Feature

Kenapa Kamu Tak Perlu Risau Meski Belum Punya Rumah Atau Mobil Mewah, Ini Alasannya

Kamu masih termasuk orang yang gelisah karena tidak punya rumah atau mobil? Saatnya kamu harus mengubah pandanganmu sekarang. Era dimana definisi sukses seseorang adalahketika ia sudah bisa membeli sesuatu yang mahal atau tidak dimiliki orang lain, sesungguhnya sudah lewat.

Di beberapa negara di belahan dunia muncul trend anti kepemilikan barang. Semakin sedikit memiliki barang maka dianggap makin bahagialah seseorang. Di Jepang misalnya, generasi mudanya sedang kerajingan budaya Zen. Ini adalah budaya yang berusaha memiliki sesedikit mungkin barang. Prinsipnya sederhana, semakin sedikit yang dimiliki maka semakin sedikit pula energi dan pikiran yang harus dicurahkan untuk hal yang tak penting.

Sejumlah penelitian di Amerika juga mengungkapkan para generasi milenial yang berusia 30-35 tahun semakin jarang yang membeli rumah bahkan mobil. Faktanya, generasi milenial tidak suka membeli sesuatu yang sangat mahal. Di Amerika, orang-orang yang berusia di bawah 35 tahun disebut sebagai “generasi penyewa”.

Untuk Apa Punya Rumah Dan Mobil Tapi Tiap Malam Memikirkan Utang?

pusing di komputer

Generasi sebelum kita mungkin bisa dengan tenang mencicil rumah atau mobil dalam jangka waktu yang panjang. Pasalnya di era itu, kondisi ekonomi lebih stabil. Semua bisa diprediksi bertahun-tahun ke depan.

Berbeda dengan sekarang. Kondisi perekonomian tidak sestabil dahulu. Tak selalu buruk, karena ini juga terjadi akibat pembangunan dan teknologi yang pesat. Tapi efek buruknya, jika terjadi sesuatu maka ekonomi bisa jatuh sewaktu-waktu.

Andaikan kita membeli rumah untuk jangka waktu 15 tahun misalnya. Bisa saja di tengah mencicil terjadi inflasi gila-gilaan macam krisis tahun 1998 dimana bunga cicilan naik 10 kali lipat. Atau bisa saja developer rumah yang kita cicil gulung tikar setahun kemudian sementara rumah yang kita cicil belum rampung dibuat.

Coba lihat andaikan tahun lalu kamu mengambil pinjaman untuk membeli motor Harley Davidson. Di tahun ini pabrikan motor Amerika itu menyatakan tutup layanan di Indonesia. Begitu juga pabrikan mobil ford. Bayangkan kalau kamu mencicil mobil atau motor selama 3-5 tahun. Sudah lah cicilan naik karena inflasi, motor dan mobil layanannya tak sempurna karena perusahaannya tutup.

Kalau Bisa Sewa Kendaraan Kenapa Harus Beli Mobil?

mobil mewah

Dahulu memiliki kendaraan seperti sebuah keharusan. Mengingat sulitnya kendaraan umum dan akses terhadap kendaraan non pribadi. Tapi toh meski belum sempurna, tapi saat ini kita sudah dimudahkan oleh teknologi.

Mau pergi? Kita tinggal ambil gadget dan bisa memilih mau memesan ojek, mobil, atau taksi secara online. Atau kita bisa mengunduh aplikasi-aplikasi trayek kendaraan umum yang disediakan pemerintah. Dengan metode ini, kita tak perlu lagi memikirkan mencari parkir, membayar pajak kendaraan, service kendaraan, dan lain sebagainya.

Untuk Investasi, Rumah Memang Bagus, Tapi Bisa Jadi Penghambat Karir

rumah

Secara nilai, rumah mungkin menjadi instrumen investasi yang menarik. Namun membeli rumah berarti pula harus punya komitmen jangka panjang. Apalagi jika kondisinya masih mencicil.

