Feature

Mengapa Jalin Hubungan di Era Modern Justru Rentan Rapuh?

Jika di rata-rata dari jumlah kasus di pengadilan Agama, setiap 2 menit sekali terjadi perceraian di Indonesia. Iya, kamu tidak salah baca jumlahnya memang sebanyak itu. Secara prosentase, 15 persen dari pernikahan, harus kandas di pengadilan.

Tentunya ini sebuah ironi. Ketika di era modern segala hal dikatakan telah terhubung, perceraian justru mengalami peningkatan. Sejatinya para pasangan seharusnya dengan mudah mengail informasi tips-tips langgeng berumah tangga yang bertebaran di internet. Namun hal ini tak mampu mendongkrak suksesnya angka pernikahan. Apa yang menyebabkan usaha mempertahankan bahtera cinta justru lebih rumit di era saat ini?

Cara Kita Berkomunikasi dengan Pasangan Tidaklah Efektif, Meski Ada Smartphone yang Memudahkan Komunikasi

Komunikasi yang baik adalah fondasi bagi suksesnya suatu hubungan. Banyak terjadi kasus dimana emosi dipendam terlalu lama dan akhirnya malah menjadi bom waktu yang berbahaya. Ini terjadi karena tidak terjalinnya komunikasi yang baik.

Meski kini sudah ada ponsel cerdas yang seharusnya bisa memudahkan kita berkomunikasi dengan pasangan, justru keberadaannya malah menjaauhkan kita dari pasangan. Seberapa sering kamu berhubungan dengan pasangan (resmi) kamu dibandingkan dengan pasang status atau membalas komentar? Mana yang lebih penting buatmu, mengetahui kabar terakhir pasangan, atau tak mau ketinggalan informasi viral terakhir di timeline? Seringkali, kita asyik sendiri dengan smartphone daripada harus mengobrol dan mengakrabkan diri dengan pasangan.

Kita Terpaksa Bertahan dengan Orang yang Tidak Sungguh-sungguh Kita Cintai

Kebanyakan dari kita enggan menghabiskan waktu sendirian bukan? Karena ketakutan akan kesendirian ini, banyak orang yang memilih untuk menjalin hubungan dengan orang lain dalam keadaan “terpaksa” hingga akhirnya mereka tidak benar-benar bahagia.

Alasan lainnya mengapa seseorang harus bertahan dengan orang yang tidak sungguh-sungguh dia cintai adalah karena faktor usia, tekanan dari orangtua untuk segera menikah, dan lingkungan. Keadaan-keadaan yang memaksa untuk menjalin sebuah hubungan yang tidak disukai. Hubungan yang dilandasi keterpaksaaan hanya akan berakhir dengan perpisahan.

Gawatnya, tekanan ini diamplifikasi oleh teknologi terkini. Kita bisa dengan mudah menyaksikan kawan kita silih berganti menikah. Lalu di group-group messanger, tak jarang satu dua selentingan di alamatkan pada yang belum menikah. Walhasil, tekanan-tekanan macam ini membuat seseorang memilih untuk menikah padahal belum yakin dengan pasangannya.

Tidak Dilandasi dengan Kepercayaan Satu Sama Lain, Kecanggihan Teknologi Justru Membuat Kita Mudah Cemburu

Selain komunikasi, kunci lainnya agar hubungan dapat bertahan lama adalah kepercayaan satu sama lain. Sayangnya, banyak dari kita yang  tidak menjalankan hal ini ketika menjalin suatu hubungan.

Berapa banyak kita cemburu pada pasangan hingga sampai-sampai kita hampir gila dibuatnya? Hanya karena dia tidak memberi kabar dalam sehari atau karena dia lama membalas pesan WhatsApp yang kita kirim 5 menit yang lalu?

Kecemburuan berasal dari ketidakpercayaan pada pasangan. Ketika foto pasangan mendapatkan “like” atau reaksi lain dari lawan jenis, kita serta merta mudah mengasumsikan dia berselingkuh. Sewaktu melihat mantan pasangan menjadi pengikutnya di sosial media, kita pun merasa terintimidasi. Dan di saat dia tidak segera membalas pesan kita padahal jelas Last Seen-nya baru saja online, masalah besar pun terjadi.

Padahal sesungguhnya, jika hubungan ingin langgeng, kuncinya adalah membangun kepercayaan satu sama lain. Jika sudah percaya, maka tidak ada alasan lagi untuk terlalu cemburu pada pasangan.

Terlalu Sibuk Bekerja Mengejar Materi, Karena Silau Dengan Orang Lain

Konyol memang jika mengatakan hidup tak butuh materi. Namun berkonsentrasi penuh hanya melulu mengejar materi pastinya akan mengabaikan faktor-faktor lain yang sangat penting dalam berhubungan.

