Feature

Daripada Tinggal dengan Mertua Lebih Baik Tinggal Berdua, Meski Masih Harus Menyewa Rumah

Finansial yang belum stabil sehabis menggelar pesta, jadi pertimbangan besar yang kadang membuat kita berpikir dua kali untuk tinggal terpisah dari orangtua. Menetap atau buru-buru cari rumah, mau tak mau memang harus segera diputuskan.

Akan tetapi memilih untuk hidup mandiri berdua bisa menjadi pilihan terbaik daripada harus tinggal dengan orangtua. Bahkan sebuah penelitian yang dikutip dari laman Daily maily pun memberi pernyataan yang senada, sebab wanita yang tinggal bersama orangtua atau orangtua dari pasangannya, sekaligus dengan anak-anaknya, berisiko 3 kali lebih mungkin didiagnosis dengan penyakit jantung, dibandingkan wanita yang hanya hidup dengan pasangannya.

Kamu dan pasangan, boleh saja berpikir bahwa tinggal bersama dengan orangtua atau mertua, selepas menikah adalah pilihan yang akan membantu. Padahal faktanya, ada banyak masalah jika kita benar-benar melakukannya. Lalu apa saja?

Ekonomi Mungkin Masih Mepet, Tapi Yakinlah Jika Rezeki Tak Akan Seret

Konon menikah jadi salah satu ajang yang akan membukakan pintu rejeki semakin lapang. Logikanya begini, dulu yang berdoa dan meminta rejeki hanya kamu, lain dengan sekarang, ada pasangan yang juga berdoa untuk hal yang sama.

Tak perlu khawatir jika akan tinggal berdua dengan hidup yang masih sederhana. Asal tetap mau bekerja dan berusaha sekuat tenaga, akan ada banyak ladang rejeki yang datang tanpa diduga.

Jika memang masih belum yakin, cobalah bercerita dengan mereka yang sudah lebih dulu melakoninya. Sebab cerita-cerita dari pendahulu, bisa jadi semangat baru.

Lagi pula Menghormati Orangtua, Tak Harus dengan Tinggal Serumah

“Meninggalkan orangtua sama saja tak menghargai mereka”

Kita perlu membedakan mana perbuatan yang memang jadi kewajiban dengan yang bukan. Ini bukan perihal menghargai atau tidak, tapi lebih kepada sesuatu yang bertujuan untuk menjaga privasi.

Sebab pada kenyataannya, menjalani biduk rumah tangga memang tak akan membuat kita lepas dari pantauan orangtua. Entah itu orangtuamu, atau mertua. Akan ada momen tertentu yang memang memaksa kita untuk membutuhkan bantuan mereka. Tapi bukan berarti kita harus tinggal serumah dengan mereka.

Karena Sebagai Suami Istri Baru, Kita Berdua Harus Lebih Mandiri

Alasan baik pertama yang jelas akan lebih terasa, kita akan bebas melakukan apa saja. Lagi pula perjalanan cerita selama berpacaran, tentulah bukan apa-apa. Sebab cerita menjadi suami istri jelas akan jauh lebih sulit lagi. Bergantung pada orangtua terus menerus hanya akan membuat kalian jadi suami istri yang manja.

Ini adalah masa yang tepat untuk belajar hidup terpisah, melakoni peran baru yang memang sudah waktunya. Memasak untuk suami, hingga membantu istri membenahi pekerjaan rumah. Tak ada ibu atau bapak yang biasanya siap sedia membantu. Kini semuanya hanya akan terpenuhi jika kamu dan pasangan saling bantu.

Dan semua itu hanya akan didapatkan, ketika kita sudah hidup terpisah dari orangtua.

Hingga Pada Privasi Lain yang Memang Harus Saling Dihargai

Jangan pikir, hidupmu akan terus-terusan aman. Sebab untuk menyeimbangkan rasa sayang, akan ada beberapa goyangan dalam perjalanan hidup barumu bersama pasanganmu.

Barangkali, nanti ia akan mendadak diam karena merasa tak dihargai atau tak mau keluar kamar jika sedang merasa tak enak hati. Dan jika semua sikap itu terlihat oleh orangtua, tentulah akan menjadi sebuah masalah.

Ada perspektif yang berbeda antara kita dengan orangtua, yang jika tak menemukan titik terang akan menjadi sebuah masalah. Hal ini pula, yang menjadi salah satu alasan mengapa hidup terpisah menjadi lebih baik daripada tinggal bersama orangtua. Ya, kita jadi lebih bisa menjaga privasi.

