Feature

Bukannya Tidak Setia, Ukuran Jari yang Kian Membesar Bisa Jadi Alasan Pria Melepas Cincin Pernikahan

Terkhusus para istri, pasti ada yang menaruh curiga jika melihat tak ada cincin kawin yang melingkar di jari manis suami mereka. Bahkan bisa saja yang muncul malah perasaan geram hanya karena sang suami tak memberi penjelasan apa-apa dan justru terlihat cuek saja. Bagi seorang wanita, melepas cincin kawin bisa memancing perkara. Pikiran negatif pun bermunculan lantaran sang suami memilih melepas cincin begitu saja. Apa lagi cincin kawin pada dasarnya dianggap sebagai simbol komitmen pernikahan.

Tapi dibalik kekhawatiran itu, sejatinya para suami punya alasan mengapa sewaktu-waktu mereka melepas cincin pernikahan. Yang paling logis, mungkin lantaran jari-jari para suami yang kian membesar (apa lagi kalau berat badan bertambah), keberadaan cincin kawin yang diameternya stagnan akan membuat jari jadi semakin tak nyaman.

Para Wanita Tak Perlu Merasa Ketakutan, Sebab Sejatinya Pria adalah Makhluk yang Tak Suka Mengekspos Hubungan Berlebihan

Bedanya wanita dan pria memang kontras. Tak seperti wanita, pria lebih suka mengungkapkan rasa cinta lewat tindakan. Mereka menganggap cincin hanya sebuah simbol, tak lebih dari itu. Konsep ‘private person’ masih melekat pada pria. Karenanya para suami cenderung menyampaikan kesetiaan lewat bahasa tubuh dibanding menunjukkannya ke setiap orang dengan memakai cincin kawin setiap saat. Bagi pria yang suka melepas cincin kawin pada hari-hari biasa, bukan karena tak peduli dengan pernikahan,Mereka hanya tak perlu mematut diri karena telah menikah. Sebab bagi pria, pernikahan itulah bukti komitmen yang sebenar-benarnya.

Bisa Juga Merasa Tak Nyaman Karena Ukuran Jari yang Semakin Berkembang

Seperti yang telah disebutkan dalam narasi, ukuran jari pria tidak akan stagnan. Mereka berpikir, daripada (cincin) sulit untuk dilepaskan, maka lebih memilih menyimpannya di tempat yang aman. Kalau wanita mungkin berpikir “Bukannya bisa menggunakan air atau sabun jika cincin susah lepas dari tangan?” Sayangnya, pria tidak berpikir demikian. Mereka akan berpikir lebih praktis sehingga menyimpan adalah pilihan yang paling tepat.

Bahkan tak sedikit pria yang menganggap cincin kawin sebagai sesuatu yang menjengkelkan. Karena sewaktu-waktu bisa menyangkut di sweater, jaket, selimut, syal, atau bahan tekstil lainnya. Serat kain yang menempel di cincin juga bisa merusak pemandangan. Ini juga alasan pria memilih menyimpan cincin kawin mereka.

Menurut Pria, Cincin Hanyalah Sebatas Cincin

Pada awal pernikahan, sepasang pengantin mungkin menganggap cincin adalah segalanya. Bahkan mengagumi setiap ukiran atau lekukan pada cincin tersebut. Apa lagi kalau pada cincin itu tersemat berlian yang akan memancarkan kilau saat terkena cahaya. Pria pun akan berbunga-bunga dibuatnya. Tapi, semakin ke sini, dan semakin bertambahnya usia pernikahan, pemikiran pria akan kembali lagi logis. Mereka pun akan tersadar kalau cincin hanyalah sebatas cincin. Yang dibutuhkannya ialah istrinya, bukan cincinnya.