Sayangnya, teknologi lagi-lagi berperan dalam memperbesar tuntutan mendapatkan materi lebih ini. Banyak kawan yang memposting perjalanan terakhirnya ke luar negeri misalnya. Lalu tak terhitung juga yang berpose di depan mobil atau rumah barunya. Belum lagi urusan fashion yang tak kalah banyaknya.

Walhasil, tuntutan menghasilkan materi yang setara juga menjadi makin besar. Padahal mungkin pasangan malah tak pernah menuntut lebih. Mereka justru waktunya terbengkalai karena kita makin sibuk memacu diri mendapatkan materi.

Tidak Sabar untuk Mengerti Satu Sama Lain

Masalahnya saat ini, kita sudah dibiasakan dengan segala sesuatu yang cepat.  Makanan cepat saji,  kopi instan, kerja cepat, jalan yang cepat, dan sebagainya. Kebiasaan kita yang  ingin segalanya serba cepat membuat kita jadi tidak sabaran, termasuk dalam soal  percintaan. Segala sesuatu yang cepat dalam soal cinta bisa terlihat ketika kita ada masalah.

Saat ada masalah dengan pasangan, kita rasanya ingin cepat menyelesaikannya. Bukan karena peduli pada hubungan yang sedang dijalani, namun kita terlalu sayang pada waktu kita jika dipakai hanya untuk bertengkar. Alhasil banyak dari kita yang menghindari konflik dengan mengalah secara terpaksa agar tidak terjadi konflik yang berkepanjangan. Ada juga yang menyelesaikan masalah dengan uang.

Padahal, jika kita bisa meluangkan waktu sedikit lebih banyak dan tidak terburu-buru, kita bisa menyelesaikan masalah dengan berdiskusi dan mencari jalan keluar yang disepakati secara bersama-sama. Cara seperti ini merupakan salah satu cara yang baik, agar tidak menyisakan dendam di hati.

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Warna Favorit Tak Sekedar Soal Selera, Tapi Menentukan Karakter Juga

Semua orang pasti punya warna favorit. Meskipun kamu bilang “tak punya warna kesukaan” secara tak sadar pasti ada preferensi khusus ketika memilih warna. Coba tengok isi lemari pakaianmu, pasti kamu bisa segera menemukan jumlah warna yang lebih banyak dibanding lainnya.

Dari penelitian, secara statistik warna biru adalah yang paling banyak difavoritkan oleh orang. Termasuk juga warna yang paling banyak dipilih mayoritas laki-laki. Sementara perempuan paling banyak memilih warna hitam. Sementara warna yang paling sedikit difavoritkan adalah warna kuning. Hanya 5 persen orang yang memilih warna ini sebagai kesukaan. Itu pun semakin menua, mereka yang tadinya memilih kuning akan beralih ke warna orange.

Dalam cabang ilmu psikologi, warna ini tak cuma dianggap angin lalu. Ada cabang keilmuan psikologi khusus yang mempelajari hal ini. Disebut pemilihan warna dipengaruhi oleh karakter. Lantas apa kata ilmu tersebut mengenai warna pilihanmu?

Biru Itu Tenang Dan Senang Keteraturan

Biru itu serupa warna lautan. Seringnya di asosiasikan dengan ketenangan. Mereka yang memfavoritkan warna biru biasanya gemar mencari kedamaian dan keteraturan dimanapun dia berada. Biasanya penyuka warna biru mudah bergaul dan sangat bisa diandalkan.

Merah Itu Senang Menjadi Pusat Perhatian Dan Ingin Terlihat Menarik

Meski belum ditemukan sebabnya, namun sejumlah studi menyebut bahwa warna merah cenderung lebih menarik perhatian dibandingkan warna yang lain. Beberapa menyebut hal ini berkaitan dengan insting dasar biologis tubuh yang cenderung memanas dan memerah jika merasa tertarik.

Meski tanpa sengaja, orang yang menyukai warna merah umumnya berasal dari kesadaran ini. Mereka merasa lebih diperhatikan jika menggunakan warna merah. Keinginan untuk selalu mendapat perhatian inilah yang kemudian mendorong seseorang menyukai warna merah.

Hijau Itu Sangat Memperhatikan Keuangan, Keamanan Dan Kesejahteraan

Hijau memang sering dikaitkan dengan alam dan lingkungan. Namun menurut psikologi warna,mereka yang memilih hijau umumnya adalah orang-orang yang mengutamakan kestaabilan keuangannya, sangat ingin mendapatkan rasa aman dan mengutamakan kesejahteraan.

