Feature

Dia yang Kamu Cinta Tak Pernah Berhenti Menyakiti, Pantaskah Dipertahankan?

Tak selamanya kisah cinta berakhir bahagia seperti yang ada dalam kisah Cinderella, ada kalanya kisah cinta seseorang berakhir dengan keterpurukan, tidak bahagia, dan menderita karena mengalami cinta yang tidak menyenangkan.

Kisah cinta yang berakhir menyedihkan bisa jadi karena menjalani cinta yang salah. Cinta yang salah dikarenakan oleh tindakan kita yang tetap mencintai orang yang sudah tidak ingin bersama. Sudah jelas dia tidak lagi mencintaimu, namun tetap kamu memaksakan kehendak untuk tetap bersama.

Hal yang penting untuk diingat, yang namanya menjalin suatu hubungan adalah sesuatu yang dijalani berdua, bukan sendiri. Ketika dihadapkan dengan pilihan bertahan atau tinggalkan, pikirkan segala hal menggunakan logika bukan hanya perasaan semata agar tidak larut dalam kesedihan berkepanjangan nantinya.

Jangan Karena Terlanjur Sayang, Kamu Melupakan Semua Logika Yang Seharusnya Tidak Kamu Abaikan

Kamu bilang sudah terlanjur sayang padanya karena sudah lama menjalin hubungan. Hubungan yang sudah lama dijalani tidak menjamin suatu hubungan yang bahagia pada ujungnya. Hanya karena banyak momen indah yang dahulu pernah kamu rasakan dan tidak ingin untuk menghapusnya , akhirnya kamu lebih memilih tersiksa oleh realita pahit.

Jika logikamu sudah mengatakan waktunya berhenti maka seharusnya kamu berhenti. Kamu sudah mendapatkan banyak fakta yang mengharuskanmu meninggalkannya karena dia sudah tidak lagi peduli padamu. Untuk apa mempertahankannya cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan, kamu terus tersakiti sementara dia bisa hidup tetap teang tanpa kehadiranmu di sisinya.

Jangan Karena Tak Sanggup Hidup Sendiri, Membuatmu Mempertahankan Hubungan Dengan Orang Yang Salah

Ketakutan bakal hidup sendirian di masa yang akan  datang menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian orang, Hal inilah yang menjadi alasan seseorang enggan meninggalkan pasangannya meski terus disakiti.

Jangan sampai alasan yang sepele seperti itu, kamu tetap bertahan dengan siksaan yang datang bertubi-tubi. Lepaskanlah jika memang sudah tak sanggup lagi. Masih banyak peluang untuk mendapatkan cinta yang lebih baik lagi di luar sana. Siapa tahu jodohmu sebenarnya ada di dekatmu namun kamu tidak pernah berusaha menghampirinya karena memilih untuk bertahan dengan orang yang salah.

Kamu Tidak Perlu Mengemis Untuk Mendapat Perhatian Masih Banyak Orang Lain Yang Lebih Bisa Menghargaimu

mengeluh

Kamu yang selama ini berjuang sendiri, apa pernah terpikir di benakmu bahwa dia akan melakukan hal yang sama? Apa dia selama ini ada tanda-tanda untuk memperjuangkanmu? Cintamu selama ini hanya bertepuk sebelah tangan, setiap hari kamu hanya mengemis perhatian yang tidak kunjung datang, pada akhirnya kamu akan kelelahan. Tak hanya lelah fisik, tapi juga lelah hati dan pikiran.

Jika kamu bisa merelakannya pergi dan membiarkan pikiranmu lebih terbuka, ketahuilah masih banyak orang lain yang sayang padamu dibanding dirinya. Orang tua, sahabat, atau mungkin orang yang selama ini sudah lama meng-gebet kamu. Mereka bisa lebih mencintaimu apa adanya, mereka bisa mencintaimu dengan tulus tanpa menuntut apapun darimu bahkan membuatmu harus sampai mengemis perhatian. Hidup terlalu sayang hanya untuk bergantung pada satu orang saja.

Suatu Hubungan Terjalin Untuk Saling Melengkapi Bukan Untuk Berjuang Sendiri

Namanya juga hubungan, itu artinya ada timbal balik antara satu pihak ke pihak yang lain. waktu sekolah, kamu pasti pernah belajar mengenai simbiosis mutualisme bukan? Suatu hubungan diantara mahluk hidup yang saling menguntungkan satu sama lain.

