Feature

Sebab Cinta Yang Berat Sebelah, Selalu Menyisakan Lelah

Cinta ya cinta saja. Tak perlu memikirkan balasan. Kalau kamu berbuat baik karena mengharapkan orang lain baik padamu, itu tandanya bukan cinta. Itu namanya bisnis. Begitu kalimat-kalimat motivasi yang sering terpampang.

Tapi nyatanya perasaan memang tak semudah ujian sekolah yang secara tepat ada benar salahnya. Kamu mulai merasakan ada yang mengganggu dengan hubungan cintamu. Apa yang selama ini kamu berikan seolah tak pernah cukup, dan sama sekali tak mendapatkan balasan.

Apa kemudian salah jika mengharapkan mendapatkan balasan cinta meski sedikit? Apa lantas jahat kalau mempertanyakan apakah hubungan ini layak dipertahankan?

Sewaktu Kamu Selalu Ada Untuk Dihubungi Sementara Dia Kerap Menghilang Begitu Saja

Kapanpun Dia membutuhkan, kamu selalu siap. Handphonemu bisa dihubungi kapan juga dia mau. Dari pagi buta, hingga tengah malam kamu tak pernah lepas untuk mendengarkannya bercerita.

Tapi kemudian sebaliknya, ketika kamu menyapa, dia bisa tak membalasmu berjam-jam. Bahkan mudah baginya untuk tenggelam di kesibukannya, dan tidak menghubungimu berhari-hari. Dia tampak baik-baik saja, dan tidak sedikitpun merasa kehilangan.

Ketika Kamu Selalu Datang Dimana Pun Dia Meminta, Sementara Dia Selalu Punya Alasan Untuk Absen

Dia memang menjadi prioritas utamamu. Dimanapun dia mengajakmu bertemu, kamu selalu datang. Tidak ada jarak yaang terlalu jauh untuk ditempuh. Klise memang, tapi laut pun akan kamu seberangi untuknya bukan?

Lalu kemudian kamu rindu. Mengajaknya bertemu. Tapi kamu hanya akan ditemui “kalau sempat”. Sebutuh apapun kamu menemuinya, Dia harus selalu melihat jadwal. Kamu perlu masuk agendanya jauh-jauh hari untuk sekedar janji makan siang. Adakah tempatmu di kesibukannya?

Lalu Semua Bisa Batal Karenanya, Sementara Kamu Bisa Dibatalkan Karena Apa pun

Tak ada meeting yang tak bisa digeser. Tidak ada kawan lain yang lebih penting hingga pasti bisa kamu batalkan untuknya. Deadline pekerjaan hampir selalu bisa kamu atur untuknya. Bahkan me time juga tak jarang kamu habiskan untuknya.

Tapi janjinya kepadamu bisa semudah itu dibatalkan begitu saja karena ada hal lain yang datang. Bahkan tak jarang tidak disertai permintaan maaf. Bukankah tak ada orang yang terlalu sibuk? Yang ada hanyalah kamu bukan prioritasnya.

Di Saat Kamu Tak Sungkan Menyatakan Perasaaan Sementara Dia Selalu Mempertanyakan Perasaannya

 

Tak pernah ada keraguan dalam hatimu tentang perasaanmu. Kamu juga tak pernah sungkan menyatakannya kepadanya. Mengatakan bahwa kamu cinta, buatmu adalah bagian dari cinta itu sendiri.

Namun lantas, Dia justru sebaliknya. Dia tak segan untuk memberitahu bahwa dia ragu pada perasaannya. Jangan-jangan ini bukan cinta? Apa iya kita memang pantas bersama? Mau sampai kapan? Ujarnya mudah tanpa melirik perasaanmu.

Karena Tak Ada Hal Yang Prinsipil Buatmu, Semua Bisa Diubah Untuknya, Sementara Dia Berpegang Pada Hal Remeh

Kamu dan Dia sedemikian berbeda? Tak ada hal yang terlalu kaku buatmu. Semua bisa diubah untuknya. Kamu yang senang berkegiatan di ruangan, bisa menemukan keseruan beraktivitas di luar. Kamu yang tak suka pedas, mulai mencoba-coba makan pakai sambal. Ikan yang buatmu alergi, kamu santap juga sesekali. Sifat dan kebiasan burukmu yang ditunjukan olehnya siap kamu ubah demi yang lebih baik.