Atau Ada Juga Tipe Suami yang Menganggap Cincin Kawin Masih Sakral Nilainya, Jadi Lebih Baik Disimpan Berlama-lama 

Dilain sisi, masih ada suami yang menganggap sebuah cincin kawin memiliki nilai kesakralan yang tinggi. Mereka menganggap cincin tersebut sebagai saksi bisu ketika para suami mengikat janji sehidup semati dengan sang istri. Entah berapa pun nilainya ketika dibeli, mereka memilih berhati-hati menjaga benda yang satu ini. Apa lagi kalau memang cincin tersebut dibeli dengan harga yang mahal, dibanding terjadi apa-apa atau hilang sewaktu-waktu, mereka memilih menyimpan baik-baik cincin tersebut di rumah. Kalau cincin biasa, mungkin ketika hilang bisa saja dibeli lagi. Tapi kalau cincin kawin, bukankah seharusnya dijaga baik-baik?

Alasan yang Cukup Unik yaitu Ketika Suami Menganggap Model Cincin Itu Berbahaya

Seiring berkembangnya desain cincin kawin, sebagian wanita biasanya menginginkan model cincin kawin dengan detail yang rumit demi menunjukkan sebuah keistimewaan akan pernikahannya. Tapi biasanya hal semacam ini yang justru membuat pria enggan memakainya. Bahkan lebih jauh lagi, pria menganggap desain yang terlalu ‘tidak biasa’’ malah bisa melukai pasangan. Entah saat memeluk atau saat ingin menggandeng istri, bahkan bukan tak mungkin bisa saja melukai wajah sang istri ketika diusap. Itulah sebabnya sebagian pria memilih untuk menyimpan cincin kawin mereka.

 

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Mulai Dari 1G Hingga Kini 4G, Kamu Mengalami Era Yang Mana?

Rindu dengan si Dia yang nan jauh di sana tinggal angkat smartphone lalu lakukan video call. Semudah itu memang saat ini memecah rindu. Teknologi memang sudah sedemikian memudahkan.

Tapi toh kemudahan itu tak datang serta merta. Sekian proses teknologi dilalui hingga kita menjejak di era ini. Sebagian kamu bahkan mungkin sempat merasakan era itu. Tentunya worth it untuk menyimak perjalanan teknologi seluler dari waktu ke waktu ini

Bayangkan Hidup Di era 1G, Handphonemu Cuma Bisa Dipakai Telepon Saja

Angkatan pertama atau 1G, santer diperkenalkan sejak 1970-an. Seandainya saja ketika itu Mark Zuckerberg sudah lahir dan menciptakan jejaring facebook, jangan harap kamu bisa update status memakai jaringan ini. Sebab teknologi pada golongan ini masih bekerja dengan memanfaatkan transmisi sinyal analog, yang hanya diperuntukkan pada panggilan telepon saja.

Ukuran ponsel di masa 1G pun memang cukup tergolong besar, jika dibandingkan dengan ponsel masa kini. Misalnya Motorola seri DynaTAC yang cukup populer pada saat itu. Telepon genggam yang dibuat pada kurun 1984-1994 ini, memiliki bobot 794 gram alias lebih dari setengah kilogram.

Di Era 2G Baru Bisa Kirim SMS, Tak Ada Notif Sudah Dibaca Atau Belum

 

Lahir sebagai adik pertama dari layanan teknologi 1G, sang 2G datang untuk menggantikan sinyal analog ke ranah yang lebih maju yakni Digital. Yap, perbedaan utama antara kedua teknologi tersebut adalah pada sinyal radio yang digunakan.

Beberapa telepon genggam, yang menggunakan teknologi 2G mulai diperkenalkan pada kurun waktu tahun 1990. Tak hanya suara, ponsel pada era ini, sudah dapat berkirim dan menerima data dalam ukuran kecil.

Maksudnya data di sini adalah pengiriman pesan teks (SMS), pesan bergambar serta pesan multimedia (MMS). Kamu yan kebetulan lahir di Era ‘90-an tentu paham, bagaimana pesan bergambar yang sedang dibicarakan. Sulitnya ketika itu jika berkirim pesan tak ada tanda centang dua bahwa pesan sudah dibaca. Kita hanya bisa mengira-ngira sendiri.