Perjalanan Rumah Tangga Tentu Rentan Perdebatan, Tak Baik Jika Orangtua Ikut Campur Tangan

Nah, ini adalah alasan kesekian yang memang patut untuk dipikirkan. Ketika ada masalah, kita dan pasangan tentu jadi pihak yang wajib untuk menyelesaikannya. Meredam amarah masing-masing, dan mencari solusi sebagai jalan keluarnya.

Orangtua tentu tak perlu tahu, karena usia mereka yang sudah tak lagi muda jelas akan terganggu jika harus ikut memikirkan perkara rumah tangga anaknya. Lalu bayangkan jika ternyata pertengkaran itu akan terjadi di rumah orangtua.

Bahkan tanpa perlu memberi tahu, mereka tentu bisa membaca dan melihat perubahan yang ada. Entah itu ketika kalian tak saling tak bicara, atau bertengkar di hadapan mereka.

Dapat Masukan yang Kadang Terlalu Banyak, Justru Jadi Beban

Pilihan selanjutnya yang kerap berubah jadi beban, kita berdua sering dihadapkan pada pilihan. Ya, situasi yang kadang tak stabil seolah memaksa kita memilih. Mengikuti kata hati, atau mendengarkan orangtua.

Sebab salah dalam memahami masukan yang datang, bisa berdampak buruk pada hubungan. Tak heran, jika beberapa kasus perceraian dilatar belakangi oleh sikap ini. Saat salah satu pihak lebih mendengar apa kata orangtua daripada memikirkan nasib hubungannya. Serba salah dan menjadi beban.

Pilihan Ini Pun Akan Membuat Kita Belajar Bagaimana Rasanya Berjuang

Cerita baru, suasana dan kehidupan anyar di tempat tinggal yang baru pula, akan jadi sesuatu yang membantu kalian berdua lebih memahami arti kehidupan berumah tangga yang sesungguhnya.

Sebagai istri, kamu akan lebih bisa membagi waktu, kapan harus bekerja, juga membenahi rumah. Begitu pula kamu yang akan menjadi suami baru untuk dia, harus lebih giat mencari nafkah untuk kelangsungan hidup berdua.

Tak apa jika saat ini masih harus membayar sewa untuk rumah yang kalian huni sementara. Seiring dengan berjalannya waktu, kehidupan tentu akan berubah. Asal mau berusaha dan saling menguatkan, tentu kalian akan lebih bahagia.

Karena biar bagaimana pun, persoalan hidup tak akan selesai dengan kamu mengucapkan ijab kabul di hadapan penghulu. Justru ini adalah awal baru dari perjalanan kisah yang akan dilalui bersama. Dan memilih tinggal terpisah dari orangtua bisa jadi salah satu awal baik untuk memulainya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Bagaimana Menikmati Akhir Pekan di Jakarta?

Akhir pekan di Jakarta, yakin bakalan asik? Mungkin itu jadi respon yang akan tiba-tiba memenuhi isi kepala. Wajar memang, hiruk pikuk kemacetan jalanan ibukota, kadang jadi sesuatu yang lebih dulu membunuh gairah. Jangankan untuk menikmati suasana kota di akhir pekan, belum sampai ke tempat tujuan kita sudah merasa lelah. Hasilnya? Mungkin bakalan menyerah.

Beberapa tahun belakangan, jalanan ibu kota memang sedang macet-macetnya. Sebab pemerintah saat ini nampaknya sedang memburu waktu untuk membenahi beberapa infrastruktur jalanan ibu kota. Tapi jangan keburu patah arang dulu, meski terkenal penuh dan riuh kita tetap bisa menikmati akhir pekan di Jakarta dengan asik dan menyenangkan.

Agar Tak Bosan dengan Suasana yang Itu-Itu Saja, Pilihlah Tempat yang Berbeda

Lupakan dulu mall dan berbagai macam tempat hang out kekinian. Kali ini mari nikmati jakarta dari lain sisi. Untuk itu kamu boleh bercumbu pada beberapa tempat yang jarang tersentuh.

Di Utara Jakarta, lahan hijau yang masih terasa segar mungkin jadi pilihan menarik pada pagi hari. Dan nanti jika sudah menjelang siang, kita bisa bergerak sedikit ke arah pusat Jakarta tepatnya di daerah pasar baru untuk sekedar melepas rasa lapar.

