Feature

Drama Babak Baru Ketika Mantan Follow Di Sosmed

Sekian waktu berlalu, menjalani kehidupan normal. Namun tiba-tiba muncul notifikasi di sosial mediaku, dari kamu yang pernah aku kenal. Ya, kamu yang sudah menjadi mantanku tiba-tiba follow di akun sosial mediaku.

Sungguh aku ingin menganggap angin lalu begitu saja. Namun pernah adanya cerita diantara kita mau tak mau mengusikku sedikit banyak.

Bukankah Waktu Itu Kita Sepakat Jalan Masing-Masing? Itu Termasuk Di Sosial Media Bukan?

Waktu itu kita sudah bicara tentang masa depan hubungan kita. Kamu dan aku sudah sepakat untuk menjalani hidup masing-masing. Bukan karena aku tak lagi menghargaimu, tapi aku adalah orang yang memegang komitmen. Ketika itu kita sudah sama-sama sepakat, maka aku hanya berusaha menjalankan itu.

Kenapa Kamu Rindu? Kalau Aku Sih Tidak

Sewaktu memutuskan jalan masing-masing aku pikir kita sudah menempuh jalan yang yang berbeda dan tidak lagi terhubung. Lalu kemudian kamu follow di sosial media, apa yang terjadi? Rindukah yang mendorongmu melakukan itu? Kalau aku sih tidak rindu.

Kamu Berdalih Hanya Pernasaran, Sudah Lah Hidupku Tak Semenarik Itu Kok

“Oh bukan rindu, Cuma penasaran aja”

Demikian kamu berdalih. Kamu sudah pernah juga menjalin hubungan denganku. Hidupku seperti orang kebanyakan. Tak terlalu istmewa. Jadi tidak ada yang perlu membuatmu terlalu penasaran.

Kita Sudah Pernah Mencoba, Dan Itu Sudah Cukup

Dulu kita saling sapa dan saling bertukar kabar setiap hari. Dan itu semua juga tak bisa menyelamatkan hubungan kita bukan? Jadi untuk apa lagi kita menempuh cara yang sama berulang kali kalau memang sudah tahu hasilnya akan seperti apa.

Lagipula Nanti Kamu Tersiksa Lihat Bahagiaku Dengan Yang Baru

Meski tak lagi punya rasa sayang, namun aku masih perduli kepadamu. Nanti kamu bisa tersiksa lahir batin kalau stalking akun sosial mediaku dan menemukan aku bahagia dengan yang baru. Kamu yakin kamu kuat?

Bahkan Penelitian Juga Menyebutkan: “Hanya Psikopat yang berteman dengan mantan”

Sebuah studi psikologi di Oakland University yang dipimpin oleh Justin Mogilski dan Dr Lisa Welling meneliti tentang hubungan pertemanan atau tidak antara mantan kekasih. Mereka memberikan pertanyaan kepada 861 partisipan mengenai alasan hubungan yang kandas dan alasan mereka untuk tetap berteman. Selain itu, mereka juga di minta untuk mengisi kuesioner untuk mengungkapkan jenis kepribadian secara klinis, yang memang dirancang untuk menganalisa perilaku menyimpang pada manusia.

Nah, studi sebelumnya merangkum hasil bahwa mereka yang memiliki skor tinggi pada uji coba ini, cenderung memilih teman karena manfaat dan niat untuk menguntungkan diri sendiri. Hal tersebut berkaitan dengan perilaku menyimpang, sifat narsistik, sifat mendominasi, dan psikopat.

Jadi sebaiknya kita tak saling berhubungan lagi bukan?

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Warna Favorit Tak Sekedar Soal Selera, Tapi Menentukan Karakter Juga

Semua orang pasti punya warna favorit. Meskipun kamu bilang “tak punya warna kesukaan” secara tak sadar pasti ada preferensi khusus ketika memilih warna. Coba tengok isi lemari pakaianmu, pasti kamu bisa segera menemukan jumlah warna yang lebih banyak dibanding lainnya.

Dari penelitian, secara statistik warna biru adalah yang paling banyak difavoritkan oleh orang. Termasuk juga warna yang paling banyak dipilih mayoritas laki-laki. Sementara perempuan paling banyak memilih warna hitam. Sementara warna yang paling sedikit difavoritkan adalah warna kuning. Hanya 5 persen orang yang memilih warna ini sebagai kesukaan. Itu pun semakin menua, mereka yang tadinya memilih kuning akan beralih ke warna orange.

