Feature

Belum Ingin Menikah Hari Ini, Bukan Berarti Seumur Hidup Akan Sendiri

Mendapat pertanyaan, “Sudah punya calon belum?” saat acara kumpul keluarga, agaknya jadi hal yang biasa. Tapi jangan dulu menyalahkan mereka, sebab hal itu memang menjadi pertanyaan wajar untuk manusia yang sudah dewasa namun tak pernah terlihat menggandeng siapa-siapa.

Perihal usia yang sudah matang hingga keputusan melangkah yang harus disegerakan, memang selalu jadi perkara yang rumit untuk dibicarakan. Akan tetapi, pertanyaan-pertanyaan seperti itu justru menyadarkan kami yang masih sendiri, bahwa sebagian orang masih mendekskrisikan kesendirian sebagai situasi nelangsa.

Kemudian dengan santainya berpendapat bahwa kita yang masih sendiri hingga kini adalah pribadi yang menyalahi kodrat. Tak ingin terbawa emosi, tentu ada beberapa alasan dibalik pilihan itu. Sebab tak ingin menikah sekarang bukan berarti akan hidup sendiri sampai mati.

Hal Pertama yang Harus Kita Mengerti Adalah Setiap Orang Bebas Memilih

Tak ada alasan yang lantas akan membedakan kita dengan mereka yang lebih dulu menikah, sebab ini adalah bagian dari pilihan kehidupan yang sedang dijalankan. Sama halnya dengan mereka yang sudah menikah, harusnya yang lain juga paham jika sendiri dulu adalah pilihan yang harus dihargai.

Karena ini bukanlah perkara mudah, ada ribuan tantangan yang akan dibebankan pada pundak dan kepala. Jika memang belum merasa bisa mengembannya, tak perlu memaksa diri. Tak berniat untuk menyinggung mereka yang mungkin belum mengerti, hanya saja jika pilihan menikah bisa dihargai, hal yang sama harusnya bisa diberikan pada pilihan yang sebaliknya.

Seandainya Mereka Tahu Lelahnya Diberondong Pertanyaan yang Sama Setiap Kali Jumpa, Mungkin Mereka Tak Akan Sampai Hati Mengulanginya

Dielu-elukan sebagai pertanyaan yang bernada skak-mat, kalimat “Kapan nikah?” tak lagi terdengar menakutkan, cuma sedikit membosankan. Karena meski saat ini sudah memiliki kekasih yang bisa diajak bicara soal masa depan, pasti akan ada pertanyaan yang juga bernada serupa.

Seolah tak ada habisnya, mereka yang melempar tanya sepertinya memang doyan membuat hati orang lain nelangsa. Bukan apa-apa, baginya mungkin biasa namun mereka yang menjadi objek tentu punya penilaian yang berbeda.

Diingatkan Terus-menerus, Seolah Kami Tak Paham Bahwa Setiap Manusia Sudah Tercipta Berpasang-pasangan

“Mau apa lagi? Usia sudah cukup, pekerjaan pun sudah mapan. Segeralah cari pasangan,”

Komentar seorang teman yang memang telah lebih dulu jadi seorang bapak. Tak berpikir ia sedang menghakimi, ucapan itu dapat dianggap sebagai bentuk perhatian seorang teman sebaya. Tapi jika terus-menerus disampaikan, jelas menganggu pikiran.

Dengan berbagai alasan positif, memang ada batasan usia untuk seorang laki-laki dan perempuan berada pada masa yang baik. Keturunan dan hal lain jelas jadi pertimbangan memang, tapi bukankah dari awal sudah ada jodoh yang memang disiapkan oleh Tuhan? Lantas untuk apa membebani diri dengan meresahkannya?

Usia Memang Sudah Dewasa, Tapi Sejak Kapan Umur Jadi Patokan Untuk Menikah?

Saat kamu duduk di bangku SMA, mungkin ada temanmu yang memilih menikah lalu meninggalkan pendidikannya, teman lain yang usianya sudah lebih dari seperempat abad masih santai tanpa berpikir harus menikah buru-buru, dan yang lebih uniknya lagi ada yang sudah berkepala tiga namun mengaku masih belum siap menikah.