Sorenya untuk kesan menanti senja yang tak biasa, jika memang masih ingin berada pada sekitaran Pusat Jakarta. Kamu bisa menikmati matahari terbenam di Pelabuhan Sunda Kelapa. Aktivitas para kapal yang sedang bersandar dan beberapa kegiatan para awaknya akan membuatmu merasakan Jakarta dari sisi yang berbeda.

Ini hanya beberapa rangkaian tempat yang bisa kamu nikmati, dan sebenarnya masih banyak lagi yang belum terjamahi. Asal pintar memilih tujuan bukan tak mungkin kamu akan dapat merayakan akhir pekan dengan berkesan.

Sebab Jalanan Ibu kota Sedang Ruwet-ruwetnya, Pastikan Pula Rute Mana yang Tak Akan Membuatmu Merana

Bicara soal Jakarta agak susah memang jika harus memisahkannya dengan kemacetan lalu lintasnya. Belum lagi dengan adanya kegiatan pembangunan yang sedang marak di sana-sini, penampilan yang sudah kece bisa mendadak lusuh karena terjebak macet di jalan.

Walau terlihat sepele, memilah jalanan yang akan dilalui jadi salah satu kunci untuk dapat menikmati perjalanan. Begitu pula dengan akhir pekan di Jakarta yang ingin dirayakan. Carilah alternatif terbaik, rute mana yang sedang lenggang dan tidak ada gangguan. Sebab untuk mencari tahunya pun cukup mudah. Entah itu dari sosial media, atau dari beberapa akun yang biasanya khusus membicarakan tentang jalanan Ibu Kota.

Pilihlah Waktu yang Pas Untuk Memulai Perjalanan

Yup, setelah tahu tempat mana yang akan kamu tuju serta jalur mana yang akan dilalui. Hal selanjutnya yang perlu dipikirkan adalah waktu keberangkatan. Jika memang kamu akan bepergian untuk menikmati suasana pagi, cobalah bangun lebih cepat dari biasanya. Dan berangkatlah sebelum jalanan mulai ramai.

Sebaliknya memang kamu ingin menjajal tempat tujuan pada siang atau sore hari pilihlah waktu yang cukup untuk pergi. Katakanlah kamu akan pergi ke suatu tempat untuk menikmati waktu sembari makan siang, cobalah pergi sekitar sebelum jam 10 pagi, karena di samping jalanan yang sudah tak lagi terlalu ramai matahari juga belum terlalu seterik siang.

Atau jika memang ingin menikmati sore, kamu bisa mulai berangkat dari rumah pukul 3 sore, pada jam ini mereka yang bekerja di akhir pekan sudah tentu pulang pada 2 jam sebelumnya. Sedang yang ingin pulang di sore hari akan pulang nanti pada pukul 5 hingga 6 sore. Dengan kata lain jam 3 sore jadi titik netral yang tak akan menjebakmu di jalan.

Dan Bekali Diri dengan Kendaraan yang Akan Membuat Nyaman

Dari sekian banyak hal-hal yang tapi perlu kamu perhatikan, ini jadi point yang perlu untuk diingat. Karena biar bagaimanapun kamu tentu tak akan berjalan kaki untuk menikmati akhir pekan. Kecuali cuma makan di warung depan.

Hadir untuk menjawab kebutuhanmu Motor Address Playful dari Suzuki ini bisa mengantarmu menikmati akhir pekan di Jakarta. Skuter yang memang didedikasikan untuk kamu yang masih berjiwa muda, jadi salah satu skuter terbaik untuk untuk menikmati hari lebih produktif. Lengkap dengan aksesori panel bodi yang penuh warna pada bagian frame cover, handle cover, leg shield hingga pada stripping set.

Kamu juga tak perlu khawatir atau ragu, jika ternyata varian warna tak akan sesuai selera, sebab seri skuter matic dari perusahaan berlogo S ini punya 10 pilihan warna yang diterapkan pada aksesoris panel bodinya. Kamu bebas pilih warna mana yang sekiranya sangat pas dan cocok untuk karaktermu. Mulai dari Stronger Red, Aura Yellow, Fresh Green, Macho Bright Blue, Majestic Gold, Dark Grey, Brilliant White, Hyper Pink, Luminous Orange Hingga Ice Silver.

