Feature

Berhenti dan Jangan Tanya “Kapan Nikah”, Hanya Karena Kamu Sudah Menggenapinya

Bercanda atau sengaja? Jadi dua kemungkinan yang bisa saja menjadi alasan, mengapa kita doyan melemparkan pertanyaan ini. Bahkan beberapa bulan lalu, saat putri Presiden Jokowi, Kahiyang Ayu menikah beberapa netizen dan para pewarta berita kompak bertanya kepada sang adik, Kaesang, “Kapan nikah?”

Mereka yang risih atas pertanyaan-pertanyaan sejenis ini tentu akan mendadak geli, lah yang nikah kakaknya, kenapa harus buru-buru tanya adiknya kapan?

Kolom status di KTP yang berisi kata “kawin”, kadang jadi senjata. Dengan kata lain, kamu merasa jika lebih beruntung dari mereka yang belum menikah. Untuk kemudian merasa bebas dan berhak melempar tanya. Terdengar remeh memang, tapi barangkali beberapa hal ini bisa membantumu untuk berhenti. Ya berhenti, bertanya kapan menikah pada mereka yang belum melakukannya.

Kamu Bilang Hanya Sekedar Guyon, Tapi Bagi Ia yang Sensitif Bisa Saja Melukai Hati

Jangan sembarangan berkata, kita juga perlu membaca situasi perasaannya. Karena meski sudah berteman cukup lama, itu tak akan terasa cukup untuk bisa memastikan bahwa ia tak akan marah jika kamu bertanya demikian. Belum lagi jika ternyata ia masih belum punya pacar.

Semua hal yang kadang ditunjukkan olehnya, tak menjadi jaminan akan situasi hatinya. Begitu pula dengan keputusannya memilih untuk sendiri dulu. Bisa jadi ia pernah mengalami sesuatu yang buruk pada kisah cintanya terdahulu. Diselingkuhi mantan kekasih, atau gagal menikah dengan laki-laki yang dicintainya.

Tanpa tahu perasaannya, kita malah datang untuk kembali membuka lukanya. Jelas ini akan menyakiti dirinya.

Lagi pula Menikah Itu Urusan Pribadi, Tak Seharusnya Kita Campuri

Kukatakan padamu, perihal menikah itu jadi sesuatu yang bersifat sangat pribadi. Ini bukan masalah mudah, menentukannya pun tentu tak hanya hitungan hari saja. Ada ribuan pertimbangan yang harus ia pikirkan dulu. Dan dengan posisi kita yang hanya sebagai teman, tentu tak akan memberi dampak yang besar.

Menghindarkan diri untuk melontarkan pertanyaan seperti itu, jadi bentuk lain upaya menghargai dirinya. Untuk itu, urusan menikah biarlah hanya ia saja yang akan tahu. Kita tak perlu masuk ke sana, apa lagi sibuk mencari tahu kapan ia akan menikah.

Sebab Perkara Jodoh Sudah Ada yang Mengatur, Lalu Siapakah Kita yang Sibuk Bertanya Kapan?

Jadi begini, kita ini tentu paham semua hal yang terjadi sudah ditentukan, termaksud perihal jodoh. Lalu kenapa kita masih saja sibuk mempertanyakan “Kapan nikah?” pada dia yang mungkin bahkan belum memikirkannya. Alih-alih mendapat respon, bisa jadi ia malah mengatur jarak atas hubungan pertemanan.

Cukup dampingi ia sebagai teman, tanpa harus membuatnya merasa didistraksi dalam hal pencarian jodoh hanya karena pertanyaan “Kapan nikah?” darimu. Karena memberinya pertanyaan hanya akan membebaninya saja, lebih baik bantu ia menemukan jodoh yang pas untuknya.