Lalu yang menjadi pertanyaan, teori menikah karena sudah cukup usia datang darimana? Tentu ini adalah pandangan yang salah, sebab sesungguhnya tak ada batasan usia untuk seseorang menikah. Prosesi nan sakral ini tak memiliki standardisasi. Akan lebih baik jika kita hanya akan melangkah saat sudah merasa siap untuk mengarunginya, bukan karena katanya sudah waktunya, atau dikejar usia.

Tak Ingin Menjadikan Pernikahan Sebagai Pelarian, Sebab Menikah Jelas Butuh Persiapan

Percayalah Kawan, dengan menikah tak lantas semua beban akan hilang, sebab seberat apa pun kamu menjawab pertanyaan kapan nikah, masih belum ada apa-apanya ketika nanti berumah tangga.

Lebih dari itu, menikah jadi gardu paling depan yang akan menghantarkan kita pada berbagai pengalaman. Contoh kecilnya, kamu yang biasa hidup dengan pola yang kamu suka, mendadak harus menyelaraskan langkah dengan manusia baru yang belum tentu akan selalu seirama. Bukan tak percaya akan adanya manusia yang rela menemani kita dan menurunkan egonya, hanya saja bepikir menikah adalah solusi dari berbagai macam beban tidaklah benar.

Belum Ingin Menikah Sekarang Bukan Berarti Selamanya Ingin Melajang, Aku Hanya Menunggu Dia yang Mau Menggenapkanku

Barangkali bukan aku yang jengah, sebab melakoni semua hal sendiri masih jadi sesuatu yang aku nikmati. Anehnya mereka yang jadi penonton justru berpendapat jika kesendirian ini, akan berakhir hingga kelak kematian datang.

Sebab jika memang sudah waktunya, aku pun ingin seperti yang lainnya. Menjadikan seorang sebagai alasan pulang, hingga rela berbagi bantal saat malam. Aku pun sebenarnya sama dengan mereka yang telah menikah, hanya saja hari ini memang belum waktunya. Sebab untuk mewujudkan itu, aku tak akan sembarangan memilih.

Tidak Perlu Menempatkan Orang Lain Sebagai Patokan, Karena Menikah Bukanlah Sebuah Perlombaan

“Si anu sudah menikah, istrinya baik dan punya anak perempuan nan cantik,” atau “Kamu apa nggak ngiri sama temanmu yang udah foto dengan anaknya di instagram, buruan cari calon suami!”.

Ini adalah pilihan untuk menjadi diri sendiri, tanpa perlu beranggapan jika teman lain sudah melakukan lantas aku pun harus mengikut dibelakang. Tidak, bukan seperti itu Kawan! Ada batas dimana aku akan menjadikan orang lain sebagai panutan, tapi untuk urusan menikah nampaknya tidak akan.

Aku memang masih sendiri, meski sudah banyak undangan pernikahan yang menanti rasanya tak jadi alasan harus buru-buru cari pacar yang mau diajak melangkah ke pernikahan.

Masih merasa nyaman akan kesendirian, bukan berarti selama aku akan melajang. Tak berniat melawat kodrat, aku hanya ingin menunggu dia yang tepat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Dibandingkan Spanyol Atau Italia, Pecinta Motor Tanah Air Jauh Lebih Gila

Kalau bicara soal motor apalagi MotoGP rasanya Italia dan Spanyol merupakan dua negara teratas. Sebagian besar pembalap kasta tertinggi balap motor dihuni oleh warga dari kedua negara tersebut. Setiap gelaran di kedua negara itu juga hampir selalu pecah rekor untuk soal jumlah penonton.

Tapi jangan salah, kalau saja MotoGP diadakan di Indonesia, bisa jadi negara kita jadi nomor satu soal antusiasme masyarakatnya dengan motor. Beberapa kali pembalap MotoGP singgah di Indonesia selalu takjub dengan kegilaan orang Indonesia akan motor.

Tak terkecuali Rrasa antusias bikers di Indonesia yang membuat Andre Iannone dan Alex Rins terpukau. Mereka tidak menyangka kalau para bikers di Indonesia sebegitu besar dan heboh. Hal ini disampaikan kala Iannone dan Rins sedang melakukan kunjungan ke Indonesia dalam event Suzuki Bike Meet Jambore Nasional 2018 yang diadakan di sentul.

