Feature

Aku Lebih Memilih Terlambat Menikah Daripada Salah Pilih Pasangan

“Kapan nikah? “Mau sampai kapan sendiri aja? Ingat umur, jangan ditunda-tunda lagi. Apa kamu mau jadi perawan tua?” Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering membuatku ingin meledak. Apa mereka tidak tahu kalau setiap orang punya pemikiran yang berbeda-beda?

Ingin rasanya aku berteriak di wajah mereka. “Ini kehidupanku! Aku yang memegang keputusan! Bukan kamu!” Lagipula, aku memang ingin lebih selektif dalam menentukan siapa pria yang cocok untuk menjadi pendamping hidupku. Aku ingin pernikahan yang berjalan tanpa akhir.

Sekarang coba hitung, berapa banyak gugatan cerai yang dilayangkan ke pengadilan setiap harinya? Apa yang menjadi penyebab itu semua? Jawaban mereka umumnya sama, “Kami merasa sudah tidak cocok lagi”. Itu semua adalah kata lain dari salah pilih pasangan. Dan aku tidak mau jika pernikahanku berakhir dengan alasan salah pilih pasangan.

Aku Tidak Ingin Membebani Orangtua Lagi, Aku Ingin Menikah dengan Biaya Sendiri
pexels-photo-65038

Salah satu alasanku tidak ingin terburu-buru menikah adalah soal biaya. Aku tidak ingin membebani orangtuaku. Aku ingin mereka bisa pensiun dengan berkecukupan. Aku ingin pernikahan impianku digelar atas biayaku sendiri dan pasangan.

Aku juga tidak berharap atau bermimpi terlalu jauh bisa mendapatkan pasangan yang kaya raya. Maka aku sibuk bekerja untuk menabung sebanyak-banyaknya. Aku tidak ingin menggantungkan diri pada orangtua, pasangan apa lagi sampai berutang ke bank untuk menikah.

Masih Banyak Hal yang Ingin Aku Lakukan dan Tempat yang Ingin Aku Kunjungi

nature-person-red-woman

Hidup adalah pilihan. Aku menghargai pilihan teman-temanku yang menikah muda, hamil, melahirkan, menyusui lalu mengurus anak dan suami. Jika mereka bahagia, aku tidak masalah. Toh itu kehidupan mereka. Tapi aku punya cara pikir berbeda.

Sekarang aku punya karir yang baik dan uang yang cukup. Aku ingin traveling, mengunjungi berbagai tempat yang indah dan mengumpulkan kenangan. Mumpung masih muda, punya waktu dan uang. Aku ingin melakukan berbagai hal-hal seru yang mungkin tidak bisa dilakukan lagi ketika sudah berkeluarga.

Aku tidak ingin bertengkar dengan suamiku hanya karena ingin melakukan hal-hal yang aku suka. Aku juga tidak ingin meninggalkan anakku untuk jalan-jalan. Aku ingin puas menghabiskan masa mudaku sebelum menikah. Ketika sudah punya anak, aku harus mepertanggungjawabkan tugasku sebagai ibu sekaligus istri.

Aku Tahu Tidak Ada Orang yang Sempurna, Maka Aku Mencari Pasangan yang Mau Menerima Kekuranganku

nature-person-hands-girl

Selama ini aku mungkin terlihat sangat pemilih. Tapi bukannya karena aku mencari sosok yang sempurna, tanpa kekurangan sama sekali. Justru aku sudah berkali-kali mencoba memahami mereka. Aku tahu betul ini hal yang sulit. Aku juga punya kekurangan. Selama ini justru aku sudah cukup dikecewakan.

Mereka tidak bisa menerima kekuranganku. Padahal untuk menjalin hubungan yang lebih serius dan untuk jangka panjang, kita harus menerima kekurangan dan kelebihan pasangan. Maka aku rasa memang ini belum waktunya. Aku harus bersabar menunggu lebih lama hingga dia tiba. Dia yang mau menerima diriku apa adanya.

Aku Bukan Orang yang Anti Ikatan, Aku Juga Ingin Berkeluarga, Jadi Jangan Menilaiku Sembarangan

pexels-photo (8)

Jika kamu pikir aku tidak kunjung menikah karena aku anti ikatan, kamu salah besar! Aku bukan seperti yang kamu pikir. Aku juga tidak ingin terlalu lama sendiri. Aku ingin membangun keluarga kecil yang bahagia dan menghabiskan hidup bersama pasangan yang aku cintai.

Tapi masalahnya, untuk mendapatkan pasangan yang cocok tidak semudah belanja buah atau sayur. Tinggal datang ke supermarket, sudah tersedia barangnya dan tinggal pilih. Mencari pasangan itu butuh momen dan kesempatan yang pas.