Di era lalu, orang tua kita cenderung bekerja pada satu instansi saja. Walhasil mudah buat mereka untuk berkomitmen membeli tempat tinggal dengan memperhitungkan jarak tempuh waktu ke kantor. Beberbeda dengan generasi saat ini yang menurut survey Forbes, bahwa orang muda di dunia modern rata-rata berganti pekerjaan setiap tiga tahun.

Jadi anggaplah kamu membeli rumah di daerah selatan karena perhitungan akses yang lebih mudah ke kantor yang juga di daerah selatan. Lalu kemudian ada tawaran baru menantang namun kantornya berada di daerah utara.

Besar kemungkinan jauhnya jarak dari rumah akan jadi pertimbangan kamu menolak pekerjaan itu. Padahal seandainya kamu hanya menyewa rumah, tentunya mudah buatmu untuk segera pindah menerima tantangan baru tersebut.

Membeli Pengalaman Jauh Lebih Menyenangkan Daripada Membeli Barang

tandem

Yang membuat kita bahagia seutuhnya sebenarnya bukanlah barang yang kita miliki. Namun pengalaman yang kita punya. Jadi daripada menghamburkan uang di barang mewah yang tak diperlukan, lebih baik berinvestasilah pada hal lain seperti liburan, melakukan berbagai olahraga yang ekstrim, hingga membangu sebuah startup, misalnya.

Kenapa pula harus beli rumah di tempat yang sangat istimewa dan mahal jika kamu bisa menyewa sebuah penginapan ketika pergi ke tempat wisata yang istimewa? Menyewa sebuah penginapan saat berlibur tentunya lebih murah karena tidak perlu repot bayar pajak bangunan, tapi kamu sudah bisa merasakan tinggal di tempat tinggal sementara dengan pemandangan yang mengagumkan.

Hal ini diperkuat oleh James Hamblin, seorang kolumnis dari The Atlantic. Ia menjelaskan bahwa para psikolog menemukan fenomena yang telah terjadi pada beberapa dekade belakangan ini adalah, kebahagiaan dan rasa memiliki yang berasal dari menghabiskan uang pada pengalaman baru seperti liburan atau melakukan olahraga ekstrim lebih berharga daripada kebahagia yang hanya diperoleh dari membeli sebuah barang.

Coba Lihat Gaya Hidup Steve Jobs, Semakin Sedikit Barang Semakin Mudah Hidupnya

Steve Jobs Think Different

Dalam sisa hidupnya Steve Jobs pemilik perusahaan Aple praktis hanya mengenakan kaos leher tinggi warna hitam, celana jeans dan sepatu olah raga putih. Begitu juga dengan bos Facebook Mark Zuckerberg yang hanya mengenakan kaos berwarna sama setiap hari.

Metode ini juga diterapkan oleh presiden Amerika Serikat Barack Obama. Kenapa tokoh-tokoh tersebut melakukan hal ini? Karena mereka membutuhkan kesegaran otaknya untuk mengambil keputusan-keputusan penting. Memiliki barang secara berlebihan dan memilihnya hanya akan menghabiskan waktu dan energi setiap harinya.

Jika kamu seseorang yang suka membeli barang-barang mewah, ingat ada risiko yang harus kamu tanggung yakni menjaga kondisinya tetap baik dan juga bebas dari pencurian. Memikirkannya saja sudah bikin cemas, rasa cemas yang datag setiap hari akan otomatis membuat kita tidak bisa menjalani hidup dengan tenang.

Kamu tentunya tidak mau mobil sport yang baru kamu beli tergores saat memakainya di jalanan, atau televisi super mewah keluaran terbaru akan cepat rusak setelah beberapa tahun pemakaian. Daripada membeli barang-barang itu, uang yang sudah susah payah kamu kumpulkan lebih baik dipakai untuk melakukan sesuatu yang lebih penting di masa depan.

Menggunakan uang yang sudah diperoleh dengan susah payah untuk mendapatkan pengalaman baru akan jauh lebih bermakna dibanding memakainya hanya untuk kepuasaan sesaat. Pengalaman baru yang didapat setiap hari akan mengasah kepribadian kamu menjadi lebih matang dan dewasa dalam menyikapi segala hal.