Event kali ini merangkul 3.000 bikers dari 63 klub dan komunitas Suzuki yang saling bekerjasama dengan PT.SIS (Suzuki Indomobil Sales). Acara dihelat di Sentul Sirkuit, Bogor daerah Jawa Barat. Yang mana acara pembuka dilakukan dengan iring-iringan yang dipimpin kedua pembalap Team Suzuki Ecstar MotoGP 2018.

Andrea Iannone dan Alex Rins disuguhkan Suzuki GSX-R150. Tak cuma mereka brand ambassador GSX-R150, Hamish Daud sebagai ambasador GSX juga ikut serta di acara ini. GSX dipilih karena mencirikan aura MotoGP.

Tampil dengan model full fairing, GSX-R150 tampilannya memang tampak serupa dengan tunggangan pebalap di arena MotoGP. Lampu depan yang menyudut tajam memberikan kesan yang sangat agresif. Struktur jok pengemudi dan penumpang yang tinggi makin memperkuat kesan ini, karena posisi berkendara jadi menunduk.

Berbekal mesin overbore, DOHC (Double Over Head Camshaft) dengan kapasitas 150cc dan berkompresi 11,5 : 1 yang sudah dilengkapi teknologi fuel injection yang canggih untuk pembakaran maksimal, GSX-R150 menghasilkan tenaga sebesar 14,1 kw/10.500 rpm dan torsi sebesar 14 nm/9.000 rpm yang tersalurkan dengan kuat melalui transmisi 6 percepatan.

“Saya tidak menyangka kekuatan bikers Suzuki di Indonesia sangat luar biasa seperti ini. Senang sekali saya mendapatkan pengalaman yang sangat beragam dan berbeda bersama rekan balap saya dan ribuan bikers Suzuki,” ungkap Alex Rins.

Kehebohan dari komunitas dan klub terpancar dari acara yang diadakan sejak pagi hari jam 10, sudah dipenuhi oleh ribuan bikers yang berdatangan dari Tanggerang, Cikarang, Cengkareng, Parung dan lain-lain. Bahkan beberapa dari mereka ada yang berangkat ketika matahari belum terbangun dari tidurnya.

Rasa antusiasme total yang diperlihatkan bikers juga dirasakan oleh Andrea Iannone. Ia pun beranggapan antusiasme publik tanah air jadi dorongan luar biasa baginya untuk lebih berprestasi di ajang MotoGP.

“Ini adalah kali pertama bagi saya bisa larut dalam kegembiraan fans Suzuki. Saya sangat menikmati momen hari ini, dan semoga semangat teman-teman bikers Suzuki bisa menambah semangat saya sendiri untuk tampil lebih mengensankan di musim MotoGP 2018 bersama tim saya,” kata Iannone.

Meskipun acara seperti ini bukan yang pertama bagi kedua pembalap. Namun, Iannone mengungkapkan bahwa di Indonesia lebih meriah dari pada Italia dan Spanyol. Lantaran banyak bikers yang ikut serta dalam event ini apalagi pada saat konvoi yang dilakukan sepanjang track Sentul sirkuit.

“Seperti yang Iannone katakan, kami beberapa kali mengadakan acara serupa. Tapi di sini berbeda karena kami (Iannone dan Rins -red) berkendaraan dengan banyak orang. Apabila tahun ini sukses kami ingin mengdakan acara yang lebih besar,:” tambah Alex Rins.

Antusias yang diperlihatkan oleh para bikers dapat menghipnotis Alex Rins dan Andrea Iannone untuk mewujudkan kembali acara serupa di tahun mendatang. Karena selain menjadi wadah berjumpa dengan pembalap luar, hal ini juga menjadi ajang silaturahmi para klub dan komunitas Suzuki

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Untuk Suamiku yang Tak Pernah Memberi Like dan Komen di Postinganku

Tak ada yang bilang jika menjalani rumah tangga itu mudah. Berdebat hanya untuk memilih tempat makan, tak sepaham dalam memilih sekolah untuk anak, hingga pertengkaran lain yang kadang datang tanpa diundang.