Meski sudah mulai ada data transfer, tapi paket yang terkirim masih sangat kecil. Karena itu kemudian jaringan 2G ini dimodifikasi. Dikenalkanlah istilah 2.5G mengacu pada teknologi dengan sistem General Packet Radio Service (GPRS) yang bisa mencapai 50 kbps.

Tak berhenti disitu, jaringan 2G kembali dikembangkan menjadi 2,75G. Sebuah teknologi komunikasi 2G yang dikombinasikan dengan standar Enchanced Data Rates for GSM Evolution (EDGE). Secara teori, kecepatan transfer datanya melebihi 2.5G, yaitu maksimal pada 1 Mbps.

Era 3G Mulai Memungkinkan Kamu Berselfie Dan Mengunggah Ke Sosmed

Penerapan standar GPRS pada teknologi komunikasi 2G jadi jembatan yang akhinya, membuka jalan untuk akses data yang lebih cepat. Sebab setelah kelahirannya, pada tahun 1998 muncul lagi rangkaian yang juga dikenal sebagai generasi ketiga atau 3G.

Teknologi ini sekaligus jadi mobile broadband pertama, alias jaringan pita lebar. Sebuah istilah yang menggambarkan akses pengiriman data lebih cepat. Akses yang lebih cepat ini diiringi dengan melesatnya teknologi ponsel.

Pada saat inilah kita mulai mengenal akses dunia lewat smartphone, transfer data audio, grafis hingga video. Dari sini pula kita mengenal streaming video dan video call dengan sesama pengguna 3G. Di era ini pula sosial media mulai merambat naik dan foto selfie mulai bertebaran dimana-mana

Layaknya ketika 2G dahulu, teknologi 3G juga tak diam di tempat. Dikembangkan pula teknologi yang dinamakan 3.5G dan 3.75G. Teknologinya disebut dengan High Speed Packet Access (HSPA) dan HSPA+, yang memiliki kecepatan transfer data meningkat dengan batas maksimum unduh 14 Mbps, dan kecepatan unggah 5,76 Mbps.

Era 4G LTE Paling Muda Tapi Paling Revolusioner

Teknologi ini menawarkan kecepatan unduh hingga 100 Mbps dan kecepatan unggah hingga 50 Mbps. Dan kecepatan tersebut bisa lebih cepat lagi, tergantung teknologi yang digunakan oleh operator yang kamu gunakan.

Inilah masa dimana para content creator memiliki panggung. Semua bisa berkreasi dan menjadi sosok yang diinginkan dengan teknologi semacam ini. Menjangkau orang-orang lain yang lebih luas bisa dilakukan dengan mudah. Mulai dari youtuber, instagram, blogger hingga content creator di berbagai platform bermunculan.

Di Indonesia sendiri munculnya teknologi 4G mengubah banyak hal. Tak hanya dari user tapi juga penyedia layanan mengubah teknologi mereka untuk menyesuaikan dengan kecanggihan dari 4G LTE.

Smartfren jadi yang paling terdepan soal ini. Smartfren telah menyesuaikan layanannya dengan gaya hidup pintar ala 4G. Yup layanan Smartfren 4G dan Smartfren 4G Plus meluncurkan kartu yang bisa digunakan di semua HP 4G. Kamu sebagai pengguna bisa memilih jenis handphone mulai dari Samsung, iPhone, Oppo, Lenovo dan Motorolla untuk menggunakan Smartfren 4G dan Smartfren 4G Plus.

Tak cuma soal kecepatan dan pilihan handphone beragam, kartu Smartfren 4G GSM dan Kartu Smartfren 4G GSM+, punya kuota 15GB dari kartu Smartfren 4G GSM dan bonus kuota 13GB dari kartu Smartfren 4G GSM+.