Sebagai Teman Harusnya Kita Paham, Menikah Bukanlah Satu-satunya Takaran Kebahagiaan Bagi Setiap Orang

Lain orang, lain pula tujuan. Dan perumpamaan ini juga berlaku bagi kita. Bagimu menikah mungkin terdengar membahagiakan, tapi bisa jadi tidak untuk dirinya. Terlihat selalu bahagia dengan dia yang telah sah menjadi pasangan, tentu pilihan yang sudah benar. Tapi bukan berarti ia yang masih sendiri dan tak punya pasangan, lantas tak akan bahagia bukan?

Sebagaimana kita yang meletakkan harap pada sesuatu, ia juga memiliki takaran untuk bahagia yang ingin ia dapatkan. Jadi tak perlu bertanya kapan ia akan menyusul menikah sepertimu. Karena dengan hidupnya yang sekarang, bisa saja ia sudah merasa bahagia.

Karena Ketika Kita Sedang Mewujudkan Mimpi Untuk Menikah, Bisa Jadi Ia Juga Sedang Berjuang Untuk Mimpi  yang Lainnya

Setiap orang jelas memiliki tujuan hidup yang berbeda-beda. Jika diri ini ingin sekali menikah di usia muda, bisa jadi ia justru sebaliknya. Daripada harus-harus buru-buru menikah, ia justru lebih memilih untuk melanjutkan study-nya. Meniti karir yang lebih cemerlang, hingga menggenapi mimpi-mimpi yang lainnya.

Jika masih saja terus-menerus mencecarnya dengan pertanyaan seperti itu, artinya kita tak lagi menghargai dirinya sebagai seorang teman. Tak hanya membuatnya gerah saja, ini akan jadi salah satu hal yang mendatangkan penilaian negatif atas dirimu dimatanya.

Hal Lain yang Perlu Kita Ingat, Tak Semua Alur Cerita Manusia Itu Sama

Ini bukan perkara siapa yang lebih dulu. Bukan pula siapa yang merasa butuh dan tidak. Ini adalah perkara kesiapan diri. Kamu boleh saja berkata siap sehabis lulus SMA atau selepas wisuda, tapi tak melulu sama dengan kesiapan teman lain yang seusia. Karena ketika kamu sudah sah menjadi seorang istri, ia mungkin masih bergelut untuk memilih.

Dan hal lain yang juga bisa terjadi, ia juga sudah memiliki keinginan namun masih belum dipertemukan. Sebab ini semua perihal jodoh dan garis hidup yang telah ditentukan Tuhan. Kamu dan ia tak bisa menerka sembarangan. Apa lagi menyudutkannya dengan pertanyaan.

Jika Memang Ingin Mendoakan, Kalimat “Semoga Disegerakan ya!” Jauh Lebih Enak Didengar Daripada Terus Bertanya Kapan

Seringnya kita melontarkan pertanyaan ini pada ia yang sudah lama tak bertemu, teman kuliah dulu atau rekan kerja yang sudah lama tak bertemu. Alih-alih ingin memulai pembicaraan, kita malah menggunakan pertanyaan kapan menikah sebagai pertanyaan awal. Meski katamu hanya sekedar basa-basi saja, nampaknya ada banyak kata yang bisa kita pakai untuk memulai cerita.

Pertanyaan, “Apa kabar?”, jauh lebih baik untuk menunjukkan rasa pedulimu. Daripada harus membuat tembok pemisah yang membuatmu merasa berbeda dan butuh meminta kejelasan padanya dengan “Kapan nikah?”. Kalau masih saja ngeyel dan tetap bertanya ya boleh saja, asal kamu bersedia membiayai pestanya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Dibandingkan Spanyol Atau Italia, Pecinta Motor Tanah Air Jauh Lebih Gila

Kalau bicara soal motor apalagi MotoGP rasanya Italia dan Spanyol merupakan dua negara teratas. Sebagian besar pembalap kasta tertinggi balap motor dihuni oleh warga dari kedua negara tersebut. Setiap gelaran di kedua negara itu juga hampir selalu pecah rekor untuk soal jumlah penonton.