Keunggulan lain yang akan menjawab kekhawatirmu saat nanti akan berkendara di tengah jalanan ibukota saat akhir pekan tiba. Suzuki Address Playful ini dibekali mesin SOHC 4 langkah kapasitas 113 cc yang memang dipercaya menghasilkan performa baik. Teknologi full injectionnya mampu menekan konsumsi bahan bakar dengan perbandingan kompresi yang mencapai 9.4:1

Dengan komposissi mesin seperti itu, perihal biaya bahan bakar kamu tentu tak perlu ragu, sebab motor ini jadi skuter matic yang tergolong irit. Selain menghemat waktu dalam perjalanan, berkendara dengan Suzuki Adress Playful ini juga membantumu menghemat budget akhir pekan dari perihal ongkos kendaraan.

Ketika Sampai di Tempat Tujuan, Fokuslah Untuk Menikmati Waktu Akhir Pekan

Sudah jauh-jauh menempuh perjalanan, sampai ditempat tujuan masih saja buka instagram. Sebisa mungkin jika memang itu bukanlah sesuatu yang penting dan bersifat darurat, cobalah nikmati waktu akhir pekanmu dengan berkualitas. Jauhkan diri dari dunia sosial media untuk sehari saja, sebab ini akan berpengaruh pada jiwa.

Karena jika ternyata akhir pekanmu masih saja bersama dengan handphone dan segala hal yang membuatmu terlena. Tentu akhir pekan yang sedang kau jalani tak akan bermakna. Jika sesekali membuka untuk sekedar posting di instastory instagram bolehlah, namun kalau keblalasan buka akun gosip dan saling balas komentar tentu itu akan membuatmu lupa. Iya, lupa jika tadinya kamu sedang ingin menikmati akhir pekan di Jakarta.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Jangan Terlalu Percaya, Barangkali Dia Hanya Ingin Memanfaatkanmu Saja

Perihal dimanfaatkan dan memanfaatkan memang jadi sesuatu yang sulit kita baca. Karena pelakunya sering kali merupakan orang yang cukup dekat dengan kita. Benar memang, kita tak boleh main tuduh saja. Sebab bisa saja dia memang tulus menjalin hubungan dengan kita.

Namun jika ternyata perlakuan darinya kerap memberatkan, itu artinya kita perlu memasang kuda-kuda. Bukan berpikiran buruk padanya, tapi kita juga tak boleh langsung percaya. Sebab seorang serigala, biasanya mendekat terlebih dulu untuk leluasa menerkam mangsa.

Dia Selalu Di Dekatmu Saat Kamu Senang, Namun Jika Kamu Sedang Kesusahan Ia Mendadak Hilang

Untuk hal-hal yang merupakan urusan senang-senang, entah kenapa ia selalu datang meski tak diundang. Dan akan berbanding terbalik jika yang terjadi adalah sebuah kesusahan. Jangankan untuk datang dan bertanya kabar, bertemu secara tak sengaja saja seperti tak saling kenal.

Dan lebih liciknya lagi, ketika kamu mungkin coba bertanya kemana ia selama ini. Dengan cepat dan lihai, ia akan membangun sebuah cerita bohong dengan tujuan membuatmu percaya. Ia memang lihai dalam hal berbicara, untuk itu kerap membuatmu percaya.

Menempatkan Diri Sebagai Pihak yang Tak Bisa Apa-apa, Padahal Dia Hanya Ingin Bergantung Padamu Saja

“Kamu saja ya, kan kamu serba bisa,”

Jadi sebuah kalimat yang kerap terdengar darinya, bukan karena memang tulus untuk memuji kita. Trik yang ia pakai hanya sedang berusaha melindungi diri, berpura-pura seperti manusia yang tak memliki kemampuan, sehingga segala sesuatu dibebankan padamu.

Tak ada alasan untuk terus-menerus memahaminya, kamu perlu tegas untuk bilang tidak. Sebab jika terus mengikuti keinginan, dan permintaanya,  siap-siap saja ia akan melakukan hal yang sama lebih sering dari sebelumnya.

Menjadi Pendengar yang Baik Untuk Semua Keluh Kesahnya, Tapi Ia Justru Sebaliknya

Ya, kita tahu relasi yang terjalin pada dua orang berbeda jadi salah satu wadah untuk kita bertukar sapa, hingga pada hal-hal yang lainnya. Dan, selama ini kamu sebagai orang yang mengenalkan berpikir jika mendengarkannya saat ia ada dibawah tentulah adalah kewajiban, anehnya dia malah tak berpikir demikian.

