Feature

Hei Kamu, Hati-hati, Terlalu Benci Bisa Jadi Cinta, Terlalu Cinta Bisa Jadi Benci

Man with (fake) Love and Hate tattoos on his hands.

Buat kamu yang tak pernah mengalami, pastinya sulit membayangkan hal itu. Kamu mungkin menempatkan benci dan cinta seperti dua kutub yang saling bertolak belakang. Jadi rasanya tidak mungkin ketika kita sangat benci pada seseorang, kemudian bisa berbalik menjadi cinta padanya. Pun sebaliknya, ketika kita saat ini begitu menyukai dan mengagumi seseorang, kita mungkin tak bisa membayangkan bisa jadi membencinya suatu saat nanti.

Padahal kalau kita mau sedikit teliti, banyak sekali contoh di sekitar kita yang menggambarkan hal ini. Coba lihat misalnya Kemesraan Presiden RI ke 3 BJ. Habibie dengan istrinya Ainun. Banyak orang yang sampai meneteskan air mata ketika mendengar kisah-kisah keduanya yang begitu saling menyayangi hingga akhir hayat.

Bagaimana Habibie hingga saat ini, nyaris setiap hari selalu menyempatkan membawa bunga ke makam istrinya. Ia pun menolak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan kelak kalau istri yang telah mendahuluinya itu tidak dimakamkan di sana. Karena Habibie ingin tidur selamanya di sebelah Ainun.

Tapi toh tidak demikian awalnya. Habibie remaja kerap memanggil Ainun dengan sebutan “Gula Jawa” untuk “mengejek” kulitnya yang coklat gelap. Ainun kadang sering dibuat bingung dengan tingkah Habibie yang selalu memusuhinya. Dahulu membenci kini jadi cinta bukan?

Sementara sebaliknya. Tak sekali dua kali kita dipertontonkan di layar kaca, bagaimana figur publik yang semula kerap mengumbar kemesraan berbalik menjadi musuh bebuyutan ketika sudah tak lagi bersama. Menyebutkan contoh-contoh kasus ini mungkin hanya akan menghabiskan waktu.

Jadi ketika kita berpikir bahwa Cinta dan Benci adalah dua hal yang saling bertolak belakang, sesungguhnya ada garis tipis yang menggandeng keduanya.

Tak cuma asal bicara, namun penelitian membuktikan hal ini.

lovehate

Adalah Semir Zaki dari University College London yang telah menghabiskan lebih dari satu dekade untuk meneliti ekspresi cinta dan benci. Dengan menggunakan teknik pemindaian otak yang kita kenal dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI), Zaki mengamati apa yang terjadi di otak manusia saat merasakan beragam cinta serta benci.

Kepada sukarelawan yang menjadi obyek studi, Zaki menunjukkan potret orang yang dicintai atau dibenci. Lalu ia memindai otak sukarelawan untuk mengetahui bagian-bagian dari otak yang bereaksi. Dari hasil pemeriksaan tersebut Zaki menunjukkan bahwa cinta dan benci jelas memiliki perbedaan. Tapi yang mengejutkan, cinta dan benci juga punya persamaan.

Dari hasil studi yang dipublikasikan dalam 3 makalah terpisah di Neuro Report pada tahun 2000, Neuro Image pada tahun 2004 dan PLOS ONE pada tahun 2008, Zaki mengungkapkan bahwa cinta dan benci sama-sama mengaktifkan dua bagian otak yang sama, yaitu insula dan pitamen. Kesamaan inilah yang menjadi batas antara Cinta dan benci.

Bagian otak yang satu ini tak bisa membedakan mana cinta dan benci

takut

Insula biasanya aktif saat ada stimulus yang menyusahkan atau memicu kegelisahan. Stimulus tersebut bisa berupa cinta atau benci. Sayangnya, insula tidak bisa membedakan keduanya. Insula menganggap cinta dan benci sebagai stimulus yang sama. Itulah kenapa, saat rindu karena cinta, atau iri karena benci gelisahnya sama.

Perilaku seseorang yang cinta dan yang benci pun cenderung serupa lho. Suka stalking, misalnya. oops!

internet-stalking

Selain Insula, bagian lain yang punya andil yang sama saat seseorang merasa cinta atau benci adalah pitamen. Pitamen berperan merancang tindakan agresif akibat cinta ataupun benci. Perilaku seseorang yang sedang merasakan cinta dengan perilaku seseorang yang sedang merasa benci nyaris serupa, bahkan sulit membedakannya.