Tetunya bonus itu sangat worth it karena Kamu bisa puas streaming dan melakukan banyak hal yang kamu suka. Apalagi 4G yang satu ini juga terdapat fasilitas gratis chatting setahun. Kamu bisa tengok informasi soal hal tersebut di link berikut ini untuk Smartfren 4G dan yang ini untuk Smartfren 4G Plus.

Tak berhenti di tawaran bonus kuota saja, kamu juga bisa ikutan tantangannya. Ada iPhone X sebagai hadiahnya, caranya gampang banget. Kamu tinggal ambil foto kamu dengan ekspresi kamu yang paling worth it. Download imagenya dan share di sosial media kamu dengan menggunakan hastag #BARUTAHUKAN. Untuk info lengkapnya yuk kunjungi barutahukan.com.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Jangan Biarkan Hati yang Bimbang Jadi Satu-satunya Alasan untuk Kembali Memanggilnya “Sayang”

Putus cinta bukanlah akhir cerita. Kisahmu bak sebuah buku, ada serangkaian bab selanjutnya yang masih perlu diteruskan. Termasuk bagaimana kamu akan berdamai dengan masa lalu dan segala lika-likunya. Kendati pilu, soal putus cinta tak akan selamanya begitu. Setidaknya percayalah dahulu akan hal itu.

Aku tahu, dirimu yang sekarang sedang berada di persimpangan. Hati kecilmu tak bisa berdusta kalau kamu iri melihat banyak teman-temanmu yang berhasil dalam relasi mereka, tapi tidak denganmu. Kamu mulai memikirkan banyak hal tentang kisah cintamu, mencari sejumlah peluang dan berharap kamu bisa kembali bersamanya. Sampai kapan kamu akan terus begini?

Pertimbangkan Lagi Alasanmu Dulu Mantap Berpisah  Dengannya. Sebab Chemistry Saja Tak Akan Cukup Kuat Jadi Pondasi Jika Kalian Ingin Kembali Bersama

Sepakat untuk berpisah awalnya terasa berat dan menyakitkan. Hal itu tentu tak begitu saja keluar dari mulut kalian. Pastilah ada alasan kuat yang membuat kalian akhirnya menyerah dan tak mampu lagi bertahan pada hubungan yang semula baik-baik saja. Setelahnya, kamu pun melewati fase yang tak kalah berat, yaitu mencoba melanjutkan hidup dan move on dari setiap kegalauan yang muncul. Disaat kamu sudah mulai bisa menata hati, justru dia kembali datang untuk mengajakmu memulai semuanya dari awal.

Tak perlu mengingkari, perasaan itu pasti masih ada untuknya, bahkan kamu tentu masih mengira jika chemistry kalian masih sama kuatnya. Meski begitu, sebaiknya pikirkan dan renungkan kembali keputusanmu untuk kembali padanya. Memilih untuk kembali, berarti kamu harus siap dengan segala konsekuensi. Kamu dan dia bukan hanya sempat retak, tapi sudah berakhir. Kini ketika kamu bimbang dengan tawaran yang diberikannya, sudah siapkah kamu kembali membangun pondasi bersamanya dan memulai semuanya dari awal?

Benarkah Keputusan Ini Berasal Dari Lubuk Hati? Ataukah Ini Sebatas Ego Pribadimu Lantaran Tak Sanggup Melihat Dirimu Kelak Terganti?

Saat kamu merasa mantap untuk kembali bersamanya, apa yang sedang kamu pikirkan? Benarkah keinginan itu memang dari dalam hati? Apakah kamu memang begitu menyayanginya sehingga sulit melepaskannya begitu saja? Sudahkah kamu dan dia saling memaafkan setiap kesalahan fatal yang menjadi alasan perpisahan kalian? Dilain sisi, jangan sampai egomu jauh lebih besar sehingga membuat mata hatimu tertutup. Jangan sampai keinginan untuk kembali bersama hanya karena kamu tak sanggup melihat keberadaanmu kelak terganti dengan yang baru.

