Feature

Buat Perempuan Ini Remeh, Tapi Buat Laki-laki Menyakitkan

Untuk urusan sakit hati, perempuan kerap jadi pihak yang katanya tersakiti. Padahal ini tak sepenuhnya benar. Suatu waktu, laki-laki juga bisa sakit hati. Dan pelakunya bisa jadi kaum hawa yang selama ini dikenal lemah dan patut dibela.

Kita semua seakan lupa, bahwa sama halnya dengan perempuan, laki-laki juga bisa merasakan hal yang serupa. Tanpa berniat untuk berdiri pada satu pihak saja, ada baiknya kita memang harus saling menjaga. Baik perilaku, terlebih lagi tutur kata.

Teruntuk kamu, yang mungkin kadang tanpa sengaja menyakiti hati laki-lakimu. Cobalah lihat dan pahami kalimat-kalimat di bawah ini!

Mungkin Jadi Bentuk Spontanitas, Namun Kalimat “Kamu Tak Pernah Mengerti!” Jadi Sesuatu yang Meruntuhkan Harga Dirinya

Untuk urusan hubungan antar pasangan, perempuan tentu tak boleh semena-mena terhadap kaum adam. Meski dengan alasan apa pun, kamu harus tentu tahu bagaimana bertutur kata yang baik. Terlebih terhadap pasanganmu.

Keputusannya memilihmu tentu karena kepribadianmu yang memang terlihat berbeda dengan yang lain. Tapi percaya atau tidak, satu kalimat berbahaya kadang jadi pemicu retaknya hubungan. Daripada merendahkanya dengan kata-kata yang tak enak di telinga, cobalah untuk menjelaskan duduk persoalannya.

Barangkali ini akan sedikit membantunya untuk memahami. Untuk itu kamu pun tak seharusnya mengeluarkan ucapan yang mengisyaratkan ketidakmampuannya. Justru harusnya kamu berbangga diri, karena rasa ingin tahu yang dia miliki jadi bukti usahanya untuk mengerti kamu.

Berniat Untuk Bermanja-manja Padamu, Kamu Malah Bilang Dia Seperti Wanita

Ingat, kamu harus bisa memahami pola tingkah laku dari pasanganmu. Termasuk saat dia sedang ingin dimanja. Di telingamu mungkin ini jadi kalimat biasa yang tak berarti apa-apa. Namun bagi mereka ini jadi bentuk pelecehan yang mencoreng wajahnya.

Padahal sebagai pasangan harusnya kamu jadi orang terdepan yang selalu mendukungnya. Bukan malah menjatuhkannya lewat kata-kata yang tak sepantasnya. Tak peduli pacarmu punya sikap yang memang sedikit kemayu, toh dirinya adalah laki-laki utuh. Dan kamu tak perlu mempertanyakan kejantanannya, hanya karena tanpa sengaja terlihat manja.

Tak Selalu Bermakna Buruk, Namun Kecintaannya Kepada Ibunya Tidak Seharusnya Dijadikan Bahan Bercandaan

Bagi mereka yang memang memiliki hubungan dekat dengan sang ibu, obrolan semacam ini jadi kalimat sensitif yang kerap berakhir pahit pada hubungan. Sebagaimana rasa sayang yang dimiliki oleh perempuan kepada ibunya. Kadang laki-laki memiliki porsi yang lebih dari itu.

Mungkin kamu sedikit jengah dengan sikapnya yang dinilai terlalu kekanak-kanakan. Biar bagaimana pun laki-laki memang harus jadi sosok dewasa yang bijakasana. Tapi membawa kecintaannya kepada ibu untuk turut serta dalam problema hubungan, tentu bukanlah pilihan tepat. Karena kalimat-kalimat seperti ini kerap berujung pada konflik yang merugikan kalian berdua.

Dia Mungkin Tak Mahir Disegala Hal, Tapi Bukan Berarti Kamu Jadi Kerap Mempertanyakan Kemampuannya

Satu hal yang perlu kamu tanamkan dalam dirimu, tak ada manusia yang sempurna. Termasuk laki-laki yang kini kamu jadikan pacar. Ada sisi dari dirinya yang memang lemah, namun juga ada sisi yang tak kalah kuatnya.