Orange Itu Pembawaannya Santai Dan Mudah Bersahabat

Merka yang gemar warna oranye atau orange umumnya juga gemar menjadi pusat perhatian. Cenderung bersifat flamboyan, punya banyak teman dan tak senang sesuatu yang serius. Konon katanya penyuka warna oranye ini cenderung menunda pernikahan loh!

Abu-Abu Itu Senang Kebebasan Dan Sulit Berkomitmen

Warna ini berada diantara hitam dan abu-abu. Seperti warnanya yang “tak jelas”, karakter penyukanya juga tak terlalu senang komitmen. Menurut psikologi warna, penggemar warna ini hanya punya sedikit emosi, mudah bosan dan tak mau terikat.

Mereka tak punya sesuatu yang benar-benar disukai atau sesuatu yang benar-benar dibenci. Semua biasa saja untuk mereka. Hidupnya yang bebas dan tak mau terikat biasanya justru membuat penasaran banyak orang.

Merah Muda Itu Sedikit Naif Dan Apa Adanya

Penyuka merah muda itu bisa diibaratkan mereka yang selalu dalam kondisi anak-anak. Tak punya banyak kecurigaan, polos dan tidak punya perasaan negatif kepada orang lain. Sayangnya penyuka pink ini sering dimanfaatkan oleh orang lain.

Hitam Itu Moody, Tak Mau Ribet Namun Inginnya Yang Berkelas

Para penyuka hitam ini tidak mau berhadapan dengan segala keribetan. Mereka selalu ingin hal-hal yang berkualitas dan berkelas. Ujungnya karakternya cenderung moody alias mudah berubah-ubah jika menemui hal yang kurang disukainya.

Putih Itu Menganggap Dirinya Polos

Putih itu sering dikaitkan dengan suci dan kepolosan. Namun sesungguhnya penyuka warna putih itu tak begitu polos-polos amat. Namun mereka ingin meyakinkan orang lain bahwa diri mereka polos. Sementara sebetulnya mereka sama sekali tidak polos dan cenderung “pintar”.

Kuning Itu Idealis Dan Perfeksionis

Penyuka warna kuning itu cenderung idealis dan bahkan perfeksionis. Mereka juga punya optimisme yang di atas rata-rata. Sayangnya keinginan untuk segala sesuatu itu selalu sempurna mendorong orang dengan karakter ini jadi mudah cemburu dan iri.

Jadi Pilihan Warnamu Apa? Coba Sesuaikan Dengan Kendaraanmu!

 

Guna memperkuat karaktermu tentunya pas kalau kendaraan sehari-hari yang digunakan warnanya sesuai dengan yang kamu favoritkan.

Pilihan warna motornya tak banyak? Mungkin begitu alasanmu. Memang tak semua varian motor punya beragam warna. Tapi Suzuki Address Playful mencoba menjawab tantangan ini. Tak tanggung-tanggung varian ini punya 10 pilihan warna yang diterapkan pada aksesoris panel bodi menarik dan penuh gaya yang dapat disesuaikan dengan karakter kamu. Terdapat warna Stronger Red, Aura Yellow, Fresh Green, Macho Bright Blue, Majestic Gold, Dark Grey, Brilliant White, Hyper Pink, Luminous Orange dan Ice Silver. Suzuki juga menerjemahkan warna-warna ini sesuai karakter kamu.

Aura Yellow misalnya cocok untuk kamu yang mudah bergaul dan keberadaanmu selalu membawa keceriaan dengan orang sekelilingmu. Semangat, kreativitas dan kelucuanmu adalah kelebihan utamamu. Kegiatan favoritmu tak jauh-jauh dari kegiatan sport dan ekstrem.

Sementara untuk kamu yang selalu ingin tampil sempurna pasti lebih memilih warna Majestic Gold. Karena warna emasnya menggambarkan hal yang tak ternilai sekaligus elegan.

Fresh Green akan dipilih kamu yang punya sifat loyal terhadap kawan. Kamu juga termasuk orang-orang yang jujur dan senang berada di dalam komunitas untuk bersosialisasi. Warna hijau juga idientik dengan lingkungan dan warna yaang aktif.

Kalau kamu orang yang memilih stronger red adalah orang-orang yang optimis, passionate dan percaya diri. Kamu selalu semangat dan kreatif dalam melakukan segala sesuatu.

Nah, untuk kamu yang punya pengendalian diri yang baik akan diwakili dengan warna macho bright blue. Kamu cenderung hati-hati, tenang dan patuh terhadap aturan. Tapi meski teratur dan stabil bukan berarti kamu membosankan.