Misalnya, ketika kamu sedang merasa cinta atau benci, kamu jadi kepikiran terus sama si “dia”. Sedang apa, dimana dan sama siapa. Ujungnya, jadi stalking akun medsosnya buat cari tau tentang aktivitasnya. Ya kan?

Inilah kondisi dimana seseorang sedang berada di wilayah abu-abu (grey area) yang menjadi batas atau titik temu antara cinta dan benci. Persamaan tersebut menunjukkan bahwa cinta dan benci itu dekat. Semakin kuat perasaan cinta yang kamu rasakan maka semakin dekat pula kamu pada garis batas yang memisahkan cinta dan benci. Sedikit saja terpeleset, rasa cinta dapat berubah menjadi benci dalam sekejap. Begitu juga sebaliknya. Semakin benci kamu terhadap seseorang, semakin dekat pula pada kemungkinan kamu jadi jatuh cinta.

Kamu mungkin masih ingat film bollywood yang populer di tahun 1998. Dibintangi oleh aktor rupawan shahrukh Khan dan aktris jelita Kajol, Kuch Kuch Hota Hai mengisahkan tentang persahabatan yang tidak biasa antara Rahul dan Anjali karena sering diwarnai dengan pertengkaran dan saling ejek. Tak ada hari yang dilewati tanpa berselisih di antara keduanya.

Hingga sampai pada satu hari, Rani hadir di tengah-tengah mereka. Bagi Rahul dan Anjali, persaingan dan kehilangan telah merangsang insula dan memaksa pitamen bertindak. Garis batas itupun terlewati. Tanpa disadari mereka sebenarnya telah jatuh hati.

Faktanya, yang serba terlalu memang cenderung tidak baik. Kuncinya? Seimbang. Kita harus bisa mengontrol cinta dan benci.hands-1283076_640

Pakar neurosains Indonesia, Taruna Ikrar, mengatakan bahwa manusia selalu memiliki dua sisi. Ada harapan, ada kecemasan. Ada keberanian, ada ketakutan. Ada cinta, ada pula benci. Kedua sisi harus seimbang. “Tubuh dan otak kita punya mekanisme kompensasi yang senantiasa memposisikan manusia dalam kondisi seimbang, berupa rasionalitas. Kalau mekanisme ini tidak seimbang, outputnya adalah penyakit berbahaya” katanya.

Cinta yang berlebihan membuat manusia menjadi tidak rasional, kurang perhitungan. Cinta yang seperti itu tidak memberdayakan tetapi malah merugikan. Begitu pula dengan benci. Akibat peningkatan serotonin dan kyuronic dalam jumlah besar, kebencian akan membuat kita menjadi depresi, selalu cemas, dan muncul pembelaan ego yang menyebabkan rasa kebencian semakin meningkat. Dalam keadaan seperti ini level dopamin dan endorfin yang berefek melegakan dan membahagiakan jadi menurun.

Tampaknya petuah nenek moyang memang bukan sembarang petuah. Supaya hubungan tetap langgeng, kalau cinta jangan terlalu cinta, Kalau benci jangan terlalu benci. Supaya nggak terjebak di area abu-abu antara cinta dan benci, kita harus bisa mengontrol cinta dan benci.

Mari kita coba analisa sejenak perasaan yang kita rasakan. Kenali perbedaan diantara keduanya dengan melibatkan rasionalitas. Berikut perbedaan mendasar antara Cinta dan Benci:

  • Meski sama-sama bikin jantung berpacu kencang, cinta merupakan emosi yang positif (positive emotion) sedangan benci adalah emosi negatif (negative emotion)
  • Cinta bisa menerima hal-hal dengan pikiran terbuka (open-mindedness). Benci hanya mementingkan pendapatnya sendiri (myside bias)
  • Cinta memiliki hubungan sosial yang baik (social connection). Benci sebaliknya, menjadikan seseorang cenderung mengasingkan diri (alienation
  • Cinta menumbuhkan toleransi (tolerance) sementara benci menumbuhkan prasangka (prejudice)
  • Cinta membangun kepercayaan (trust), benci menyebar ketakutan (fear)
  • Cinta penuh pengertian (understanding), sementara benci cenderung tidak peduli (ignorance)
  • Cinta memberi penghargaan dan pemaknaan terhadap perkembangan diri (self-esteem, self compassion).
  • Benci cenderung merasa nggak nyaman dengan diri sendiri (personal insecurities)
  • Cinta mampu memaafkan (forgiveness). Benci mendorong keinginan untuk balas dendam (vindictiveness).