Simpan Harapanmu Tentang Keajaiban, Kembali Menjalin Relasi dengannya Tak Serta Merta Menyelesaikan Permasalahan

Menanti keajaiban itu memang tak salah. Meski kamu meyakini tiada yang mustahil di dunia ini, setidaknya belajarlah realistis. Ketika kamu dan dia didera masalah besar yang terkesan fatal sehingga membuatmu harus menyudahi hubungan dengannya, bukan berarti memilih kembali bersamanya justru akan menyelesaikan masalah di masa lalu. Tidak semudah itu. Menjalin relasi dengan orang yang sama tak seindah lagu-lagu romansa. Bahkan Raisa yang sempat mencoba kembali pada Keenan pun tak berhasil dengan hubungan “Kali Kedua” mereka.

Sejauh Mana Kamu Sudah Mencoba Tanggalkan Rasa Sayang yang Masih Tertinggal?

Sudah sejauh mana usahamu untuk melepaskannya? Kalau kamu belum melakukan apa-apa, jelas saja kamu masih berkeinginan kuat untuk tetap bersamanya. Meski menurutmu dia yang terbaik untukmu, tapi hubunganmu dengannya sudah berakhir. Bukankah kamu lebih baik mencoba menanggalkan dahulu rasa sayang yang masih tertinggal? Sakit dan sulit memang, tapi sesudahnya bisa jadi kamu akan jauh lebih lega dibanding terus-terusan bimbang pada orang yang sama.

Pikirkan Juga Tentang Restu Orang-orang Terdekatmu, Akankah Mereka Bisa Sepenuh Hati Menerima Keputusanmu?

Meski kamu mengatakan ini adalah kisahmu, kamu tak bisa membohongi kenyataan bahwa dibalik cerita cintamu pasti ada keterlibatan orang-orang terdekatmu. Entah sahabat, orangtua, bahkan teman-teman mantanmu. Ketika kamu ada masalah dengan pacar yang kini jadi mantanmu, bukankah mereka adalah orang-orang yang kamu temui untuk membagi keluh kesahmu? Lantas, ketika kamu mau balikan dengannya, apakah kamu yakin orang-orang itu akan memberi restu?

Percayalah, restu dari orang-orang yang menyayangimu sangatlah berguna. Memulai kembali hubungan dengan dia yang membuatmu bimbang tanpa dukungan teman-teman sangatlah tak menyenangkan. Kamu akan merasa kesepian nantinya. Meski mungkin dia berjanji untuk tetap berada di sampingmu, bersikaplah realistis, kamu pasti akan merasa kehilangan teman-temanmu.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Bukan Cuma Nasi, Air Putih Juga Bisa Basi

Pernahkah kamu membayangkan, jika sebotol air putih yang kamu diamkan berlama-lama ternyata bisa basi juga. Sayangnya, mengenali tanda-tanda kalau air putih sudah basi tak semudah mendeteksi makanan atau minuman yang lain. Karenanya, tak hanya merebus, mengolah, atau tinggal membeli air putih kemasan, sejatinya kita pun perlu jeli dan teliti saat mengonsumsi air putih

Air Putih Pun Punya Batas Kadaluwarsa Seperti Minuman Lainnya

Sama seperti jenis makanan lainnya, saat kamu membeli air putih kemasan pasti tertera tanggal kadaluwarsanya bukan? Karenanya, saat membeli, perhatikan tanda yang satu ini. Sejatinya, keberadaan tanggal kadaluwarsa memang dimaksudkan untuk menjaga konsumen dari hal-hal yang tidak diinginkan, semisal keracunan.