Selain warnanya yang menarik motor ini cocok untuk penggunaan harian karena dimensi bodinya yang mungil dengan dimensi pas dan seimbang. Dimensi bodi panjang 1855 mm, lebarnya 655 mm dan tinggi 1095 mm serta memiliki jarak sumbu roda atau wheelbase 1260 mm. Bodi yang cukup mungil dan ramping hanya memiliki bobot sebesar 97 Kg.

Skutik ini juga nyaman karena didukung suspensi depan dan belakang yang tangguh. Untuk bagian depan menggunakan suspensi tipe Telescopic Coil Spring Oil Damped. Sedangkan untuk belakang Suzuki Address Playful menggunakan suspensi tipe Swingarm Coil Spring Oil Damped.

Suzuki Address Playful ini dibekali mesin SOHC 4 langkah kapasitas 113 yang cc yang menghasilkan performa yang baik. Teknologi full injectionnya mampu menekan konsumsi bahan bakar dengan perbandingan kompresi yang mencapai 9.4:1.

Jadi kamu pilih yang mana?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Sponsored Content

Hasil Surveynya, Mereka Yang Pakai Motor Ini Yang Bahagia

PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) berhasil meraih penghargaan dalam kategori survei “Indeks Kebahagiaan Berkendara (IKB) 2017” yang diselenggarakan oleh Tabloid OTOMOTIF selama bulan Juni – Agustus 2017. Dalam acara yang dilangsungkan di Will’s Café & Resto, Plaza Kelapa Gading, Jakarta Utara, Suzuki berhasil menang dalam kategori bebek 150cc untuk Suzuki Satria F150 dan kategori skutik 110-125cc untuk Suzuki Address FI (Kategori Skutik 110-125cc).

Indeks Kebahagiaan Berkendara merupakan formulasi dari kepuasan berkendara, kondisi kendaraan dan tingkat emosi saat berkendara yang semuanya mempengaruhi seberapa besar kebahagiaan seseorang dalam berkendara. Survei ini adalah cerminan konsumen Suzuki yang mendapatkan pengalaman menyenangkan melalui produk-produk Suzuki.

“Apresiasi yang diberikan oleh publik melalui survei IKB sangat berarti bagi kami sebagai upaya agar kami dapat terus mengembangkan inovasi di setiap produk Suzuki, termasuk ketiga produk yang unggul di kelasnya masing-masing pada survei ini. Karena pada akhirnya, kepuasan dan kebahagiaan konsumen saat menggunakan produk-produk Suzuki merupakan pencapaian yang tak ternilai, selaras dengan tujuan utama Suzuki dalam menciptakan produk bernilai tinggi yang berorientasi pada konsumen.” ujar Arviane D.B. Corporate PR PT. Suzuki Indomobil Sales.

Suzuki Satria F150 kembali bertahta sebagai jawara motor bebek 150cc dengan menyematkan teknologi Fuel Injection untuk motor hyper-underbone ini, sehingga pengendara dapat mengoptimalkan performa setiap fiturnya dengan mudah saat mengendarai Satria F150 yang diklaim sebagai motor bebek tercepat di kelasnya.
Sementara Suzuki Address FI merajai kategori Skutik 110-125 cc berkat transmisi CVT yang membuatnya semakin nyaman dikendarai. Selain itu, walau memiliki kabin yang luas bodi Suzuki Address FI cukup ramping dengan desain sporty yang menjadi andalan ke-210 responden yang mengendarai motor.

Survey IKB 2017 ini sendiri melibatkan total 455 responden yang berusia lebih dari 18 tahun, mengendarai kendaraan sendiri, tahun produksi kendaraan minimal tahun 2000, serta kendaraan milik pribadi. Para responden yang terdiri dari pria dan wanita dengan kategori SES A sampai SES C melakukan survei IKB 2017 dengan mengisi angket online di website OTOMOTIFNET melibatkan pengguna kendaraan motor dan mobil.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Adakah yang Salah dari Laki-laki yang Ingin Menjadi Bapak Rumah Tangga?

Iya, bapak rumah tangga!

Tak perlu mengernyitkan kening tanda tak percaya, kamu memang tak salah baca. Pilihan setelah menikah kadang memang terlihat tak seimbang, konon perempuan boleh tetap bekerja atau memilih tinggal di rumah saja. Sedangkan laki-laki? Sebagai kepala rumah tangga ya harus bekerja.

Stereotip akan sekat antara peran laki-laki dan perempuan nampaknya memang sudah mendarah daging. Padahal, kini untuk urusan bekerja dan berpenghasilan perempuan tak lagi menemukan pagar penghalang. Lalu mengapa seorang laki-laki yang berkeinginan menjadi bapak rumah tangga, masih sangat tabu untuk kita terima?

