yang paling antusias mengurusi segala bentuk printilan untuk acara pernikahanmu. Sungguh tidak ada kebahagiaan yang lebih besar bagi seorang ibu, saat melihat anaknya bahagia.

Namun ini juga seperti koin yang memiliki dua sisi berlawanan. Rasa bahagia dan sedih bercampuraduk menjadi satu. Tak mudah melepaskan anak gadis yang sepanjang waktu nyaris tak pernah jauh darinya!

Bahagia memang saat tahu anaknya akan menikah. Namun dilubuk hati terdalam rasa sedih tak kalah menyelemuti perasaannya. Perasaan dan kenyataan yang harus diterima bahwa anaknya akan pergi meninggalkan rumah dan bersatu dengan jodohnya. Anaknya selalu merajuk untuk dimasakkan makanan kesukaannya, anak yang selalu mencari ibunya setelah sampai rumah dan anak yang selalu ada saja bahan yang diperdebatkan dengannya.

Rasa sedih tak pelak juga datang bersama rasa bahagianya, disela persiapan pernikahan yang sedang kamu siapkan. Ibumu juga menyiapkan hati untuk melepaskanmu hidup bersama orang lain. Mungkin nanti kamu akan sibuk dengan keluarga baru, sehingga sudah jarang berkunjung ke rumah hanya untuk sekedar melepas rindu. Rasa kehilangan tetap saja ada meskipun tak sebesar rasa bahagianya.

Karena membesarkan anak perempuan bukan perkara mudah, muncul rasa gamang dalam hati Ibu. Apakah laki-laki pilihanmu bisa membahagiakanmu Nak?

Ketika hari pernikahan semakin dekat, ibumu akan mulai mengenang bagaimana bahagianya saat tahu kamu hadir di dalam rahimnya. Merawatmu agar tetap sehat selama dalam kandungan, melahirkanmu dengan penuh perjuangan, serta merawatmu dengan kasih sayang hingga kamu bisa seperti sekarang. Semua masa-masa itu dilewati dengan derai tangis dan tawa dan bukan jalan yang mudah dilalui sebagai seorang ibu. Perasaan ingin mendidikmu sebaik mungkin, memberikan yang terbaik menjadi salah satu tujuan terbesar dalam hidupnya.

Bahkan ketika kamu menikah, ibumu masih saja akan mengkhawatirkan apakah rumah tanggamu akan baik-baik saja? Apakah pasanganmu akan merawatmu dengan baik dan benar sesuai dengan harapannya? Apakah kamu akan bahagia hidup bersamanya menghabiskan sisa usia?

Meskipun tak mudah untuk melepaskanmu, dukungan dan doa Ibu akan membuatmu kian mantap membuka lembaran baru. Bukankah doa Ibu adalah sumber kebahagiaan bagi anak-anaknya?

Saat kamu menikah dan sudah bersama dengan pasanganmu. Jarak akan semakin jauh, waktu bertemu juga tak lagi mudah, tetapi doanya tidak akan pernah terputus. Tanggung jawab mungkin saja berubah dan juga berbeda, tetapi harapannya agar kamu hidup bahagia akan selalu dia panjatkan tanpa jeda. Baginya meskipun kamu sudah mengarungi hidup yang baru baik sebagai pemimpin keluarga ataupun pendamping pria yang luar biasa, kamu akan tetap menjadi seorang anak yang dia sayang tanpa pernah berkurang sedikit pun. Doa serta harap agar hidupmu selalu dilimpahkan kebahagiaan dan juga kelancaran dalam segala urusan, serta kekuatan dalam menghadapi cobaan akan tetap terpanjat disetiap doa hingga ajal menjemput.

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Mulai Dari 1G Hingga Kini 4G, Kamu Mengalami Era Yang Mana?

Rindu dengan si Dia yang nan jauh di sana tinggal angkat smartphone lalu lakukan video call. Semudah itu memang saat ini memecah rindu. Teknologi memang sudah sedemikian memudahkan.