Kamu harus tahu, bahwa jika dirinya saja yang diuntungkan dalam jalinan hubungan kalian. Itu namanya bukan suatu hubungan cinta, tapi kamu telah dimanfaatkan. Orang yang sayang padamu tidak akan tega memanfaatkanmu hanya untuk keuntungan pribadinya semata.

Jika Lebih Banyak Disakiti Segera Tinggalkan Dia

Sudahkah kamu menghitung berapa banyak kamu disakiti? Lebih banyak mana, kasih sayang atau rasa sakit yag kamu dapatkan? Coba kamu ingat baik-baik, kamu lebih banyak disakiti? Bertahan dengan orang yang tidak tahu berterimakasih dan balas budi hanya membuang-buang waktumu saja. Simpan tenaga dan pikiranmu untuk mengerjakan sesuatu yang lebih berharga agar tidak menyesal seumur hidup.

Lebih baik terlambat daripada merugi sepanjang waktu karena kamu telah memilih tindakan yang salah.

Untuk Apa Bertahan Jika Hanya Rasa Sakit Yang Kamu Terima? Kamu Yakin Bisa Bertahan Terus Selamanya?

 

marah

Kamu punya harapan, dengan cinta yang kamu berikan terus-menerus kepadanya akan mampu mengubah sikapnya suatu saat. Hidup ini bukanlah sinetron. Dlam sinetron mungkin hal tersebut bisa terjadi, alur cerita yang menyedihkan bisa diubah menjadi bahagia karena disesuaikan dengan permintaan penonton.

Namun dalam kehidupan nyata tidak demikian. Ia lebih memilih meninggalkanmu dan tidak menanggapi cintamu sekeras apapun kamu mencoba karena ia berhak memilih dan tidak bergantung pada keinginan peonton atau demi mengejar rating  yang tinggi.

Mungkin saat ini kamu baik-baik saja terus memberinya cinta tanpa ada balasan, tapi jika terjadi terus menerus sampai jangka waktu yang tidak bisa ditentukan, apakah kamu yakin bisa tetap bisa bertahan?

Bertahan dari perselingkuhan, bertahan dari hinaan, bertahan dari kekerasan fisik. Tubuhmu mungkin mampu menahan kencangnya badai, tapi hati dan pikiranmu tidak demikian.

Hidup sudah terlalu sulit untuk dihadapi, jangan menambah kesulitan tersebut dengan sesuatu yang tidak membuatmu bahagia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Ini Kenapa Kamu Terlihat Lebih Menarik Jika Foto Bersama Kawanmu

Kamu termasuk orang yang merasa sulit mendapatkan foto terbaik ketika melakukan swafoto alias selfie? Merasa diri kurang menarik dan menjadi tak percaya diri untuk menaikan foto di sosial media? Sebetulnya, ada cara cepat dan paling mudah untuk terlihat lebih menarik ketika difoto.

Caranya? Dengan mengambil foto bersama-sama kawanmu alias group selfie. Yup, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa seseorang bisa terlihat jauh lebih menarik ketika dia berfoto bersama orang lain. Hal ini dikenal dengan sebutan Cheerleader effect.

Coba simak penelitian Drew Walker dan Edward Vul dari University of California, San Diego. Mereka melakukan penelitian sejumlah foto orang. Beberapa disajikan sendiri (selfie) dan sebagian disajikan bersama-sama (group selfie).

Hasilnya? Dalam percobaan manapun dan melibatkan individu yang manapun semua menghasilkan kesimpulan yang sama. Mereka-mereka yang muncul di foto bersama orang lain, cenderung dinilai lebih menarik oleh para responden. Bahkan gabungan dari foto-foto selfie yang ditampilkan secara bersama-sama pun punya efek yang sama menariknya.

Kenapa bisa begitu? Menurut Drew Walker, sistem otak manusia akan membuat indra pengelihatannya menilai penampilan seseorang secara rata-rata jika melihat foto bersama-sama. Nah, menariknya lagi secara sosial manusia lebih mudah menerima sesuatu yang rata-rata dibandingkan sesuatu yang terlihat “sangat jelek” atau “sangat menarik”.

Tapi kamu lebih pilih mana? Selfie vs Group Selfie?