Ini Bukan Tentang Siapa yang Akan Jadi Kepala dan Ibu Dalam Rumah Tangga, Tapi Bagaimana Membagi Peran Sesuai Kesepakatan

Sebagian besar kaum adam percaya, bahwa merekalah yang pantas jadi tulang punggung keluarga. Bukan tak ingin menghargai perspektif mereka akan peran seorang laki-laki dalam keluarga. Tapi ada pandangan lain yang memang harus kita terima pula, yaitu mereka yang ingin berbagi peran dengan istrinya.

Jangan dulu bilang ini adalah bentuk dari kelemahan seorang suami, karena keputusan tersebut tentu sudah melalui mediasi. Siapa yang akan tinggal di rumah, dan siapa yang akan bekerja keluar rumah. Tak ada yang salah, jika kedua belah pihak merasa nyaman untuk tetap menjalaninya.

Dan Masalah Utamanya, Jelas Pada Ideologi yang Dipercaya Oleh Masyarakat Kita

“Perempuan bebas memilih, mau di rumah atau bekerja, yang penting laki-laki tetap cari nafkah!”

Kalimat-kalimat seperti ini kerap kita dengar, ketika sedang berada pada acara kumpul keluarga atau penikahan seorang saudara. Meski didalam hati kadang kita tak terima, karena nampaknya itu tak selalu adil untuk kita. Baik laki-laki atau perempuan.

Tak hanya datang dari kepercayaan masyarakat saja, ternyata undang-undang di negara kita juga punya pandangan serupa. Tak percaya? Coba saja lirik UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pada pasal 31 ayat yang ke 3, disana dijelaskan bahwa “Suami adalah kepala keluarga dan istri adalah ibu rumah tangga”.

Dan paham semacam ini, masih berlaku hingga kini. Ketakutan tak akan diterima oleh masyarakat kadang meluluhkan niat akan keinginan untuk menentang sesuatu yang kadang tak bisa kita terima. 

Padahal Memilih Untuk Berada di Rumah, Tak Lantas Membuat Laki-laki Kehilangan Jati Dirinya

Melonjaknya kesempatan kaum hawa untuk menunjukkan eksistensinya kadang jadi sesuatu yang membuat laki-lak mengalah. Dari hal ini sepasang suami istri mungkin bisa belajar, bahwa bertukar peran tak akan menghapus kewajiban dan tanggung jawab masing-masing. Walau untuk urusan nafkah keluarga mungkin akan ditanggung sang istri. Tapi tak selalu penuh. 

Bukan Tentang Pantas Atau Tidaknya, Semua Akan Terlihat Baik Jika Dilihat dari Sisi yang Berbeda

Katakanlah tadinya kalian bedua tadinya sama-sama bekerja, kemudian mau tak mau harus ada yang mengalah untuk mengurus rumah tangga. Tak perlu bertahan pada gengsi, tapi bagaimana kenyataan yang akan kita dapati.

Bahkan tahun lalu industri perfilman India memberikan suguhan nuansa baru lewat sebuah film berjudul “Ki & Ka”. Dimana sang suami “Ka” memutuskan untuk menjadi bapak rumah tangga yang akan mengurusi semua pekerjaan rumah, sedangkan istrinya “Ki” pergi bekerja. Meski digambarkan pada sebuah film saja, tak menutup kemungkinan bahwa ada orang-orang yang seperti mereka.  

Emansipasi Tentu Jadi Salah Satu Hal yang Memicu Keinginan Mereka

Jangan dulu pikir bahwa pilihan ini justru akan menyusahkan istri dan para perempuan lain, toh ini sudah era emansipasi. Disamping itu, tidak sedikit perempuan yang mengaku tak mampu jadi ibu rumah tangga yang baik.

Toh menggantikan peran istri di rumah bukanlah sesuatu yang mudah. Dan laki-laki yang berani untuk mengambil pilihan ini tentulah mereka yang juga punya kemampuan baik dan pemahaman luas.  

Orang-orang seperti ini sadar, bahwa emansipasi yang banyak digadang-gadang tak hanya kesetaraan gender pada hal-hal tertentu saja. Peran didalam rumah tangga juga termasuk didalamnya.