Dalam cabang ilmu psikologi, warna ini tak cuma dianggap angin lalu. Ada cabang keilmuan psikologi khusus yang mempelajari hal ini. Disebut pemilihan warna dipengaruhi oleh karakter. Lantas apa kata ilmu tersebut mengenai warna pilihanmu?

Biru Itu Tenang Dan Senang Keteraturan

Biru itu serupa warna lautan. Seringnya di asosiasikan dengan ketenangan. Mereka yang memfavoritkan warna biru biasanya gemar mencari kedamaian dan keteraturan dimanapun dia berada. Biasanya penyuka warna biru mudah bergaul dan sangat bisa diandalkan.

Merah Itu Senang Menjadi Pusat Perhatian Dan Ingin Terlihat Menarik

Meski belum ditemukan sebabnya, namun sejumlah studi menyebut bahwa warna merah cenderung lebih menarik perhatian dibandingkan warna yang lain. Beberapa menyebut hal ini berkaitan dengan insting dasar biologis tubuh yang cenderung memanas dan memerah jika merasa tertarik.

Meski tanpa sengaja, orang yang menyukai warna merah umumnya berasal dari kesadaran ini. Mereka merasa lebih diperhatikan jika menggunakan warna merah. Keinginan untuk selalu mendapat perhatian inilah yang kemudian mendorong seseorang menyukai warna merah.

Hijau Itu Sangat Memperhatikan Keuangan, Keamanan Dan Kesejahteraan

Hijau memang sering dikaitkan dengan alam dan lingkungan. Namun menurut psikologi warna,mereka yang memilih hijau umumnya adalah orang-orang yang mengutamakan kestaabilan keuangannya, sangat ingin mendapatkan rasa aman dan mengutamakan kesejahteraan.

Orange Itu Pembawaannya Santai Dan Mudah Bersahabat

Merka yang gemar warna oranye atau orange umumnya juga gemar menjadi pusat perhatian. Cenderung bersifat flamboyan, punya banyak teman dan tak senang sesuatu yang serius. Konon katanya penyuka warna oranye ini cenderung menunda pernikahan loh!

Abu-Abu Itu Senang Kebebasan Dan Sulit Berkomitmen

Warna ini berada diantara hitam dan abu-abu. Seperti warnanya yang “tak jelas”, karakter penyukanya juga tak terlalu senang komitmen. Menurut psikologi warna, penggemar warna ini hanya punya sedikit emosi, mudah bosan dan tak mau terikat.

Mereka tak punya sesuatu yang benar-benar disukai atau sesuatu yang benar-benar dibenci. Semua biasa saja untuk mereka. Hidupnya yang bebas dan tak mau terikat biasanya justru membuat penasaran banyak orang.

Merah Muda Itu Sedikit Naif Dan Apa Adanya

Penyuka merah muda itu bisa diibaratkan mereka yang selalu dalam kondisi anak-anak. Tak punya banyak kecurigaan, polos dan tidak punya perasaan negatif kepada orang lain. Sayangnya penyuka pink ini sering dimanfaatkan oleh orang lain.

Hitam Itu Moody, Tak Mau Ribet Namun Inginnya Yang Berkelas

Para penyuka hitam ini tidak mau berhadapan dengan segala keribetan. Mereka selalu ingin hal-hal yang berkualitas dan berkelas. Ujungnya karakternya cenderung moody alias mudah berubah-ubah jika menemui hal yang kurang disukainya.

Putih Itu Menganggap Dirinya Polos

Putih itu sering dikaitkan dengan suci dan kepolosan. Namun sesungguhnya penyuka warna putih itu tak begitu polos-polos amat. Namun mereka ingin meyakinkan orang lain bahwa diri mereka polos. Sementara sebetulnya mereka sama sekali tidak polos dan cenderung “pintar”.

Kuning Itu Idealis Dan Perfeksionis

Penyuka warna kuning itu cenderung idealis dan bahkan perfeksionis. Mereka juga punya optimisme yang di atas rata-rata. Sayangnya keinginan untuk segala sesuatu itu selalu sempurna mendorong orang dengan karakter ini jadi mudah cemburu dan iri.