Tak mudah memang mencoba menyeimbangkan antara cinta dan benci. Sebagian dari kita mungkin masih terjebak diantaranya. Michael Kiwanuka bahkan mempertanyakan tentang cinta dan benci dalam lagunya berjudul Love and Hate.

Love and hate
How much more are we supposed to tolerate
Can’t you see there’s more to me than my mistakes
Sometimes I get this feeling – makes me hesitate

Jadi, Kamu Cinta atau Benci?

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Agar Tak Termakan Stresnya Jalanan Ibu Kota

INRIX, sebuah lembaga penganalisis data kemacetan lalu lintas yang berbasis di Washington, AS belum lama ini merilis peringkat kemacetan kota-kota di dunia. Terdapat sekurangnya 1.064 kota di seluruh dunia yang diteliti INRIX berkaitan dengan tingkat kemacetan ini.

Parahnya, dari ribuan kota di seluruh dunia itu, Jakarta sudah menempati peringkat 22 dunia sebagai kota dengan tingkat kemacetan terburuk. Menurut penelitian ini, para pengendara mobil di Jakarta menghabiskan waktu total 55 jam terjebak kemacetan selama satu tahun.

Cuma Jakarta? Jangan senang dulu, karena beberapa kota lain di Indonesia juga masuk ke dalam daftar kota termacet di dunia ini. Di bawah Jakarta ditempati Bandung (42,7 jam), Malang (39,3 jam), Yogyakarta (39,2 jam), dan Medan (36,7 jam).

Masalahnya urusan macet ini bukan cuma perkara kehabisan waktu di jalan. Namun juga merembet perkara lainnya. Menurut studi yang dipimpin oleh Profesor Psikologi dan Perilaku Sosial, Susan Charles, kekesalan yang dihadapi setiap hari akibat terjebak macet dapat menumpuk terus-menerus dan menyebabkan masalah kejiwaan di kemudian hari.

Nah, tak mau kejiwaan terganggu cuma karena urusan macet bukan? Setidaknya ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi stres di jalan ini.

Lebih Baik Menunggu Sebentar Daripada Harus Bertarung Di Jalan

Sesungguhnya macet juga tidak terjadi setiap waktu. Ada jam-jam tertentu dimana tingkat volume kendaraan mencapai puncaknya. Terkadang memang kita ingin segera sampai tujuan, namun memaksakan menerjang kemacetan di jam sibuk tentunya akan membuat kita lebih stres.

Pilihlah jam yang sedikit lebih bersahabat. Ketika pulang kantor misalnya, kamu bisa memundurkan sedikit waktu pulang agar terhindar dari puncak kemacetan ini. Meski sedikit lebih malam namun waktu tempuh biasanya lebih singkat dan kamu sedikit terbebas dari tekanan kemacetan.

Coba Ajak Teman Agar Tak Suntuk Sendirian

Kesendirian di dalam perjalanan bisa menimbulkan pikiran-pikiran yang negatif. Untuk itu, Kamu bisa mencari teman ngobrol selama perjalanan. Walaupun sedang macet, kehadiran teman ngobrol dapat membuat mood jadi lebih baik.

Lagi pula dengan perasaan senang biasanya waktu akan berlalu dengan cepat tanpa disadari. Jadi cobalah mengajak pulang teman yang pandai mencairkan suasana agar terhindar dari situasi stres.
Putar Lagu Agar Hati Tak Ragu

Penelitian yang dilakukan di University of Gothenburg menemukan bahwa dengan mendengarkan musik yang disukai setiap hari bisa menurunkan tingkat stres. Jika kamu sedang berkendara sendirian, cobalah memutar lagu kesukaan dan bernyanyilah.

Masalahnya lagu-lagu favorit biasanya ada di smartphone bukan? Nah, cobalah menghubungkan smartphone kamu dengan headunit yang ada di mobil. Seperti yang ada pada layar sentuh berukuran 7 inci milik mobil Renault KWID yang bisa mengatur sistem hiburan di dalam kabin mobil. Sistem pada Renault KWID ini bisa terintegrasi dengan ponsel menggunakan Bluetooth maupun melalui USB dan AUX.

Gunakan Aplikasi GPS, Agar Tak Melas Di jalan

Dengan kecanggihan teknologi kamu bisa menghindari titik kemacetan dengan menggunakan aplikasi map dan GPS. Sebelum berangkat kamu bisa memeriksa laporan lalulintas pada aplikasi tertentu untuk bisa memilih jalan. Dan ketika sudah dalam perjalanan tetap aktifkan aplikasi ini agar mudah jika ingin mencari jalur alternatif.