Kendati begitu, tidak semua orang merasa kesulitan mendapatkan foto terbaik dirinya bukan? Kamu termasuk mereka yang percaya diri untuk muncul sendiri ketika foto? Atau kamu lebih nyaman untuk melakukan group selfie?

Nah, OPPO saat ini sedang mengadakan kontes Selfie VS Group Selfie untuk mencari momen terbaik kamu. Hadiahnya juga seru, Smartphone terbaru dari OPPO. Penasaran mau ikutan?

Caranya mudah!
1. Kamu like dulu fan page OPPO Indonesia.
2. Kemudian buka aplikasi berikut ini dan klik “Ikuti Promosi ini”
3. Isi data diri dengan lengkap dan benar.
4. Klik tombol langkah berikutnya
5. Lalu ikuti Votingnya apakah kamu lebih suka memilih Group Selfie atau Selfie
6. Klik Confirm
7. Masukan alasan kenapa kamu memilih itu
8. Kirim foto selfie kamu atau group selfie bersama temanmu
9. Mengirimkan foto bisa melului dua cara. Memilih foto dari album facebook kamu atau memilih foto baru. Lalu klik selanjutnya.
10. Berikan judul #OPPOF3Plus #BestDualMoment kemudian klik confirm
11. Klik posting
12. Share Campaign ini ke teman-temanmu dengan tag OPPO Indonesia (@IndonesiaOPPO)

Yuk ikut kompetisinya!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Bagaimana Facebook Membuat Kawanmu Jadi Merasa Paling Benar Sendiri

Ada satu waktu dimana kamu benar-benar bingung menghadapi temanmu di facebook. Dia nampak begitu keras kepala membela salah satu tokoh politik yang didukungnya. Membela kelompok tertentu mati-matian dan seolah tak pernah tahu informasi busuk tentang kelompok yang dibelanya tersebut.

Komentarmu selalu dimentahkan dan disalahkan olehnya. Dia justru selalu bilang kamu yang keras kepala dan tak mau menerima informasi yang benar. Perdebatan pun menjadi terbuka dan ujungnya ketika terjadi eskalasi, menekan tombol unfriend terlihat jadi pilihan yang realistis.

Pernah penasaran kenapa kawanmu begitu ngotot dengan pendapatnya? Apa dia tak pernah membaca informasi yang selama ini kamu baca? Nah, ternyata sikap tertutup tersebut juga dipengaruhi oleh bagaimana Facebook bekerja mengelola informasi. Seperti apa? Yuk kita simak secara perlahan.

Hanya Sedikit Dari Kawanmu Yang “Bisa” Melihat Postingmu

Hal pertama yang perlu Kamu pahami bahwa dari seluruh jumlah daftar temanmu tidak semuanya melihat posting terbarumu. Jadi seheboh apapun kamu membagikan status, foto atau video kemungkinan besarnya tidak muncul di timeline kawanmu ketika dia membuka facebook.

Dari beberapa hasil penelitian hanya kurang dari 35 persen jumlah kawanmu yang pernah menyaksikan status yang kamu buat. Bahkan sebagian penelitian lain menyebut angka ini bisa lebih kecil lagi hanya kurang dari 20 persen. Artinya apa? Jika kawan facebookmu ada 100 hanya 20 orang diantaranya yang melihat posting kamu. Kenapa demikian?

Siapa Yang Bisa Melihat Siapa, Ditentukan Oleh Algoritma Facebook

 

Ini dia kuncinya. Facebook tidak menampilkan lini masa sesuai dengan kronologi waktu saja. Perusahaan besutan Mark Zuckerberg ini menyusun program Algoritma matematis untuk menentukan siapa saja yang muncul di lini masa kamu. Dan sebaliknya, posting kamu juga tidak muncul sembarangan di lini masa siapa saja.

Tidak ada penyataan resmi tentang bagaimana perhitungan algoritma ini. Namun yang pasti, hal yang paling menentukan adalah bagaimana kamu berinteraksi dengan kawanmu yang ada di daftar pertemanan.

Semakin sering kamu memberikan like, berkomentar, membuka profilnya, berkirim pesan pribadi, maka semakin sering kamu akan melihat postingnya. Sementara buat mereka-mereka yang menjadikanmu teman tapi tak pernah berinteraksi, tentunya tidak akan pernah melihat unggahanmu bahkan cenderung lupa dan menganggapmu tak lagi ada.