Tapi toh kemudahan itu tak datang serta merta. Sekian proses teknologi dilalui hingga kita menjejak di era ini. Sebagian kamu bahkan mungkin sempat merasakan era itu. Tentunya worth it untuk menyimak perjalanan teknologi seluler dari waktu ke waktu ini

Bayangkan Hidup Di era 1G, Handphonemu Cuma Bisa Dipakai Telepon Saja

Angkatan pertama atau 1G, santer diperkenalkan sejak 1970-an. Seandainya saja ketika itu Mark Zuckerberg sudah lahir dan menciptakan jejaring facebook, jangan harap kamu bisa update status memakai jaringan ini. Sebab teknologi pada golongan ini masih bekerja dengan memanfaatkan transmisi sinyal analog, yang hanya diperuntukkan pada panggilan telepon saja.

Ukuran ponsel di masa 1G pun memang cukup tergolong besar, jika dibandingkan dengan ponsel masa kini. Misalnya Motorola seri DynaTAC yang cukup populer pada saat itu. Telepon genggam yang dibuat pada kurun 1984-1994 ini, memiliki bobot 794 gram alias lebih dari setengah kilogram.

Di Era 2G Baru Bisa Kirim SMS, Tak Ada Notif Sudah Dibaca Atau Belum

 

Lahir sebagai adik pertama dari layanan teknologi 1G, sang 2G datang untuk menggantikan sinyal analog ke ranah yang lebih maju yakni Digital. Yap, perbedaan utama antara kedua teknologi tersebut adalah pada sinyal radio yang digunakan.

Beberapa telepon genggam, yang menggunakan teknologi 2G mulai diperkenalkan pada kurun waktu tahun 1990. Tak hanya suara, ponsel pada era ini, sudah dapat berkirim dan menerima data dalam ukuran kecil.

Maksudnya data di sini adalah pengiriman pesan teks (SMS), pesan bergambar serta pesan multimedia (MMS). Kamu yan kebetulan lahir di Era ‘90-an tentu paham, bagaimana pesan bergambar yang sedang dibicarakan. Sulitnya ketika itu jika berkirim pesan tak ada tanda centang dua bahwa pesan sudah dibaca. Kita hanya bisa mengira-ngira sendiri.

Meski sudah mulai ada data transfer, tapi paket yang terkirim masih sangat kecil. Karena itu kemudian jaringan 2G ini dimodifikasi. Dikenalkanlah istilah 2.5G mengacu pada teknologi dengan sistem General Packet Radio Service (GPRS) yang bisa mencapai 50 kbps.

Tak berhenti disitu, jaringan 2G kembali dikembangkan menjadi 2,75G. Sebuah teknologi komunikasi 2G yang dikombinasikan dengan standar Enchanced Data Rates for GSM Evolution (EDGE). Secara teori, kecepatan transfer datanya melebihi 2.5G, yaitu maksimal pada 1 Mbps.

Era 3G Mulai Memungkinkan Kamu Berselfie Dan Mengunggah Ke Sosmed

Penerapan standar GPRS pada teknologi komunikasi 2G jadi jembatan yang akhinya, membuka jalan untuk akses data yang lebih cepat. Sebab setelah kelahirannya, pada tahun 1998 muncul lagi rangkaian yang juga dikenal sebagai generasi ketiga atau 3G.

Teknologi ini sekaligus jadi mobile broadband pertama, alias jaringan pita lebar. Sebuah istilah yang menggambarkan akses pengiriman data lebih cepat. Akses yang lebih cepat ini diiringi dengan melesatnya teknologi ponsel.

Pada saat inilah kita mulai mengenal akses dunia lewat smartphone, transfer data audio, grafis hingga video. Dari sini pula kita mengenal streaming video dan video call dengan sesama pengguna 3G. Di era ini pula sosial media mulai merambat naik dan foto selfie mulai bertebaran dimana-mana

Layaknya ketika 2G dahulu, teknologi 3G juga tak diam di tempat. Dikembangkan pula teknologi yang dinamakan 3.5G dan 3.75G. Teknologinya disebut dengan High Speed Packet Access (HSPA) dan HSPA+, yang memiliki kecepatan transfer data meningkat dengan batas maksimum unduh 14 Mbps, dan kecepatan unggah 5,76 Mbps.