Jadi Pilihan Warnamu Apa? Coba Sesuaikan Dengan Kendaraanmu!

 

Guna memperkuat karaktermu tentunya pas kalau kendaraan sehari-hari yang digunakan warnanya sesuai dengan yang kamu favoritkan.

Pilihan warna motornya tak banyak? Mungkin begitu alasanmu. Memang tak semua varian motor punya beragam warna. Tapi Suzuki Address Playful mencoba menjawab tantangan ini. Tak tanggung-tanggung varian ini punya 10 pilihan warna yang diterapkan pada aksesoris panel bodi menarik dan penuh gaya yang dapat disesuaikan dengan karakter kamu. Terdapat warna Stronger Red, Aura Yellow, Fresh Green, Macho Bright Blue, Majestic Gold, Dark Grey, Brilliant White, Hyper Pink, Luminous Orange dan Ice Silver. Suzuki juga menerjemahkan warna-warna ini sesuai karakter kamu.

Aura Yellow misalnya cocok untuk kamu yang mudah bergaul dan keberadaanmu selalu membawa keceriaan dengan orang sekelilingmu. Semangat, kreativitas dan kelucuanmu adalah kelebihan utamamu. Kegiatan favoritmu tak jauh-jauh dari kegiatan sport dan ekstrem.

Sementara untuk kamu yang selalu ingin tampil sempurna pasti lebih memilih warna Majestic Gold. Karena warna emasnya menggambarkan hal yang tak ternilai sekaligus elegan.

Fresh Green akan dipilih kamu yang punya sifat loyal terhadap kawan. Kamu juga termasuk orang-orang yang jujur dan senang berada di dalam komunitas untuk bersosialisasi. Warna hijau juga idientik dengan lingkungan dan warna yaang aktif.

Kalau kamu orang yang memilih stronger red adalah orang-orang yang optimis, passionate dan percaya diri. Kamu selalu semangat dan kreatif dalam melakukan segala sesuatu.

Nah, untuk kamu yang punya pengendalian diri yang baik akan diwakili dengan warna macho bright blue. Kamu cenderung hati-hati, tenang dan patuh terhadap aturan. Tapi meski teratur dan stabil bukan berarti kamu membosankan.

Selain warnanya yang menarik motor ini cocok untuk penggunaan harian karena dimensi bodinya yang mungil dengan dimensi pas dan seimbang. Dimensi bodi panjang 1855 mm, lebarnya 655 mm dan tinggi 1095 mm serta memiliki jarak sumbu roda atau wheelbase 1260 mm. Bodi yang cukup mungil dan ramping hanya memiliki bobot sebesar 97 Kg.

Skutik ini juga nyaman karena didukung suspensi depan dan belakang yang tangguh. Untuk bagian depan menggunakan suspensi tipe Telescopic Coil Spring Oil Damped. Sedangkan untuk belakang Suzuki Address Playful menggunakan suspensi tipe Swingarm Coil Spring Oil Damped.

Suzuki Address Playful ini dibekali mesin SOHC 4 langkah kapasitas 113 yang cc yang menghasilkan performa yang baik. Teknologi full injectionnya mampu menekan konsumsi bahan bakar dengan perbandingan kompresi yang mencapai 9.4:1.

Jadi kamu pilih yang mana?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Sponsored Content

Hasil Surveynya, Mereka Yang Pakai Motor Ini Yang Bahagia

PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) berhasil meraih penghargaan dalam kategori survei “Indeks Kebahagiaan Berkendara (IKB) 2017” yang diselenggarakan oleh Tabloid OTOMOTIF selama bulan Juni – Agustus 2017. Dalam acara yang dilangsungkan di Will’s Café & Resto, Plaza Kelapa Gading, Jakarta Utara, Suzuki berhasil menang dalam kategori bebek 150cc untuk Suzuki Satria F150 dan kategori skutik 110-125cc untuk Suzuki Address FI (Kategori Skutik 110-125cc).

Indeks Kebahagiaan Berkendara merupakan formulasi dari kepuasan berkendara, kondisi kendaraan dan tingkat emosi saat berkendara yang semuanya mempengaruhi seberapa besar kebahagiaan seseorang dalam berkendara. Survei ini adalah cerminan konsumen Suzuki yang mendapatkan pengalaman menyenangkan melalui produk-produk Suzuki.