Aku Tidak Ingin Terjebak dalam Kehidupan Rumah Tangga yang Menyiksa

hands-people-woman-meeting

Sudah banyak kasus perceraian yang terjadi di sekitarku. Padahal mereka berkenalan sendiri, pacaran lalu menikah dengan cepat. Saat itu mereka tampak begitu bahagia. Entah kenapa hanya sebentar, mereka sudah memutuskan berpisah.

Ada yang karena perselingkuhan, ada juga yang karena kekerasan dalam rumah tangga. Ini yang membuatku kadang takut. Bagaimana kalau harus terjebak dalam kehidupan rumah tangga yang menyiksa? Aku tidak mau mengalami hal seperti itu. Bertahun-tahun menahan sakit hati karena konflik dengan pasangan atau mertua.

Jika harus bercerai pun, aku takut harus menjadi single parent. Belum lagi status sebagai janda yang harus aku sandang. Mungkin ini berlebihan, belum menikah tapi sudah memikirkan perceraian. Tapi tidak pernah ada yang tahu masa depan. Inilah yang membuatku sangat berhati-hati sebelum menentukan menikah.

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

1 Comment

1 Comment

  1. klewood

    August 5, 2016 at 11:56 am

    haha, jawaban pembelaaan dari orang yang belum menikah 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Warna Favorit Tak Sekedar Soal Selera, Tapi Menentukan Karakter Juga

Semua orang pasti punya warna favorit. Meskipun kamu bilang “tak punya warna kesukaan” secara tak sadar pasti ada preferensi khusus ketika memilih warna. Coba tengok isi lemari pakaianmu, pasti kamu bisa segera menemukan jumlah warna yang lebih banyak dibanding lainnya.

Dari penelitian, secara statistik warna biru adalah yang paling banyak difavoritkan oleh orang. Termasuk juga warna yang paling banyak dipilih mayoritas laki-laki. Sementara perempuan paling banyak memilih warna hitam. Sementara warna yang paling sedikit difavoritkan adalah warna kuning. Hanya 5 persen orang yang memilih warna ini sebagai kesukaan. Itu pun semakin menua, mereka yang tadinya memilih kuning akan beralih ke warna orange.

Dalam cabang ilmu psikologi, warna ini tak cuma dianggap angin lalu. Ada cabang keilmuan psikologi khusus yang mempelajari hal ini. Disebut pemilihan warna dipengaruhi oleh karakter. Lantas apa kata ilmu tersebut mengenai warna pilihanmu?

Biru Itu Tenang Dan Senang Keteraturan

Biru itu serupa warna lautan. Seringnya di asosiasikan dengan ketenangan. Mereka yang memfavoritkan warna biru biasanya gemar mencari kedamaian dan keteraturan dimanapun dia berada. Biasanya penyuka warna biru mudah bergaul dan sangat bisa diandalkan.

Merah Itu Senang Menjadi Pusat Perhatian Dan Ingin Terlihat Menarik

Meski belum ditemukan sebabnya, namun sejumlah studi menyebut bahwa warna merah cenderung lebih menarik perhatian dibandingkan warna yang lain. Beberapa menyebut hal ini berkaitan dengan insting dasar biologis tubuh yang cenderung memanas dan memerah jika merasa tertarik.

Meski tanpa sengaja, orang yang menyukai warna merah umumnya berasal dari kesadaran ini. Mereka merasa lebih diperhatikan jika menggunakan warna merah. Keinginan untuk selalu mendapat perhatian inilah yang kemudian mendorong seseorang menyukai warna merah.

Hijau Itu Sangat Memperhatikan Keuangan, Keamanan Dan Kesejahteraan

Hijau memang sering dikaitkan dengan alam dan lingkungan. Namun menurut psikologi warna,mereka yang memilih hijau umumnya adalah orang-orang yang mengutamakan kestaabilan keuangannya, sangat ingin mendapatkan rasa aman dan mengutamakan kesejahteraan.

Orange Itu Pembawaannya Santai Dan Mudah Bersahabat

Merka yang gemar warna oranye atau orange umumnya juga gemar menjadi pusat perhatian. Cenderung bersifat flamboyan, punya banyak teman dan tak senang sesuatu yang serius. Konon katanya penyuka warna oranye ini cenderung menunda pernikahan loh!

Abu-Abu Itu Senang Kebebasan Dan Sulit Berkomitmen

Warna ini berada diantara hitam dan abu-abu. Seperti warnanya yang “tak jelas”, karakter penyukanya juga tak terlalu senang komitmen. Menurut psikologi warna, penggemar warna ini hanya punya sedikit emosi, mudah bosan dan tak mau terikat.