Jika sedihnya adalah sedihmu juga, baginya sedihmu akan tetap jadi bebanmu sendiri. Tak ingin terbebani, ia selalu menolak untuk mendengar ceritamu. Karena dimatanya sesuatu yang terpenting adalah bisa mendapat solusi, bukan memberi solusi untuk orang lain. Ia egois, tapi kerap berlindung dengan berbagai alasan yang terdengar logis.

Bertindak Bak Orang yang Melindungi, Sebenarnya Dia Hanya Menjadikanmu Sebagai Objek Kepentingan Pribadi

Jika ini terjadi antara perempuan dan laki-laki, mungkin akan merambah ke hal-hal yang lebih spesifik lagi. Bagaimana ia berperan sebagai pangeran baik hati di depan orang, namun mendadak jadi tuan yang sewenang-wenang ketika sudah tak lagi ada orang.

Perbuatan-perbuatan baik darinya hanyalah sebuah ilusi, sebab dengan begitu ia bisa sembunyi dan melindungi diri. Seolah sedang menjaga, padahal secara tak sadar ia sedang menguras semua yang kamu punya. Cobalah ingat dulu, berapa kali ia memaksamu untuk melakukan sesuatu yang sebanarnya tak kamu mau. Jika ternyata sering, itu artinya ia memang tak benar-benar ingin mengayomi.

Bahkan Hanya Akan Datang Saat Dirinya Merasa Butuh

Ini akan jadi bukti nyata lain yang sering tak bisa kita lihat dengan cepat. Wajar memang, orang-orang seperti ini biasanya sangat lihai untuk memainkan peran. Bahkan meski sedang berbuat kejahatan ia bisa terlihat bagai malaikat pernuh berkat.

Namun jika kamu ini memastikannya secara sungguh-sungguh, perhatikanlah intensitas kedatangannya padamu. Jika ternyata ia hanya akan datang saat merasa butuh bantuan, bisa dipastikan ia memang hanya ingin memanfaatkan.

Tak perlu menyampaikannya secara langsung, sebab ia pasti punya alasan untuk bisa lepas dari tuduhan. Berjalanlah pelan-pelan untuk mundur dari hubungan. Sebab ia hanya ingin mencari keuntungan.

Dan Membuat Batasan Agar Kamu Tak Mengenal Orang-orang Terdekatnya

Pertanda lain yang bisa kamu baca, perihal bagaimana sikapnya yang sebenarnya adalah dengan melihat perlakuannya dalam hal membatasi diri kita. Entah dengan alasan apa, ada dinding pemisah yang sepertinya sengaja dibangun dalam hubungan kita dengannya. Ia tak ingin terlihat dihadapan orang yang kita kenal, tapi juga tak ingin memperlihatkan kita pada mereka yang ia kenal.

Bukan ingin mengajakmu jadi seseorang yang kerap menaruh curiga, akan tetapi jika sikapnya memang terlihat tak seperti orang atau kawan biasanya. Kamu memang patut curiga. Cobalah cari beberapa hal yang terasa janggal, selidiki lebih dalam hingga kamu bisa mendapat jawaban. Jika memang ia ternyata kerap melakukan beberapa poin yang tadi dijelaskan, bisa jadi ia memang hanya ingin memanfaatkanmu saja.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Belum Ingin Menikah Hari Ini, Bukan Berarti Seumur Hidup Akan Sendiri

Mendapat pertanyaan, “Sudah punya calon belum?” saat acara kumpul keluarga, agaknya jadi hal yang biasa. Tapi jangan dulu menyalahkan mereka, sebab hal itu memang menjadi pertanyaan wajar untuk manusia yang sudah dewasa namun tak pernah terlihat menggandeng siapa-siapa.

Perihal usia yang sudah matang hingga keputusan melangkah yang harus disegerakan, memang selalu jadi perkara yang rumit untuk dibicarakan. Akan tetapi, pertanyaan-pertanyaan seperti itu justru menyadarkan kami yang masih sendiri, bahwa sebagian orang masih mendekskrisikan kesendirian sebagai situasi nelangsa.

Kemudian dengan santainya berpendapat bahwa kita yang masih sendiri hingga kini adalah pribadi yang menyalahi kodrat. Tak ingin terbawa emosi, tentu ada beberapa alasan dibalik pilihan itu. Sebab tak ingin menikah sekarang bukan berarti akan hidup sendiri sampai mati.