Sementara untukmu yang terbiasa mengonsumsi air putih dari hasil merebus, sebaiknya jangan terlalu lama mendiamkan air putih yang telah masak. Sebagian besar orang memang biasanya memasak air dalam jumlah besar agar bisa disimpan dan didiamkan selama berhari-hari, padahal sejatinya cara ini tidak baik. Biasanya, semakin lama air disimpan, maka ada perubahan rasa saat diminum.

Kalau Sudah Basi, Berhati-hatilah Karena Air Tersebut Telah Terkontaminasi Jamur, Kuman, dan Bakteri

Air putih yang basi tidak akan mengalami perubahan tekstur seperti halnya makanan atau minuman yang lain. Penyebab basinya air putih diantaranya lantaran terkontaminasi berbagai kuman, jamur, serta bakteri yang ada di sekitar air tersebut. Semakin lama air tersimpan, kian cepat pula perkembangbiakan kuman penyakit yang mengontaminasi air tersebut. Hal ini berakibat pada menurunnya kualitas air dari hari ke hari. Meski tidak mengalami perubahan tekstur, sejatinya air putih yang didiamkan terlalu lama akan mengalami perubahan rasa.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Discovery News menjelaskan secara rinci apa yang terjadi pada air ketika didiamkan dalam waktu yang lama. Hasilnya menunjukkuan bahwa air menyerap karbon dioksida yang menyebabkan pH air menurun dan membuatnya terasa agak asam. Satu hal yang tak boleh dilupakan, semakin lama kamu mendiamkan segelas air di suatu tempat, maka kian besar pula kesempatan bakteri jahat masuk dan mengontaminasi air tersebut.

Kalau kamu tak percaya, cobalah membuat eksperimen sederhana. Dengan meninggalkan air putih dalam gelas atau wadah yang terbuka selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Saat kamu melihatnya kembali, maka air putih sudah pasti berubah warna bahkan jadi sarang nyamuk dan ditumbuhi jamur. Hal ini membuktikan kalau kualitas air memang tak bisa bertahan dalam jangka waktu lama.

Karenanya Penting Sekali Menjaga Kualitas Air Putih

Soal kualitas air putih dan mencegah agar air putih tidak cepat basi, semuanya tergantung dengan bagaimana dan di mana kamu menyimpan air putih tersebut. Air putih memang tidak akan basi atau tepatnya terkontaminasi dalam waktu yang cepat. Terpenting, kamu perlu menjaga kualitasnya untuk mencegah kontaminasi dari luar. Jadi, sebaiknya hindari menyimpan air putih dengan wadah yang terbuka dalam waktu yang lama. Selain itu, lebih baik jangan menyimpan botol minummu di tempat yang langsung terkena sinar matahari.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Hati-hati, Terlalu Gemar Berswafoto Bisa Membuatmu Tak Disukai Bahkan Perlahan Dijauhi

Coba cek galeri ponselmu, kira-kira sudah ada berapa foto selfie yang tersimpan di memori ponsel? Sekarang, kebiasaan selfie—atau berswafoto tak lagi memandang gender. Jika semula selalu saja perempuan yang diidentikankan dengan kesukaan berswafoto, kini situasinya sudah tidak lagi demikian. Laki-laki atau perempuan sama saja. Sekalinya mendapati momen terbaik untuk berfoto, maka mereka seakan-akan tak ingin ketinggalan dan mengabadikannya lewat kamera.

Tak berhenti dengan sekali atau dua kali jepret. Jika sudah asyik berswafoto, biasanya seseorang tak peduli dengan kuantitas foto yang diambil. Bahkan ada yang dalam satu hari, jumlah swafotonya bisa mencapai ratusan. Usai mengoleksi foto diri sendiri dalam beragam gaya, giliran mengunggahnya ke media sosial. Supaya lengkap rasanya. Bukankah demikian? Seperti ada yang kurang bila hasil fotomu—di momen yang menurutmu berkesan—tidak kamu unggah ke media sosial.