Mereka tak punya sesuatu yang benar-benar disukai atau sesuatu yang benar-benar dibenci. Semua biasa saja untuk mereka. Hidupnya yang bebas dan tak mau terikat biasanya justru membuat penasaran banyak orang.

Merah Muda Itu Sedikit Naif Dan Apa Adanya

Penyuka merah muda itu bisa diibaratkan mereka yang selalu dalam kondisi anak-anak. Tak punya banyak kecurigaan, polos dan tidak punya perasaan negatif kepada orang lain. Sayangnya penyuka pink ini sering dimanfaatkan oleh orang lain.

Hitam Itu Moody, Tak Mau Ribet Namun Inginnya Yang Berkelas

Para penyuka hitam ini tidak mau berhadapan dengan segala keribetan. Mereka selalu ingin hal-hal yang berkualitas dan berkelas. Ujungnya karakternya cenderung moody alias mudah berubah-ubah jika menemui hal yang kurang disukainya.

Putih Itu Menganggap Dirinya Polos

Putih itu sering dikaitkan dengan suci dan kepolosan. Namun sesungguhnya penyuka warna putih itu tak begitu polos-polos amat. Namun mereka ingin meyakinkan orang lain bahwa diri mereka polos. Sementara sebetulnya mereka sama sekali tidak polos dan cenderung “pintar”.

Kuning Itu Idealis Dan Perfeksionis

Penyuka warna kuning itu cenderung idealis dan bahkan perfeksionis. Mereka juga punya optimisme yang di atas rata-rata. Sayangnya keinginan untuk segala sesuatu itu selalu sempurna mendorong orang dengan karakter ini jadi mudah cemburu dan iri.

Jadi Pilihan Warnamu Apa? Coba Sesuaikan Dengan Kendaraanmu!

 

Guna memperkuat karaktermu tentunya pas kalau kendaraan sehari-hari yang digunakan warnanya sesuai dengan yang kamu favoritkan.

Pilihan warna motornya tak banyak? Mungkin begitu alasanmu. Memang tak semua varian motor punya beragam warna. Tapi Suzuki Address Playful mencoba menjawab tantangan ini. Tak tanggung-tanggung varian ini punya 10 pilihan warna yang diterapkan pada aksesoris panel bodi menarik dan penuh gaya yang dapat disesuaikan dengan karakter kamu. Terdapat warna Stronger Red, Aura Yellow, Fresh Green, Macho Bright Blue, Majestic Gold, Dark Grey, Brilliant White, Hyper Pink, Luminous Orange dan Ice Silver. Suzuki juga menerjemahkan warna-warna ini sesuai karakter kamu.

Aura Yellow misalnya cocok untuk kamu yang mudah bergaul dan keberadaanmu selalu membawa keceriaan dengan orang sekelilingmu. Semangat, kreativitas dan kelucuanmu adalah kelebihan utamamu. Kegiatan favoritmu tak jauh-jauh dari kegiatan sport dan ekstrem.

Sementara untuk kamu yang selalu ingin tampil sempurna pasti lebih memilih warna Majestic Gold. Karena warna emasnya menggambarkan hal yang tak ternilai sekaligus elegan.

Fresh Green akan dipilih kamu yang punya sifat loyal terhadap kawan. Kamu juga termasuk orang-orang yang jujur dan senang berada di dalam komunitas untuk bersosialisasi. Warna hijau juga idientik dengan lingkungan dan warna yaang aktif.

Kalau kamu orang yang memilih stronger red adalah orang-orang yang optimis, passionate dan percaya diri. Kamu selalu semangat dan kreatif dalam melakukan segala sesuatu.

Nah, untuk kamu yang punya pengendalian diri yang baik akan diwakili dengan warna macho bright blue. Kamu cenderung hati-hati, tenang dan patuh terhadap aturan. Tapi meski teratur dan stabil bukan berarti kamu membosankan.

Selain warnanya yang menarik motor ini cocok untuk penggunaan harian karena dimensi bodinya yang mungil dengan dimensi pas dan seimbang. Dimensi bodi panjang 1855 mm, lebarnya 655 mm dan tinggi 1095 mm serta memiliki jarak sumbu roda atau wheelbase 1260 mm. Bodi yang cukup mungil dan ramping hanya memiliki bobot sebesar 97 Kg.

Skutik ini juga nyaman karena didukung suspensi depan dan belakang yang tangguh. Untuk bagian depan menggunakan suspensi tipe Telescopic Coil Spring Oil Damped. Sedangkan untuk belakang Suzuki Address Playful menggunakan suspensi tipe Swingarm Coil Spring Oil Damped.