Beberapa ruang dalam dirinya, mungkin diisi dengan ketidakmampuannya akan sesuatu hal. Dan sebagai pasangan yang baik, harusnya kamu bertindak sebagai orang yang akan melengkapinya. Bukan malah meremehkannya dengan kalimat bernada tak percaya, jika dirinya memiliki kemampuan. Kamu harus ingat, bagaimana dia dulu berjuang keras demi mendapatkan hatimu.

Apa Lagi Sampai Membanding-bandingkan Dia dengan Mantan Pacarmu

Jangankan dirinya, kamu sendiri tentu tak suka jika harus dibanding-bandingkan dengan orang yang sudah jadi mantan. Meski katamu hal tersebut kadang hanya guyonan, tetap saja akan terdengar tak bersahabat bagi dirinya.

Saat ini, laki-laki yang ada di sampingmu adalah sosoknya bukan mantan pacar yang dulu kamu cinta. Jika memang masih ingin berharap ada sosok yang seperti mantanmu, ada baiknya kamu kembali padanya saja.

Namun kamu pun harus yakin jika mantanmu juga ingin kembali bersama. Karena kalau tidak, kamu akan ditimpa kesialan dua kali lipat.

Kata “Terserah” yang Terlihat Pasrah Tidak Selalu Berlaku Untuk Semua Situasi

Lalu bagaimana jika ternyata dari sekian banyak pertanyaan yang kerap dia tanyakan, kamu akan menjawabnya dengan kata yang sama “Terserah”. Daripada harus mengundang amarah, hanya karena kata terserah. Lebih baik kamu ucapkan apa yang sebenarnya memang kamu mau.

Pacarmu bukanlah dewa yang akan bisa membaca pikiran tanpa kamu katakan.

Apa Lagi Jika Mengakhiri Perdebatan dengan Kata “Aku Tak Peduli!”

Tak hanya tentang dia atau kamu saja, kalian berdua memang harus bisa saling memahami. Sebagai perempuan kamu tentu tak boleh egois.

Lain hal jika kamu dan dia mungkin sedang bercanda, kata-kata bernada tak perduli tentu bisa ditolerir dengan mudah. Lalu bagaimana jika ternyata kalimat tersebut kamu sampaikan diakhir perdebatan. Berpikir jika itu wajar, di matanya justru jadi bentuk ketidakpedulianmu atas hubungan.

Kamu mungkin merasa tak sedang menyalakan api pertengkaran, tapi bisa jadi kalimat-kalimat yang kamu lontarkanlah yang diam-diam telah menyulutnya perlahan.

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Karena Berhemat Bisa Dilakukan Secara Menyenangkan

Sebetulnya kenapa sih kita harus melakukan penghematan? Kenapa kita harus menabung? Toh kita selama ini mampu membayar kebutuhan kita, kenapa pulak kita harus repot menyisihkan penghasilan untuk menabung?

Meski tidak selalu eksplisit mungkin pertanyaan macam itu kerap muncul di benakmu. Apalagi sedari kecil kita memang ditanamkan untuk tidak boros. Tapi sayangnya kita memang tak pernah diajarkan alasan kenapa kita harus berhemat dan menabung.

Dalam hal menabung, hal paling penting yang harus kamu ingat adalah kondisimu tidak akan selalu sama seperti sekarang ini. Kamu tidak selalu bisa seproduktif seperti saat ini.

Coba bayangkan saja kalau kamu sakit, tentunya kamu tidak akan bisa bekerja seperti biasanya. Atau nanti ketika tua kamu juga sudah tak lagi bisa menghasilkan seperti ketika muda. Pada saat itulah kita akan menuai hasil penghematan yang kita lakukan saat ini.

Lagi pula, bicara soal hemat itu jangan langsung mengasosiasikan dengan hidup susah dan tak menyenangkan. Kita bisa kok, melakukan penghematan dengan cara yang mengasyikkan.

Berhemat Itu Di depan Bukan Belakangan Karena Terpaksa Tak Punya Uang

Ini kekeliruan utama yang sering kita lakukan. Penghematan dan menabung itu dilakukan belakangan ketika duit hanya tinggal sisa remah-remah akhir bulan. Pada saat itu tentunya berhemat jadi tak menyenangkan karena terasa seperti keharusan karena kehabisan uang. Ditambah lagi cara ini sering kali gagal.