Hal Pertama yang Harus Kita Mengerti Adalah Setiap Orang Bebas Memilih

Tak ada alasan yang lantas akan membedakan kita dengan mereka yang lebih dulu menikah, sebab ini adalah bagian dari pilihan kehidupan yang sedang dijalankan. Sama halnya dengan mereka yang sudah menikah, harusnya yang lain juga paham jika sendiri dulu adalah pilihan yang harus dihargai.

Karena ini bukanlah perkara mudah, ada ribuan tantangan yang akan dibebankan pada pundak dan kepala. Jika memang belum merasa bisa mengembannya, tak perlu memaksa diri. Tak berniat untuk menyinggung mereka yang mungkin belum mengerti, hanya saja jika pilihan menikah bisa dihargai, hal yang sama harusnya bisa diberikan pada pilihan yang sebaliknya.

Seandainya Mereka Tahu Lelahnya Diberondong Pertanyaan yang Sama Setiap Kali Jumpa, Mungkin Mereka Tak Akan Sampai Hati Mengulanginya

Dielu-elukan sebagai pertanyaan yang bernada skak-mat, kalimat “Kapan nikah?” tak lagi terdengar menakutkan, cuma sedikit membosankan. Karena meski saat ini sudah memiliki kekasih yang bisa diajak bicara soal masa depan, pasti akan ada pertanyaan yang juga bernada serupa.

Seolah tak ada habisnya, mereka yang melempar tanya sepertinya memang doyan membuat hati orang lain nelangsa. Bukan apa-apa, baginya mungkin biasa namun mereka yang menjadi objek tentu punya penilaian yang berbeda.

Diingatkan Terus-menerus, Seolah Kami Tak Paham Bahwa Setiap Manusia Sudah Tercipta Berpasang-pasangan

“Mau apa lagi? Usia sudah cukup, pekerjaan pun sudah mapan. Segeralah cari pasangan,”

Komentar seorang teman yang memang telah lebih dulu jadi seorang bapak. Tak berpikir ia sedang menghakimi, ucapan itu dapat dianggap sebagai bentuk perhatian seorang teman sebaya. Tapi jika terus-menerus disampaikan, jelas menganggu pikiran.

Dengan berbagai alasan positif, memang ada batasan usia untuk seorang laki-laki dan perempuan berada pada masa yang baik. Keturunan dan hal lain jelas jadi pertimbangan memang, tapi bukankah dari awal sudah ada jodoh yang memang disiapkan oleh Tuhan? Lantas untuk apa membebani diri dengan meresahkannya?

Usia Memang Sudah Dewasa, Tapi Sejak Kapan Umur Jadi Patokan Untuk Menikah?

Saat kamu duduk di bangku SMA, mungkin ada temanmu yang memilih menikah lalu meninggalkan pendidikannya, teman lain yang usianya sudah lebih dari seperempat abad masih santai tanpa berpikir harus menikah buru-buru, dan yang lebih uniknya lagi ada yang sudah berkepala tiga namun mengaku masih belum siap menikah.

Lalu yang menjadi pertanyaan, teori menikah karena sudah cukup usia datang darimana? Tentu ini adalah pandangan yang salah, sebab sesungguhnya tak ada batasan usia untuk seseorang menikah. Prosesi nan sakral ini tak memiliki standardisasi. Akan lebih baik jika kita hanya akan melangkah saat sudah merasa siap untuk mengarunginya, bukan karena katanya sudah waktunya, atau dikejar usia.

Tak Ingin Menjadikan Pernikahan Sebagai Pelarian, Sebab Menikah Jelas Butuh Persiapan

Percayalah Kawan, dengan menikah tak lantas semua beban akan hilang, sebab seberat apa pun kamu menjawab pertanyaan kapan nikah, masih belum ada apa-apanya ketika nanti berumah tangga.

Lebih dari itu, menikah jadi gardu paling depan yang akan menghantarkan kita pada berbagai pengalaman. Contoh kecilnya, kamu yang biasa hidup dengan pola yang kamu suka, mendadak harus menyelaraskan langkah dengan manusia baru yang belum tentu akan selalu seirama. Bukan tak percaya akan adanya manusia yang rela menemani kita dan menurunkan egonya, hanya saja bepikir menikah adalah solusi dari berbagai macam beban tidaklah benar.