1 Comment

1 Comment

  1. Nusantara Adhiyaksa

    February 17, 2017 at 4:13 pm

    Hidup sederhana, Tapi bergaya luar biasa … wenakk
    mesyukuri nikmat yang ada ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Suamiku Kenapa Kamu Waktu Susah Sama Aku, Tapi Saat Senang Malah Memilih yang Lain?

Babak baru dari perjalanan cinta kita nampaknya mulai bergerak menuju ambang kehancuran. Keberanianku untuk mengatakan ini tentu beralasan. Meski kamu mungkin tak sadar, tapi kurasa kau bukan lagi suami yang kukenal.

Aku paham jika biduk rumah tangga, memang akan selalu mendapat ujian. Tapi kali ini kamu memang sudah keterlaluan. Jika jauh sebelumnya kita selalu berdua untuk melewati setiap cobaan, kali ini aku harus berjuang sendiri untuk melawan. Memerangi kamu dengan dia yang kini lebih kamu pilih.

Barangkali Kamu Lupa Siapa Dia Yang Kemarin Bersamamu Saat Susah, Perempuan Ini Adalah Orangnya

Tak perlu kujelaskan bagaimana kita dulu memulai perjalanan. Kamu tentu tahu susahnya hidup dua orang yang baru menikah. Memilih hidup di rumah kontrakan kecil, agar tak bergantung pada orangtua. Tak hanya diriku saja, kamu juga tentu masih ingat bagaimana rasanya.

Hingga akhirnya kerja keras dan usaha yang kita lakukan, berbuah hasil yang baik. Hidup yang layak dengan ekonomi yang bisa dikatakan lebih dari cukup. Bukan bermaksud untuk mengungkit masa yang telah lalu, ini semua hanya sebagian kecil dari cerita kita. Bagaimana? Apa kamu tetap memilih untuk berpura-pura lupa?

Kutemani Mendaki Terjalnya Bebatuan, Namun Kini Kamu Malah Memberiku Pilihan Yang Tak Sekalipun Kuinginkan

Memang kamu jadi pihak yang lebih dominan untuk semua keberhasilanmu sekarang. Tapi kurasa kamu tahu, bahwa perempuan ini pernah jadi penyokong untuk semua keluh kesahmu. Selalu setia disampingmu meski dunia ikut menertawaimu. “Aku tahu kamu bisa, percayalah aku disampingmu” jadi kalimat pamungkas yang dulu katamu amat berharga.

Anehnya, hasil akhir dari apa yang telah kita miliki justru jadi kejutan baru. Masih lekat diingatan bagaimana kamu berjanji tuk tetap bersama. Namun seseorang yang di luar sana memang nampakanya jauh lebih menggoda.

Dengan Apa Yang Kamu Miliki Sekarang Mudah Memang Untuk Menjatuhkan Pilihan

Wajar memang jika dirinya akan dengan mudah tertarik padamu. Bagaimana pun kamu memang sosok laki-laki yang banyak dicari. Percaya diri dan punya sesuatu yang dapat dibanggakan tentu jadi daya pikat yang menarik bagi seorang perempuan. Bukan berniat untuk selalu memojokkanmu, tapi kenyataannya kamu jadi pihak yang justru berusaha untuk dilirik.

Segala pembuktian, hal yang tadinya hanya kamu perlihatkan di hadapanku, diam-diam kamu perlihatkan untuk orang lain juga. Dengan semua yang telah kau punya, tentu mudah memang menjatuhkan pilihan. Tapi bagaimana jika itu semua tak bertahan lama?

Diriku Sadar Jika Parasku Tak Seelok Dia, Tapi Setidaknya Aku Sudah Berhasil Memberimu Putri Kecil Yang Tak Kalah Cantik

Aku masih ingat, jika dulu penampilan bukanlah sesuatu yang terlalu mendapat perhatianmu. Tak heran jika aku pun tak pernah merasa butuh untuk merias diri, dengan perawatan ekstra. Namun dunia baru yang ada, memang datang dengan membawa beberapa perubahannya. Masalah-masalah kecil dalam hal penampilan, mulai masuk dalam daftar yang perlu dikeluhkan.

