Feature

Hei Kamu, Hati-hati, Terlalu Benci Bisa Jadi Cinta, Terlalu Cinta Bisa Jadi Benci

Man with (fake) Love and Hate tattoos on his hands.

Buat kamu yang tak pernah mengalami, pastinya sulit membayangkan hal itu. Kamu mungkin menempatkan benci dan cinta seperti dua kutub yang saling bertolak belakang. Jadi rasanya tidak mungkin ketika kita sangat benci pada seseorang, kemudian bisa berbalik menjadi cinta padanya. Pun sebaliknya, ketika kita saat ini begitu menyukai dan mengagumi seseorang, kita mungkin tak bisa membayangkan bisa jadi membencinya suatu saat nanti.

Padahal kalau kita mau sedikit teliti, banyak sekali contoh di sekitar kita yang menggambarkan hal ini. Coba lihat misalnya Kemesraan Presiden RI ke 3 BJ. Habibie dengan istrinya Ainun. Banyak orang yang sampai meneteskan air mata ketika mendengar kisah-kisah keduanya yang begitu saling menyayangi hingga akhir hayat.

Bagaimana Habibie hingga saat ini, nyaris setiap hari selalu menyempatkan membawa bunga ke makam istrinya. Ia pun menolak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan kelak kalau istri yang telah mendahuluinya itu tidak dimakamkan di sana. Karena Habibie ingin tidur selamanya di sebelah Ainun.

Tapi toh tidak demikian awalnya. Habibie remaja kerap memanggil Ainun dengan sebutan “Gula Jawa” untuk “mengejek” kulitnya yang coklat gelap. Ainun kadang sering dibuat bingung dengan tingkah Habibie yang selalu memusuhinya. Dahulu membenci kini jadi cinta bukan?

Sementara sebaliknya. Tak sekali dua kali kita dipertontonkan di layar kaca, bagaimana figur publik yang semula kerap mengumbar kemesraan berbalik menjadi musuh bebuyutan ketika sudah tak lagi bersama. Menyebutkan contoh-contoh kasus ini mungkin hanya akan menghabiskan waktu.

Jadi ketika kita berpikir bahwa Cinta dan Benci adalah dua hal yang saling bertolak belakang, sesungguhnya ada garis tipis yang menggandeng keduanya.

Tak cuma asal bicara, namun penelitian membuktikan hal ini.

lovehate

Adalah Semir Zaki dari University College London yang telah menghabiskan lebih dari satu dekade untuk meneliti ekspresi cinta dan benci. Dengan menggunakan teknik pemindaian otak yang kita kenal dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI), Zaki mengamati apa yang terjadi di otak manusia saat merasakan beragam cinta serta benci.

Kepada sukarelawan yang menjadi obyek studi, Zaki menunjukkan potret orang yang dicintai atau dibenci. Lalu ia memindai otak sukarelawan untuk mengetahui bagian-bagian dari otak yang bereaksi. Dari hasil pemeriksaan tersebut Zaki menunjukkan bahwa cinta dan benci jelas memiliki perbedaan. Tapi yang mengejutkan, cinta dan benci juga punya persamaan.

Dari hasil studi yang dipublikasikan dalam 3 makalah terpisah di Neuro Report pada tahun 2000, Neuro Image pada tahun 2004 dan PLOS ONE pada tahun 2008, Zaki mengungkapkan bahwa cinta dan benci sama-sama mengaktifkan dua bagian otak yang sama, yaitu insula dan pitamen. Kesamaan inilah yang menjadi batas antara Cinta dan benci.

Bagian otak yang satu ini tak bisa membedakan mana cinta dan benci

takut

Insula biasanya aktif saat ada stimulus yang menyusahkan atau memicu kegelisahan. Stimulus tersebut bisa berupa cinta atau benci. Sayangnya, insula tidak bisa membedakan keduanya. Insula menganggap cinta dan benci sebagai stimulus yang sama. Itulah kenapa, saat rindu karena cinta, atau iri karena benci gelisahnya sama.

Perilaku seseorang yang cinta dan yang benci pun cenderung serupa lho. Suka stalking, misalnya. oops!

internet-stalking

Selain Insula, bagian lain yang punya andil yang sama saat seseorang merasa cinta atau benci adalah pitamen. Pitamen berperan merancang tindakan agresif akibat cinta ataupun benci. Perilaku seseorang yang sedang merasakan cinta dengan perilaku seseorang yang sedang merasa benci nyaris serupa, bahkan sulit membedakannya.

Misalnya, ketika kamu sedang merasa cinta atau benci, kamu jadi kepikiran terus sama si “dia”. Sedang apa, dimana dan sama siapa. Ujungnya, jadi stalking akun medsosnya buat cari tau tentang aktivitasnya. Ya kan?