Tapi tentunya merepotkan jika harus bolak-balik memeriksa smartphone kamu ketika sambil menyetir. Seolah menjawab tantangan ini, Renault KWID juga membuat headunit layar sentuhnya bisa terintegrasi dengan smartphone termasuk membuka aplikasi peta. Perangkat tersebut juga bisa terintegrasi navigasi satelit dengan tampilan 2D/3D. Jadi tidak perlu menambahkan perangkat navigasi tambahan karena sudah tersedia dari pabrikan.

Pilih Kendaraan Yang Nyaman Dan Sesuai Dengan Perkotaan

Salah satu sumber stres di jalan adalah tidak sesuainya kendaraan yang digunakan dengan kondisi jalanan perkotaan. Apalagi jika kendaraan yang digunakan tidak bisa membuatmu merasa nyaman. Tentunya stres di jalan akan semakin meningkat.

Renault KWID bisa kamu pertimbangkan sebagai kendaraan yang menemanimu membelah macetnya perkotaan. Renault KWID memiliki dimensi panjang 3.679 mm, lebar 1.750 mm, dan tinggi 1.472 mm dengan jarak sumbu roda (wheelbase) mencapai 2.422 mm. Jika menilik dari dimensi ini KWID memang masuk di kategori City Car. Alias cukup ramping dan lincah dipakai di perkotaan.

Selain itu nilai plusnya KWID punya desain unik yang membuatnya bertipe cross over dengan tampilan SUV. Ciri paling kentalnya adalah ground clearance alias jarak bodi terendah ke tanah yang mencapai tinggi 180 mm. Jadi tak perlu khawatir kalau terpaksa melalui jalan yang tidak terlalu mulus.

Sementara untuk kelincahan Renault KWID ditopang mesin 1.000 cc tiga silinder dengan dua katup yang punya tenaga maksimal sebesar 68 PS torsi sebesar 91 Nm. Tentunya ini bisa membuat KWID lincah meliuk di perkotaan mengingat berat kosongnya yang hanya 670 kg.

Di sisi kenyamanannya, mobil seharga 119 jutaan ini lebih unggul dibandingkan kompetitor sekelasnya. Penggunaan suspensi depan MacPherson Strut dan suspensi belakang Twistbeam dengan coil spring turut mendukung kenyamanan ala Eropa.

Sementara untuk handling, Renault Kwid ringan untuk dibelokkan karena penggunaan electric power steering. Namun layaknya mobil Eropa lain setirnya terasa mantap dan tidak terlalu ringan sehingga masih enak untuk dikendalikan di dalam kota atau jalur tol bebas hambatan.
Jadi kendali ada di tanganmu, jangan sampai kamu termakan stresnya macet ibu kota ya!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Trending

Ketika Kamu Teriak Benci Korupsi, Padahal Tanpa Sadar Kamu Juga Korupsi

Ketika melihat judul artikelnya, kamu mungkin sedang membayangkan seorang laki-laki paruh baya yang katanya kemarin kepalanya benjol bak bakpao. Ini bukan tentang satu dua orang yang memang sudah tertangkap basah, tapi tentang kita semua yang mungkin adalah manusia yang harusnya diberi sebutan sama sebagai Koruptor.

Tanpa bermaksud berpikiran buruk pada mereka yang selalu berada gardu terdepan pemberantasan korupsi, percaya atau tidak, nampaknya kita masih terlalu fokus pada korupsi dalam hal materiil. Dan lupa jika sebenarnya, disaat yang sama ada banyak aspek lain yang juga telah kita korupsi tanpa sadar.

Bukan hanya kamu yang sedang merasa tersinggung sehabis membacanya, hal yang sama barangkali juga sedang saya lakukan sekarang. Ya, mengorupsi waktu orang untuk membaca tulisan ini. 

Saat Kita Kecil Dulu, Uang Kembalian Sehabis Membeli Keperluan Ibu, Sering Masuk Ke Saku Celana

Bohong jika kamu akan bilang tak pernah melakukannya. Entah itu atas persetujuan orangtua, atau inisiatif dari sendiri saja. Sekilas memang terlihat remeh, tapi lambat-laun akan membuat kita terbiasa memasukkan uang sisa ke dalam saku sendiri. Sekalipun orang tersebut mungkin bukanlah orangtua atau keluarga.