Tapi ini sih belum apa-apa, karena sekarang ada hal lain yang juga bisa jadi masalah. Yap, salah satunya adalah aktivitas kita di media sosial. Seolah tak menganggap aku ada, kamu kerap tak peduli akan apa yang aku kirimkan. 

Saat Pacaran Dulu, Kamu Selalu Jadi Orang Nomor Satu yang Menanggapi Semua Kirimanku

Iya aku paham, barangkali ini yang dinamakan umpan pancingan. Upayamu dulu jelas hanya untuk menarik perhatian, dan benar itulah yang membuatku terkesan. Berbeda dengan sekarang, bagimu mungkin hal-hal seperti itu sudah tidak lagi perlu.

Tapi salahkah aku jika masih berharap kamu seperti dulu? Remeh memang, sebab ini hanyalah perkara postingan di media sosial. Tapi kamu harus tahu Sayang, jika hal-hal seperti ini kadang jadi sesuatu yang justru aku harapkan. Dan kupikir ini bukanlah sesuatu yang membuatmu kerepotan.

Hubungan Kita yang Katamu Adalah Privasi, Kini Berubah Bak Rahasia yang Tersembunyi

Suatu kali saat sedang ingin tidur, aku pernah bertanya perihal sikapmu yang mendadak dingin di media sosial. “Buat apa diperlihatkan di media sosial, yang penting kamu tahu jika kita saling sayang.”

Dengan beberapa alasan agar tak menimbulkan pertentangan, jujur saat itu aku memang merasa cukup terkesan. Kupikir betapa romantisnya suamiku ini, sebab apa yang kamu katakan memang benar. Tapi kini ada hal lain yang justru aku rasa jadi sesuatu yang kerap mengundang curiga.

Bukan karena aku tak percaya, tapi sikap yang kamu tunjukkan memang jadi pemicu lain yang malah membuatku berpikir jika keberadaanku sedang berusaha kamu tiadakan di media sosial.

Aku Tak Ingin Membatasi Gerakmu, Kamu Bebas Berselancar Di Media Sosial Kapan pun Kamu Mau

Sebagai istri yang setiap hari berusaha untuk lebih mengerti, aku pun paham. Jika meski sudah menjadi suami, kamu pasti tetap ingin memiliki duniamu sendiri. Untuk itu seperti yang kamu tahu, aku tak pernah memeriksa apa yang kamu kerjakan pada ponsel milikmu.

Pola pikir dan tindakan yang kita punya haruslah dirubah, begitu kira-kira aku menguatkan diri setiap kali ada curiga yang menghampiri. Sebagaimana keyakinanku dulu menerima cintamu, aku juga yakin bahwa kamu tahu apa yang harus kamu perbuat untuk istrimu.

Sah-sah saja jika harus berbalas komen dengan teman sebaya, bahkan aku tak akan pernah memasang wajah cemburu meski itu adalah perempuan yang mungkin tak tahu jika aku adalah istrimu.

Tapi Anehnya Meski Online Setiap Waktu, Tak Satu pun Postinganku dapat Respon dari Kamu 

Bukan bermaksud untuk menuntut, kupikir semua istri akan merasa janggal jika merasakan hal yang kini tengah aku rasakan. Tanpa perlu kujelaskan, harusnya kamu paham jika status-status berisi foto dan namamu jadi salah satu tanda jika aku butuh pengakuan di media sosial. Tak berarti harus sering, bukan pula harus seperti anak-anak muda yang sedang dilanda cinta.

Aku tak memintamu untuk melabeli semua sosial media milikmu  dengan nama dan foto-fotoku, tapi cobalah sedikit peka dengan apa yang selalu aku kirimkan menyangkut dirimu. Enggan untuk jadi pihak yang mengirimkan cerita kita, kamu mungkin bisa jadi perespon aktif di setiap postinganku.

Bagimu Mungkin Bukan Perkara Besar, Tapi Sering Menjadi Sumber Segala Kecurigaan

Untuk urusan rumah tangga, kita memang akan selalu memiliki pemahaman yang tak searah. Begitu pula dengan perihal respon di media sosial yang katamu terlalu kubesar-besarkan.