Karena itu cobalah untuk melakukan penghematan itu di depan. Rencanakan semua pengeluaran itu sebelum bulan berjalan. Jadi yang kita lakukan adalah mengatur pemasukan dan pengeluaran, bukan melakukan pengetatan ikat pinggang karena kekurangan uang. Tentukan dulu sedari awal prosentase uang yang ingin kita hemat setiap bulannya.

Irit Itu Tak Perlu Rumit, Menabunglah Menggunakan Rumus 80-20!

Seorang pemikir manajemen bisnis bernama Joseph M. Juran memperkenalkan konsep menabung 80-20. Konsepnya dari rumus ini sangat sederhana. Kamu hanya perlu menabung sebesar 20% dari pendapatan bersih yang telah kamu peroleh. Kemudian gunakan sisanya untuk dibelanjakan. Sebesar 50% dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sedangkan 30% sisanya dipakai untuk membeli apa yang kita inginkan.

Sertakan Impianmu Dalam Rencana Penghematan, Karena Menabung Dengan Tujuan Itu Jauh Lebih Mudah

Tak perlu menabung dengan jumlah sangat besar dengan tujuan yang tak jelas. Sikap “yang penting punya tabungan” biasanya sumber dari kegagalan menabung. Karena kita tak akan punya motivasi jelas kenapa harus berhemat.

Karena itu cobalah untuk menetapkan terlebih dahulu tujuanmu. Misalnya, berhemat karena ingin mengganti smartphone terbaru dengan harga tertentu, ingin membeli sepatu merk tertentu yang harganya tak murah, ingin menabung untuk penghasilan di hari tua, berhemat untuk dana darurat ketika sakit, dan tujuan spesifik lainnya.

Dengan membagi tujuanmu secara rinci manajemen keuanganmu juga akan lebih baik. Dan kamu akan punya banyak pos keuangan yang tidak saling tumpang tindih.

Jangan Salah ya, Barang Yang Keren Tak Selalu Idientik Dengan Boros

Kamu keliru kalau berpikir barang-barang yang hemat itu tak bagus. Dan sebaliknya barang-barang yang keren itu harus boros. Coba ambil contoh misalnya lampu LED yang hemat energi. Bentuk dan nyala lampunya jauh lebih baik dari lampu biasa. Pendingin ruangan juga punya karakteristik yang sama. AC dengan teknologi low watt punya bentuk yang lebih langsing dan jauh lebih bisa disesuaikan dengan tampilan interior rumah.

Kendaraan Yang Hemat Pun Bisa Juga Tampil Keren Loh

Sementara untuk kendaraan kamu bisa menengok Suzuki Nex. Motor satu ini memegang rekor MURI untuk kategori motor matic paling irit. Ketika pemecahan rekor mampu mencapai 109,8Km/L. Hal ini dimungkinkan karena Suzuki Nex dibekali mesin 113cc dengan teknologi SUPER FI (Suzuki Performance Fuel Injection) dan mesin berkonsep LeaP (Light, Efficient and Powerful) yang telah terbukti menghasilkan tenaga besar secara presisi dan minim gesekan sehingga mampu mengoptimalkan efisiensi konsumsi bahan bakar.

Tapi meski lekat dengan irit dan hemat bukan berarti Nex akan membuat kita jadi tampil seadanya. Karena Suzuki menawarkan rasa elegan dan mewah pada skutik yang dibandrol Rp12.950.000 ini. Pilihan warna misalnya disediakan Mat Titanium Silver, Titanium Silver, dan Matt Black. Warna-warna yang masuk kategori berkelas.

Desainnya sendiri juga berkelas dengan lampu depan model V dengan bodi keseluruhan yang ramping. Nah, terkait dengan dimensi, pada Suzuki Nex ini memiliki ukuran dimensi dengan panjang 1850 mm, lebarnya 665 mm, dan tinggi 1035 mm serta memiliki berat hingga 90 Kg saja. Suzuki pun juga melengkapi Suzuki Nex ini dengan velg roda berpalang tiga dengan rem cakram di depan. Sebuah tampilan yang tentunya elegan sekaligus sporty.

Jadi kamu siap berhemat dengan cara yang menyenangkan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Hubungan Tanpa Status: Kerugian yang Terlihat Menyenangkan

Sering terlihat bersama, namun ketika ditanya apa status hubungannya, malah dijawab dengan tidak ada apa-apa. Pemandangan akan dua orang yang seperti ini, nampaknya kerap kita temui. Bahkan sikap dan perilaku mereka pun biasa, sama seperti pasangan yang pacaran pada umumnya.