“Apresiasi yang diberikan oleh publik melalui survei IKB sangat berarti bagi kami sebagai upaya agar kami dapat terus mengembangkan inovasi di setiap produk Suzuki, termasuk ketiga produk yang unggul di kelasnya masing-masing pada survei ini. Karena pada akhirnya, kepuasan dan kebahagiaan konsumen saat menggunakan produk-produk Suzuki merupakan pencapaian yang tak ternilai, selaras dengan tujuan utama Suzuki dalam menciptakan produk bernilai tinggi yang berorientasi pada konsumen.” ujar Arviane D.B. Corporate PR PT. Suzuki Indomobil Sales.

Suzuki Satria F150 kembali bertahta sebagai jawara motor bebek 150cc dengan menyematkan teknologi Fuel Injection untuk motor hyper-underbone ini, sehingga pengendara dapat mengoptimalkan performa setiap fiturnya dengan mudah saat mengendarai Satria F150 yang diklaim sebagai motor bebek tercepat di kelasnya.
Sementara Suzuki Address FI merajai kategori Skutik 110-125 cc berkat transmisi CVT yang membuatnya semakin nyaman dikendarai. Selain itu, walau memiliki kabin yang luas bodi Suzuki Address FI cukup ramping dengan desain sporty yang menjadi andalan ke-210 responden yang mengendarai motor.

Survey IKB 2017 ini sendiri melibatkan total 455 responden yang berusia lebih dari 18 tahun, mengendarai kendaraan sendiri, tahun produksi kendaraan minimal tahun 2000, serta kendaraan milik pribadi. Para responden yang terdiri dari pria dan wanita dengan kategori SES A sampai SES C melakukan survei IKB 2017 dengan mengisi angket online di website OTOMOTIFNET melibatkan pengguna kendaraan motor dan mobil.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Trending

Yang Kudapat dari Menonton Film “My Generation” Hari Jumat Kemarin

“Zaman papa dulu…”

Jadi satu-satunya kalimat yang membuat saya tersenyum dan ingat Bapak di rumah.

Dan jika kalian ingin tahu, itu adalah kata-kata pamungkas dari Papanya Konji (Joko Anwar) kepada sang anak Konji (Arya Vasco), setiap kali memberi petuah jika anaknya berulah.

Di tengah hiruk pikuk fenomena generasi micin yang katanya jadi generasi tak bermoral, tadinya saya berpikir bahwa film ini akan jadi salah satu peyegaran jiwa untuk orang tua dan anak muda.

Konon menurut orangtua Konji, sikap dan perilaku anak muda zaman sekarang sama sekali tak menunjukkan nilai-nilai moral. Budaya timurnya telah tergeser dengan perilaku kebarat-baratan yang lebih mendominasi. Babak ini berhasil menyeret saya untuk berpihak pada Konji bahwa “Tak semua anak muda seperti yang Papanya Konji pikirkan”.

Beruntungnya Konji tak sendiri, anak SMA ini punya 3 orang teman lain yang merasa senasib dengannya, mereka adalah Zeke (Bryan Langelo), Orly (Alexandra Kosasie), dan Suki (Lutesha).

Diawali dengan hukuman yang mereka terima dari orangtua masing-masing, perkara video YouTube yang mereka buat. Padahal bagi saya, isinya patut diacungi jempol. Saya dan kamu tentu sudah bosan dengan Vlog yang bertebaran di kanal per-YouTube-an Tanah Air. Harusnya para YouTuber muda belajar dari mereka berempat.

Ya, setidaknya menyuarakan bentuk ketidaksukaan jauh lebih berfaedah daripada nangis sesenggukan karena diputusin pacar ,atau peluk-pelukan di kolam renang dengan laki-laki yang bukan pasangan halalnya. Kenapa? Kamu ingat seseorang ya? 

Dari kacamata perempuan muda berusia 22 tahun, tadinya saya berpikir ini akan jadi jembatan penghubung untuk menyuarakan isi hati saya juga. Tapi nampaknya saya terlalu berharap pada Mbak Upi selaku sutradaranya.