Suzuki Address Playful ini dibekali mesin SOHC 4 langkah kapasitas 113 yang cc yang menghasilkan performa yang baik. Teknologi full injectionnya mampu menekan konsumsi bahan bakar dengan perbandingan kompresi yang mencapai 9.4:1.

Jadi kamu pilih yang mana?

1 Comment

1 Comment

  1. klewood

    August 5, 2016 at 11:56 am

    haha, jawaban pembelaaan dari orang yang belum menikah 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Sponsored Content

Hasil Surveynya, Mereka Yang Pakai Motor Ini Yang Bahagia

PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) berhasil meraih penghargaan dalam kategori survei “Indeks Kebahagiaan Berkendara (IKB) 2017” yang diselenggarakan oleh Tabloid OTOMOTIF selama bulan Juni – Agustus 2017. Dalam acara yang dilangsungkan di Will’s Café & Resto, Plaza Kelapa Gading, Jakarta Utara, Suzuki berhasil menang dalam kategori bebek 150cc untuk Suzuki Satria F150 dan kategori skutik 110-125cc untuk Suzuki Address FI (Kategori Skutik 110-125cc).

Indeks Kebahagiaan Berkendara merupakan formulasi dari kepuasan berkendara, kondisi kendaraan dan tingkat emosi saat berkendara yang semuanya mempengaruhi seberapa besar kebahagiaan seseorang dalam berkendara. Survei ini adalah cerminan konsumen Suzuki yang mendapatkan pengalaman menyenangkan melalui produk-produk Suzuki.

“Apresiasi yang diberikan oleh publik melalui survei IKB sangat berarti bagi kami sebagai upaya agar kami dapat terus mengembangkan inovasi di setiap produk Suzuki, termasuk ketiga produk yang unggul di kelasnya masing-masing pada survei ini. Karena pada akhirnya, kepuasan dan kebahagiaan konsumen saat menggunakan produk-produk Suzuki merupakan pencapaian yang tak ternilai, selaras dengan tujuan utama Suzuki dalam menciptakan produk bernilai tinggi yang berorientasi pada konsumen.” ujar Arviane D.B. Corporate PR PT. Suzuki Indomobil Sales.

Suzuki Satria F150 kembali bertahta sebagai jawara motor bebek 150cc dengan menyematkan teknologi Fuel Injection untuk motor hyper-underbone ini, sehingga pengendara dapat mengoptimalkan performa setiap fiturnya dengan mudah saat mengendarai Satria F150 yang diklaim sebagai motor bebek tercepat di kelasnya.
Sementara Suzuki Address FI merajai kategori Skutik 110-125 cc berkat transmisi CVT yang membuatnya semakin nyaman dikendarai. Selain itu, walau memiliki kabin yang luas bodi Suzuki Address FI cukup ramping dengan desain sporty yang menjadi andalan ke-210 responden yang mengendarai motor.

Survey IKB 2017 ini sendiri melibatkan total 455 responden yang berusia lebih dari 18 tahun, mengendarai kendaraan sendiri, tahun produksi kendaraan minimal tahun 2000, serta kendaraan milik pribadi. Para responden yang terdiri dari pria dan wanita dengan kategori SES A sampai SES C melakukan survei IKB 2017 dengan mengisi angket online di website OTOMOTIFNET melibatkan pengguna kendaraan motor dan mobil.

1 Comment

1 Comment

  1. klewood

    August 5, 2016 at 11:56 am

    haha, jawaban pembelaaan dari orang yang belum menikah 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Adakah yang Salah dari Laki-laki yang Ingin Menjadi Bapak Rumah Tangga?

Iya, bapak rumah tangga!

Tak perlu mengernyitkan kening tanda tak percaya, kamu memang tak salah baca. Pilihan setelah menikah kadang memang terlihat tak seimbang, konon perempuan boleh tetap bekerja atau memilih tinggal di rumah saja. Sedangkan laki-laki? Sebagai kepala rumah tangga ya harus bekerja.

Stereotip akan sekat antara peran laki-laki dan perempuan nampaknya memang sudah mendarah daging. Padahal, kini untuk urusan bekerja dan berpenghasilan perempuan tak lagi menemukan pagar penghalang. Lalu mengapa seorang laki-laki yang berkeinginan menjadi bapak rumah tangga, masih sangat tabu untuk kita terima?