Facebook Memanjakanmu Dengan Hanya Menampilkan Informasi Yang Kamu Senangi Saja

Pola seperti ini diterapkan tak hanya soal hubungan pertemanan tapi juga pada hal lainnya. Facebook melayani apa yang kamu suka dan hanya akan memberikan informasi yang menurut facebook kamu sukai saja.

Ambil contoh tokoh politik A. Kawanmu  suka dengannya, kemudian membaca informasi yang memberikan kabar baik tentang orang tersebut. Algoritma Facebook akan membaca bahwa kawan kamu tersebut senang dengan tipe informasi semacam itu. Hasilnya lini masanya hanya dipenuhi oleh informasi tentang kebaikan orang tersebut saja.

Sebaliknya kamu sering membaca informasi yang kritis terhadap tokoh A itu. Algoritma facebook akan membaca bahwa kamu senang dengan informasi yang kritis dan negatif terhadap tokoh A. Maka jangan heran kalau kemudian lini masamu akan dibanjiri informasi yang kontra terhadap A.

Algoritma Facebook Membuatmu Sulit Untuk Menerima Informasi Secara Berimbang

 

Kondisi seperti di atas tentunya akan menyulitkanmu menerima informasi yang berimbang. Di kasus kawanmu, dia jarang disajikan tautan informasi tentang informasi negatif tokoh si A tadi.

Hasilnya dia akan makin menyukai si A, dan berinteraksi dengan postingan dukungan terhadap si A. Algoritma facebook akan bertambah menilainya sangat menyukai tokoh si A. Maka dia akan makin banyak menerima informasi dukungan ke si A.

Sementara kamu sebaliknya. Kebencianmu terhadap si A membuatmu berinteraksi dengan berita negatif si tokoh A. Facebook membaca bahwa kamu senang dengan informasi negatif si A. Secara otomatis kamu akan makin banyak menerima informasi negatif tentang si A.

Fenomena ini terus berlangsung berulang dan makin membesar. Hingga akhirnya kawan kamu tak lagi pernah menerima informasi kritis tentang si tokoh A tersebut, dan kamu sama sekali tak pernah menerima informasi positif tentangnya.

Kamu Jadi Hanya Punya Satu Sisi Kebenaran

smartphone pemisah

Efek negatif dari hal tersebut, secara psikologis kamu hanya akan punya satu sisi kebenaran. Karena selama ini sudah dimanjakan oleh informasi sepihak yang disodorkan facebook padamu.

Informasi dukungan terhadap tokoh si A, dijadikan kawanmu sebagai menara gading yang sangat megah. Sementara di sisimu penolakanmu akan semakin kuat. Matamu dan mata kawanmu jadi tertutup dan menjadikan itu satu-satunya kebenaran.

Kamu Jadi Sulit Menerima Informasi Yang Berseberangan

Dengan Kondisi mental seperti itu, setiap ada kajian atau informasi kritis tentang tokoh A akan disikapi kawanmu sebagai perlawanan terhadap apa yang dia yakini sebagai kebenaran. Dia jadi tak terbiasa lagi berpikiran terbuka dan mencoba mendengarkan apa informasi kritis tentang tokoh tersebut.

Hal sebaliknya juga terjadi di kamu. Informasi positif tentang si tokoh akan selalu kamu anggap sebagai informasi yang mengada-ada. Dan kamu pasti menolaknya mentah-mentah.

Bencana Dimulai Ketika Kamu Akhirnya Bisa Melihat Posting Kawanmu

edit tulisan dengan kawan

Namun lantas kalau kita sedemikian berbeda referensi dan kesukaan, kenapa kita bisa terlibat debat dengan salah seorang kawan di facebook? Kenapa dia bisa melihat postingmu dan kamu bisa melihat postingnya?

Coba bayangkan sebuah skenario. Kamu dan kawanmu adalah alumni satu SMA yang sama. Kemudian ada acara reuni dan diunggahlah foto bersama di acara tersebut. Kamu dan kawanmu itu ditag secara bersama. Kamu memberikan suka pada foto tersebut, kawanmu juga.