Alih-alih berpikir akan mendapat sikap sama seperti yang dilakukan orangtua, bisa jadi orang tersebut akan mencap kita sebagai seorang yang tak jujur. Padahal bisa jadi nominal yang kita ambil mungkin tak seberapa, tapi percaya atau tidak itu adalah bentuk sederhana dari korupsi yang kita bilang harus dihilangkan.

Memasuki Dunia Sekolah, Mencontek Jadi Kegiatan yang Sering Dilakukan Walau Tahu Itu Salah

Konon sistem pendidikan dijadikan tameng untuk kesalahan fatal ini. Beberapa tenaga pendidik nampaknya masih terfokus pada hasil tanpa mau menelisik proses dan upayanya. Jadi jangan heran, jika teman yang terkenal badung namun lihai dalam hal mencontek akan lebih dikenal daripada dia yang bernilai pas-pasan tapi benar-benar jujur.

Sikap ini memang masih jadi skandal kecil dari banyaknya tindakan korupsi yang sering kita temui. Akan tetapi ini jadi bukti nyata, betapa malasnya seseorang yang tak ingin belajar. Lalu menggunakan trik licik demi mendapatkan nilai maksimal. Bahkan kadang melebihi dia yang memang sungguh-sungguh belajar.

Pelan-pelan Mulai Berani Merekayasa Kuintansi Pada Beberapa Kegiatan yang Mungkin Kita Tangani

Terjadi di beberapa organisasi, baik di sekolah, kampus, tempat kerja hingga keorganisasian lainnya. Suatu kali kamu mungkin akan mengemban tugas yang berhubungan dengan uang. Bak sambil menyelam minum air, kamu malah menjadikan ajang tersebut untuk meraup keuntungan.

Entah itu merubah nominal angka pada setiap pembayaran, atau merekayasa beberapa pembelian keperluan yang sebenarnya tak ada menjadi ada. Bahkan tak merasa jika itu adalah sebuah perbuatan yang salah. Kadang kita akan berdalih jika hal itu sudah wajar, dengan alasan sebagai imbalan untuk rasa lelah mempersiapkan rangkaian kegiatan.

Yap, benar. Kita lupa akan janji yang mungkin telah dibuat sedari awal. Sebab jauh sebelum duduk pada posisi sekarang, kita telah tahu jika organisasi itu tak akan memberimu upah.

Memberi Uang Selipan Ketika Ditilang Petugas Kepolisian

Untuk kita yang kebetulan kerap malang melintang di jalan. Adakalanya nasib buruk datang mendekat. Kamu mungkin berjalan pada jalur yang salah atau tidak menyalakan lampu utama pada saat sedang berkendara. Hingga pelanggaran lain yang memang tak seharusnya.

Tak mau dibuat susah, merasa bahwa semua hal bisa diselesaikan dengan rupiah. Kita kemudian mendekatkan diri pada polisi yang sedang bertugas, sembari menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu. Dan jika memang disambut baik, kita tentu akan bisa lepas dari jagalannya.

“Loh, kan polisinya juga mau!”

Iya benar memang, beliau ini mungkin mau menerima uang yang sudah kita sodorkan. Tapi apakah kita tahu, jika hal tersebut bukanlah sesuatu yang benar untuk dilakukan. Jika ternyata tahu, lantas mengapa masih saja diteruskan?

Hingga Pada Posisi yang Memungkinkan Kerap Dipakai Untuk Mempermudah Urusan

Untuk yang satu ini, mari kita beralih pada pejabat-pejabat bernama besar dalam negeri, atau pengusaha yang inginkan bisnisnya berjalan tanpa hambatan. Dan memang jika kamu cukup memperhatikan segala yang terjadi, kamu tentu tahu jika baru-baru ini Presiden Jokowi melaporkan piringan hitam Metallica dari Perdana Menteri Denmark, Lars Løkke Rasmussen dengan dalih sebagai kenang-kenangan.

Terlepas dari bagaimana niat yang mungkin sedang dipikirkan oleh Perdana Menteri Denmark tersebut. Pemberian semacam ini dinilai sebagai salah satu isyarat untuk mempermudah urusannya, yakni dengan memberi hadiah kepada orang lain yang kelak mungkin akan dimintai bantuan. Bahkan sebagian orang menilai, ini adalah salah satu bentuk suap yang marak terjadi di negara kita.