Tapi jangan salah, kalau saja MotoGP diadakan di Indonesia, bisa jadi negara kita jadi nomor satu soal antusiasme masyarakatnya dengan motor. Beberapa kali pembalap MotoGP singgah di Indonesia selalu takjub dengan kegilaan orang Indonesia akan motor.

Tak terkecuali Rrasa antusias bikers di Indonesia yang membuat Andre Iannone dan Alex Rins terpukau. Mereka tidak menyangka kalau para bikers di Indonesia sebegitu besar dan heboh. Hal ini disampaikan kala Iannone dan Rins sedang melakukan kunjungan ke Indonesia dalam event Suzuki Bike Meet Jambore Nasional 2018 yang diadakan di sentul.

Event kali ini merangkul 3.000 bikers dari 63 klub dan komunitas Suzuki yang saling bekerjasama dengan PT.SIS (Suzuki Indomobil Sales). Acara dihelat di Sentul Sirkuit, Bogor daerah Jawa Barat. Yang mana acara pembuka dilakukan dengan iring-iringan yang dipimpin kedua pembalap Team Suzuki Ecstar MotoGP 2018.

Andrea Iannone dan Alex Rins disuguhkan Suzuki GSX-R150. Tak cuma mereka brand ambassador GSX-R150, Hamish Daud sebagai ambasador GSX juga ikut serta di acara ini. GSX dipilih karena mencirikan aura MotoGP.

Tampil dengan model full fairing, GSX-R150 tampilannya memang tampak serupa dengan tunggangan pebalap di arena MotoGP. Lampu depan yang menyudut tajam memberikan kesan yang sangat agresif. Struktur jok pengemudi dan penumpang yang tinggi makin memperkuat kesan ini, karena posisi berkendara jadi menunduk.

Berbekal mesin overbore, DOHC (Double Over Head Camshaft) dengan kapasitas 150cc dan berkompresi 11,5 : 1 yang sudah dilengkapi teknologi fuel injection yang canggih untuk pembakaran maksimal, GSX-R150 menghasilkan tenaga sebesar 14,1 kw/10.500 rpm dan torsi sebesar 14 nm/9.000 rpm yang tersalurkan dengan kuat melalui transmisi 6 percepatan.

“Saya tidak menyangka kekuatan bikers Suzuki di Indonesia sangat luar biasa seperti ini. Senang sekali saya mendapatkan pengalaman yang sangat beragam dan berbeda bersama rekan balap saya dan ribuan bikers Suzuki,” ungkap Alex Rins.

Kehebohan dari komunitas dan klub terpancar dari acara yang diadakan sejak pagi hari jam 10, sudah dipenuhi oleh ribuan bikers yang berdatangan dari Tanggerang, Cikarang, Cengkareng, Parung dan lain-lain. Bahkan beberapa dari mereka ada yang berangkat ketika matahari belum terbangun dari tidurnya.

Rasa antusiasme total yang diperlihatkan bikers juga dirasakan oleh Andrea Iannone. Ia pun beranggapan antusiasme publik tanah air jadi dorongan luar biasa baginya untuk lebih berprestasi di ajang MotoGP.

“Ini adalah kali pertama bagi saya bisa larut dalam kegembiraan fans Suzuki. Saya sangat menikmati momen hari ini, dan semoga semangat teman-teman bikers Suzuki bisa menambah semangat saya sendiri untuk tampil lebih mengensankan di musim MotoGP 2018 bersama tim saya,” kata Iannone.

Meskipun acara seperti ini bukan yang pertama bagi kedua pembalap. Namun, Iannone mengungkapkan bahwa di Indonesia lebih meriah dari pada Italia dan Spanyol. Lantaran banyak bikers yang ikut serta dalam event ini apalagi pada saat konvoi yang dilakukan sepanjang track Sentul sirkuit.