Kejadian serupa ini bisa terjadi di berbagai skenario. Bisa saja kalian tergabung di satu komunitas group yang sama. Atau kalian menyukai satu kawan yang sama dan sama-sama berinteraksi di postingan orang lain tersebut.

Setelah itu terjadi, Algoritma Facebook akan menilai kamu dan kawanmu itu punya kesamaan dan menyukai hal yang sama. Mulai lah kamu disajikan posting kawanmu itu tentang dukungan terhadap tokoh A.

Sayangnya dia yang selama ini hanya mendapat informasi sisi positif si A, jadi harus bertemu denganmu yang selama ini hanya terpapar informasi soal berita negatif dan kritis terhadap si A. Kalian berdua sama-sama hanya punya segudang informasi yang berat sebelah. Terjadilah perdebatan dan saling tuduh bahwa masing-masing buta terhadap kebenaran.

Gawatnya Tak Cuma Facebook, Informasi Di Internet Kini Didikte Oleh Algoritma Dan Artificial Intelligence

Nah, hal yang “memprihatinkannya” cara kerja penyajian informasi menggunakan algoritma ini tidak hanya diberlakukan oleh facebook. Nyaris semua perusahaan besar internet berlomba-lomba “memahami” penggunanya dan menyajikan informasi yang hanya disenangi penggunanya saja.

Instagram yang dulu hanya menggunakan kronologi waktu, kini sudah menerapkan sistem algoritma ketika dibeli facebook. Sewaktu kamu menonton dan menyukai sebuah tayangan di youtube, maka niscaya kamu hanya akan diberikan rekomendasi video youtube yang serupa.

Begitu juga dengan musik, dimana apple music, spotify dan tayangan streaming lain mencoba “menebak” musik favorit penggunanya. Situs-situs jual beli juga melakukan hal ini. Bahkan hasil pencarian google pun sudah lebih dulu menggunakan sistem personalisasi macam ini, jika kita melakukan pencarian dalam keadaan login.

Hasilnya? Kamu dan kawanmu akan menjadi orang-orang yang merasa paling benar sendiri, karena hanya menerima informasi yang berat sebelah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tips

Sesungguhnya Sosial Media Jadi Cermin Pasangan Bahagia Atau Pura-Pura Bahagia

Secara sekilas postingan manis berisi caption mesra nan romantis di media sosial mungkin kita artikan sebagai bentuk kebahagian dari setiap pasangan. Namun siapa sangka jika ternyata hal tersebut bukanlah tolak ukur atas kebahagian pasangan yang sesunguhnya.

Setidaknya hal ini diamini oleh Nikki Goldstein,  sexologist and relationship expert dari Australia. Menurutnya pasangan yang banyak membagi hubungannya di sosial media adalah pasangan yang butuh pengakuan dari orang lain karena pasangan tersebut sendiri tak yakin dengan hubungan mereka.

Karena menurut Nikki pasangan yang benar-benar bahagia dapat kita lihat dari postingan mereka di media sosial seperti berikut ini.

Mereka Yang Bahagia Tak Membagikan Semua Masalah Di sosial Media

Mereka tidak pernah mengumbar masalah apapun yang ada dalam hubungan mereka, karena mereka sadar bahwa hal tersebut merupakan privasi yang harus digaja demi kelangsungan hubungan yang sedang dijalani. Mereka faham bahwa menjaga aib masing-masing merupakan bentuk penghargaan kepada pasangan satu sama lain. Tentunya aneh rasanya membayangkan pasangan yang bahagia, mengeluh di sosial media hanya karena pasangannya terlambat menjemput misalnya.

Isi Postingannya Tak Melulu Tentang Pasangan, Karena Mereka Punya Kehidupan Lain

Hal-hal yang mereka posting biasanya bervariasi, bisa berisi hobby dan aktivitas yang disukai dari masing-masing, kepedulian mereka terhadap lingkungan atau hal-hal lain yang mereka geluti. Mereka tau bahwa hidup tak melulu tentang pasangan untuk itu mereka tak segan-segan berbagi banyak hal selain potret dari hubungan mereka.

Tak Ingin Terlalu Sering Posting Foto Pasangan

Jarang posting foto pasangan di media sosial bukan berarti mereka tidak sayang satu sama lain, mereka tau bagaimana caranya menunjukkan rasa sayang tak hanya lewat media sosial dan postingan-postingan foto lainnya. Mereka menikmati semua bentuk kemesraan didunia nyata tanpa merasa perlu membagikannya di dunia maya.