Tapi jika kamu adalah salah satu orang yang ingin berniat untuk menjalani hubungan serupa, sini aku kasih tahu sedap dan tidaknya menjalani hubungan tanpa status. Meski katamu itu akan membuatmu lebih leluasa, sebenarnya kamu sedang dirugikan oleh rasa.  

Katamu Ini Tak Berarti, Namun Pelan-pelan Kamu Malah Menaruh Hati

“Apalah arti sebuah status, jika kita berdua sudah sama-sama nyaman”

Hati mana yang tak akan luluh, mendengar kalimat manis seperti itu. Tentu kita akan menggangguk setuju, dan lantang bersuara bahwa status memang tak selalu perlu. Ya, benar memang. Tapi, apa yakin bisa tetap bertahan dengan status yang demikian?

Jika hubunganmu hanya akan berjalan, satu atau dua minggu. Mungkin alasan itu bisa diterima. Gawatnya, kalian berdua justru semakin sering bertemu. Entah itu sekedar mengobrol atau makan bersama setiap malam Minggu. Percaya atau tidak, seiring dengan berjalannya waktu, salah satu dari kalian akan mulai sayang. Dan ketika rasa sayang yang tumbuh dari kebersamaan itu justru bertepuk sebelah tangan, kamu pun jadi terluka.

Satu Kebohongan Untuk Menutupi Hubungan, Akan Ada Kebohongan Lain di Belakang

Tak perlu ditanya satu per satu, hubungan ini tentu jadi rahasia kalian berdua. Seolah tak ingin ada yang tahu, kalian kerap bertemu secara diam-diam. Awalnya mungkin akan merasa baik-baik saja, lalu kamu pun akan merasa bahwa semuanya mulai membuatmu tak nyaman untuk menjalaninya.

Kebohongan yang awalnya dilakukan demi hubungan, akan melahirkan kebohongan lain yang kamu pikir akan menyelamatkan. Bertindak jadi sosok yang sedang berjuang, bisa jadi kamu hanya dimanfaatkan.

 

Kamu Mungkin Selalu Ada Untuknya, Tapi Dirinya Justru Sebaliknya

Konon hubungan tanpa status memang membuatmu lebih leluasa dalam menjalaninya. Tak ada perasaan yang harus dijaga hingga masih bisa bepergian dengan siapa saja. Anehnya kamu justru bertindak sebagaimana pasangan yang sedang berusaha menyenangkan hati pacarnya.

Baik, kamu mungkin telah menganggap dirinya sebagai pacar yang sah. Hingga apa pun yang dia butuhkan dalam hidupnya, kamu selalu ada untuk memenuhinya.

Anehnya, perlakuan yang kamu terima justru berbanding terbalik dengan apa yang sudah kamu lakukan untuknya. Hatimu bisa saja ingin berontak dan meminta hal yang sepadan. Tapi ada daya, dimatanya kadang diri ini bukanlah siapa-siapa.

 

Tak Akan Bisa Berbuat Banyak, Meski Kerap Takut Kehilangan Jejak

Dia yang kamu sebut pacar mungkin akan dengan senang hati memenuhi segala permintaan. Masalahnya, orang yang kini kamu panggil sayang bukanlah pacar sungguhan. Kalian berdua hanya sedang terjebak pada keinginan yang mungkin saling menguntungkan. Kamu butuh pacar, dirinya butuh sandaran.

Berbekal sayang semuanya mengalir begitu saja tanpa adanya deklarasi hubungan. Bahkan apa pun yang akan dilakukannya, kamu hanya bisa terima apa adanya. Karena jika salah satu berupaya untuk menuntut yang lain untuk sesuatu yang terlalu banyak, maka kita perlu ingat jika diri ini bukanlah siapa-siapa baginya.

Cemburumu Menguras Hati, Namun Dirinya Bisa Jadi Tak Peduli

Tak hanya ada pada lirik lagu saja, hal seperti ini kerap membuat kamu panas hati. Bahkan ketika dia sedang bersama dengan yang lain tepat di hadapanmu, tak ada yang bisa kamu perbuat, karena nyatanya statusmu tak cukup kuat untuk menghentikan sikapnya.