Ini Bukan Tentang Siapa yang Akan Jadi Kepala dan Ibu Dalam Rumah Tangga, Tapi Bagaimana Membagi Peran Sesuai Kesepakatan

Sebagian besar kaum adam percaya, bahwa merekalah yang pantas jadi tulang punggung keluarga. Bukan tak ingin menghargai perspektif mereka akan peran seorang laki-laki dalam keluarga. Tapi ada pandangan lain yang memang harus kita terima pula, yaitu mereka yang ingin berbagi peran dengan istrinya.

Jangan dulu bilang ini adalah bentuk dari kelemahan seorang suami, karena keputusan tersebut tentu sudah melalui mediasi. Siapa yang akan tinggal di rumah, dan siapa yang akan bekerja keluar rumah. Tak ada yang salah, jika kedua belah pihak merasa nyaman untuk tetap menjalaninya.

Dan Masalah Utamanya, Jelas Pada Ideologi yang Dipercaya Oleh Masyarakat Kita

“Perempuan bebas memilih, mau di rumah atau bekerja, yang penting laki-laki tetap cari nafkah!”

Kalimat-kalimat seperti ini kerap kita dengar, ketika sedang berada pada acara kumpul keluarga atau penikahan seorang saudara. Meski didalam hati kadang kita tak terima, karena nampaknya itu tak selalu adil untuk kita. Baik laki-laki atau perempuan.

Tak hanya datang dari kepercayaan masyarakat saja, ternyata undang-undang di negara kita juga punya pandangan serupa. Tak percaya? Coba saja lirik UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pada pasal 31 ayat yang ke 3, disana dijelaskan bahwa “Suami adalah kepala keluarga dan istri adalah ibu rumah tangga”.

Dan paham semacam ini, masih berlaku hingga kini. Ketakutan tak akan diterima oleh masyarakat kadang meluluhkan niat akan keinginan untuk menentang sesuatu yang kadang tak bisa kita terima. 

Padahal Memilih Untuk Berada di Rumah, Tak Lantas Membuat Laki-laki Kehilangan Jati Dirinya

Melonjaknya kesempatan kaum hawa untuk menunjukkan eksistensinya kadang jadi sesuatu yang membuat laki-lak mengalah. Dari hal ini sepasang suami istri mungkin bisa belajar, bahwa bertukar peran tak akan menghapus kewajiban dan tanggung jawab masing-masing. Walau untuk urusan nafkah keluarga mungkin akan ditanggung sang istri. Tapi tak selalu penuh. 

Bukan Tentang Pantas Atau Tidaknya, Semua Akan Terlihat Baik Jika Dilihat dari Sisi yang Berbeda

Katakanlah tadinya kalian bedua tadinya sama-sama bekerja, kemudian mau tak mau harus ada yang mengalah untuk mengurus rumah tangga. Tak perlu bertahan pada gengsi, tapi bagaimana kenyataan yang akan kita dapati.

Bahkan tahun lalu industri perfilman India memberikan suguhan nuansa baru lewat sebuah film berjudul “Ki & Ka”. Dimana sang suami “Ka” memutuskan untuk menjadi bapak rumah tangga yang akan mengurusi semua pekerjaan rumah, sedangkan istrinya “Ki” pergi bekerja. Meski digambarkan pada sebuah film saja, tak menutup kemungkinan bahwa ada orang-orang yang seperti mereka.  

Emansipasi Tentu Jadi Salah Satu Hal yang Memicu Keinginan Mereka

Jangan dulu pikir bahwa pilihan ini justru akan menyusahkan istri dan para perempuan lain, toh ini sudah era emansipasi. Disamping itu, tidak sedikit perempuan yang mengaku tak mampu jadi ibu rumah tangga yang baik.

Toh menggantikan peran istri di rumah bukanlah sesuatu yang mudah. Dan laki-laki yang berani untuk mengambil pilihan ini tentulah mereka yang juga punya kemampuan baik dan pemahaman luas.  

Orang-orang seperti ini sadar, bahwa emansipasi yang banyak digadang-gadang tak hanya kesetaraan gender pada hal-hal tertentu saja. Peran didalam rumah tangga juga termasuk didalamnya.

Pilihan Ini Memang Masih Dipandang Sebelah Mata, Tapi Bukan Berarti Salah

Barangkali kita masih jarang mendengar istilah “stay home dad” atau Bapak Rumah Tangga. Tapi perlahan, seiring dengan perubahan zaman dan pemikiran beberapa orang yang telah sadar, banyak kampanye yang menyuarakan arti pentingnya laki-laki dalam mendukung pengembangan diri perempuan. Mulai dari partisipasi laki-laki dalam ranah domestik hingga peran ayah yang memang harusnya mendominasi untuk tumbuh kembang anak. Pasalnya menurut Psikiatris anak dari Amerika Serikat, Dr. Kyle D. Pruett, seorang bayi yang berusia 7 hingga 30 bulan, jauh lebih responsif pada sentuhan yang berasal dari ayah dibanding ibunya. 