Tapi lalu kemudian, masukanmu selalu dianggap angin lalu jika tentangnya. “Karakterku sudah begini” demikiaan katanya. “Aku tidak akan pernah melakukan itu” ujarnya tegas menolak permintaanmu. Lagi-lagi, kamu yang harus berusaha menerima.

Hati Yang Mengerti Lama-lama Juga Bisa Letih

Cinta seharusnya membahagiakan. Kalau kamu tak bahagia, bisa jadi itu bukan cinta. Mungkin itu bentuk yang lain dari obsesimu saja. Hingga kamu memaksakan sesuatu yang seharusnya kamu lepaskan.

Cinta yang sejati seharusnya membantumu mencitai diri sendiri. Karena ibarat ceret air, kamu tak bisa menuangkan air jika ceretmu kosong. Kamu tak bisa terus menerus menuang cintamu jika tak ada yang mengisinya.

Tak perlu berkecil hati, coba relakan, mungkin kamu dan Dia lebih baik jika tak lagi sama-sama. Buka matamu, mungkin cinta lain sedang menunggumu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Suamiku Kenapa Kamu Waktu Susah Sama Aku, Tapi Saat Senang Malah Memilih yang Lain?

Babak baru dari perjalanan cinta kita nampaknya mulai bergerak menuju ambang kehancuran. Keberanianku untuk mengatakan ini tentu beralasan. Meski kamu mungkin tak sadar, tapi kurasa kau bukan lagi suami yang kukenal.

Aku paham jika biduk rumah tangga, memang akan selalu mendapat ujian. Tapi kali ini kamu memang sudah keterlaluan. Jika jauh sebelumnya kita selalu berdua untuk melewati setiap cobaan, kali ini aku harus berjuang sendiri untuk melawan. Memerangi kamu dengan dia yang kini lebih kamu pilih.

Barangkali Kamu Lupa Siapa Dia Yang Kemarin Bersamamu Saat Susah, Perempuan Ini Adalah Orangnya

Tak perlu kujelaskan bagaimana kita dulu memulai perjalanan. Kamu tentu tahu susahnya hidup dua orang yang baru menikah. Memilih hidup di rumah kontrakan kecil, agar tak bergantung pada orangtua. Tak hanya diriku saja, kamu juga tentu masih ingat bagaimana rasanya.

Hingga akhirnya kerja keras dan usaha yang kita lakukan, berbuah hasil yang baik. Hidup yang layak dengan ekonomi yang bisa dikatakan lebih dari cukup. Bukan bermaksud untuk mengungkit masa yang telah lalu, ini semua hanya sebagian kecil dari cerita kita. Bagaimana? Apa kamu tetap memilih untuk berpura-pura lupa?

Kutemani Mendaki Terjalnya Bebatuan, Namun Kini Kamu Malah Memberiku Pilihan Yang Tak Sekalipun Kuinginkan

Memang kamu jadi pihak yang lebih dominan untuk semua keberhasilanmu sekarang. Tapi kurasa kamu tahu, bahwa perempuan ini pernah jadi penyokong untuk semua keluh kesahmu. Selalu setia disampingmu meski dunia ikut menertawaimu. “Aku tahu kamu bisa, percayalah aku disampingmu” jadi kalimat pamungkas yang dulu katamu amat berharga.

Anehnya, hasil akhir dari apa yang telah kita miliki justru jadi kejutan baru. Masih lekat diingatan bagaimana kamu berjanji tuk tetap bersama. Namun seseorang yang di luar sana memang nampakanya jauh lebih menggoda.