Bersyukur jika dirinya mengerti bahwa hatimu sedang tak sehat atas pemandangan yang dibuatnya. Hal lain yang akan semakin mencabik-cabik hati adalah saat dia justru bersikap biasa tanpa rasa bersalah. Wajar memang, toh kamu dan dirinya hanyalah sebatas teman.

Hingga Pada Pandangan Buruk yang Kerap Orang-orang Katakan

Bohong jika katamu, tak akan ada yang curiga atas hubungan yang kalian punya. Setidaknya akan ada satu dua orang yang akan memerhatikan apa yang kerap kalian lakukan. Baik itu bertemu diam-diam, hingga membantunya dibeberapa kesempatan.

Beberapa orang akan mulai bersikap sebagai hakim atas pilihan yang sedang kamu jalani. Menganggap kamu gampangan hingga menilai hubunganmu tak punya masa depan  Kamu bisa saja tak peduli dengan apa yang orang lain katakan, apalagi jika ternyata pelan-pelan kalian justru saling menguatkan karena sudah punya rasa yang sama. Lalu bagaimana jika apa yang selama ini orang lain kerap katakan, akan berubah jadi kenyataan. Sakit kan?

Dan Ketika Kamu Mulai Mematrikan Hati Untuknya, Dia Justru Pergi dengan Pilihan Barunya

Ini akan jadi bagian terperih dari hubungan tanpa status yang tadinya kamu anggap tak akan sia-sia. Hatimu bisa saja sudah berubah, karena sadar bahwa sebenarnya dia bisa jadi sosok yang melengkapi kekuranganmu. Tapi untuk isi hati dari miliknya? Tentu hanya dialah yang tahu.

Setelah sekian lama memendam rasa, akhirnya kamu hanya bisa kecewa saat dia memilih orang lain. Bukan kamu yang kemarin katanya bisa menenangkan jiwa, namun ternyata hanya sebatas teman untuknya. Bukan jadi pasangan yang akan dicintai selamanya.

Bukan tak percaya pada pilihan hidupmu, namun memilih untuk menjalin hubungan tanpa status kadang hanya membuatmu jadi manusia yang merugi.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Bukannya Aku Anti dengan Seni, Tapi Sebuah Tato di Tubuh Hanya Akan Menuai Kontroversi

Entah sudah berapa kali kamu bilang padaku soal keinginanmu yang ingin membuat tato kecil di lenganmu itu. Hal ini jelas membuatku gusar dan sedikit kesal. Rasanya sukar sekali membuatmu mengurungkan niatmu  itu. Aku tahu, keinginanmu membuat tato tak lepas dari kesukaanmu pada seni. Pun dengan aku, bukannya aku anti dengan seni dan segala hal yang kamu suka, aku hanya tidak ingin kamu jadi perbincangan orang-orang yang tak mengerti maksud dan tujuanmu itu.

Kamu bilang padaku, “Cuek saja dengan apa kata orang,” tapi aku tak bisa demikian. Mungkin teman-teman kita sudah menganggap tato jadi hal yang lazim, tapi tidak dengan keluargamu atau keluargaku. Seringkali, pola pikir lintas generasi membuat kita berbenturan dengan mereka yang lebih tua, atau yang sejak awal sudah menganggap sesuatu yang tak lazim maka selamanya tetap seperti itu. Bukan hanya itu, aku tak rela kamu bertato karena yang kutahu tato justru mendatangkan dampak yang tak baik bagi kulitmu.

Urusan Kesehatan Menjadi Alasan Utama Mengapa Aku Keberatan Kalau Kamu Bertato

Kamu harus tahu, salah satu risiko membuat tato adalah menyebabkan infeksi. Munculnya infeksi bisa saja berasal dari tinta yang telah terkontaminasi bakteri Mycobacterium chelonae. Efeknya, akan muncul ruam di kulit dan terasa perih setelah berbulan-bulan lamanya. Bahkan infeksi virus ini juga bisa berkembang jadi tumbuhnya kutil. Yakin? Masih kekeuh mau menato?  Aku hanya mengingatkan. Belum lagi munculnya alergi. Bisa berupa kemerahan pada kulit yang kemudian jadi gatal-gatal. Alergi yang muncul karena tato bahkan sulit diobati.