Meski telah berusaha untuk bisa tampil serupa, usahaku memang tak lebih unggul dari dia. Paras yang kupunya tentu tak secantik dirinya, tapi apakah itu jadi syarat mutlak untuk tetap bersama ? Cobalah ingat betapa manisnya dia yang kini kita punya.

Sebab Cintaku Tak Perlu Kamu Ragukan, Lalu Bagaimana Dengan Dia Yang Ingin Kamu Jadikan Pilihan

Di awal cerita kamu datang dengan segala kesederhanaan. Memintaku untuk melengkapi ruang-ruang kosong dalam hidup. Tanpa ragu, perempuan ini mantap menerima ajakanmu.

Bahkan jika saat ini kamu kembali datang dan bertanya, jawabanku tentu masih sama. Rasa sayang dan semua cinta yang sedari dulu ada masih tersusun rapi dengan baik meski sekarang sedang diombang-ambing oleh perubahan. Lalu bagaimana dengan dia? Sudahkah kamu pastikan bahwa dirinya juga sanggup berlaku sama?

Bohong Memang Jika Kubilang Ini Tak Menyakitkan, Lalu Haruskah Aku Memaksamu Untuk Tetap Bertahan?

Sebagai pihak yang sedang dalam dua kemungkinan, ini tentu terasa menyakitkan. Ditinggalkan atau tetap dijadikan pilihan, jadi dua hal yang saat ini selalu aku pikirkan. Tumpukan kemungkinan itu terlihat mengerikan, tapi haruskan aku tetap bertahan?

Dulu aku berpikir bahwa kamu adalah sosok pendamping yang memang diciptakan semesta untukku seorang. Akan tetapi ada sesuatu yang kini aku percaya, bahwa apa yang kuanggap benar tak selalu bisa sejalan. Ditinggal olehmu tentu saja menyakitkan, tapi apa iya aku harus terus bertahan? Sedang kamu sudah berjalan tuk meninggalkanku.

Jika Akhirnya Kamu Ingin Nikmati Bahagiamu Dengan Dia, Aku Pun Paham Bahwa Waktu Mungkin Telah Merubah Segalanya

Masih dalam keterbatasanku yang tak bisa menerka semesta. Posisiku sebagai pihak yang disakiti tentu jadi mimpi yang tak pernah kuingini. Memintamu untuk tetap bertahan memang nampaknya tak bisa kulakukan. Tapi bukan berarti aku lantas berhenti untuk mengupayakannya. 

Bahkan hingga kini aku masih mencintaimu dengan rasa yang sama saat dulu pertama. Tapi jika akhirnya kamu ingin nikmati bahagia dengan dia, aku sungguh tak apa.

Kini aku bisa melepasmu, bukan karena rasa yang sudah tiada. Aku hanya sadar bahwa kamu bukan lagi laki-laki sederhana yang kemarin mengajakku hidup bersama. Karena nampaknya waktu dan segala yang kamu punya telah berhasil merubah segalanya.

 

1 Comment

1 Comment

  1. Nusantara Adhiyaksa

    February 17, 2017 at 4:13 pm

    Hidup sederhana, Tapi bergaya luar biasa … wenakk
    mesyukuri nikmat yang ada ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Rasanya Jadi Perempuan Yang Katanya Terlalu Kuat Untuk Ditemani

Sifat manja yang dimiliki perempuan, katanya sering menarik perhatian. Lalu bagaimana dengan mereka yang mandiri dan sulit untuk ditaklukkan? Mungkin benar sikapnya justru jadi sebuah kekhawatiran bagi sebagian laki-laki. Pasalnya menurut hasil dari beberapa penelitian yang dilakukan para ahli. Sebagian besar laki-laki sering merasa minder jika berhadapan dengan dia yang katanya terlalu kuat untuk ditemani.