Karena Bisa Jadi, Ini Adalah Salah Satu Cara Untuk Menikmati Hidup Bersama

Sebagai dua orang yang akan hidup bersama setelah menikah, tentu banyak hal yang patut dipertimbangkan. Salah satunya adalah keinginan pasangan yang akan tetap bekerja atau tidak. Jika ternyata cerita hidup yang kamu punya, justru berisi keinginan suami yang akan berhenti bekerja itu bukanlah pilihan buruk tentunya.

Bagi laki-laki yang mungkin tak nyaman dengan aturan serta ikatan dalam perusahaan, ini akan jadi berita baik. Tetap bisa bekerja dari rumah, sembari manggantikan tugas sang istri. 

Sejatinya orang yang tahu hal baik dan buruk dalam hidupmu adalah kamu dan pasangan. Tak perlu risau untuk cibiran orang. Jika ternyata itu adalah salah cara untuk hidup yang lebih bahagia, kenapa tidak?

1 Comment

1 Comment

  1. klewood

    August 5, 2016 at 11:56 am

    haha, jawaban pembelaaan dari orang yang belum menikah 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Tips

Ini Bukan Soal Istri Yang Tak Bersyukur, Tapi Tentang Suami Pelaku Kekerasan Finansial

Mungkin istilah kekerasan fisik atau kekerasan verbal alias omongan lebih familiar di telinga. Sementara kekerasan finansial alias kekerasan keuangan, bisa jadi baru kali ini kamu dengar.

Apalagi di Indonesia, suami yang menjadi pelaku kekerasan finansial kerap berlindung di balik kata-kata “Rejeki sudah ada yang mengatur, jadi orang itu harus selalu bersyukur”. Walhasil perempuan seringkali tak paham sekaligus malu mengakui kalau dirinya menjadi korban kekerasan finansial.

Masalahnya kekerasan finansial ini biasanya tak berdiri sendiri. Pelaku juga umumnya melakukan kekerasan verbal yang bahkan berujung kepada fisik. Gawatnya kekerasan finansial ini tak jarang justru digunakan sebagai senjata ampuh, para laki-laki untuk mencegah perempuan meninggalkan hubungan yang penuh KDRT.

seperti dikutip dari situs Mommies Daily, Prita Hapsari Ghozie, Chief Financial dari Planner ZAP Finance menjelaskan tentang beberapa tipe kekerasan finansial ini.

Istri Dipaksa Bekerja Dengan Pendapatan Tinggi, Sementara Suami Ongkang-Ongkang Kaki

Jalannya rejeki memang kita tak pernah tahu. Bisa saja istri lebih punya penghasilan dibanding suami. Sehingga suami lebih memilih tinggal di rumah saja. Sampai disini tak masalah, karena memang ada yang disebut “stay home dad”

Tapi masalahnya kondisi istri bekerja ini akibat paksaan dan tekanan dari suaminya. Istri ditempatkan dalam situasi tertekan sehingga tak pernah terpikir kalau uang hasil kerjanya juga terdapat hak untuk dirinya sendiri. Dalam kondisi ekstrim kamu pasti pernah mendengar kasus suami yang menjual istrinya kepada banyak laki-laki lain dan menguasai uang “penghasilan” sang istri.

Istri Dilarang Bekerja, Tapi Nafkah Dari Suami Pas-Pasan

Ini tipe yang sebaliknya dari yang pertama. Istri dilarang total untuk bekerja oleh suami. Penyebabnya karena suami ingin menunjukkan otoritas dan kendalinyaa terhadap istrinya. Parahnya, istri hanya diberi uang bulanan yang pas-pasan. Situasi ini terus dipelihara agar istri merasa tergantung pada suaminya sebagai sumber keidupan.

Istri Sama Sekali Tak Diberi Uang Bulanan

Menurut Prita, ini adalah salah satu bentuk kekerasan finansial yang nyata. Ada 2 alasannya yang melatar belakangi kekerasan ini. Pertama karena memang karena si suami tidak bekerja. Sementara kedua karena suami memberikan pembatasan ketat terhadap keuangan.

Semua keluar masuk uang harus melalui dirinya sebagai suami.Serupa dengan yang sebelumnya Ini adalah suatu bentuk kontrol yang digunakan oleh suami agar menciptakan ketergantungan pada istri sehingga istri menjadi tergantung dan takut untuk pergi.