Tak Sedikit dari Mereka yang Sudah Bertato Pada Akhirnya Menyesal dengan Tato yang Telah Dibuat

Menutup kulit dengan tato lagi-lagi berimbas pada kesehatan kulit. Pasalnya, adanya tato ternyata membuat dokter sulit melakukan deteksi dini adanya kanker. Akibatnya, kanker pun jadi terlambat untuk ditangani. Maka tak heran jika tidak sedikit orang yang pernah merajah tubuhnya dengan tato akhirnya menyesal di kemudian hari, bahkan berniat menghapus tato tersebut. Berdasarkan penelitian, sebanyak 28 persen orang Amerika menyesali tato yang dibuatnya dalam jangka waktu setahun. Aku tak mau kamu menyesal pada kemudian hari. Jadi, bukankah lebih baik tak usah bertato?

Belum Lagi Soal Restu Orangtuaku, Mereka Tahunya Kamu Tak Bertato, Apa Jadinya Kalau Suatu Saat Kita Terganjal Restu Hanya Karena Tato yang Terlanjur Melekat?

Sekian waktu kita menjalani relasi, orangtuaku memang sudah setuju. Tapi bukan berarti mereka tak menanyakanmu lebih lanjut. Aku tahu, keinginan mereka adalah agar aku mendapatkan orang yang memang tepat untukku. Tapi apa iya, saat aku mengira kamulah yang paling tepat, orangtuaku justru tidak merasa demikian.

Kuakui orangtuaku masih sangat kaku, mereka pasti tidak bisa dengan mudah memahami alasanmu jika kamu benar-benar ingin bertato. Inilah mengapa kukatakan, tato hanya akan menuai kontroversi. Semula kamu datang tanpa tato, apa jadinya kalau mereka mendapati fakta baru? Aku hanya tak siap berpisah denganmu hanya karena urusan tato.

Lagipula, Bukankah Agama Pun Melarang Soal Menato Tubuh?

Bukannya aku ingin menceramahi, hanya saja setahuku demikian. Kamu dan aku sama-sama beragama, bukankah sebaiknya kamu mengurungkan niatmu daripada kepalang terlanjur padahal kamu tahu hal itu dilarang? Aku hanya tak ingin kamu mendapat cap yang tak seharusnya hanya karena sebuah tato.

Mungkin kini kamu tahu, tekadku untuk menentangmu agar tak bertato memang cukup kuat. Kalau dibandingkan antara manfaat dan tidaknya, aku bahkan belum melihat adanya faedah dari sebuah tato. Tapi bila akhirnya kamu enggan mendengarkan segala masukanku, maafkan jika aku marah padamu.

Suatu Saat Bila Aku Marah, Kuharap Kamu Mengerti. Atau Setidaknya, Jelaskanlah Alasan Logis Dari Sebuah Tato yang Begitu Kamu Dambakan Itu

Aku dan kamu sedang tak sepemikiran untuk hal yang satu ini. Karenanya, bila akhirnya kamu memilih jalanmu tanpa mempertimbangkan saran-saranku, tolong maklumi jika aku marah padamu. Sebagai partner, aku mencoba menuntunmu untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Toh kalau kamu tak melihat usahaku yang demikian adanya, baiklah, mungkin suatu saat aku akan mengerti. Atau setidaknya, berikan aku satu penjelasan logis yang bisa membuatku mengerti mengapa harus menato.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Menikah Dengan Sahabat Katanya Kunci Pernikahan Hebat, Kamu Setuju?

Bicara soal jodoh sepertinya tak ada ujungnya. Terutama untukmu yang sampai hari ini masih menebak-nebak siapakah gerangan yang akan bersanding denganmu di pelaminan dan menikmati hari tua bersama-sama. Butuh waktu yang tak sebentar untuk menemukan siapa jodoh kita sebenarnya. Ada yang harus melewati berbagai kegagalan dalam hubungan sampai akhirnya bertemu dengan pasangan hidupnya, ada juga yang ternyata menikah dengan teman dekatnya selama ini.

Bukankah menarik jika membicarakan soal persahabatan (dengan lawan jenis tentunya) yang berakhir di pelaminan. Yang paling fenomenal misalnya, pasangan Ayudia Bing Slamet dengan Ditto Percussion. Keduanya sudah bersahabat sejak bangku sekolah, hingga berakhir duduk di pelaminan bersama-sama. Atau semisal Kanye West dan Kim Kardashian. Pasangan fenomenal asal Hollywood itu juga mengawali kisah asmaranya lewat jalinan persahabatan.