Mari lupakan dulu pandangan dari mereka yang katanya kurang percaya diri. Cobalah untuk mendengar kata hati dari mereka yang katanya terlalu kuat untuk ditemani itu.

Bukan Tak Ingin Meminta Tolong, Katanya Mereka Hanya Tak Ingin Menyusahkan Orang

Mungkin kalimat “Nggak apa-apa, bisa kok” memang sering keluar dari mulut mereka. Bukan berniat terlalu mengagungkan diri dan tak butuh orang lain. Hanya saja, segala sesuatu memang selalu diupayakan sendiri. Mulai dari hal sepele seperti mengangkat galon air, hingga kendaraan rusak yang perlu diperbaiki ke bengkel.

Di dalam kepala mereka, tak bisa merasa nyaman jika harus merepotkan orang lain. Apalagi untuk hal-hal kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan seorang diri. Namun masalahnya, beberapa laki-laki sering salah dalam mengartikan sikap ini.

Sering Jadi Pusat Perhatian Hingga Dianggap Mampu Melakukan Segala Hal

Memang sih apa yang selalu mereka lakukan selalu menjadi pusat perhatian. Padahal mereka hanya sedang ingin melakukan yang terbaik. Tanpa berpikir untuk menjadi yang lebih dominan. Perempuan tipikal ini, selalu tahu apa yang harus dilakukannya bukan berarti mampu melakukan segala hal.

Tapi ketika semangatnya sedang berapi-api, ia memang akan selalu memampukan diri melakukan semuanya. Meski pada kenyataanya tentu ada beberapa hal yang tak mampu ia penuhi dengan seorang diri.

Keberaniannya Mengambil Resiko Memang Benar, Tapi Bukan Berarti Ia Tak Punya Rasa Takut Kan?

Kemampuannya dalam segala hal sering membuat orang lain menilai dirinya sebagai pribadi yang terlalu ambisius. Tak heran jika mereka terbilang jarang untuk mempermasalahkan sebab akibat yang diperoleh dari setiap keputusan. Mereka percaya bahwa keberanian akan jadi sebuah pembelajaran, meski kadang hasilnya tak seperti yang diinginkan.

Satu hal yang orang lain tak tahu, bagaimana mereka mengumpulkan keberanian. Sikap tak lagi takut hanyalah sebuah gambaran penenang agar selalu percaya pada keputusan diri sendiri.

Padahal Rasa Was-was Dari Para Lelaki Itu Hanyalah Asumsi Mereka Saja

Jika boleh jujur, mereka memang memiliki  kecenderungan yang sulit membuka hati untuk laki-laki. Tapi bukan berarti mereka tak ingin mencintai atau dicintai, ini hanyalah masalah penyesuaian diri. Dimata mereka tak mudah untuk menemukan laki-laki yang punya langkah seiring. Namun jika memang sudah dipertemukan, dia tak segan untuk mencintai sedalam-dalamnya.

Masalahnya laki-laki justru menilai hal ini sebagai batu penghalang bagi mereka. Padahal itu semua hanyalah asumsi yang dirangkum sendiri. Sesuatu yang sebenarnya ada di benak para perempuan kuat itu, tidaklah selalu demikian.

Bahkan Ditengah Kegilaan Untuk Bekerja, Mereka Juga Butuh Waktu Untuk Sekedar Meliburkan Diri Dari Segalanya

Jangan pikir kalau mereka tak punya lelah. Meski kata orang mereka tak pernah lelah karena selalu giat bekerja, sungguh itu tak sepenuhnya benar. Wajah milik mereka memang selalu terlihat sumringah untuk segala hal yang dilakukannya. Tapi bukan berarti mereka tak butuh istirahat untuk sekedar merehatkan pikirannya.

Orang lain memang boleh saja melihat mereka terlalu gila dengan segala obsesinya. Padahal dibalik itu semua mereka juga kadang butuh seseorang yang bisa menawarkan liburan. Meski sekedar sejenak menikmati teh hangat tanpa beban pekerjaan.