Belum Ingin Menikah Sekarang Bukan Berarti Selamanya Ingin Melajang, Aku Hanya Menunggu Dia yang Mau Menggenapkanku

Barangkali bukan aku yang jengah, sebab melakoni semua hal sendiri masih jadi sesuatu yang aku nikmati. Anehnya mereka yang jadi penonton justru berpendapat jika kesendirian ini, akan berakhir hingga kelak kematian datang.

Sebab jika memang sudah waktunya, aku pun ingin seperti yang lainnya. Menjadikan seorang sebagai alasan pulang, hingga rela berbagi bantal saat malam. Aku pun sebenarnya sama dengan mereka yang telah menikah, hanya saja hari ini memang belum waktunya. Sebab untuk mewujudkan itu, aku tak akan sembarangan memilih.

Tidak Perlu Menempatkan Orang Lain Sebagai Patokan, Karena Menikah Bukanlah Sebuah Perlombaan

“Si anu sudah menikah, istrinya baik dan punya anak perempuan nan cantik,” atau “Kamu apa nggak ngiri sama temanmu yang udah foto dengan anaknya di instagram, buruan cari calon suami!”.

Ini adalah pilihan untuk menjadi diri sendiri, tanpa perlu beranggapan jika teman lain sudah melakukan lantas aku pun harus mengikut dibelakang. Tidak, bukan seperti itu Kawan! Ada batas dimana aku akan menjadikan orang lain sebagai panutan, tapi untuk urusan menikah nampaknya tidak akan.

Aku memang masih sendiri, meski sudah banyak undangan pernikahan yang menanti rasanya tak jadi alasan harus buru-buru cari pacar yang mau diajak melangkah ke pernikahan.

Masih merasa nyaman akan kesendirian, bukan berarti selama aku akan melajang. Tak berniat melawat kodrat, aku hanya ingin menunggu dia yang tepat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Relationship

Jadi Perempuan Harus Tahu Diri, Boleh Minta Dinikahi Asal Kamu Juga Sudah Memantaskan Diri

Dengan berbagai alasan, kadang perempuan jadi pihak yang ngotot untuk buru-buru dihalalkan. Walau sebenarnya ini tak berlaku pada semua perempuan! Sebenarnya sah-sah saja, selama kamu punya pacar yang bisa dipaksa untuk segera menikah. Kalau tak punya, jelas repot! Masa menikah sama diri sendiri?

Tak melulu tentang cinta, usia dan berbagai macam tekanan lain mungkin jadi alasannya. “Bosen ditanya kapan nikah saat lebaran tiba”,  misalnya. Baiklah, laki-laki sebagai pihak yang melamar mungkin akan segera pusing perihal biaya dan segala macam tetek bengek lainnya. Tapi bukan berarti perempuan akan bisa senyam-senyum, sambil duduk manis dan berkata “Ya, Mas aku mau nikah sama kamu”. Tentu saja tidak!

Untuk yang Masih Memperjuangkan Gelar dan Pendidikan, Ini Jelas Jadi Nilai Juang yang Berpengaruh Pada Hubungan

Bukan, ini bukan bermaksud untuk menilai sosok perempuan dari pendidikan. Tapi lebih ke bagaimana kita akan memperjuangkan sesuatu yang sedang dijalankan. Jika ternyata hingga saat ini skripsi dan tesis masih saja harus diselesaikan, cobalah untuk tidak buru-buru.

Tanpa bermaksud untuk meremehkan kemampuan seorang perempuan, namun pikiran sudah ada suami yang akan menopang kehidupan dikhawatirkan membuat semangat untuk tetap menyelesaikan pendidikan akan redup. Kita tentu tak ingin kan, jika kelak akan disebut sebagai seorang yang putus kuliah hanya ingin buru-buru berumah tangga.

Prahara ini lebih ke nilai dan harga diri,sebab kalau hal itu benar terjadi apa yang akan kita banggakan kelak kepada para buah hati?

Bergerak ke Peran Istri, Sudahkah Kamu Bisa Melakukan Banyak Hal Seorang Diri? Kalau Tidak, ya Tolong Dilatih Lagi

Ingat, hidup berumah tangga tak akan selalu manis bak kehidupan di drama Korea. Logikanya kita harus bisa menangani banyak hal seorang diri. Memasak makanan untuk suami, membersihkan rumah sembari menunggu cucian, hingga membagi diri untuk kegiatan lain yang akan kita lakoni.