Mimpi mereka untuk berjemur di Bali pada liburan sekolah akhirnya musnah. Mau tak mau liburan kali ini akan dihabiskan di Jakarta. Tak ingin dicap sebagai pecundang yang akan meratapi nasib atas hukuman, titik ini justru jadi garis start memulai petualangan.

Mulai dari cerita putusnya Suki dengan sang pacar, sampai mengerjai mobil mantan, dan manisnya kisah cinta Konji, serta peliknya perasaan Zeke atas kematian adiknya, atau rasa tak pernah dimengerti oleh sang ibu yang dirasakan Orly.

Tayang serempak sejak tanggal 9 November 2017, film hasil rumah produksi IFI Sinema ini memang terlihat ingin mengangkat hal-hal yang berhubungan dengan keseharian anak muda. Hanya saja, bagi saya ini terlalu jauh. Karena faktanya tak semua anak di Indonesia ini bisa seperti mereka ini. Meski saya sendiri mungkin akan melakukan hal yang sama, jika dalam posisi mereka.

Melawan aturan dengan menyuarakan kepercayaan akan pilihan sendiri. Namun agaknya kurang pas, jika tak disertai kemampuan yang bisa dijadikan alasan untuk tidak mengikuti apa kata orangtua.

Memang sih, ini cerita saat liburan jadi wajar jika tak ada adegan yang menunjukkan mereka belajar. Tapi masa iya, kamu akan protes besar-besaran menuntut orangtuamu untuk tak terlalu mengekang, sedang kamu tak punya apa-apa untuk dibanggakan? 

Kalaupun kita akan bertanya pada anak-anak SMA, tentu mereka akan mengangguk setuju dan bilang bahwa sesungguhnya gambaran hidup dalam film ini adalah sesuatu yang menyenangkan. Hidup mewah dengan segala fasilitas, bisa bermain sesuka hati tanpa beban, bahkan Zeke bepergian dengan mengendarai mobil sendiri tanpa dilarang. Kurang apa lagi coba?

Satu-satunya hal yang mungkin akan membuat mereka berhenti protes, adalah ketika orangtuanya memberinya pilihan. Tetap jadi anak dari orangtuanya saat ini, atau jadi anak dari Bapak saya yang ketika SMA cuma di kasih uang jajan lima ribu rupiah.

Tapi meski agak sedikit kecewa, saya harus akui bahwa ada sosok yang cukup menarik perhatian yakni Orly. Perempuan kritis yang pintar, dan berprinsip. Keluar dari zona cinta-cintaan yang kerap kita saksikan di beberapa film anak muda. Dari scene yang terlalu terkonsep, serta cerita yang jauh dari kehidupan saya ini, Mbak Upi berhasil memberi penawar lewat sosok Orly.

Meski nyatanya 4 orang ini adalah artis pendatang baru, Faktanya mereka adalah squad pemeran utamanya. Tapi lagi-lagi saya merasa karakter Orly jadi satu-satunya peran yang mendominasi dan punya persona cukup kuat.

Lewat bentuk pemberontakan akan kesetaraan gender, dan hal-hal yang kerap dibebankan pada perempuan. Hingga  rasa tak sukanya kepada sang ibu (Indah Kalalo), yang kerap bersikap bak anak milenial dan berpacaran dengan laki-laki lebih muda darinya.

Cerita lain yang menjadi nilai plusnya, adalah scene yang menampilkan sosok yang selalu ingin tahu. Salah satunya, pertanyaan Konji kepada teman-temannya. Tentang bulan kelahirannya yang lebih cepat 3 bulan dari tanggal pernikahan orangtuanya. Hingga ditutup dengan manis oleh kesadaran mereka akan pentingnya rasa saling mengerti dan menghargai dalam hubungan anak dan orangtua.

Diharapkan akan jadi jembatan bagi orang tua dan anak, namun saya melihat ada beberapa sisi yang dirasa kurang. Saya merasa beberapa orangtua atau bahkan anak muda justru akan mempertanyakan letak nilai-nilai yang seharusnya dapat diambil pelajaran. Ya, setidaknya ini jadi gambaran akan beberapa komentar dari para orangtua, yang kini berseliweran di beberapa media sosial.