Era 4G LTE Paling Muda Tapi Paling Revolusioner

Teknologi ini menawarkan kecepatan unduh hingga 100 Mbps dan kecepatan unggah hingga 50 Mbps. Dan kecepatan tersebut bisa lebih cepat lagi, tergantung teknologi yang digunakan oleh operator yang kamu gunakan.

Inilah masa dimana para content creator memiliki panggung. Semua bisa berkreasi dan menjadi sosok yang diinginkan dengan teknologi semacam ini. Menjangkau orang-orang lain yang lebih luas bisa dilakukan dengan mudah. Mulai dari youtuber, instagram, blogger hingga content creator di berbagai platform bermunculan.

Di Indonesia sendiri munculnya teknologi 4G mengubah banyak hal. Tak hanya dari user tapi juga penyedia layanan mengubah teknologi mereka untuk menyesuaikan dengan kecanggihan dari 4G LTE.

Smartfren jadi yang paling terdepan soal ini. Smartfren telah menyesuaikan layanannya dengan gaya hidup pintar ala 4G. Yup layanan Smartfren 4G dan Smartfren 4G Plus meluncurkan kartu yang bisa digunakan di semua HP 4G. Kamu sebagai pengguna bisa memilih jenis handphone mulai dari Samsung, iPhone, Oppo, Lenovo dan Motorolla untuk menggunakan Smartfren 4G dan Smartfren 4G Plus.

Tak cuma soal kecepatan dan pilihan handphone beragam, kartu Smartfren 4G GSM dan Kartu Smartfren 4G GSM+, punya kuota 15GB dari kartu Smartfren 4G GSM dan bonus kuota 13GB dari kartu Smartfren 4G GSM+.

Tetunya bonus itu sangat worth it karena Kamu bisa puas streaming dan melakukan banyak hal yang kamu suka. Apalagi 4G yang satu ini juga terdapat fasilitas gratis chatting setahun. Kamu bisa tengok informasi soal hal tersebut di link berikut ini untuk Smartfren 4G dan yang ini untuk Smartfren 4G Plus.

Tak berhenti di tawaran bonus kuota saja, kamu juga bisa ikutan tantangannya. Ada iPhone X sebagai hadiahnya, caranya gampang banget. Kamu tinggal ambil foto kamu dengan ekspresi kamu yang paling worth it. Download imagenya dan share di sosial media kamu dengan menggunakan hastag #BARUTAHUKAN. Untuk info lengkapnya yuk kunjungi barutahukan.com.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Bukannya Takut dengan Alam Luas, Tapi Berada di Rumah Justru Membuat Jiwaku Merasa Jauh Lebih Bebas

Di saat teman-temanku berlomba untuk pelesiran ke berbagai penjuru negeri atau bahkan sampai ke luar negeri, aku lebih memilih tak pergi kemana-mana saat libur. Liburanku selama setahun bisa dihitung dengan jari, kalaupun harus keluar rumah, aku tak akan betah berlama-lama atau jauh dari rumah. Menurutku, rumah adalah tempat ternyaman dibanding tempat manapun yang bisa aku kunjungi.

Telingaku pun sudah akrab dengan julukan ‘anak rumahan’ yang disematkan padaku. Karena setiap harinya mungkin aku hanya terlihat melakoni aktivitas lalu pulang ke rumah. Juga saat akhir pekan, dibanding hang out ke mall, aku memilih melakukan banyak hal di rumah. Meski demikian, bukan berarti aku tertutup dan tak punya teman. Bukan juga lantaran takut alam luas dan tak punya nyali untuk bepergian jauh. Hanya saja, ada semacam kemewahan tersendiri saat aku bisa berada di rumah berlama-lama dan melakukan banyak hal yang kusukai.

Meski Jarang Bepergian, Tapi Aku Tetap Memahami Makna Sebuah Pertemanan

Awalnya aku dianggap sosok yang sangat minder lantaran selalu berada di dalam rumah. Disangka tidak punya teman pun sudah biasa. Tapi hal itu tak sepenuhnya benar. Meski jumlah temanku bisa dihitung dengan jari, justru dari situ aku menemukan lingkaran pertemanan yang berkualitas. Keberadaan mereka yang menjadikanku tak minder, apa lagi kurang pergaulan. Kamu perlu tahu, anak rumahan mungkin hanya memiliki satu atau dua teman dekat. Namun aku rasa disitulah keuntungannya. Aku tak perlu kompromi dengan drama pertemanan, dimana ada teman yang datang hanya ketika butuh.