Kamu mungkin bisa berkata jika sikap tak pedulimu adalah sesuatu yang biasa. Ya, tentu pun aku akan mengiyakan hal itu, jika kamu memang tak terlalu serius untuk bermain di dalamnya. Akan tetapi kenyataannya kamu jutru jadi pihak yang lebih getol dariku. Tahu semua hal yang aku lakukan pada sosial mediaku, tapi tak pernah meninggalkan jejak berupa like atau komen pada semua postinganku.

Lalu salahkah jika akhirnya aku justru curiga?

Jadi Bukankah Wajar Jika Aku Berpikir Ada Perasaan Lain yang Sedang Kamu Jaga Di Media Sosial?

Hal ini kukatakan bukan tanpa alasan, tapi bukan pula ingin menjadikanmu sebagai pihak yang tersudutkan. Aku hanya ingin menyampaikan apa yang sedang aku rasakan. Karena dari sikap yang kamu tunjukkan, ada keyakinan lain yang akhirnya aku dapatkan.

Meski hidup berdua bersamamu, tak sepanjang waktu aku bisa menjagamu. Jika ternyata sikapmu yang kerap acuh pada semua yang aku bagikan tentang kita terus berlanjut, mungkin benar kecurigaanku selama ini. Barangkali ada hati lain yang sedang kamu jaga untuk tak tersakiti.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

10 Desain Rumah Minimalis Untuk Pasangan Muda yang Baru Saja Menikah

Biar tak  hanya sekedar angan-angan belaka, perihal membeli rumah memang jadi sesuatu yang perlu dipersiapkan sebelum atau setelah menikah. Beberapa pasangan memang memilih memiliki rumah dulu, baru menikah. Tapi ada pula yang justru sebaliknya, menikah dulu lalu membeli rumah. Sah-sah saja sebenarnya, toh setiap orang memiliki pandangan dan rejeki yang berbeda-beda.

Teruntuk kamu yang mungkin baru saja menikah dan sedang bingung untuk menentukan pilihan desain rumah. Masih tinggal berdua, kaplingan sederhana dengan 2 kamar tidur jelas sudah cukup untuk kalian berdua. Untuk membantumu menentukan pilihan, cobalah tengok beberapa desain inspirasi rumah minimalis yang coba kami rangkumkan.

1. Untuk Ukuran Rumah Minimalis, Sebenarnya Kita Hanya Perlu 4 Ruangan Saja

Sumber : https://rumahminimalisanda.com

Yap, 2 untuk kamar tidur, sisanya buat ruang tamu berukuran sedang dan kamar mandi.
Berita baiknya, lahan yang tersisa bisa kita pakai sebagai taman atau ruang hijau yang menjaga kesegaran udara sekitar.

Meskipun nanti akan punya anak, satu kamar yang tersisa masih bisa dipakai untuk dirinya. Nah bagaimana? Tak sulit bukan. Meski sederhana, desain seperti ini jadi konsep yang cukup ramah untuk pasangan yang baru menikah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Jatuh Bangun LDR Yang Hanya Dirasakan Para Pejuang Jarak

Tak ada yang bilang kalau LDR itu mudah. Seberat-beratnya ujian, perkara jarak pun juga bisa jadi hal yang sangat berat bagi setiap pasangan. Belum lagi omongan di luar sana yang dengan mudahnya berkata kalau hubungan jarak jauh tak akan berhasil dan buang-buang waktu. Berat bukan? Memutuskan untuk LDR bukan hanya perkara berdamai dengan jarak, tapi juga melembutkan hati dan ego agar bisa menerima situasi semacam ini sekaligus menahan rindu meski berujung pilu.

Ketika kamu dan dia sudah memutuskan berjuang bersama, maka ujian jarak adalah sebaik-baiknya kesempatan untuk kalian agar bisa saling menyemangati dan terus belajar untuk saling menghargai. Terlebih jika pasanganmu memutuskan merantau demi masa depan kalian berdua. Memang berat, tapi percayalah ujian semacam ini tak akan bertahan lama. Ketika kamu yakin bisa melakoninya, maka jadikan hal itu semangat dan energi untuk menghadapi perkara LDR. Aku tahu rindu itu berat. Tapi semuanya akan terbayar ketika di ujung waktu, kamu bisa kembali berjumpa dengannya.