Hingga Sesekali Merasa Iri Dengan Perempuan Lain Yang Bisa Bermanja-manja

Disaat beberapa perempuan lain, merasa jenuh dengan sebutan manja. Perempuan yang katanya mandiri ini justru rindu mendapat sebutan itu. Mungkin laki-laki yang mengenalnya beranggapan bahwa dia adalah sosok tangguh yang tak butuh sebutan itu. Karena toh itu hanyalah sebuah predikat bagi mereka yang katanya lemah dan selalu butuh bantuan. Bukan buat mereka yang mandiri dengan kemampuan diatas rata-rata.

Percayalah, meski hanya sesekali mereka juga ingin mendapat perlakuan seperti itu. Bukan karena mereka ingin terlihat lemah, rasanya ini adalah sesuatu yang disebut naluri. Dimana mereka ingin mendapat perlakuan yang sama sebagaimana perempuan lainnya.

Sementara Itu Ada Waktu Dimana Ia Butuh Sandaran, Namun Tak Ada Yang Mau Meski Hanya Sekedar Percaya

Aneh memang, ada orang yang matian-matian untuk terlihat kuat tapi tak mampu. Lalu datanglah dia yang tak selalu berharap dinilai kuat tapi tak seorang pun mau percaya bahwa dia lemah.

Bahkan jika ada waktu untuk mereka mengutarakan keinginan tersebut, sesuatu yang didapat justru pernyataan yang menunjukkan rasa tak percaya.
“Masa iya kamu nggak bisa, hal besar lain aja tunduk ditanganmu. Masa begitu nyerah!”

Padahal bukan masalah menyerah atau tak mampunya, hal itu dilakukan hanya untuk menghilangan konotasi kuat yang selalu dianggap momok. Buat mereka yang berniat berteman atau mendekat menjadi bagian dari hati.

 

1 Comment

1 Comment

  1. Nusantara Adhiyaksa

    February 17, 2017 at 4:13 pm

    Hidup sederhana, Tapi bergaya luar biasa … wenakk
    mesyukuri nikmat yang ada ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kenapa Sih Laki-laki Harus Deg-degan Ketika Gaji Istri Lebih Tinggi?

Persoalan gaji ketika berumah tangga seringkali masih jadi hal yang sensitif antara suami dan istri. Apalagi berdasarkan penelitian M Ena Inesi dan Adam D Galinsky dari London Business School dan Kellog Graduate School of Business, kesuksesan karier dalam sisi pendapatan ternyata sangat berpengaruh terhadap sikap seseorang di dalam rumah tangga.

Penelitian tersebut menjelaskan bahwa pihak yang berpenghasilan lebih tinggi dalam dalam sebuah keluarga cenderung merasa memiliki kekuatan atau kuasa. Lantas, bagaimana jika situasinya  pendapatan istri lebih tinggi dibanding suami?

Sejatinya, belakangan ini fenomena dimana istri punya pendapatan lebih tinggi dari suami itu bukan lagi sesuatu yang langka.  Itulah mungkin yang menjadi penyebab munculnya tipe-tipe suami yang jadi khawatir sendiri karena kariernya merasa tersaingi oleh sang istri. Memangnya salah kalau gaji istri lebih tinggi?

Hingga Hari Ini, Persoalan Gaji Istri Lebih Tinggi Katanya Masih Membuat Suami Deg-degan dan Merasa Terancam

Salah sih nggak ya, cuma mungkin hal ini belum lazim saja. Karena pada dasarnya, seorang pria memang akan merasa terancam dan tidak nyaman jika sang istri memiliki jabatan dan gaji yang lebih tinggi darinya. Terutama jika dalam rumah tangga tersebut masih memegang teguh nilai maskulinitas tradisional. Kecuali jika keduanya sepakat untuk fair mengenai karier dan pendapatan, biasanya situasi semacam ini bisa diatasi.