Intens Berkomunikasi dengan Keluarga Sendiri Membuatku Memahami Bahwa Aku Tak Perlu Pergi Kemana-mana Demi Mencari Jati Diri

Aku tak peduli dengan perkataan orang di luar sana yang menilaiku manja karena tak bisa jauh dari orangtua. Karakterku yang seperti ini terbentuk karena ayah dan ibu selalu membiasakan quality time bersama keluarga. Itulah mengapa aku merasa tak lagi perlu bepergian ke mana-mana hanya demi mencari jati diri. Aku sudah tahu apa yang aku butuhkan dan aku cari, sehingga tak perlu lagi sibuk membuang-buang waktu untuk mencari kesenangan di luar rumah. Daripada sekadar nongkrong dan sibuk membicarakan orang, prinsipku lebih baik mengisi waktu bersama keluarga.

Memang Aku Perlu Banyak Bersyukur Sebab Rumahku Selalu Mencukupkan Banyak Hal yang Aku Perlukan

Sebagai anak rumahan, awalnya aku bingung melihat banyak orang-orang seusiaku yang hobinya keluyuran hingga larut malam. Saat ditanya, mereka bilang untuk mencari kesenangan. Sejatinya, kesenangan macam apa? Namun di samping itu, memang selalu ada yang mengejekku “Mainmu kurang jauh”. Memangnya hal itu menjamin kamu bahagia dengan lebih banyak bermain?  Tapi disamping itu aku juga harus banyak-banyak bersyukur. Meski rumahku bukan termasuk rumah mewah nan gedongan, tapi aku diberikan banyak hal yang aku butuhkan. Aku dibebaskan untuk berekspresi di dalam rumah. Rumah seperti menawarkan segalanya untukku sehingga aku bisa beraktivitas di dalamnya dengan nyaman dan tanpa merasa bosan.

Lantaran Jarang Bepergian, Anak Rumahan Jadi Dikenal Pandai Menabung

Memang benar. Sejak masih bersekolah, aku memilih untuk menyimpan uang saku yang diberikan orangtua, dibanding menghabiskannya begitu saja saat nongkrong bersama teman. Mungkin ini salah satu hal yang bisa aku banggakan. Ya, aku jadi mulai terlatih untuk menabung dan kebiasaan tersebut masih terbawa hingga hari ini. Dengan demikian, kebiasaan ini seperti menyelamatkanku dari yang namanya ‘kebangkrutan’ bila sewaktu-waktu aku memang sedang butuh uang. Lihatlah, jadi anak rumahan tak selamanya tampak begitu menyedihkan bukan?

Dengan Menghabiskan Banyak Waktu di Rumah, Hobiku Jadi Semakin Terasah

Inilah keuntungan lain yang aku miliki. Aku jadi punya banyak waktu untuk melakoni hal-hal yang memang kusukai. Apalagi hobi yang aku jalani memang bisa dilakukan di dalam rumah, seperti membaca, menulis, menggambar, hingga bermain musik. Tak hanya itu, aku juga punya banyak waktu untuk mengasahnya. Misalnya jika aku senang bermain musik, maka aku memilih menghabiskan banyak waktu untuk mengulik nada-nada baru dengan alat musik yang aku kuasai.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Trending

Bersyukur Masih Punya Ibu

“Bukti nyata dari wujud malaikat yang susungguhnya”
Kalimat ini mungkin jadi salah satu gambaran yang akan kita pakai untuk menjelaskan betapa baiknya ibu. Mulai dari mengandung 9 bulan lamanya, hingga merawat dan mendidik kita hingga kini telah dewasa.

Bagi kamu yang kebetulan masih tinggal dan menetap bersama dengan orangtua di rumah, dapat dipastikan jika hari-harimu tentu selalu terjaga. Disamping ada ayah yang selalu memastikan kamu tak pulang malam, ada ibu yang selalu setia menantimu dengan segelas teh buatannya.