“Seperti yang Iannone katakan, kami beberapa kali mengadakan acara serupa. Tapi di sini berbeda karena kami (Iannone dan Rins -red) berkendaraan dengan banyak orang. Apabila tahun ini sukses kami ingin mengdakan acara yang lebih besar,:” tambah Alex Rins.

Antusias yang diperlihatkan oleh para bikers dapat menghipnotis Alex Rins dan Andrea Iannone untuk mewujudkan kembali acara serupa di tahun mendatang. Karena selain menjadi wadah berjumpa dengan pembalap luar, hal ini juga menjadi ajang silaturahmi para klub dan komunitas Suzuki

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Ke Rumah Calon Mertua Jangan Selalu Bawa Martabak…

Berkunjung ke rumah calon mertua, apa lagi untuk pertama kalinya, pasti membuatmu kepikiran. Takut kesan yang ditimbulkan justru tak sesuai ekspetasi, atau justru kehadiranmu tak disambut baik oleh keluarganya. Pasti pernah tebersit pikiran semacam itu bukan? Rileks saja, sejauh ini kalau calon mertua tak memberi ultimatum apa pun perihal hubunganmu dengan anaknya, berarti kamu masih punya banyak kesempatan untuk menakhlukkan hati mereka. Karenanya, manfaatkan kunjungan sekaligus kesan pertama di hadapan calon mertua sebaik mungkin.

Kalau Ini Momen Pertamamu, Jangan Sungkan Bertanya Tentang Hal-hal yang Disukai dan Tidak Disukai Calon Mertuamu Pada Kekasih

Sebelum berkunjung ke rumah kekasih, lebih baik tanyakan terlebih dahulu bagimana sifat dan karakter keluarganya. Penting sekali untukmu mengetahui kesukaan mertua hingga hal-hal yang tidak disukainya. Di lain sisi, jika mereka punya sifat serius, maka sebaiknya simpan dulu bahan bercandaanmu saat bertamu untuk pertama kalinya. Atau jika karakternya sangat disiplin terhadap apa pun, maka sebaiknya datanglah tepat waktu dan jangan sampai terlambat.

Pastikan Setelanmu Rapi Agar Membuat Kesan yang Menenangkan Hati

Ketahuilah, calon mertua sejatinya akan sangat senang jika kamu datang dan menggunakan pakaian rapi ketika berkunjung. Pada pertemuan pertama, sebisa mungkin kenakan pakaian yang rapi tapi jangan juga yang terlalu formal. Hindari mengenakan pakaian yang terlalu terbuka atau berantakan. Begini, seperti halnya saat kamu ingin membeli buku, pasti hal yang pertama dilihat adalah tampilannya dahulu. Jika calon mertua melihat kamu sopan, rapi dan elegan, mereka akan terkesan dan jadi memiliki penilaian positif terhadapmu.

Siapkan Buah Tangan Agar Calon Mertua Benar-benar Melihat Kesungguhan Niatmu

Keberadaan buah tangan sejatinya punya makna tersendiri. Ya, calon mertua akan merasa sangat diperhatikan saat pertama kali bertemu kamu membawa buah tangan untuk mereka. Belilah sesuatu yang disukai orangtua kekasih, khususnya ibu. Di lain sisi, mereka juga akan senang menerima buah tangan yang dibelikan oleh calon menantunya, secara tak langsung hal itu akan membuat mereka menganggap bahwa kamu tidak pelit atau perhitungan pada keluarga orang yang akan menjadi bagian hidupmu nanti.

Saat Mengobrol, Jadilah Pribadi yang Terbuka dan Jujur Terhadap Identitas Dirimu Sendiri

Saat mengobrol, rileks saja. Tak perlu menjelma orang lain untuk mendapat kesan positif dari calon mertua. Apa lagi saat pertemuan pertama, pasti mereka ingin tahu asal-usul seseorang yang akan menjadi calon pendamping anaknya. Karenanya, jadilah pribadi yang apa adanya. Jujurlah terhadap identitasmu yang sebenarnya. Misalnya soal pekerjaan orang tua, dari daerah mana kamu berasal, tinggal di mana, pendidikan, memiliki berapa saudara, serta apa pekerjaan kamu adalah hal yang pasti ditanyakan.