Saat Dia Berada Di Perantauan, Kamu Seperti Menjadi Satu-satunya Orang yang Tak Bisa Bersandar di Pundak Pasangan

Ketika kamu pergi ke tempat umum seperti mall, bioskop, atau di manapun itu, terbersit rasa ingin pergi bersama dan menggandeng tangannya seperti yang dilakukan banyak pasangan yang kamu jumpai. Saat sedih pun ada pundak yang bisa disandari. Sementara kamu, hanya bisa membayangkan sosoknya atau mendengarkan suaranya saja.

Tapi Seiring Berjalannya Waktu, Kamu Kian Tahu Cara Mengusir Sedih. Sebab Dari Jauh, Dia pun Selalu Meyakinkanmu Jika Jarak Tak Akan Membuat Hubungan Kalian Kian Rapuh

Perlu waktu yang tak sebentar untuk mengusir kegalauan lantaran ditinggal pergi merantau. Sedih, sudah jelas. Namun seriring berjalannya waktu, kamu seperti tahu caranya mengusir sedih agar berlalu. Si dia juga terus menyemangati agar kamu lebih tenang. Caranya meyakinkanmu membuat kamu mengerti kalau hubungan jarak jauh tak harus membuat kalian jadi rapuh.

Ada Rasa Gembira dan Bangga yang Terselip Atas Pencapaian Pasanganmu. Di Lain Sisi, Hal Itu Juga yang Membuatmu Terpacu Meraih Mimpi

Di lain sisi, keputusannya untuk merantau lantaran adanya panggilan pekerjaan membuatmu berbangga. Dia yang selama ini mendampingimu adalah sebaik-baiknya panutan dalam hal meraih mimpi. Kamu pun jadi terpacu untuk melakukan hal  yang sama, yaitu meraih mimpi yang selama ini belum tercapai.

Satu-satunya Obat Rindu Adalah Berjumpa Lewat Suara Sembari Melihat Foto-foto Lama yang Tersimpan Sebagai Memori

Saat melihat teman di media sosial tengah memamerkan kemesraan bersama pasangannya, kamu mungkin hanya bisa menahan rindu sembari berharap kapan bisa berjumpa dengannya. Satu-satunya cara selain mengontaknya secara langsung, ya kamu harus bernapas lega hanya dengan melihat kembali foto-foto lama yang tersimpan sebagai memori. Setidaknya cara itu bisa menenangkan rindu yang semakin membumbung.

Kamu Tak Hanya Bergulat dengan Rindu, Tapi Juga dengan Ego Pribadi. Kamu Belajar Sebaik Mungkin Mengatur Rindu Agar Tak Membuatnya Khawatir denganmu

Meski kalian menjalani LDR, tapi hubunganmu pasti melewati fase-fase tertentu. Ada masanya, terutama di awal-awal kamu ditinggal pergi, kamu akan merengek-rengek lantaran rindu. Perlahan tapi pasti, kamu menyadari hal semacam itu hanya menunjukkan jika egomu kelewat besar dan justru kian menyulitkannya di perantauan. Semakin hari, kamu pun semakin menyadari, mengatur rindu itu perlu agar dia tetap bisa fokus dengan tanggung jawab pekerjaannya yang jauh lebih penting.

Melihat Teman-temanmu Galau Lantaran Ditinggal Kekasih Mereka, Tebersit Kata-kata “Ah Biasa Saja, Aku Malah Lebih Lama,”

Kelihatannya sombong memang, tapi faktanya demikian. Seiring berjalannya waktu dan kamu sudah berhasil melewati masa-masa LDR, kamu pun jadi terlihat terbiasa dan ‘menikmati’ rasanya berjauhan dengan si dia. Jangankan dilanda rindu, bergulat dengan pilu pun kamu sudah biasa. Begitu batinmu.

Kamu Jadi Punya Ikatan dengan Tempat-tempat Tertentu Seperti Stasiun hingga Bandara. Sebab Disanalah Tempat Rindu Bisa Hilang dan Tapi Juga Bisa Tumbuh Kembali

Kamu seakan-akan merasakan hidupmu seperti film romansa dimana kamu harus mengantar dan menjemput dia. Stasiun dan bandara sudah jadi tempat yang menggoreskan berbagai cerita tentang kalian berdua. Sebab di sanalah tempat rindu berakhir sekaligus bermula.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top