Akan tetapi sebagaimana yang Mbak Upi bilang, “Film ini bukan bermaksud menggurui atau menghakimi generasi millenial. Akan tetapi memberikan referensi terkini bagaimana kondisi generasi milenial lebih dekat. Pada akhirnya, antara generasi sekarang dan dulu harus saling memahami,”

Kamu bisa sependapat dengan saya, bisa juga tidak. Toh ini adalah beberapa hal yang berdasarkan sudut pandang saya sendiri. Jika ternyata kamu tak setuju tentu saya tak akan marah. Jika dirasa masih kurang, cobalah pergi ke bioskop dan tonton sendiri. Barangkali kamu punya penilaian yang berbeda. 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Ini Bukan Soal Suka Atau Tidak, Tapi Memang Ada Lagu Dangdut yang Bikin Kita Tak Bisa Menolak Untuk Ikut Bernyanyi

Keberadaan lagu dangdut identik dengan liriknya yang to the point. Meski kamu suka merasa aneh saat mendengar liriknya yang sedikit absurd, tapi tak bisa dipungkiri hal itu justru membuatmu terhibur. Mendengarkan lagu dangdut itu semacam guilty pleasure, kamu menyangkal kalau selera musikmu bukanlah dangdut, tapi tetap saja pasti kamu tahu atau paling tidak hapal dengan beberapa liriknya. Mau buktinya? Coba saja kamu karaoke ramai-ramai bersama temanmu, pasti lagu dangdut justru jadi media untuk meramaikan suasana dan menghibur acara kalian.

Diantara sederet penyanyi dangdut paling populer misalnya, pasti kamu akan menemukan momen dimana tak sengaja mendengar lagu-lagu mereka. Entah saat naik kendaraan umum, makan di warteg, atau mungkin menonton acara televisi lokal. Nah, hal inilah yang membuat otakmu justru jadi terbiasa mendengar lagu-lagu tersebut dan hapal dengan liriknya.

Meski Sering Dicibir dengan Sejuta Sensasi, Lagu Sambalado Milik Ayu Ting-ting Sering Dijadikan Pelipur Lara Dalam Hati

Sambala sambala bala sambalado

Terasa pedas, terasa panas

Sambala sambala bala sambalado

Mulut bergetar, lidah bergoyang

Kalau dibaca dari liriknya, Sambalado ini bercerita tentang pria yang hanya bisa mengucap janji manis saja. Alias omong doang. Dari liriknya mungkin terdengar ingin memojokkan si pria dan mengandung kesedihan, tapi nyatanya lagu ini malah dibawakan dengan gaya musik yang memancing untuk berdendang. Kalau kamu sedang galau karena merasa di-PHP-in dia, coba saja dendangkan lagu yang satu ini. Siapa tahu benar-benar jadi pelipur laramu.

Walau Judulnya Bang Jono, Lagu Milik Zaskia Gotik Ini Liriknya Memancing untuk Bergoyang

Kau fikir hidup ini cuma makan batu
Kau fikir anakmu tak butuh susu
Susu yang inilah susu yang itulah
Susa susi susah

Goyang itik Joss

Dibanding Sambalado, lirik lagu Bang Jono justru lebih lirih. Menceritakan soal pergolakan batin seorang istri yang berharap tanggung jawab Bang Jono sebagai kepala keluarga, tapi nyatanya Bang Jono justru keluyuran mencari hiburan. Kalau dibaca, liriknya cukup menyedihkan, tapi lagi-lagi memang musik dangdut seakan punya trik untuk memancing pendengarnya ikut berdendang. Kalau kamu ada acara karaoke, jadikan lagu ini sebagai list lagu wajib untuk kamu nyanyikan.

Bete Karena Gebetan Tak Ada Kabar, Mending Kamu Coba Mendendangkan Lagunya Janeta Janet Daripada Kepalang Penat

 

Kamu calling-calling aku lagi pusing

Kamu micall aku, aku lagi dongkol

Please deh aku jenuh dengan omongmu

Please deh aku jenuh..

Direject direject direject aja

Direject direject direject aja

Pacar yang tak setia, usah ditanggapin

Dimaafin malah nyakitin

Siapa yang tidak bete kalau gebetan tiba-tiba menghilang padahal kamu tengah rindu berat padanya. Sudah mencoba menghubungi tapi panggilanmu malah ditolak. Bukankah hanya akan jadi kekesalan sepanjang hari? Nah, mungkin kamu pernah terjebak situasi semacam ini, lagu Janeta Janet cukup mewakili lho! Sebagian dari kamu mungkin hanya tahu bagian direject-direjet-aja, tapi artinya lagu ini sudah terekam dalam benakmu bukan?