Tapi Jangan Jadi Pribadi yang Sok Asyik Juga, Bisa-bisa Keluarga Si Dia Justru Jadi Jengah Padamu

Begini, faktanya calon mertua justru akan memandang dirimu aneh, jika terlalu akrab terhadap mereka. Hindari obrolan yang mungkin terkesan sok akrab dan memaksakan situasi hanya agar mereka mau menerimamu. Ingat, ini pertama kalinya kamu bertemu dengan mereka, jangan kerena kamu terlalu ingin mencairkan suasana malah membuat dirimu jadi terkesan sok asyik. Bisa-bisa mereka malah jadi jadi tak nyaman denganmu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Life

7 Potret Perubahan Kehidupan Laki-laki Sebelum dan Setelah Menikah Nanti

“Tidak akan pulang malam, kemana-mana harus izin istri, hingga hal lain yang harus selalu didiskusikan dengan istri” 

Setelah menikah jelas ada banyak hal yang akan berubah, segala hal yang tadinya hanya dilakoni sendiri kini sudah ada istri yang menemani. Paham akan konsekuensi dari pilihan yang telah diambil, ada berbagai macam gambaran yang akan menjelaskan bahwa benar menikah telah mengubah hidup kita.

Dan beberapa ilustrasi dari Brightside ini mungkin jadi sesuatu yang akan mewakili hal-hal apa yang berubah pada hidup seorang laki-laki setelah menikah.

 

1. Uang Istri Tetap Jadi Hak Istri, Tapi Uang Suami Wajib Masuk dalam Wewenang Istri

Jangan berpikir buruk dulu pada sang istri, biar bagaimana pun laki-laki sebagai kepala keluarga memang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Jadi akan sangat wajar bila penghasilan yang didapat oleh sang suami akan diberikan kepada istri. Selama uang yang ada dikelola dan ditempatkan pada yang semestinya, semua akan sah-sah saja.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Wanita Perlu Sadar, Hamil di Usia 20-an dan 30-an Rasanya Jelas Berbeda

Ada sebuah tren baru di Instagram, dimana para ibu muda hingga selebriti Tanah Air berlomba-lomba memamerkan kelucuan anak mereka lewat foto dan video yang diunggah di media sosial tersebut. Memang jadi hiburan tersendiri, tapi dilain sisi, sekarang ini jadi banyak perempuan yang suka bergumam: “ah jadi ingin cepat-cepat menikah dan segera punya anak.”

Tak bisa dipungkiri, keberadaan media sosial berikut unggahan para selebriti mengenai masa-masa kehamilan hingga resmi menyandang status ibu muda membuat sejumlah wanita lajang semakin memikirkan masa depan dan kodrat mereka nantinya sebagai ibu. Tapi belum banyak yang memikirkan sejauh mana umur mempengaruhi kondisi dan kesiapan wanita untuk mengandung. Tak terkecuali soal kehamilan, segala hal memang perlu dipertimbangkan dan dipikirkan matang-matang bukan?

Usia 20-an Dianggap Momen yang Paling Tepat untuk Menikah dan Mempersiapkan Kehamilan Lantaran Kondisi Fisik Masih Prima

Berdasarkan penelitian dari Peter Bernstein, M. D, seorang ahli obgin dari Montefiore Medical Center, New York, secara fisik usia 20-an adalah usia yang ideal untuk kehamilan. Wanita di usia tersebut masih dikaruniai kondisi fisik yang prima yang siap untuk mengandung dan mengasuhnya kelak. Bahkan kalau wanita menikah di usia tersebut, peluang cepat hamil jauh lebih besar, serta risiko keguguran pun rendah sekitar 10 persen. Hamil di usia 20-an dianjurkan lantaran kemungkinan untuk mengalami komplikasi, melahirkan bayi dengan kondisi down syndrome, hingga melahirkan secara caesar pun terbilang kecil.