Pilihan Ini Memang Masih Dipandang Sebelah Mata, Tapi Bukan Berarti Salah

Barangkali kita masih jarang mendengar istilah “stay home dad” atau Bapak Rumah Tangga. Tapi perlahan, seiring dengan perubahan zaman dan pemikiran beberapa orang yang telah sadar, banyak kampanye yang menyuarakan arti pentingnya laki-laki dalam mendukung pengembangan diri perempuan. Mulai dari partisipasi laki-laki dalam ranah domestik hingga peran ayah yang memang harusnya mendominasi untuk tumbuh kembang anak. Pasalnya menurut Psikiatris anak dari Amerika Serikat, Dr. Kyle D. Pruett, seorang bayi yang berusia 7 hingga 30 bulan, jauh lebih responsif pada sentuhan yang berasal dari ayah dibanding ibunya. 

Karena Bisa Jadi, Ini Adalah Salah Satu Cara Untuk Menikmati Hidup Bersama

Sebagai dua orang yang akan hidup bersama setelah menikah, tentu banyak hal yang patut dipertimbangkan. Salah satunya adalah keinginan pasangan yang akan tetap bekerja atau tidak. Jika ternyata cerita hidup yang kamu punya, justru berisi keinginan suami yang akan berhenti bekerja itu bukanlah pilihan buruk tentunya.

Bagi laki-laki yang mungkin tak nyaman dengan aturan serta ikatan dalam perusahaan, ini akan jadi berita baik. Tetap bisa bekerja dari rumah, sembari manggantikan tugas sang istri. 

Sejatinya orang yang tahu hal baik dan buruk dalam hidupmu adalah kamu dan pasangan. Tak perlu risau untuk cibiran orang. Jika ternyata itu adalah salah cara untuk hidup yang lebih bahagia, kenapa tidak?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Tips

Ini Bukan Soal Istri Yang Tak Bersyukur, Tapi Tentang Suami Pelaku Kekerasan Finansial

Mungkin istilah kekerasan fisik atau kekerasan verbal alias omongan lebih familiar di telinga. Sementara kekerasan finansial alias kekerasan keuangan, bisa jadi baru kali ini kamu dengar.

Apalagi di Indonesia, suami yang menjadi pelaku kekerasan finansial kerap berlindung di balik kata-kata “Rejeki sudah ada yang mengatur, jadi orang itu harus selalu bersyukur”. Walhasil perempuan seringkali tak paham sekaligus malu mengakui kalau dirinya menjadi korban kekerasan finansial.

Masalahnya kekerasan finansial ini biasanya tak berdiri sendiri. Pelaku juga umumnya melakukan kekerasan verbal yang bahkan berujung kepada fisik. Gawatnya kekerasan finansial ini tak jarang justru digunakan sebagai senjata ampuh, para laki-laki untuk mencegah perempuan meninggalkan hubungan yang penuh KDRT.

seperti dikutip dari situs Mommies Daily, Prita Hapsari Ghozie, Chief Financial dari Planner ZAP Finance menjelaskan tentang beberapa tipe kekerasan finansial ini.

Istri Dipaksa Bekerja Dengan Pendapatan Tinggi, Sementara Suami Ongkang-Ongkang Kaki

Jalannya rejeki memang kita tak pernah tahu. Bisa saja istri lebih punya penghasilan dibanding suami. Sehingga suami lebih memilih tinggal di rumah saja. Sampai disini tak masalah, karena memang ada yang disebut “stay home dad”

Tapi masalahnya kondisi istri bekerja ini akibat paksaan dan tekanan dari suaminya. Istri ditempatkan dalam situasi tertekan sehingga tak pernah terpikir kalau uang hasil kerjanya juga terdapat hak untuk dirinya sendiri. Dalam kondisi ekstrim kamu pasti pernah mendengar kasus suami yang menjual istrinya kepada banyak laki-laki lain dan menguasai uang “penghasilan” sang istri.

Istri Dilarang Bekerja, Tapi Nafkah Dari Suami Pas-Pasan

Ini tipe yang sebaliknya dari yang pertama. Istri dilarang total untuk bekerja oleh suami. Penyebabnya karena suami ingin menunjukkan otoritas dan kendalinyaa terhadap istrinya. Parahnya, istri hanya diberi uang bulanan yang pas-pasan. Situasi ini terus dipelihara agar istri merasa tergantung pada suaminya sebagai sumber keidupan.

Istri Sama Sekali Tak Diberi Uang Bulanan

Menurut Prita, ini adalah salah satu bentuk kekerasan finansial yang nyata. Ada 2 alasannya yang melatar belakangi kekerasan ini. Pertama karena memang karena si suami tidak bekerja. Sementara kedua karena suami memberikan pembatasan ketat terhadap keuangan.

Semua keluar masuk uang harus melalui dirinya sebagai suami.Serupa dengan yang sebelumnya Ini adalah suatu bentuk kontrol yang digunakan oleh suami agar menciptakan ketergantungan pada istri sehingga istri menjadi tergantung dan takut untuk pergi.