Inilah kondisi dimana seseorang sedang berada di wilayah abu-abu (grey area) yang menjadi batas atau titik temu antara cinta dan benci. Persamaan tersebut menunjukkan bahwa cinta dan benci itu dekat. Semakin kuat perasaan cinta yang kamu rasakan maka semakin dekat pula kamu pada garis batas yang memisahkan cinta dan benci. Sedikit saja terpeleset, rasa cinta dapat berubah menjadi benci dalam sekejap. Begitu juga sebaliknya. Semakin benci kamu terhadap seseorang, semakin dekat pula pada kemungkinan kamu jadi jatuh cinta.

Kamu mungkin masih ingat film bollywood yang populer di tahun 1998. Dibintangi oleh aktor rupawan shahrukh Khan dan aktris jelita Kajol, Kuch Kuch Hota Hai mengisahkan tentang persahabatan yang tidak biasa antara Rahul dan Anjali karena sering diwarnai dengan pertengkaran dan saling ejek. Tak ada hari yang dilewati tanpa berselisih di antara keduanya.

Hingga sampai pada satu hari, Rani hadir di tengah-tengah mereka. Bagi Rahul dan Anjali, persaingan dan kehilangan telah merangsang insula dan memaksa pitamen bertindak. Garis batas itupun terlewati. Tanpa disadari mereka sebenarnya telah jatuh hati.

Faktanya, yang serba terlalu memang cenderung tidak baik. Kuncinya? Seimbang. Kita harus bisa mengontrol cinta dan benci.hands-1283076_640

Pakar neurosains Indonesia, Taruna Ikrar, mengatakan bahwa manusia selalu memiliki dua sisi. Ada harapan, ada kecemasan. Ada keberanian, ada ketakutan. Ada cinta, ada pula benci. Kedua sisi harus seimbang. “Tubuh dan otak kita punya mekanisme kompensasi yang senantiasa memposisikan manusia dalam kondisi seimbang, berupa rasionalitas. Kalau mekanisme ini tidak seimbang, outputnya adalah penyakit berbahaya” katanya.

Cinta yang berlebihan membuat manusia menjadi tidak rasional, kurang perhitungan. Cinta yang seperti itu tidak memberdayakan tetapi malah merugikan. Begitu pula dengan benci. Akibat peningkatan serotonin dan kyuronic dalam jumlah besar, kebencian akan membuat kita menjadi depresi, selalu cemas, dan muncul pembelaan ego yang menyebabkan rasa kebencian semakin meningkat. Dalam keadaan seperti ini level dopamin dan endorfin yang berefek melegakan dan membahagiakan jadi menurun.

Tampaknya petuah nenek moyang memang bukan sembarang petuah. Supaya hubungan tetap langgeng, kalau cinta jangan terlalu cinta, Kalau benci jangan terlalu benci. Supaya nggak terjebak di area abu-abu antara cinta dan benci, kita harus bisa mengontrol cinta dan benci.

Mari kita coba analisa sejenak perasaan yang kita rasakan. Kenali perbedaan diantara keduanya dengan melibatkan rasionalitas. Berikut perbedaan mendasar antara Cinta dan Benci:

  • Meski sama-sama bikin jantung berpacu kencang, cinta merupakan emosi yang positif (positive emotion) sedangan benci adalah emosi negatif (negative emotion)
  • Cinta bisa menerima hal-hal dengan pikiran terbuka (open-mindedness). Benci hanya mementingkan pendapatnya sendiri (myside bias)
  • Cinta memiliki hubungan sosial yang baik (social connection). Benci sebaliknya, menjadikan seseorang cenderung mengasingkan diri (alienation
  • Cinta menumbuhkan toleransi (tolerance) sementara benci menumbuhkan prasangka (prejudice)
  • Cinta membangun kepercayaan (trust), benci menyebar ketakutan (fear)
  • Cinta penuh pengertian (understanding), sementara benci cenderung tidak peduli (ignorance)
  • Cinta memberi penghargaan dan pemaknaan terhadap perkembangan diri (self-esteem, self compassion).
  • Benci cenderung merasa nggak nyaman dengan diri sendiri (personal insecurities)
  • Cinta mampu memaafkan (forgiveness). Benci mendorong keinginan untuk balas dendam (vindictiveness).

Tak mudah memang mencoba menyeimbangkan antara cinta dan benci. Sebagian dari kita mungkin masih terjebak diantaranya. Michael Kiwanuka bahkan mempertanyakan tentang cinta dan benci dalam lagunya berjudul Love and Hate.

Love and hate
How much more are we supposed to tolerate
Can’t you see there’s more to me than my mistakes
Sometimes I get this feeling – makes me hesitate

Jadi, Kamu Cinta atau Benci?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top