Sementara Untuk Wanita yang Sudah Memasuki Usia 30-an, Tingkat Kesuburan Mulai Berkurang Serta Risiko Komplikasi Kehamilan yang Jauh Lebih Tinggi

Kamu perlu tahu, berdasarkan data dari American Society for Reproductive Medicine, sepertiga wanita di usia 35 tahun sejatinya mengalami masalah kesuburan. Hal ini terjadi lantaran seiring bertambahnya usia, fungsi organ reproduksi seperti indung telur dan rahim jadi kurang optimal. Karenanya, wanita di usia 30-an ada yang kesulitan hamil dan lebih berpotensi mengalami keguguran dibanding mereka yang masih berumur 20-an. Hamil pada usia kepala tiga pun sering dikaitkan dengan beberapa masalah seperti preeclampsia, yaitu gejala tekanan darah, pembengkakan, serta tingginya jumlah protein pada urin. Belum lagi efek pada sang bayi, seperti kelahiran prematur ataupun berat badan rendah.

Karena Fisiknya Masih Prima, Wanita di Usia 20-an Lebih Berpeluang Melahirkan Bayi Secara Normal

Ya, wanita yang mengandung di usia 20-an masih dianugerahi fisik yang cukup baik untuk mengejan dan mendorong janin. Kondisi fisik seperti rongga panggul yang berfungsi sebagai jalan lahir bayi pun sudah berkembang lebih matang. Organ reproduksi seperti rahim dan vagina pun juga sudah cukup kuat untuk mendukung persalinan dan melahirkan bayi. Karenanya, potensi untuk melahirkan secara normal di usia ini sangatlah besar. Sementara usia 30-an sejatinya bukanlah waktu yang tepat untuk melahirkan anak pertama. Pasalnya, otot-otot yang terlibat dalam persalinan pun cenderung lebih lemah bagi ibu yang pertama kali melahirkan di usia tersebut. Kondisi ini jelas akan berdampak pada waktu persalinan, sehingga prosesnya pun akan berlangsung lebih lama.

Tapi dari Sisi Psikologis, Usia 20-an Cenderung Belum Punya Kesiapan Mental yang Matang untuk Hamil, Melahirkan, dan Memiliki Anak

Terlebih untuk wanita yang menetap di kota-kota besar, ada yang menganggap usia 20-an tergolong masih muda dan belum siap untuk hamil. Justru mereka sedang fokus membangun karier, hubungan dengan beberapa orang, melanjutkan studi, dan segala macam asa yang hendak dicapai. Di lain sisi, faktor finansial juga mempengaruhi sebagian wanita di usia 20-an agar menunda pernikahan dan kehamilan. Sebagian dari mereka merasa belum siap untuk membesarkan seorang anak disaat ada ambisi yang harus dikejar. Tak jarang, seringkali terjadi konflik batin dalam diri mereka.

Sementara Wanita yang Berusia 30-an Dianggap Memiliki Kesiapan Mental yang Matang untuk Mengusung Peran Baru Sebagai seorang Ibu

Banyak wanita berusia 30-an yang merasa lebih siap secara mental dan psikis untuk menjadi ibu karena didukung dengan kesiapan diri dan finansial yang sudah memadai. Di lain sisi, mereka juga sudah bisa menata diri dan mengelola waktu dengan baik untuk karier, keluarga, hingga kehidupan pribadi. Karena sudah banyak mendengar dan membaca, wanita di usia ini sudah memiliki cukup referensi terkait bagaimana menjalani peran sebagai seorang ibu. Kelebihan semacam ini tentu akan memberi ketenangan tersendiri, sehingga mereka lebih percaya diri untuk menghadapi kehamilan dan persalinan.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top