Istri Dipaksa Berhutang Untuk Menghidupi Biaya Bulanan

Bukannya mencari pekerjaan dan berusaha mendapat penghasilan, suami justru membiarkan istri begitu saja. Dengan sangat terpaksa harus berutang kiri kanan untuk mencukupi kebutuhan. Dan ketika utang sudah menumpuk suami memilih tidak mau tahu bagaimana cara menyelesaikan utang tersebut.

Suami Memakai Uang Istri Dan Tidak Pernah Merasa Perlu Mengembalikan

Prita menyebut tidak ada yang salah ketika istri memberikan bantuan modal kepada suami untuk memulai usaha. Namun tentunya jadi problem ketika istri mengajak diskusi dan bertanya soal realisasi keuntungan dari modal yang sudah dikeluarkan itu malah dimaki dan dibentak.

Suami Bekerja Namun Tak Memberikan Nafkah, Dengan Alasan Pendapatan Istri Lebih Dari Cukup

Dalam kasus ini, suami bekerja dan penghasilannya lebih dari cukup. Namun sang suami enggan untuk memberikan nafkah untuk menghidupi keluarga. Alsannya karena pendapatan istrinya yang juga bekerja sudah cukup untuk biaya bulanan rumah tangga.

Lantas Harus Apa?

Prita menyebut bahwa langkah paling pertama yang harus dilakukan adalah mencoba membicarakannya dengan suami. Penting bagi istri untuk mengutarakan perasaannya terhadap situasi yang menekannya tersebut.

Sekali lagi, ini bukan karena tak bersyukur tapi ini bisa merusak psikologis seseorang. Nah, masalahnya berbicara dengan suami soal ini memang kadang tak mudah.

Menurut Prita Seorang laki-laki yang mengalami kesulitan finansial akan mengalami fase depresi yang kemudian akan dilontarkan ke orang terdekatnya yaitu istri dan anak-anaknya. Kekerasan verbal dan finansial yang dilontarkan bisa jadi merupakan perwujudan dari permintaan pertolongan yang tertutupi oleh rasa marah.

Ketika kodisinya sudah sangat parah kehadiran pihak ketiga diperlukan untuk mencari solusi kekerasan tersebut. Bisa dimulai dari orang terdekat, seperti meminta pendapat orang tua istri atau suami. Bahkan jika memang diperlukan harus melibatkan psikolog, psikiater untuk menangani tekanan mental suami. Sementara urusan finansial bisa meminta bantuan perencana keuangan.

Ingat, kekerasan finansial biasanya taak berdiri sendiri. Kekerasan ini juga umum disertai kekerasan verbal dan fisik. Kamu tak mau dirimu dan anak-anakmu jadi korban bukan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Mendidik Anak Dengan Baik; Menuntun Tanpa Melibatkan Ambisi Orangtua

Penting untuk membantu anak agar mereka bisa menjadi sosok yang membanggakan. Namun membantu anak untuk mewujudkan keinginan dan mimpi-mimpinya pun tak kalah krusial. Mendidik anak untuk menjadi seperti yang dinginkan orangtuanya jelas bukan tindakan tepat. Pada kenyataanya untuk mewujudkan hal itu tidaklah mudah. Terkadang orangtua masih saja menyalahkan anak atas kenakalan atau kesalahan yang diperbuatnya tanpa bercermin apa yang telah diajarkannya padanya. Padahal, bukan tak mungkin orangtualah yang justru berperan paling besar dalam hal ini. Akan lebih baik bila orangtua menerapkan cara mendidik anak yang lebih baik dan efisien. Bukan waktunya lagi menggunakan cara kolot untuk mendidik anak, apalagi hingga menggunakan kekerasan.

Jangan Terlalu Sering Mengucapkan Kata-kata Kasar Di Depan Anak

Orangtua adalah guru anak yang utama sekaligus contoh konkret baginya. Apa yang dilakukan dan diucapkan orangtua adalah salah satu hal yang pasti akan ditiru oleh sang anak. Tidak hanya itu, jika orangtua tidak pandai dalam mengontrol perkataan, ucapan yang dilontarkannya bisa menjadi bumerang suatu saat nanti. Jangan pernah berkata kasar kepada anak. Selain hal itu akan mereka tiru, berkata kasar juga akan membuat mereka merasa selalu dipojokkan dan tak berharga.