Membangun Mood Positif Tak Selalu Lewat Lagu Pop, Coba Deh Kamu Setel Lagu Klepek-klepek Milik Hesty. Paling Tidak, Liriknya Akan Kamu Ingat Sepanjang Hari

Cintaku Klepek-kelepek Sama dia
Sayangku Klepek-kelepek Sama dia
Sayangku Klepek-kelepek Sama dia

Patah hati pasti menyakitkan. Tapi saranku, daripada berlarut-larut dalam lara dan tangis sekian lamanya, coba ramaikan playlist-mu dengan lagu dangdut yang satu ini. Lirik dan musiknya terbilang lucu dan menghibur seakan punya kekuatan untuk mengubah suasana. Hati yang semula sendu, siapa tahu malah jadi merasa lucu setelah mendengar lagu ini.

Satu Lagi, Lagu Ayu Ting-ting Berjudul Geboy Mujaer Dijamin Membuatmu Bingung. Ada Apa dengan Mujaer?

Di geboy geboy mujaer
Nang ning nong, Nang ning nong
Pat gulipat, bangdung ding ser
Mustofa jadi nggak kuat
Mustofa tergila gila
Mustofa jatuh cinta sama seorang biduan

Lirik lagu yang satu ini yang paling fenomenal sejauh ini. Baru mendengar lirik awalnya saja, pasti kamu rasanya sudah mau bergoyang. Liriknya bercerita tentang seorang cowok bernama Mustafa yang patah hati ditinggal pacarnya. Singkat kata Mustafa mencari hiburan dengan bergoyang bersama biduan. Mustafa pun jatuh hati dengan biduan tersebut. Satu hal yang absurd mungkin, mengapa harus geboy mujaer? Meski demikian, pemilihan judul Geboy Mujaer justru memberikan efek jenaka pada lagu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Kahiyang yang Anak Presiden Tak Ada Gelar Akademik di Undangannya, Terus Kamu Pakai Buat Apa?

“Penting!” Begitu kata sebagian orang, sedangkan yang merasa kontra akan menggerutu sambil berkata, “Buat apa?”

Konon pernikahan memang jadi salah satu perhelatan besar yang akan dihadiri banyak orang pula. Dan tak tahu datang dari mana, untuk urusan isi dari undangan pernikahan, rasanya hampir di seluruh antero nusantara, kompak untuk mencantumkan gelar akademis pada halaman undangan pernikahan.

Tak perlu menepis pandangan karena merasa disinggung, toh tulisan ini juga bukan untuk bahan perdebatan. Hanya saja, masih banyak orang yang tak habis pikir untuk apa gelar-gelar tersebut dicantumkan. Padahal jika ingin berkaca pada masyarakat luar yang berada di negara berbeda. Fenomena ini sangat jarang kita temui. Lalu ada apa dengan masyarakat kita?

Barangkali Ini Jadi Salah Satu Bentuk Syukur, Bahwa Kedua Mempelai Telah Berhasil Menempuh Pendidikan Hingga Perguruan Tinggi

Sekilas alasan ini memang bisa diterima, lagi pula siapa yang tak bangga jika ternyata calon mempelai tak hanya menempuh pendidikan hingga tingkat sekolah menengah atas saja, bahkan telah berhasil lulus dari perguruan tinggi dengan gelar sarjana. Belum lagi, jika ternyata gelarmu tak hanya satu saja, ada dua atau bahkan tiga sekaligus. Tentu semakin bangga kan?

Hal lain yang mungkin jadi alasan, penulisan gelar akademik juga jadi bukti bahwa calon pengantin yang tengah menggelar pesta termasuk golongan orang dengan intelektual diatas rata-rata. Walau kadang-kadang gelar tak selalu jadi patokan untuk kecerdasan seseorang.

Hal Lain yang Dipercaya jadi Alasannya Adalah Kebiasaan Masyarakat Kita

Sebenarnya tak ada yang salah dengan pandangan ini. Dengan kata lain, kamu akan semakin terhormat jika punya embel-embel di belakang nama. Meski kadang kala keputusan-keputusan seperti ini datang bukan dari calon mempelainya. Namun karena desakan dari keluarga yang mungkin menginginkan untuk mencantumkan gelar. Ya, mau tak mau kedua mempelai pun hanya bisa pasrah.