Tanpa Rasa Bersalah, Jadi Plagiator yang diam-diam Mencuri Karya Orang

Masih lekat diingatan, salah seorang perempuan remaja yang pertengahan tahun ini santer diberitakan. Bermodalkan tulisan-tulisannya yang menjadi viral, ia dielu-elukan banyak orang. Akan tetapi pelan-pelan beberapa fakta lain mulai terbongkar, bahwa sesungguhnya tulisan yang membesarkan namanya itu adalah milik orang lain. Bukan murni karyanya sendiri.

Tak hanya perempuan itu saja, kamu atau saya juga barangkali pernah melakukannya. Pada tugas pekerjaan atau kuliah, hingga pada hal sederhana seperti caption foto di Instagram.

Bukan sedang ingin membela nasib mereka yang kerap kita sebut sebagai koruptur. Karena sejatinya, tanpa kita sadari kadang kala kita sendiri telah korupsi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Sponsored Content

Agar Tak Termakan Stresnya Jalanan Ibu Kota

INRIX, sebuah lembaga penganalisis data kemacetan lalu lintas yang berbasis di Washington, AS belum lama ini merilis peringkat kemacetan kota-kota di dunia. Terdapat sekurangnya 1.064 kota di seluruh dunia yang diteliti INRIX berkaitan dengan tingkat kemacetan ini.

Parahnya, dari ribuan kota di seluruh dunia itu, Jakarta sudah menempati peringkat 22 dunia sebagai kota dengan tingkat kemacetan terburuk. Menurut penelitian ini, para pengendara mobil di Jakarta menghabiskan waktu total 55 jam terjebak kemacetan selama satu tahun.

Cuma Jakarta? Jangan senang dulu, karena beberapa kota lain di Indonesia juga masuk ke dalam daftar kota termacet di dunia ini. Di bawah Jakarta ditempati Bandung (42,7 jam), Malang (39,3 jam), Yogyakarta (39,2 jam), dan Medan (36,7 jam).

Masalahnya urusan macet ini bukan cuma perkara kehabisan waktu di jalan. Namun juga merembet perkara lainnya. Menurut studi yang dipimpin oleh Profesor Psikologi dan Perilaku Sosial, Susan Charles, kekesalan yang dihadapi setiap hari akibat terjebak macet dapat menumpuk terus-menerus dan menyebabkan masalah kejiwaan di kemudian hari.

Nah, tak mau kejiwaan terganggu cuma karena urusan macet bukan? Setidaknya ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi stres di jalan ini.

Lebih Baik Menunggu Sebentar Daripada Harus Bertarung Di Jalan

Sesungguhnya macet juga tidak terjadi setiap waktu. Ada jam-jam tertentu dimana tingkat volume kendaraan mencapai puncaknya. Terkadang memang kita ingin segera sampai tujuan, namun memaksakan menerjang kemacetan di jam sibuk tentunya akan membuat kita lebih stres.

Pilihlah jam yang sedikit lebih bersahabat. Ketika pulang kantor misalnya, kamu bisa memundurkan sedikit waktu pulang agar terhindar dari puncak kemacetan ini. Meski sedikit lebih malam namun waktu tempuh biasanya lebih singkat dan kamu sedikit terbebas dari tekanan kemacetan.

Coba Ajak Teman Agar Tak Suntuk Sendirian

Kesendirian di dalam perjalanan bisa menimbulkan pikiran-pikiran yang negatif. Untuk itu, Kamu bisa mencari teman ngobrol selama perjalanan. Walaupun sedang macet, kehadiran teman ngobrol dapat membuat mood jadi lebih baik.

Lagi pula dengan perasaan senang biasanya waktu akan berlalu dengan cepat tanpa disadari. Jadi cobalah mengajak pulang teman yang pandai mencairkan suasana agar terhindar dari situasi stres.
Putar Lagu Agar Hati Tak Ragu

Penelitian yang dilakukan di University of Gothenburg menemukan bahwa dengan mendengarkan musik yang disukai setiap hari bisa menurunkan tingkat stres. Jika kamu sedang berkendara sendirian, cobalah memutar lagu kesukaan dan bernyanyilah.

Masalahnya lagu-lagu favorit biasanya ada di smartphone bukan? Nah, cobalah menghubungkan smartphone kamu dengan headunit yang ada di mobil. Seperti yang ada pada layar sentuh berukuran 7 inci milik mobil Renault KWID yang bisa mengatur sistem hiburan di dalam kabin mobil. Sistem pada Renault KWID ini bisa terintegrasi dengan ponsel menggunakan Bluetooth maupun melalui USB dan AUX.