Kekerasan Saat Mendidik Anak Jelas Tak Bisa Ditolerir Lagi

Banyak orangtua yang menyangka kekerasan adalah hal yang perlu dilakukan untuk mendisiplinkan anak. Tetapi terkadang orangtua lupa, mendidik anak dengan kekerasan akan melatih anak untuk melakukan hal yang sama pula. Kepribadian anak muncul dari cara orangtua mendidiknya. Saat mereka tumbuh di lingkungan yang keras, mereka pun dapat menjadi sosok dengan pribadi keras. Hal ini berlaku sebaliknya. Intinya, sebagai orangtua jangan pernah sesekali menggunakan cara kekerasan untuk membuat anak jera dan mengubahnya jadi pribadi yang disiplin. Kedisiplinan muncul bukan karena kekerasan, tetapi kebiasaan.

Berhenti Mengekang Anak, Apalagi Hingga Mengatur Masa Depannya

Hal ini yang kerap menjadi problematika dalam mendidik anak. Orangtua sudah sepatutnya mendampingi anak-anak. Tetapi bukan dengan cara mengekang dan mengatur segala hal termasuk masa depan sang anak. Anak perlu diberi kesempatan untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan keinginannya sendiri. Anak yang sering dikekang cenderung akan liar saat mereka berada jauh dari pengawasan orangtua. Biasakanlah memberi kesempatan pada mereka untuk mengambil langkah yang diinginkannya.

Sesekali Perhatikan Bakat Anak, Bantu Dia Untuk Mengembangkan Bakat Yang Dimilikinya

Bagaimana orangtua dapat mendidik anak dengan baik dan benar jika orangtua tidak memahami seperti apa anak mereka? Sebagai orangtua kita perlu memerhatikan apa bakat dan kekurangan anak-anak kita. Hal ini perlu dilakukan agar orangtua tidak salah dalam mengembangkan kemampuan yang menjadi bakat mereka, tapi pada kenyataannya itu adalah kekurangan mereka.  Orangtua yang baik adalah mereka yang mampu memahami bagaimana anaknya serta tahu cara paling tepat mendidiknya.

Biarkan Anak Memilih Jalannya Sendiri, Namun Tetap Ingatkan Saat Dia Tidak Berada Dijalan Yang Semestinya

Jangan mengekang dan biarkan anak-anak memilih jalannya sendiri. Tapi yang perlu diingat dan diperhatikan orangtua adalah dengan tidak melepas tapi memberikan kesempatan bagi anak untuk mencari tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan dan lakukan, serta usaha apa yang harus mereka kerjakan untuk mengembangkan kemampuannya.

Hargai Setiap Pencapaian Yang Berhasil Diraih Oleh Anak

Tidak perlu berlebihan dalam memberikan rewards kepada sang anak. Terkadang hal kecillah yang akan membuat anak-anak sadar bahwa orangtuanya selalu memperhatikan mereka dan selalu ada untuk mereka. Orangtua dapat memberikan penghargaan dengan sebuah pelukan, kecupan, atau mungkin ucapan yang membangun mereka untuk tetap semangat dan berjuang demi mimpinya.

Beri Anak Contoh Kontekstual Dalam Kehidupan Agar Dia Bisa Menjadi Pribadi Yang Bijaksana

Sebagian anak akan belajar dengan baik saat mereka diberi contoh langsung secara kontekstual. Orangtua sudah sepatutnya menunjukkan hal-hal yang ada di dalam kehidupan ini untuk dijadikan bahan pelajaran bagi anak-anak kita. Dengan cara ini, anak akan lebih bisa mengambil pelajaran langsung dari apa yang mereka lihat, dengar dan mereka alami sendiri. Jika orangtua hanya memberitahu anak-anaknya dengan cerita dan cerita, bukan hanya kebosanan yang mereka dapatkan, tetapi juga rasa meremehkan karena mereka tidak tahu dengan mata kepala mereka sendiri saat mereka berada pada posisi seperti yang kita ceritakan kepada mereka.

Didik Anak Dengan Contoh Nyata, Sebab Orangtua Adalah Contoh Dan Guru Utama Bagi Anak

Orang yang pertama dicari dan dibutuhkan oleh anak adalah orangtuanya. Oleh karena itu orangtua harus mampu menjadi contoh yang baik untuk anak. Bukan hanya dari tingkah laku saja, namun juga dari segala sisi. Orangtua menyandang tugas sebagai guru utama yang dibutuhkan anak untuk mendidiknya agar menjadi pribadi yang baik di waktu nanti. Bukan tidak mungkin saat orangtua menjadi contoh yang buruk, maka anak pun akan bertingkah laku buruk. Sesuai dengan pepatah yang menyebutkan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Begitu pula anak-anak kita, secara alamiah, mereka akan mewarisi segala tindak tanduk yang dimiliki orangtuanya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

MOST SHARE

To Top