Meski nyatanya kita kerap lupa untuk bersyukur atas segala perbuatannya, kali ini coba telisik lagi hal-hal remeh yang akan membuatmu semakin bersyukur karena masih memiliki ibu.

Tak Peduli Kamu Masih Kecil atau Sudah Dewasa, Pelukan Hangatnya Selalu Menenangkan Jiwa


Hidup tak selalu bahagia, ada kalanya kita merasa kecewa dan nelangsa. Dan seberapa banyak pun manusia yang akan berusaha untuk menolongmu, hanya pelukan ibu yang akan selalu jadi juara untuk menyembuhkan semua luka.

Bukan perkara kamu adalah bayi lugu yang dulu masih ia bawa kemana-mana, atau manusia dewasa yang kini sudah bisa memberi kebahagiaan untuknya. Tak ada batasan usia, tak peduli kamu ini anak laki-laki atau perempuannya, pelukan hangatnya akan selalu jadi penawar di segala luka. Teduh dan menenangkan selalu.

Sejauh Apa pun Kamu Melangkah, Masakannya Selalu Jadi Juara yang Kerap Membuatmu Rindu Rumah

Ini adalah fakta hidup yang akan semakin membuatmu rindu sekaligus banyak bersyukur. Jika berada di rumah kerap membuatmu makan lahap disetiap kesempatan, hidup di kota yang berbeda akan membuatmu semakin sadar akan arti ibu.

Di tempat lain, beberapa jenis menu makanan mungkin membuatmu terpesona. Namun gurihnya bumbu ayam goreng miliknya selalu jadi sesuatu yang menggoda lidah. Ini bukan perkara tak ingin mengakui kehebatan rasa masakan orang lain, bukan pula ingin memegahkan ibu dihadapan semuanya.

Tapi percaya atau tidak, tumbuh besar dengan masakan racikan tangannya membuat kita tak akan menaruh pilihan pada masakan yang lainnya.

Baik Susah atau Senang, Ibu Akan Jadi Tempat Curhat Paling Menyenangkan

Barangkali ini jadi pengakuan yang akan datang dari sebagian besar perempuan. Dan benar memang, selain jadi orangtua yang hebat untuk kita, ibu jadi sahabat untuk segala cerita.

Mulai dari cerita perselisihan antar sahabat, hingga beberapa kisah percintaan yang kadang mengaduk perasaan. Zaman dan masanya mungkin berbeda, tapi ibu selalu bisa menyesuaikan pola pikirnya. Bahkan bukan hanya sekedar mendengarkan saja, ibu juga selalu memberi solusi masalah.

Tatkala Kamu Sedang Sakit, Beliau Jadi Sosok yang Akan Bertindak Untuk Merawatmu Tanpa Diminta

Ini jadi situasi paling perih saat sedang jauh darinya. Untuk kamu yang saat ini sedang merantau, tentu tahu bagaimana rasanya. Berada jauh dari rumah saat sedang sakit, memaksa kita kembali pada memori lama.

Tanpa kamu membuka suara, ia tahu bagaimana dirimu saat sedang sehat atau sakit. Naluri yang ada padanya seakan bergerak dengan sendiri, untuk tahu jika anaknya ini butuh ditemani. Pelan-pelan kita akan semakin sadar, bahwa keikhlasan untuk merawat diri saat sedang sakit, hanya akan datang dari dirinya seorang.

Membawamu ke dokter, membuatkan makanan dan minuman hangat, hingga memastikan kamu tak lagi makan sembarangan dan tidur larut malam.

Suasana Rumah yang Selalu Rapi Jadi Bukti Akan Kemampuannya dalam Mengurus Rumah Tangga

Kamu tentu pernah, mendengar ibu sedang bersungut-sungut atas kondisi rumah yang semrawut. Seakan tak mengerti mengapa ia sedemikian marah, suatu saat ketika sudah dewasa, barulah kita paham, bagaimana susahnya mengatur tatanan rumah hingga tampak indah seperti yang dulu dilakukan ibu.