Sebab meski akan selalu berada di rumah atau bekerja, yang namanya seorang istri akan tetap memiliki andil dalam segala pekerjaan rumah. Tak harus jadi seseorang yang ahli, semua itu bisa dipelajari.

Hingga Pada Presisi Emosi yang Harus Benar-benar Bisa Diatur Seimbang Pada Kedua Sisi

Konon untuk mengatur emosi, perempuan jadi pihak yang paling tak bisa menguasai diri. Ini memang bukanlah sesuatu yang salah, biar bagaimana pun setiap manusia memilikinya. Nah hal yang menjadi tugas kita adalah bagaimana bisa menahan diri untuk tak selalu emosi pada hal-hal remeh yang sebenarnya tak perlu dibesarkan.

Ya, setidaknya kita sudah harus mulai belajar. Bagaimana memahami pasangan jika tak ada kabar seharian, tak buru-buru marah jika kelak anak bermain hingga membuat rumah berantakan. Karena setelah nanti menjadi istri dan orangtua, ada berbagai jenis emosi yang tak bisa buru-buru disampaikan.

Kalau Perkara Sinyal Telepon Saja Membuatmu Bad Mood Seharian, Bagaimana Nanti Jika Anak Bertingkah Tak Sesuai Keinginan?

Prahara hidup setelah berumah tangga, tak lagi perkara berdebat untuk menentukan tempat makan di akhir pekan. Lebih dari itu, diujung sana ada sesuatu yang siap memainkan emosimu. Bahkan jauh lebih rumit dari yang mungkin pernah kita alami.

Dan ternyata kemampuan untuk mengontrol emosi akan perintilan-perintilan kecil dalam kehidupan begitu dibutuhkan. Oleh karena itu, sejak saat ini mari kita belajar, bahwa faktanya ada banyak hal yang sebenarnya tak perlu dipermasalahkan.

Materi dan Segala Persiapan Mungkin Sudah Ditangan, Tapi Mengendalikan Kehidupan Setelah Menikah Tak Semudah yang Kita Bayangkan

Baik memang, karena dari beberapa kebutuhan untuk pernikahan ada yang sudah kita cukupkan. Urusan gedung, katering dan segala perlengkapan pesta sudah siap menunggu hari H. Akan tetapi keputusan menikah bukan hanya tentang bagaimana pesta akan terselenggara. Ada kehidupan yang dijalankan setelahnya.

Sebab dalam rumah tangga, perempuan akan berperan sebagai seorang akuntan. Kita perlu paham bagaimana mengatur keuangan. Cukupkan pendapatan dengan kebutuhan, hingga mengurangi anggaran pada pos yang tidak terlalu dibutuhkan. Dan bagaimana situasi keuangan rumah tangga, kelak akan jadi bukti kemampuanmu.

Jangan Jadi Orangtua yang Apa Adanya, Sebab Anakmu Kelak Butuh Sosok yang Mumpuni

Hari ini sang anak mungkin akan meminta kita untuk mengajarinya tentang perkalian, esoknya ia bicara tentang alam dan kehidupan, hingga disusul lagi dengan pertannyaan “Mengapa kita harus makan Bu?” atau “Allah itu pernah tidur nggak Bu?”.

Tak bisa dihindari, sebab itu memang sudah jadi tugas sebagai orangtua. Dan kemampuan kita untuk menjawab semua pertanyaannya akan jadi salah satu pembuktian yang menunjukkan kemampuan. Sudah pantaskah kita menjadi orangtua?

Jika ternyata ada pemahaman dan kemampuan yang masih belum bisa digenapkan, tak ada salahnya untuk menunggu sebentar sembari belajar.

Maka Sebelum Ricuh Berteriak Ingin Dinikahi, Cobalah Tanya Pada Diri Sendiri “Sudahkah Kita Pantas Dinikahi?”

Pantas atau tidaknya memang tak bisa ditentukan oleh orang. Karena biar bagaiman pun pihak yang paling tahu dan bisa mengukur diri adalah kita sendiri. Karena menjadi seorang istri bukanlah perkara sepele.

Predikat seorang istri akan kita kenakan selamanya, disusul dengan tuntutan peran sebagai orang tua. Jika ternyata diri sendiri masih belum merasa pantas dan siap, tak perlu memaksa pasangan untuk segera dihalalkan. Daripada sibuk menyuarakan pernikahan, lebih baik belajar untuk jadi sosok yang pantas.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top