Menurut Goldstein, mereka yang ketika ada momen berdua, kemudian mengambil foto dan buru-buru mengunggahnya di media sosial, cenderung tak menghargai momen kebersamaannya. Mereka hanya mencari pengakuan dari orang lain lewat like dan comment bahwa hubungan pasangan tersebut baik-baik saja.

Paham Bagaimana Memberi Ucapan Terbaik Saat Momen Terbaik

Pasangan yang bahagia akan menunjukkan rasa bangga nya dimedia social pada waktu dan momen-momen tertentu, karena memuji satu sama lain secara berlebihan bukanlah bentuk kepedulian yang benar apalagi jika dilakukan setiap hari, dan sebaliknya mereka akan saling menguatkan dan menujukkan kekagumannya disetiap momen-momen penting dalam hubungan mereka.

Tak Saling Berbagi Akun, Karena Kepercayaan Tak Melulu Soal Password

Memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap pasangan satu sama lain, untuk itu mereka tidak pernah meminta pasangannya untuk berbagi akun. Saling menjaga privasi masing-masing adalah bentuk percayanya mereka satu sama lain. Karena memaksa pasangan untuk memberitahu password menunjukkan tidak adanya kepercayaan dalam diri mereka masing-masing dan sebaliknya akan lebih rentan kepada kecurigaan yang berlebihan.

Kata Stalking Mantan yang Tak ada Lagi Dalam Kamus Mereka

Tak lagi menunjukkan sesuatu yang masih berhubungan dengan mantan, mereka akan sangat menghargai dan menjaga perasaan dari pasangannya masing-masing. Entah itu dengan alasan apapun bagi mereka mantan adalah sesuatu yang sudah lalu yang memang sudah saatnya dilupakan.

Mengungkapkan Cinta dan Saling Memuji Sewajarnya

Saling mengutarakan cinta mungkin hal yang biasa dilakukan, tapi mereka melakukannya dalam porsi yang wajar tidak secara berlebihan. Mereka akan mengeluarkan kalimat pujian pada saat tertentu untuk menunjukkan kebanggannya terhadap pasangannya. Karena mereka terbiasa untuk mengucapkan dan menunjukkan rasa sayang dan ucapan lainnya dalam bentuk nyata bukan dibeberkan didunia maya.

Coba ingat dulu, apakah kalian masuk kedalam ciri-ciri pasangan bahagia atau malah sebaliknya?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Karena Selingkuh Tak Dimulai Di Tempat Tidur Tapi Saat Kau Mulai Menghapus Pesannya

“Aku itu dengannya hanya berteman”

Berapa banyak dari kamu yang berlindung di balik kata-kata ini? Karena menurutmu apa yang kamu lakukan tidaklah menjadi bagian dari sebuah perselingkuhan. Tidak ada sesuatu yang istimewa antara kamu dan kawan baikmu itu. Tapi benarkah kamu tidak berselingkuh?

Kalau Hubunganmu Biasa Saja, Kenapa Kamu Harus Menghapus Pesannya?

display handphone

Perselingkuhan itu bukan berarti kamu harus menciumnya, berhubungan dengannya atau menjalin hubungan fisik dengannya. Ketika kamu memutuskan menghapus pesannya, percayalah ketika itu kamu sudah mulai berselingkuh. Karena tidak ada alasan kenapa pesanmu harus dihapus kecuali kamu tidak ingin orang lain membacanya.

Selingkuh Adalah Segala Hal Yang Tidak Akan Kamu Lakukan Jika Pasanganmu Ada Di Sebelahmu

kaki

Kamu selalu berkelit bahwa yang kamu lakukan bukanlah perselingkuhan. Ini adalah perkawanan biasa yang juga dilakukan oleh jutaan orang lain. Sebenarnya ada hal mudah yang bisa kamu jadikan patokan apakah tindakanmu itu termasuk selingkuh atau tidak.

Ketika Kamu bilang kalian hanya menyeruput kopi sama-sama karena kebetulan pulang satu arah. Sekarang bayangkan pasangan yang katanya kamu sayangi, ada di sebelahmu saat itu. Masihkah kamu melakukan semua hal itu? Masihkah kamu memilih mampir dan bukannya meneruskan perjalanan bersama pasanganmu? Apakah semua pembicaraanmu saat itu akan sama jika pasanganmu ada di sebelahmu?