Gunakan Aplikasi GPS, Agar Tak Melas Di jalan

Dengan kecanggihan teknologi kamu bisa menghindari titik kemacetan dengan menggunakan aplikasi map dan GPS. Sebelum berangkat kamu bisa memeriksa laporan lalulintas pada aplikasi tertentu untuk bisa memilih jalan. Dan ketika sudah dalam perjalanan tetap aktifkan aplikasi ini agar mudah jika ingin mencari jalur alternatif.

Tapi tentunya merepotkan jika harus bolak-balik memeriksa smartphone kamu ketika sambil menyetir. Seolah menjawab tantangan ini, Renault KWID juga membuat headunit layar sentuhnya bisa terintegrasi dengan smartphone termasuk membuka aplikasi peta. Perangkat tersebut juga bisa terintegrasi navigasi satelit dengan tampilan 2D/3D. Jadi tidak perlu menambahkan perangkat navigasi tambahan karena sudah tersedia dari pabrikan.

Pilih Kendaraan Yang Nyaman Dan Sesuai Dengan Perkotaan

Salah satu sumber stres di jalan adalah tidak sesuainya kendaraan yang digunakan dengan kondisi jalanan perkotaan. Apalagi jika kendaraan yang digunakan tidak bisa membuatmu merasa nyaman. Tentunya stres di jalan akan semakin meningkat.

Renault KWID bisa kamu pertimbangkan sebagai kendaraan yang menemanimu membelah macetnya perkotaan. Renault KWID memiliki dimensi panjang 3.679 mm, lebar 1.750 mm, dan tinggi 1.472 mm dengan jarak sumbu roda (wheelbase) mencapai 2.422 mm. Jika menilik dari dimensi ini KWID memang masuk di kategori City Car. Alias cukup ramping dan lincah dipakai di perkotaan.

Selain itu nilai plusnya KWID punya desain unik yang membuatnya bertipe cross over dengan tampilan SUV. Ciri paling kentalnya adalah ground clearance alias jarak bodi terendah ke tanah yang mencapai tinggi 180 mm. Jadi tak perlu khawatir kalau terpaksa melalui jalan yang tidak terlalu mulus.

Sementara untuk kelincahan Renault KWID ditopang mesin 1.000 cc tiga silinder dengan dua katup yang punya tenaga maksimal sebesar 68 PS torsi sebesar 91 Nm. Tentunya ini bisa membuat KWID lincah meliuk di perkotaan mengingat berat kosongnya yang hanya 670 kg.

Di sisi kenyamanannya, mobil seharga 119 jutaan ini lebih unggul dibandingkan kompetitor sekelasnya. Penggunaan suspensi depan MacPherson Strut dan suspensi belakang Twistbeam dengan coil spring turut mendukung kenyamanan ala Eropa.

Sementara untuk handling, Renault Kwid ringan untuk dibelokkan karena penggunaan electric power steering. Namun layaknya mobil Eropa lain setirnya terasa mantap dan tidak terlalu ringan sehingga masih enak untuk dikendalikan di dalam kota atau jalur tol bebas hambatan.
Jadi kendali ada di tanganmu, jangan sampai kamu termakan stresnya macet ibu kota ya!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Trending

Yang Katanya Peduli Bumi dan Lingkungan, Nih Ada Pertanyaan!

Kapan kamu terakhir menanam pohon? Mungkin saat masih duduk di bangku SD atau bahkan TK. Tanpa bermaksud untuk melabeli diri lebih peduli pada bumi, kamu mungkin sedang merasa tersindir karena memang sudah sejak lama tak pernah menanam pohon.

Hari ini sesuai dengan keputusan presiden RI Nomor 24 Tahun 2008 yang menetapkan, jika tanggal 28 November adalah peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI). Dengan kata lain, peringatan ini bak sebuah amanat yang sebenarnya jadi pengingat bahwa bumi kita memang sudah semakin tua.

Lalu apa saja yang sudah kita lakukan untuk menanggulanginya?

Kita Lebih Gemar Menyoroti Potret Kerusakan Lingkungan, Daripada Mencari Tahu Akar Masalahnya

Terjadinya bencana banjir dan longsor, perubahan iklim yang ekstrim, luas tutupan hutan yang terus berkurang, deforestasi dan degradasi lingkungan, kebakaran hutan dan lahan, hingga konflik manusia dengan satwa, dan berbagai masalah lainnya, kerap kita artikan sebagai bukti nyata bahwa pemerintah telah gagal menjaga kelestarian alam.