Meraih gelar sarjana tentu jadi pencapaian besar pada setiap orang, tapi bukankah saat wisuda orang lain sudah tahu bahwa kita ini adalah seorang sarjana. Lalu untuk apa lagi, harus dicantumkan di undangan pernikahan. Namun percaya atau tidak, kepercayaan orang-orang yang ada di negara kiat kerap jadi sesuatu yang melatarinya. Sebab sebagian besar orang berpikir, bahwa gelar tersebut jadi sesuatu yang harus diagungkan.

Padahal Keputusan Tersebut Kadang Berubah Jadi Bahan Perbincangan, Jika yang Sarjana Hanyalah Salah Seorang Saja

Sesaat setelah menerima undangan pernikahan yang dibagikan di tempat ibadah, saya pernah mendengar seorang ibu berkata, “Yah, kasian ya padahal dia sarjana tapi ketemu suami yang tidak ada gelarnya”. Kalimat-kalimat seperti ini jadi salah satu hal buruk yang bisa saja terjadi. Padahal belum tentu suami sang calon pengantin tersebut tak sarjana. Bisa saja dia hanya tak mau seperti calon istrinya yang mencantumkan gelar di undangan pernikahan.

Tindakan yang tadinya kita pikir jadi sesuatu yang akan menaikkan pamor ketika menikah, bisa berubah jadi bumerang yang justru menyakiti kita sendiri. Apa lagi jika cibiran-cibiran sumbang tersebut terdengar hingga ke telinga kita sendiri.

Tapi Jika Ternyata Kedua Mempelai Sama-sama Memiliki Gelar Dibelakang Nama, Tentulah Jadi Sumber Pujian Saat Pesta

Konon jodoh kerap ditunjukkan lewat raut wajah yang terlihat mirip diantara keduanya. Dan sepertinya latar belakang pendidikan jadi salah satu hal yang memang harus mirip juga. Katakanlah si calon mempelai perempuan, kebetulan lulusan ekonomi yang memiliki gelar S.E. bersanding dengan sang pujaan yang ternyata adalah seorang sarjana teknik dengan embel-embel gelar S.T.

Tak hanya terlihat serasi dan sepadan saja, banyak orang yang menilai gelar tersebut akan memanjakan mata tatkala kita membuka undangan pernikahan mereka. Tapi apa iya, benar begitu? 

Namun Keputusan Tersebut Tak Melulu Jadi Keinginan Sang Calon Pengantin Saja, Adakalanya Orangtualah yang Meminta

Untuk urusan yang satu ini, kita memang kerap tak bisa berbuat banyak. Sebagai anak yang ingin menyenangkan hati orangtuanya, kita tentu tak bisa menolak keinginan mereka. Walau dalam hati, ada rasa yang kurang sreg. Namun demi menghindari situasi yang bisa-bisa semakin pelik, mengangguk tanda setuju nampaknya memang jauh lebih baik.

Hitung-hitung ini akan jadi salah satu bakti kita kepada mereka. Karena telah susah payah berjuang untuk membuat kita mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, hingga memperoleh gelar dibelakang nama.

Perkara Penting atau Tidaknya, Memang Tergantung Bagaimana Kita Menilainya

Sejatinya pihak yang berhak untuk memutuskan akan mencantumkan gelar atau tidak, tentu kedua mempelai. Meski akan ada perundingan lain yang melibatkan orangtua dan calon mertua tentunya.

Meski bagi sebagian orang ini akan terlihat jadi sesuatu yang aneh. Bahkan banyak yang akan bertanya, dimana letak korelasi dari gelar dan pernikahan. Toh kita mau menikah kan, bukan ingin mengikuti kompetisi atau kembali belajar.

Namun bagaimana pun akhirnya, pilihan yang ditetapkan tentu sudah melalui beberapa perundingan. Apa pun itu, kamu dan pasangan berhak untuk melakukannya.

Untuk kamu yang berencana menikah, kira-kira akan masuk ke tim yang mana nih? #TeamdenganGelar atau #TeamtanpaGelar?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

MOST SHARE

To Top