Jika jawabannya iya, maka besar kemungkinan itu bukan perselingkuhan. Tapi jika hatimu mengatakan kamu tidak akan melakukannya jika pasanganmu ada, maka kamu sudah berselingkuh.

Selingkuh Dimulai Saat Kamu Berbagi Hal Di Belakang Pasanganmu

sedih

Gail Saltz, MD, Associate professor bidang psikiatri di New York-Presbyterian Hospital mengatakan perselingkuhan dimulai ketika kamu mulai menghabiskan energi-energi emosional kamu dengan orang selain pasanganmu.

Akhirnya kamu berbagi hal-hal yang tidak lagi kamu ceritakan dengan pasanganmu. Kamu bercerita pada orang lain itu, harapan masa depanmu, mimpi karirmu, hobi jalan-jalanmu, kesenanganmu akan puisi, renungan spiritualitasmu dan hal lainnya yang seharusnya bisa memperkuat ikatanmu jika saja kamu bagi dengan pasanganmu. Itulah kenapa hal ini termasuk berselingkuh.

Ketika Kamu Sudah Bergantung Secara Emosional, Pada Saat Itu Kamu Sudah Selingkuh

smartphone pemisah

Pasanganmu seharusnya menjadi orang yang paling mengetahui keadaan emosimu. Kapan kamu marah, kapan kamu senang, kapan kamu sedih dan lain sebagainya. Namun seringnya yang kamu lakukan adalah lari kepada orang lain yang bukan pasanganmu ketika kamu emosi senang atau justru sedang buruk. Sesungguhnya inilah saat paling berbahaya dalam sebuah hubungan.

Menurut psikolog Janis Abrahms Spring, PhD, pengarang buku After the Affair: Healing the Pain and Rebuilding Trust When a Partner Has Been Unfaithful, ketergantungan emosional seperti ini sangat sulit untuk diputus. Satu-satunya cara mengakhirinya adalah dengan memutus hubungan emosional itu secara total. Tidak ada kompromi setengah-setengah dengan membiarkan celah hubungan masih bisa terjalin.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Gail Saltz seperti dikutip dari WebMD. Menurutnya Kamu harus mengakhiri hubungan itu, dan tidak ada setengah-setengah. Jika kamu tidak mungkin memutus hubungan total (karena hubungan profesional pekerjaan) dengan orang tersebut, nyatakan secara tegas bahwa kamu tidak mau lagi melakukan hal tersebut (bercerita, berbagi) dengannya.

Tak Mau Memutus Silaturahmi Bukan Berarti Kamu Bebas Bercerita Apa Saja

pasangan

Ketika pasanganmu memintamu mengakhiri hubungan dengan “kawan” itu, alasan paling klasik yang sering digunakan adalah “aku tidak ingin memutus silaturahmi”. Kalimat ini terdengar mulia. Namun bukan berarti menjadi pembenar bahwa kamu boleh terus-terusan berbagi cerita dan perasaan dengan semua orang bukan? Ada beda tegas antara menjaga tali silaturahmi dan tergantung secara emosional kepada orang lain.

Ketika Kamu Membelanya Mati-matian Di Saat Pasanganmu Rela Mati Untukmu

gendong

Untuk dia yang kamu sebut kawan biasa itu, kamu rela berkelahi dengan pasanganmu. Mengatakan hal-hal buruk bahwa pasanganmu sakit dan terlalu mengekangmu. Coba tanyakan pada dirimu, inginkah kamu membela pasanganmu di depan kawanmu itu? Pernahkah kamu menyampaikan bahwa kamu tak bisa berhubungan karena pasanganmu keberatan? Jika tidak, bukankah hubungan itu menjadi berat sebelah? Siapa yang sebenarnya pasangan sejatimu itu?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

Gobagi berusaha menyajikan informasi yang layak untuk diperbincangkan. Tak perlu khawatir dengan berita hoax, bohong dan lainnya, karena info menarik yang ditemui dalam situs ini sebelumnya sudah melalui proses kurasi. Dengan begitu situs ini ingin menghindari kesalahan informasi yang tak perlu.

Facebook

To Top