Dengan Apa Yang Kamu Miliki Sekarang Mudah Memang Untuk Menjatuhkan Pilihan

Wajar memang jika dirinya akan dengan mudah tertarik padamu. Bagaimana pun kamu memang sosok laki-laki yang banyak dicari. Percaya diri dan punya sesuatu yang dapat dibanggakan tentu jadi daya pikat yang menarik bagi seorang perempuan. Bukan berniat untuk selalu memojokkanmu, tapi kenyataannya kamu jadi pihak yang justru berusaha untuk dilirik.

Segala pembuktian, hal yang tadinya hanya kamu perlihatkan di hadapanku, diam-diam kamu perlihatkan untuk orang lain juga. Dengan semua yang telah kau punya, tentu mudah memang menjatuhkan pilihan. Tapi bagaimana jika itu semua tak bertahan lama?

Diriku Sadar Jika Parasku Tak Seelok Dia, Tapi Setidaknya Aku Sudah Berhasil Memberimu Putri Kecil Yang Tak Kalah Cantik

Aku masih ingat, jika dulu penampilan bukanlah sesuatu yang terlalu mendapat perhatianmu. Tak heran jika aku pun tak pernah merasa butuh untuk merias diri, dengan perawatan ekstra. Namun dunia baru yang ada, memang datang dengan membawa beberapa perubahannya. Masalah-masalah kecil dalam hal penampilan, mulai masuk dalam daftar yang perlu dikeluhkan.

Meski telah berusaha untuk bisa tampil serupa, usahaku memang tak lebih unggul dari dia. Paras yang kupunya tentu tak secantik dirinya, tapi apakah itu jadi syarat mutlak untuk tetap bersama ? Cobalah ingat betapa manisnya dia yang kini kita punya.

Sebab Cintaku Tak Perlu Kamu Ragukan, Lalu Bagaimana Dengan Dia Yang Ingin Kamu Jadikan Pilihan

Di awal cerita kamu datang dengan segala kesederhanaan. Memintaku untuk melengkapi ruang-ruang kosong dalam hidup. Tanpa ragu, perempuan ini mantap menerima ajakanmu.

Bahkan jika saat ini kamu kembali datang dan bertanya, jawabanku tentu masih sama. Rasa sayang dan semua cinta yang sedari dulu ada masih tersusun rapi dengan baik meski sekarang sedang diombang-ambing oleh perubahan. Lalu bagaimana dengan dia? Sudahkah kamu pastikan bahwa dirinya juga sanggup berlaku sama?

Bohong Memang Jika Kubilang Ini Tak Menyakitkan, Lalu Haruskah Aku Memaksamu Untuk Tetap Bertahan?

Sebagai pihak yang sedang dalam dua kemungkinan, ini tentu terasa menyakitkan. Ditinggalkan atau tetap dijadikan pilihan, jadi dua hal yang saat ini selalu aku pikirkan. Tumpukan kemungkinan itu terlihat mengerikan, tapi haruskan aku tetap bertahan?

Dulu aku berpikir bahwa kamu adalah sosok pendamping yang memang diciptakan semesta untukku seorang. Akan tetapi ada sesuatu yang kini aku percaya, bahwa apa yang kuanggap benar tak selalu bisa sejalan. Ditinggal olehmu tentu saja menyakitkan, tapi apa iya aku harus terus bertahan? Sedang kamu sudah berjalan tuk meninggalkanku.

Jika Akhirnya Kamu Ingin Nikmati Bahagiamu Dengan Dia, Aku Pun Paham Bahwa Waktu Mungkin Telah Merubah Segalanya

Masih dalam keterbatasanku yang tak bisa menerka semesta. Posisiku sebagai pihak yang disakiti tentu jadi mimpi yang tak pernah kuingini. Memintamu untuk tetap bertahan memang nampaknya tak bisa kulakukan. Tapi bukan berarti aku lantas berhenti untuk mengupayakannya. 

Bahkan hingga kini aku masih mencintaimu dengan rasa yang sama saat dulu pertama. Tapi jika akhirnya kamu ingin nikmati bahagia dengan dia, aku sungguh tak apa.