Padahal jika mau ditelesik lebih dalam lagi, hal ini tak melulu jadi tanggung jawab pemerintah saja, tapi juga kita sebagai manusia. Namun seolah tak merasa bersalah, kita hanya bisa berkata, “Bukannya itu tugas pemerintah?”.

Tanpa harus bersuara untuk gempar menyuarakan protes akan beberapa kegiatan yang memang jadi tugas pemerintah. Hal lain yang tak kalah pentingnya, cobalah untuk bertanya perihal sebab akibat yang mendatangkan bencana yang terjadi. Barangkali sebagian sumber masalahnya justru datang dari kita. Kebiasaan membuang sampah sembarangan bisa jadi salah satu pencetusnya.

Padahal Ada Beberapa Gerakan Penanaman Pohon yang Memungkinkan Kita untuk Ambil Bagian

Sumber : https://www.wwf.or.id

Untuk kamu yang mungkin masih bingung, akan memulai dari mana untuk bisa turut serta. Sebenarnya ada beberapa gerakan yang bisa kita ikuti dalam hal membenahi bumi. Mulai dari Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon, Gerakan Penanaman Satu Juta Pohon, One Man One Tree (OMOT), One Billion Indonesian Trees (OBIT) atau Gerakan Penanaman Satu Milyar Pohon, hingga yang terakhir ada Gerakan Tanam dan Pelihara 25 Pohon Selama Hidup (sesuai Instruksi Menteri LHK bulan Agustus tahun 2017). Mereka yang kontra memang menuding, jika hal ini hanyalah ajang pencitraan dari pemerintah. Padahal upaya ini jadi salah satu kegiatan yang bisa menjaga kelestarian alam dan lingkungan.

Gerakan lain yang juga lahir sebagai bentuk upaya untuk menghijaukan kembali Indonesia bernama MyBabyTree dari WWF Indonesia. Sesuai dengan semboyan mereka, kamu bisa turut serta dalam menghijaukan alam Indonesia dengan adopsi pohon secara virtual lewat donasi yang kamu kirimkan.

Dan Tak Perlu Terlalu Sibuk Mengkritik Pemerintah Untuk Upaya Penanganan Bencana, Jika Kita Sendiri Tak Pernah Turut Serta Membenahinya

Isu bencana dan penanaman pohon jadi topik pembahasan yang memang menarik untuk dibicarakan. Sebagian yang pro pada upaya pemerintah dalam beberapa gerakan, tentu akan berdiri pada barisan terdepan.

Tapi fakta lain yang tak bisa kita lupakan adalah sebagian orang yang justru hanya bersuara tanpa melakukan apa-apa. Gencar meminta orang lain untuk berhenti menebang pohon, tapi dirinya sendiri masih membuang sampah sembarangan.

Percaya atau tidak, satu atau dua orang dari kita bahkan mungkin tak pernah berpikir perihal penanaman pohon dan manfaatnya. Berharap agar bumi akan tetap terjaga, hutan dan lahan terbuka hijau yang rusak akan segera ditanami kembali. Dengan syarat, pemerintahlah yang akan mengurus semuanya.

Lantas apakah sikap tersebut jadi salah satu bukti dari perbuatan yang memang harus dilakukan? Tentu saja tidak kan! Mengutarakan suara tentu bukanlah sesuatu yang salah, namun akan percuma jika tak ada upaya dan bukti nyata.

Biar Bagaimana pun, Menanam Pohon Menjadi Investasi Masa Depan yang Akan Menyelamatkan Tempat Tinggal Kita

Untuk kamu yang mungkin tak ingin diribetkan dengan hal-hal yang tergolong susah, ikut gerakan dan semacamnya. Kamu bisa memulainya untuk menanam beberapa jenis pohon dengan memanfaatkan ruang terbuka yang ada di tempat sekitar kita tinggal. Mulai dari halaman rumah, hingga pekarangan kosong yang memang bisa ditanami.

Tanaman pisang, cempedak, sukun, mimba, kemiri, nangka, jambu mete, aren, damar, hingga bambu bisa dijadikan pilihan untuk ditanam di sekitar rumah kamu. Peranan akar dan daya serap terhadap air yang dimiliki pohon-pohon tersebut jadi penolong yang akan menyelamatkan lingkungan dikala banjir dan longsor.

Hari ini mungkin kita mungkin sedang susah payah, untuk menanam dan merawatnya. Namun percayalah pepohonan tersebut akan menjadi aset masa depan yang bisa menyelamatkan kita.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

MOST SHARE

To Top