Meski sudah banyak literasi yang memberikan tips-tips mengatasi situasi semacam ini, pada praktiknya memang akan sulit. Bahkan berada disituasi semacam ini jelas mengorbankan emosi dan perasaan hingga menurunkan tingkat kekompakan pasutri. Tapi semuanya harus diatasi demi rumah tangga yang lebih baik.

Mengatasi Perasaan Intimidasi Adalah Salah Satu ‘Trik’ yang Perlu Dilakukan Oleh Pihak Suami Agar Tak Memicu KDRT

Apalagi perasaan yang merasa terancam di dalam diri suami kalau tidak segera diatasi akan jadi bom waktu baginya. Mengapa? Psikolog Anna Surti Ariani mengungkapkan, kalau suami merasa direndahkan, bisa saja dia balik merendahkan istrinya. Misalnya dengan tidak memberikan uang belanja ke istri dengan alasan istrinya sudah punya penghasilan yang jauh lebih tinggi.

Lebih parahnya, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) nyatanya bisa diawali dari kesenjangan penghasilan. Ingat, KDRT pun tak hanya lewat fisik, tanpa disadari tutur kata yang menyinggung pasangan bisa jadi KDRT bentuk verbal.

Di Pihak Istri, Lantas Harus Bagaimana Menyikapi Situasi Ini? Haruskah Melepas Pekerjaan Padahal Itu Pekerjaan Impian?

Pada situasi semacam ini, istri berperan sebagai inisiator supaya konflik tidak semakin meluas tentunya. Komunikasi perihal apa pun itu penting sekali. Termasuk berkomunikasi mengenai hal-hal yang mungkin mengganggu pasangan jika penghasilan istri lebih tinggi. Sebaiknya katakan itu secara spesifik dan mendetail.

Dengan rutin berkomunikasi perihal apa pun sejatinya akan menurunkan tensi kekhawatiran dan melatih kekompakan pasutri. Bukan tak mungkin suami akan tetap mengizinkan istrinya untuk berkarier. Istri yang sebelumnya belum bisa memahami isi hati suaminya sepenuhnya pun akan jadi lebih tahu. Mungkin kekhawatiran suami kali ini bukan hanya soal merasa tersaingi, tapi mungkin juga cemas jika jabatan istri lebih tinggi nanti jadi kerap pulang malam seiring meningkatnya beban pekerjaan.

Mengelola Gaji Secara Bersama Bisa Jadi Salah Satu Solusi Demi Mengusir Kesenjangan Sosial

Jika pasutri telah membahas dan menemukan visi berkeluarga, alangkah baiknya mengelola gaji bersama. Bukan apa-apa, jika value berkeluarga telah dibicarakan, maka akan lebih mudah menemukan visi berkeluarga. Termasuk dalam pengelolaan gaji.

Ya, gaji perlu dikelola untuk mencapai tujuan bersama dan memenuhi kebutuhan bersama. Kali ini kedewasaan dan pengertian antar pasutri jelas diperlukan. Apalagi pasutri adalah partner seumur hidup. Karenanya transparansi alias keterbukaan satu dengan yang lain pun mutlak diperlukan.

Dibanding Membangun Kekhawatiran yang Berlebih, Akan Lebih Baik Suami Menuntun Istri untuk Membangun Keyakinan Positif

Di lain sisi, hal yang paling penting dibangun dalam kondisi ini adalah keyakinan positif. Berpikir positif dan berkomunikasi dengan baik-baik akan menghantarkan kamu dan pasangan memupuk keyakinan yang positif.

Kamu perlu menyadari, keyakinan positif akan melahirkan pemikiran jika berapa pun gaji pasanganmu pada akhirnya punya tujuan untuk dikelola bersama sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Percayalah, keyakinan positif akan menghilangkan segala pola pikir dan kekhawatiran yang negatif yang muncul karena gaji istri lebih besar dari suami.

1 Comment

1 Comment

  1. Nusantara Adhiyaksa

    February 17, 2017 at 4:13 pm

    Hidup sederhana, Tapi bergaya luar biasa … wenakk
    mesyukuri nikmat yang ada ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top