Kini aku bisa melepasmu, bukan karena rasa yang sudah tiada. Aku hanya sadar bahwa kamu bukan lagi laki-laki sederhana yang kemarin mengajakku hidup bersama. Karena nampaknya waktu dan segala yang kamu punya telah berhasil merubah segalanya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Rasanya Jadi Perempuan Yang Katanya Terlalu Kuat Untuk Ditemani

Sifat manja yang dimiliki perempuan, katanya sering menarik perhatian. Lalu bagaimana dengan mereka yang mandiri dan sulit untuk ditaklukkan? Mungkin benar sikapnya justru jadi sebuah kekhawatiran bagi sebagian laki-laki. Pasalnya menurut hasil dari beberapa penelitian yang dilakukan para ahli. Sebagian besar laki-laki sering merasa minder jika berhadapan dengan dia yang katanya terlalu kuat untuk ditemani.

Mari lupakan dulu pandangan dari mereka yang katanya kurang percaya diri. Cobalah untuk mendengar kata hati dari mereka yang katanya terlalu kuat untuk ditemani itu.

Bukan Tak Ingin Meminta Tolong, Katanya Mereka Hanya Tak Ingin Menyusahkan Orang

Mungkin kalimat “Nggak apa-apa, bisa kok” memang sering keluar dari mulut mereka. Bukan berniat terlalu mengagungkan diri dan tak butuh orang lain. Hanya saja, segala sesuatu memang selalu diupayakan sendiri. Mulai dari hal sepele seperti mengangkat galon air, hingga kendaraan rusak yang perlu diperbaiki ke bengkel.

Di dalam kepala mereka, tak bisa merasa nyaman jika harus merepotkan orang lain. Apalagi untuk hal-hal kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan seorang diri. Namun masalahnya, beberapa laki-laki sering salah dalam mengartikan sikap ini.

Sering Jadi Pusat Perhatian Hingga Dianggap Mampu Melakukan Segala Hal

Memang sih apa yang selalu mereka lakukan selalu menjadi pusat perhatian. Padahal mereka hanya sedang ingin melakukan yang terbaik. Tanpa berpikir untuk menjadi yang lebih dominan. Perempuan tipikal ini, selalu tahu apa yang harus dilakukannya bukan berarti mampu melakukan segala hal.

Tapi ketika semangatnya sedang berapi-api, ia memang akan selalu memampukan diri melakukan semuanya. Meski pada kenyataanya tentu ada beberapa hal yang tak mampu ia penuhi dengan seorang diri.

Keberaniannya Mengambil Resiko Memang Benar, Tapi Bukan Berarti Ia Tak Punya Rasa Takut Kan?

Kemampuannya dalam segala hal sering membuat orang lain menilai dirinya sebagai pribadi yang terlalu ambisius. Tak heran jika mereka terbilang jarang untuk mempermasalahkan sebab akibat yang diperoleh dari setiap keputusan. Mereka percaya bahwa keberanian akan jadi sebuah pembelajaran, meski kadang hasilnya tak seperti yang diinginkan.

Satu hal yang orang lain tak tahu, bagaimana mereka mengumpulkan keberanian. Sikap tak lagi takut hanyalah sebuah gambaran penenang agar selalu percaya pada keputusan diri sendiri.

Padahal Rasa Was-was Dari Para Lelaki Itu Hanyalah Asumsi Mereka Saja

Jika boleh jujur, mereka memang memiliki  kecenderungan yang sulit membuka hati untuk laki-laki. Tapi bukan berarti mereka tak ingin mencintai atau dicintai, ini hanyalah masalah penyesuaian diri. Dimata mereka tak mudah untuk menemukan laki-laki yang punya langkah seiring. Namun jika memang sudah dipertemukan, dia tak segan untuk mencintai sedalam-dalamnya.

Masalahnya laki-laki justru menilai hal ini sebagai batu penghalang bagi mereka. Padahal itu semua hanyalah asumsi yang dirangkum sendiri. Sesuatu yang sebenarnya ada di benak para perempuan kuat itu, tidaklah selalu demikian.