Gemar Berswafoto Memunculkan Sifat Narsistik dan Jadi Berlebihan dalam Menyikapi Segala Sesuatu

Seberapa sering kamu mengunggah swafotomu ke media sosial? Meski perkara unggah mengunggah adalah hakmu sepenuhnya, tapi kalau terlalu sering, bisa-bisa pengikutmu di Instagram—misalnya, akan bosan dan menilaimu haus akan pujian agar dibilang cantik atau rupawan. Belum lagi kalau kamu sejatinya hendak memamerkan barang baru yang kamu miliki namun sambil berswafoto. Siap-siap saja jika ada kalimat ‘nyinyir’ sampai ke telingamu. Sebagai siasat, coba selingi unggahanmu dengan foto-foto menarik lainnya, semisal foto karyamu, foto pemandangan saat kamu jalan-jalan, atau foto apampun selain swafoto.

Dalam Sehari Kamu Tak Pernah Absen untuk Swafoto, Kamu Kurang Kerjaan?

Percayalah, terlalu sering mengunggah swafoto, akan membuat teman-temanmu kehilangan minat untuk mengikuti akunmu. Apa lagi jika seluruh feedsmu didominasi oleh foto aktivitas berikut foto wajahmu. Mulai dari bangun tidur, jalan ke mall, hingga saat makan pun kamu unggah ke Instagram. Teman-temanmu pasti berpikir kamu tak ada kesibukan alias kurang kerjaan. Untuk menepisnya, kalau memang kamu punya hobi jalan-jalan, bukankah bisa mengunggah foto tempat wisata yang kamu anggap menarik? Hitung-hitung kamu sembari belajar me-review sebuah tempat. Dan hal itu jauh lebih bermanfaat bagi orang lain bukan?

Mengunggah Swafoto Terlalu Sering Menandakan Kamu Kesepian dan Butuh Diperhatikan

Salah satu tanda orang yang kesepian sejatinya bisa kamu nilai dari seberapa seringnya dia menghabiskan waktu untuk bersosialisasi di media sosial. Semakin sering, berarti ada indikasi jika orang tersebut memang sedang cari perhatian lantaran kesepian. Kamu sendiri bagaimana? Mau dianggap kesepian?

Risiko Jadi Sasaran Kejahatan Kian Meningkat Kalau Kamu Terlalu Mengekspos Segala Kegiatanmu

Terdengar menakutkan memang. Kejahatan ada sejatinya bisa karena kita terlalu memancingnya untuk terjadi. Ini bisa terjadi kalau seandainya kamu berswafoto dengan memunculkan banyak ‘clue’ semisal lokasi rumahmu, lemari tempatmu menyimpan uang, hingga kamarmu yang berisi banyak benda berharga. Memang, awalnya hanya ingin berswafoto, tapi kalau terlalu kelewatan, hal itu justru membahayakan dirimu. Bisa saja ada orang yang iri dengan keadaanmu dan berniat mencuri barang-barangmu. Menyeramkan, bukan?

Tak Bisa Berhenti Untuk Tidak Berswafoto Mengindikasikan Kamu Mengalami Depresi

Kendati untuk mengetahui seseorang mengalami depresi harus melewati tahapan diagnosa secara medis, kamu wajib waspada. Terlalu sering berswafoto bisa dianggap sebagai sebuah gangguan kejiwaan bila hal itu sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari seseorang. Hingga mengganggu aktivitas dan tanggung jawabnya. Beberapa orang bahkan ada yang sampai tidak nafsu makan hingga frustasi karena menginginkan hasil selfie yang sempurna. Jika tidak ingin hal semacam ini terjadi, tak ada salahnya mulai membatasi kegiatan swafotomu, ya.  Berswafoto memang bukanlah hal yang buruk. Tapi pastikan kamu punya batasan privasi agar tak ada hal buruk yang menimpamu.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

MOST SHARE

To Top