Bahkan sekuat apa pun kamu akan meniru segala gaya yang sering ia lakukan untuk menata, rasanya tak cukup puas dan dirasa tak sama. Disini kita mulai sadar, jika ibu memang satu-satunya manusia dengan kemampuan serba bisa.

Hingga Selelah Apa pun Ibu Bekerja Seharian, Menunggu Kamu Pulang Selalu Dilakukannya

Bagi anak laki-laki yang telah menikah, barangkali akan ada istri yang menunggu di rumah. Namun jauh sebelumnya, sosok ibu jadi satu-satunya perempuan yang setia untuk menunggumu pulang dengan segelas teh hangat buatannya. Membukan pintu dengan senyuman menenangkan.

Percaya atau tidak, lelah karena bekerja seharian seketika sirna tatkala melihat sosoknya. Binar matanya seakan ingin bertanya, “Lelahkah kamu anakku?” . Namun belum sempat kita menjawabnya, ia seakan tahu apa yang sedang kita mau. Tak banyak mengeluh, semua hal yang selalu membuat kita tenang, ia lakukan tanpa berharap imbalan.

Untuk kamu yang mungkin sedang berada di tanah rantau, cobalah luangkan beberapa waktumu untuk sekedar bertanya kabarnya dari jauh. Perbanyak ucapan terimakasihmu, karena masih berkesempatan melihatnya dengan utuh. Sebab kelak ketika ia sudah tiada dari hidupmu, separuh nyawamu mungkin akan terasa lebih jauh.

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Adakah yang Salah dari Laki-laki yang Ingin Menjadi Bapak Rumah Tangga?

Iya, bapak rumah tangga!

Tak perlu mengernyitkan kening tanda tak percaya, kamu memang tak salah baca. Pilihan setelah menikah kadang memang terlihat tak seimbang, konon perempuan boleh tetap bekerja atau memilih tinggal di rumah saja. Sedangkan laki-laki? Sebagai kepala rumah tangga ya harus bekerja.

Stereotip akan sekat antara peran laki-laki dan perempuan nampaknya memang sudah mendarah daging. Padahal, kini untuk urusan bekerja dan berpenghasilan perempuan tak lagi menemukan pagar penghalang. Lalu mengapa seorang laki-laki yang berkeinginan menjadi bapak rumah tangga, masih sangat tabu untuk kita terima?

Ini Bukan Tentang Siapa yang Akan Jadi Kepala dan Ibu Dalam Rumah Tangga, Tapi Bagaimana Membagi Peran Sesuai Kesepakatan

Sebagian besar kaum adam percaya, bahwa merekalah yang pantas jadi tulang punggung keluarga. Bukan tak ingin menghargai perspektif mereka akan peran seorang laki-laki dalam keluarga. Tapi ada pandangan lain yang memang harus kita terima pula, yaitu mereka yang ingin berbagi peran dengan istrinya.

Jangan dulu bilang ini adalah bentuk dari kelemahan seorang suami, karena keputusan tersebut tentu sudah melalui mediasi. Siapa yang akan tinggal di rumah, dan siapa yang akan bekerja keluar rumah. Tak ada yang salah, jika kedua belah pihak merasa nyaman untuk tetap menjalaninya.

Dan Masalah Utamanya, Jelas Pada Ideologi yang Dipercaya Oleh Masyarakat Kita

“Perempuan bebas memilih, mau di rumah atau bekerja, yang penting laki-laki tetap cari nafkah!”

Kalimat-kalimat seperti ini kerap kita dengar, ketika sedang berada pada acara kumpul keluarga atau penikahan seorang saudara. Meski didalam hati kadang kita tak terima, karena nampaknya itu tak selalu adil untuk kita. Baik laki-laki atau perempuan.

Tak hanya datang dari kepercayaan masyarakat saja, ternyata undang-undang di negara kita juga punya pandangan serupa. Tak percaya? Coba saja lirik UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pada pasal 31 ayat yang ke 3, disana dijelaskan bahwa “Suami adalah kepala keluarga dan istri adalah ibu rumah tangga”.

Dan paham semacam ini, masih berlaku hingga kini. Ketakutan tak akan diterima oleh masyarakat kadang meluluhkan niat akan keinginan untuk menentang sesuatu yang kadang tak bisa kita terima. 