Bahkan Ditengah Kegilaan Untuk Bekerja, Mereka Juga Butuh Waktu Untuk Sekedar Meliburkan Diri Dari Segalanya

Jangan pikir kalau mereka tak punya lelah. Meski kata orang mereka tak pernah lelah karena selalu giat bekerja, sungguh itu tak sepenuhnya benar. Wajah milik mereka memang selalu terlihat sumringah untuk segala hal yang dilakukannya. Tapi bukan berarti mereka tak butuh istirahat untuk sekedar merehatkan pikirannya.

Orang lain memang boleh saja melihat mereka terlalu gila dengan segala obsesinya. Padahal dibalik itu semua mereka juga kadang butuh seseorang yang bisa menawarkan liburan. Meski sekedar sejenak menikmati teh hangat tanpa beban pekerjaan.

Hingga Sesekali Merasa Iri Dengan Perempuan Lain Yang Bisa Bermanja-manja

Disaat beberapa perempuan lain, merasa jenuh dengan sebutan manja. Perempuan yang katanya mandiri ini justru rindu mendapat sebutan itu. Mungkin laki-laki yang mengenalnya beranggapan bahwa dia adalah sosok tangguh yang tak butuh sebutan itu. Karena toh itu hanyalah sebuah predikat bagi mereka yang katanya lemah dan selalu butuh bantuan. Bukan buat mereka yang mandiri dengan kemampuan diatas rata-rata.

Percayalah, meski hanya sesekali mereka juga ingin mendapat perlakuan seperti itu. Bukan karena mereka ingin terlihat lemah, rasanya ini adalah sesuatu yang disebut naluri. Dimana mereka ingin mendapat perlakuan yang sama sebagaimana perempuan lainnya.

Sementara Itu Ada Waktu Dimana Ia Butuh Sandaran, Namun Tak Ada Yang Mau Meski Hanya Sekedar Percaya

Aneh memang, ada orang yang matian-matian untuk terlihat kuat tapi tak mampu. Lalu datanglah dia yang tak selalu berharap dinilai kuat tapi tak seorang pun mau percaya bahwa dia lemah.

Bahkan jika ada waktu untuk mereka mengutarakan keinginan tersebut, sesuatu yang didapat justru pernyataan yang menunjukkan rasa tak percaya.
“Masa iya kamu nggak bisa, hal besar lain aja tunduk ditanganmu. Masa begitu nyerah!”

Padahal bukan masalah menyerah atau tak mampunya, hal itu dilakukan hanya untuk menghilangan konotasi kuat yang selalu dianggap momok. Buat mereka yang berniat berteman atau mendekat menjadi bagian dari hati.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kenapa Sih Laki-laki Harus Deg-degan Ketika Gaji Istri Lebih Tinggi?

Persoalan gaji ketika berumah tangga seringkali masih jadi hal yang sensitif antara suami dan istri. Apalagi berdasarkan penelitian M Ena Inesi dan Adam D Galinsky dari London Business School dan Kellog Graduate School of Business, kesuksesan karier dalam sisi pendapatan ternyata sangat berpengaruh terhadap sikap seseorang di dalam rumah tangga.

Penelitian tersebut menjelaskan bahwa pihak yang berpenghasilan lebih tinggi dalam dalam sebuah keluarga cenderung merasa memiliki kekuatan atau kuasa. Lantas, bagaimana jika situasinya  pendapatan istri lebih tinggi dibanding suami?

Sejatinya, belakangan ini fenomena dimana istri punya pendapatan lebih tinggi dari suami itu bukan lagi sesuatu yang langka.  Itulah mungkin yang menjadi penyebab munculnya tipe-tipe suami yang jadi khawatir sendiri karena kariernya merasa tersaingi oleh sang istri. Memangnya salah kalau gaji istri lebih tinggi?

Hingga Hari Ini, Persoalan Gaji Istri Lebih Tinggi Katanya Masih Membuat Suami Deg-degan dan Merasa Terancam

Salah sih nggak ya, cuma mungkin hal ini belum lazim saja. Karena pada dasarnya, seorang pria memang akan merasa terancam dan tidak nyaman jika sang istri memiliki jabatan dan gaji yang lebih tinggi darinya. Terutama jika dalam rumah tangga tersebut masih memegang teguh nilai maskulinitas tradisional. Kecuali jika keduanya sepakat untuk fair mengenai karier dan pendapatan, biasanya situasi semacam ini bisa diatasi.