Adanya fenomena semacam ini sejatinya berangkat dari fakta sederhana. Seseorang bisa mencintai lawan jenisnya karena sudah mengenalnya dengan baik. Berdasarkan sebuah polling di Amerika Serikat terhadap 801 orang yang dilakukan oleh Monmouth University Polling Institute pada Januari 2017, sebanyak 88 persen mengaku bahwa pasangan mereka adalah sahabat baiknya.

Sejatinya wajar saja hal ini bisa terjadi. Jika seseorang jatuh cinta dan memilih sahabat baiknya untuk dijadikan kekasih, hal itu lantaran kepercayaan yang terbangun memang sangat kuat diantara sahabat. Selain itu, antara dua sahabat, umumnya punya kecenderungan untuk saling menjaga satu sama lain dan mengerti satu sama lain.

Tak Ada yang Perlu Disembunyikan Lagi, Sekalipun dengan Tingkah Anehnya yang Sering Membuatmu Geli

Jalinan persahabatan yang terjalin selama sekian tahun membuat kamu dan dia jadi tidak lagi jaim, dan merasa tak ada yang perlu disembunyikan lagi. Situasinya mungkin berbeda dengan pasangan yang dari awal dekat PDKT memang niatnya untuk berpacaran, sehingga hanya menampilkan yang baik-baiknya saja. Sementara, kalau kamu dan dia sudah lama bersahabat, pasti sekalipun tingkahnya kadang sering aneh dan membuatmu geli, tapi kamu tetap bisa menerima dia apa adanya tanpa ada rasa ilfeel atau apa pun.

Tak Akan Ada Kekangan Dari Pasangan. Selagi Kamu Senang dengan Kehidupanmu, Maka Dia pun Ikut Senang

Bukankah menyenangkan rasanya kalau kamu dan dia sama-sama tahu kesukaan masing-masing, hingga berbagi ide travelling. Keuntungan menikah dengan sahabat adalah kamu tak akan menemukan kekangan darinya. Selagi kamu pergi untuk bersenang-senang, maka dia pun akan ikut senang. Dia sudah mengenalmu, paham apa yang menjadi maumu, sehingga hal-hal sepele tak akan menimbulkan pertengkaran.

Kalian Tak Akan Berdiam Lama-lama Saat Ada Masalah, Kamu Tak Ingin Membuat Pasanganmu Jengah

Hubungan persahabatan yang telah terjalin sejak lama membuat kamu sudah begitu mengenal sahabatmu, sehingga kamu tak perlu pusing-pusing menebak apa yang akan dilakukannya jika sedang marah. Dilain sisi, kamu pun jadi tahu respon apa yang perlu dilakukan jika dia sedang marah. Karena sudah terbiasa bersama, kalian tak akan betah berdiam diri berlama-lama saat ada masalah. Kalau ada hal yang salah, kalian akan lebih cepat menyadari dan sama-sama menegur tanpa harus menyalahkan satu sama lain.

Kalian Bisa Datang ke Reuni Bersama-sama. Dia pun Tak Keberatan Memberi Izin Jika Kamu Ingin Berkumpul dengan Teman Lama

Hal seru lainnya yang bisa kamu lakukan jika menikahi sahabatmu yaitu teman-temannya pun teman-temanmu juga. Ketika dia punya acara dengan teman-temannya, dia tak perlu susah lagi memperkenalkan kamu. Atau ketika dia tiba-tiba pergi seharian bersama teman-temannya, kamu pun kemungkinan sudah tahu ke mana mereka berkumpul. Tak akan ada kecanggungan jika kamu menikahi sahabatmu.

Meski Terdengar Tidak Biasa, Kamu dan Dia Luwes Saja Langsung Menjalin Relasi Tanpa Fase PDKT

Percaya tak percaya, pacaran tanpa PDKT itu bisa saja terjadi. Tentu saja kalau kamu menjalin relasi dengan sahabat baikmu. Tak perlu ada lagi gelagat sok manis untuk sekadar mengantarkan makanan atau apa pun. Justru dengannya kamu akan lebih luwes dan bisa bertingkah sesantai mungkin. Sekali lagi, tak ada jaga image atau apa pun saat berada di dekatnya. Kamu mau menggandeng tangannya atau iseng mencubit lengannya pun tak masalah. Karena kalian memang sudah terbiasa bersama.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

MOST SHARE

To Top