Istri Dipaksa Berhutang Untuk Menghidupi Biaya Bulanan

Bukannya mencari pekerjaan dan berusaha mendapat penghasilan, suami justru membiarkan istri begitu saja. Dengan sangat terpaksa harus berutang kiri kanan untuk mencukupi kebutuhan. Dan ketika utang sudah menumpuk suami memilih tidak mau tahu bagaimana cara menyelesaikan utang tersebut.

Suami Memakai Uang Istri Dan Tidak Pernah Merasa Perlu Mengembalikan

Prita menyebut tidak ada yang salah ketika istri memberikan bantuan modal kepada suami untuk memulai usaha. Namun tentunya jadi problem ketika istri mengajak diskusi dan bertanya soal realisasi keuntungan dari modal yang sudah dikeluarkan itu malah dimaki dan dibentak.

Suami Bekerja Namun Tak Memberikan Nafkah, Dengan Alasan Pendapatan Istri Lebih Dari Cukup

Dalam kasus ini, suami bekerja dan penghasilannya lebih dari cukup. Namun sang suami enggan untuk memberikan nafkah untuk menghidupi keluarga. Alsannya karena pendapatan istrinya yang juga bekerja sudah cukup untuk biaya bulanan rumah tangga.

Lantas Harus Apa?

Prita menyebut bahwa langkah paling pertama yang harus dilakukan adalah mencoba membicarakannya dengan suami. Penting bagi istri untuk mengutarakan perasaannya terhadap situasi yang menekannya tersebut.

Sekali lagi, ini bukan karena tak bersyukur tapi ini bisa merusak psikologis seseorang. Nah, masalahnya berbicara dengan suami soal ini memang kadang tak mudah.

Menurut Prita Seorang laki-laki yang mengalami kesulitan finansial akan mengalami fase depresi yang kemudian akan dilontarkan ke orang terdekatnya yaitu istri dan anak-anaknya. Kekerasan verbal dan finansial yang dilontarkan bisa jadi merupakan perwujudan dari permintaan pertolongan yang tertutupi oleh rasa marah.

Ketika kodisinya sudah sangat parah kehadiran pihak ketiga diperlukan untuk mencari solusi kekerasan tersebut. Bisa dimulai dari orang terdekat, seperti meminta pendapat orang tua istri atau suami. Bahkan jika memang diperlukan harus melibatkan psikolog, psikiater untuk menangani tekanan mental suami. Sementara urusan finansial bisa meminta bantuan perencana keuangan.

Ingat, kekerasan finansial biasanya taak berdiri sendiri. Kekerasan ini juga umum disertai kekerasan verbal dan fisik. Kamu tak mau dirimu dan anak-anakmu jadi korban bukan?

1 Comment

1 Comment

  1. klewood

    August 5, 2016 at 11:56 am

    haha, jawaban pembelaaan dari orang yang belum menikah 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Jangan Pernah Menangis Untuk Orang Yang Tidak Mengerti Nilai Air Matamu

Dia yang kemarin bilang cinta, tiba-tiba pergi tanpa sepatah kata. Rasa kecewa yang begitu dalam membuat kita menangis tanpa sadar. Padahal jika dia dengan bodohnya pergi dan meninggalkan luka, kita harus cukup tegas untuk melupakannya. Terdengar gampang memang, tapi untuk melakukannya tentu bukanlah sesuatu yang mudah bukan?

Akan tetapi ada hal yang lain yang memang harus dipikirkan matang, apa gunanya terus menangisi dia yang nyatanya sama sekali tak paham makna sebuah pengorbanan. Sakit hati karena ditinggalkan harusnya membuat kita sadar, bahwa sebenarnya dia bukanlah orang yang tepat untuk diperjuangkan.

Barangkali Ini Adalah Salah Satu Cara Tuhan Untuk Menyelamatkan Kita Dari Kemungkinan Buruk Di Masa Depan

Tenangkan hati sejenak untuk bisa berpikir jernih, tanpa harus terus menangisinya. Cobalah untuk berpikir positif, dan mengingat kembali bagaimana sebenarnya sikapnya selama ini. Benar memang saat ini ia hanya melukaimu dengan caranya pergi. Tapi apakah kamu yakin, bila kelak dia kembali, dia tak akan meninggalkanmu lagi dan lagi?

Hal lain yang lebih penting daripada menangisi, adalah berterima kasih kepada Tuhan karena telah menunjukkan siapa dirinya sebenarnya. Karena akan sangat jauh lebih menyesal jika kamu tahu sikap aslinya ketika hubungan telah begitu dalam. Jadikan luka ini sebagai bentuk rasa syukur karena telah terhindar dari deraan rasa kecewa yang mungkin bisa lebih besar di masa depan.