Meski sudah banyak literasi yang memberikan tips-tips mengatasi situasi semacam ini, pada praktiknya memang akan sulit. Bahkan berada disituasi semacam ini jelas mengorbankan emosi dan perasaan hingga menurunkan tingkat kekompakan pasutri. Tapi semuanya harus diatasi demi rumah tangga yang lebih baik.

Mengatasi Perasaan Intimidasi Adalah Salah Satu ‘Trik’ yang Perlu Dilakukan Oleh Pihak Suami Agar Tak Memicu KDRT

Apalagi perasaan yang merasa terancam di dalam diri suami kalau tidak segera diatasi akan jadi bom waktu baginya. Mengapa? Psikolog Anna Surti Ariani mengungkapkan, kalau suami merasa direndahkan, bisa saja dia balik merendahkan istrinya. Misalnya dengan tidak memberikan uang belanja ke istri dengan alasan istrinya sudah punya penghasilan yang jauh lebih tinggi.

Lebih parahnya, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) nyatanya bisa diawali dari kesenjangan penghasilan. Ingat, KDRT pun tak hanya lewat fisik, tanpa disadari tutur kata yang menyinggung pasangan bisa jadi KDRT bentuk verbal.

Di Pihak Istri, Lantas Harus Bagaimana Menyikapi Situasi Ini? Haruskah Melepas Pekerjaan Padahal Itu Pekerjaan Impian?

Pada situasi semacam ini, istri berperan sebagai inisiator supaya konflik tidak semakin meluas tentunya. Komunikasi perihal apa pun itu penting sekali. Termasuk berkomunikasi mengenai hal-hal yang mungkin mengganggu pasangan jika penghasilan istri lebih tinggi. Sebaiknya katakan itu secara spesifik dan mendetail.

Dengan rutin berkomunikasi perihal apa pun sejatinya akan menurunkan tensi kekhawatiran dan melatih kekompakan pasutri. Bukan tak mungkin suami akan tetap mengizinkan istrinya untuk berkarier. Istri yang sebelumnya belum bisa memahami isi hati suaminya sepenuhnya pun akan jadi lebih tahu. Mungkin kekhawatiran suami kali ini bukan hanya soal merasa tersaingi, tapi mungkin juga cemas jika jabatan istri lebih tinggi nanti jadi kerap pulang malam seiring meningkatnya beban pekerjaan.

Mengelola Gaji Secara Bersama Bisa Jadi Salah Satu Solusi Demi Mengusir Kesenjangan Sosial

Jika pasutri telah membahas dan menemukan visi berkeluarga, alangkah baiknya mengelola gaji bersama. Bukan apa-apa, jika value berkeluarga telah dibicarakan, maka akan lebih mudah menemukan visi berkeluarga. Termasuk dalam pengelolaan gaji.

Ya, gaji perlu dikelola untuk mencapai tujuan bersama dan memenuhi kebutuhan bersama. Kali ini kedewasaan dan pengertian antar pasutri jelas diperlukan. Apalagi pasutri adalah partner seumur hidup. Karenanya transparansi alias keterbukaan satu dengan yang lain pun mutlak diperlukan.

Dibanding Membangun Kekhawatiran yang Berlebih, Akan Lebih Baik Suami Menuntun Istri untuk Membangun Keyakinan Positif

Di lain sisi, hal yang paling penting dibangun dalam kondisi ini adalah keyakinan positif. Berpikir positif dan berkomunikasi dengan baik-baik akan menghantarkan kamu dan pasangan memupuk keyakinan yang positif.

Kamu perlu menyadari, keyakinan positif akan melahirkan pemikiran jika berapa pun gaji pasanganmu pada akhirnya punya tujuan untuk dikelola bersama sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Percayalah, keyakinan positif akan menghilangkan segala pola pikir dan kekhawatiran yang negatif yang muncul karena gaji istri lebih besar dari suami.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top