Padahal Memilih Untuk Berada di Rumah, Tak Lantas Membuat Laki-laki Kehilangan Jati Dirinya

Melonjaknya kesempatan kaum hawa untuk menunjukkan eksistensinya kadang jadi sesuatu yang membuat laki-lak mengalah. Dari hal ini sepasang suami istri mungkin bisa belajar, bahwa bertukar peran tak akan menghapus kewajiban dan tanggung jawab masing-masing. Walau untuk urusan nafkah keluarga mungkin akan ditanggung sang istri. Tapi tak selalu penuh. 

Bukan Tentang Pantas Atau Tidaknya, Semua Akan Terlihat Baik Jika Dilihat dari Sisi yang Berbeda

Katakanlah tadinya kalian bedua tadinya sama-sama bekerja, kemudian mau tak mau harus ada yang mengalah untuk mengurus rumah tangga. Tak perlu bertahan pada gengsi, tapi bagaimana kenyataan yang akan kita dapati.

Bahkan tahun lalu industri perfilman India memberikan suguhan nuansa baru lewat sebuah film berjudul “Ki & Ka”. Dimana sang suami “Ka” memutuskan untuk menjadi bapak rumah tangga yang akan mengurusi semua pekerjaan rumah, sedangkan istrinya “Ki” pergi bekerja. Meski digambarkan pada sebuah film saja, tak menutup kemungkinan bahwa ada orang-orang yang seperti mereka.  

Emansipasi Tentu Jadi Salah Satu Hal yang Memicu Keinginan Mereka

Jangan dulu pikir bahwa pilihan ini justru akan menyusahkan istri dan para perempuan lain, toh ini sudah era emansipasi. Disamping itu, tidak sedikit perempuan yang mengaku tak mampu jadi ibu rumah tangga yang baik.

Toh menggantikan peran istri di rumah bukanlah sesuatu yang mudah. Dan laki-laki yang berani untuk mengambil pilihan ini tentulah mereka yang juga punya kemampuan baik dan pemahaman luas.  

Orang-orang seperti ini sadar, bahwa emansipasi yang banyak digadang-gadang tak hanya kesetaraan gender pada hal-hal tertentu saja. Peran didalam rumah tangga juga termasuk didalamnya.

Pilihan Ini Memang Masih Dipandang Sebelah Mata, Tapi Bukan Berarti Salah

Barangkali kita masih jarang mendengar istilah “stay home dad” atau Bapak Rumah Tangga. Tapi perlahan, seiring dengan perubahan zaman dan pemikiran beberapa orang yang telah sadar, banyak kampanye yang menyuarakan arti pentingnya laki-laki dalam mendukung pengembangan diri perempuan. Mulai dari partisipasi laki-laki dalam ranah domestik hingga peran ayah yang memang harusnya mendominasi untuk tumbuh kembang anak. Pasalnya menurut Psikiatris anak dari Amerika Serikat, Dr. Kyle D. Pruett, seorang bayi yang berusia 7 hingga 30 bulan, jauh lebih responsif pada sentuhan yang berasal dari ayah dibanding ibunya. 

Karena Bisa Jadi, Ini Adalah Salah Satu Cara Untuk Menikmati Hidup Bersama

Sebagai dua orang yang akan hidup bersama setelah menikah, tentu banyak hal yang patut dipertimbangkan. Salah satunya adalah keinginan pasangan yang akan tetap bekerja atau tidak. Jika ternyata cerita hidup yang kamu punya, justru berisi keinginan suami yang akan berhenti bekerja itu bukanlah pilihan buruk tentunya.

Bagi laki-laki yang mungkin tak nyaman dengan aturan serta ikatan dalam perusahaan, ini akan jadi berita baik. Tetap bisa bekerja dari rumah, sembari manggantikan tugas sang istri. 

Sejatinya orang yang tahu hal baik dan buruk dalam hidupmu adalah kamu dan pasangan. Tak perlu risau untuk cibiran orang. Jika ternyata itu adalah salah cara untuk hidup yang lebih bahagia, kenapa tidak?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

MOST SHARE

To Top