Meski Masih Cinta, Terluka Untuk Alasan Yang Sama Tentu Tak Seharusnya Terjadi

Meski masih cinta, memutuskan kembali untuk bersama dengan dia yang meninggalkan luka tak perlu diulang. Sama halnya dengan membaca buku yang sama secara berulang-kali. Kamu mungkin akan merasa bahagia untuk beberapa cerita di bagian awalnya. Akan tetapi kita juga sudah tahu, bagaimana skenario yang akan menjadi akhir dari cerita.

Cinta memang sering membuat kita lupa untuk beberapa hal yang seharusnya jadi bahan pertimbangan. Tapi biar bagaimana pun, kita tak boleh terluka lagi untuk alasan yang sama.

Hidup Mesti Bergeser, Berganti Dengan Kisah Yang Baru. Tentunya Bukan Dengan Dia Yang Telah Sengaja Menyakitimu

Perihal cinta yang tak perlu lagi ditanya, hingga banyaknya cerita yang telah dilalui bersama. Berpisah memang jadi keputusan yang meninggalkan luka. Jika dia bergerak untuk meninggalkan kita demi cinta yang baru, lakukan hal yang sama.

Hari ini mungkin semesta seakan berencana dengan dirinya atas kepergiaannya. Tapi bisa jadi besok dewi fortuna datang menghampiri kita untuk cinta baru yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Meski takkan mudah untuk menemukan penggantinya, bukan berarti kita tak bisa seperti dia.

Jika Dia Pergi Untuk Meninggalkan Kita Bersama Luka, Mari Kita Tukar Kegetiran Itu Menjadi Gelak Tawa

Keinginan untuk tetap bertahan demi cinta memang kadang membutakan kita. Rasa ingin tetap bersama setiap waktu meski telah dibuat kecewa, sering membuat kita menutup mata atas hubungan yang sebenarnya salah. Tapi apakah kita harus terus-terusan berjuang? Padahal cinta yang seutuhnya adalah bagaimana kamu dan pasanganmu bisa sama-sama berjuang.

Jika pernah dengar, sebagian orang sering bilang bahwa bertemu dengan mantan, bak melihat setan. Tak perlu berlaku demikian, hal lain yang jauh lebih penting adalah kembali menjejaki hidup dengan baik meski tanpa dia.

Cobalah ingat kembali semua rasa sakit atas kecewa karena ditinggalkannya. Mari kita ganti dengan gelak tawa yang akan membuatnya menyesal.

Lagipula Dia Yang Telah Pergi Hingga Membuat Kita Menangis,  Kelak Akan Menyesal Dan Ingin Kembali

Ketika seseorang telah tulus untuk mencintai, tentu ia tak akan menyakiti. Dan hal ini pula yang seharusnya kita sadari. Kamu harus tahu bahwa ketika seseorang memutuskan untuk pergi itu artinya ia tidak tulus. Di hadapanmu ia bisa saja mengaku cinta, tapi barangkali itu hanyalah bualan belaka.

Biar bagaimanapun, seseorang yang telah memilih pergi untuk kesempatan dari seseorang yang telah tulus dalam hal mencintai. Kelak akan menyesal dan ingin kembali. Perlahan waktu akan membuatnya sadar bahwa dirimulah yang terbaik. Sebab menemukan sosok yang sama sepertimu tentu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan.

Kini Ucapkan Terima Kasih Untuknya, Karena Kepergiannya Menyadarkan Bahwa Dia Memang Tak Pantas Menjadi Kekasih

Walau telah pergi untuk meninggalkanmu, ada hal lain yang rasanya sangat perlu untuk disyukuri. Beberapa saat bangun pagi memang jadi aktivitas yang sangat sulit untuk dilakoni. Menghindar dari beberapa tempat yang sering dikunjungi, hingga tak lagi melakukan aktivitas yang kemarin sempat digemari demi untuk menepiskan bayangnya.

Ini jadi bagian dari proses penyembuhan, meski berat itu semua tentu masih wajar. Rasa sayang yang masih kita miliki, mungkin akan membuat kita sadar. Kepergian dirinya malah membuat kita jadi begitu mensyukuri hidup.

Bersyukur karena ia pergi, dengan begitu kita paham bahwa sebenarnya dirinya bukanlah orang yang pantas untuk diperjuangkan. Maka berhentilah menangis untuknya, karena sebenarnya dia tidak mengerti nilai air matamu.

1 Comment

1 Comment

  1. klewood

    August 5, 2016 at 11:56 am

    haha, jawaban pembelaaan dari orang yang belum menikah 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

MOST SHARE

To Top