Feature

Aku Bukan Takut Menikah, Aku Hanya…

Ucapan selamat saat teman menikah, sering sekali dibalas dengan “semoga cepat nyusul ya!”. Aku tahu itu memang jadi sebuah doa, tapi apa salah jika saat ini aku masih belum juga ingin untuk menikah?

Tak hanya dari orangtua, mereka yang mengaku teman juga turut serta memborbardirku dengan pertanyaan seputar pernikahan. Hingga kadang membuatku kewalahan.

Bukan tak suka, aku tahu itu adalah bentuk cinta dari mereka. Namun nampaknya aku memang perlu untuk menjelaskan. Karena sesungguhnya keputusanku ini bukan karena takut menikah. Aku hanya sedang menjalani apa yang kupercaya. Dan itu hanya untuk saat ini, bukan berarti selamanya. 

 

Pasti Aku Juga Ingin Menikah, Tapi Masih Ada Mimpi Yang Mesti Aku Lunasi

Tak ubahnya malam yang berganti dengan pagi, pertanyaan atas kapan waktu bahagia itu akan tiba selalu datang silih berganti. Tak perlu merasa takut atau khawatir terhadapku. Sama seperti yang lainnya, aku ini tentulah manusia normal biasa yang juga tentu ingin menikah.

Kalimat-kalimat yang terangkai jadi pertanyan kapan akan menikah, rasanya akan jauh lebih baik jika disampaikan dengan doa yang tak perlu di dengar oleh siapa-siapa. Lagi pula masih ada banyak janji dan mimpi yang harus kulunasi sendiri. Jadi tak perlu memburuku dengan pertanyaan itu lagi, setiap waktu. 

 

Lagipula Menemukan Dia Yang Bisa Sejalan Tak Semudah Memilih Baju Yang Kita Disuka

Untuk urusan menikah, tentu aku butuh orang lain untuk melakukannya. Dia yang kelak jadi pasangan mungkin masih jadi rahasia dari semesta. Untuk itu tak perlu berkali-kali bertanya untuk hal yang sama. Pahamilah bahwa hal itu juga jadi sesuatu yang sedang aku upayakan sepenuhnya. Meski mungkin tak akan dijadikan nyata untuk sekarang.

Memang tentu mudah untuk menemukan dia yang kita suka. Namun lagi-lagi semua yang terjadi kadang tak sejalan dengan apa yang kita harapnya. Dia yang kita jadikan pilihan, belum tentu jadi jawaban.

 

Menikah Bukan Hanya Perkara Mengucap Janji Untuk Sehidup Semati, Lebih Dari Itu Ada Banyak Hal Yang Sedang Berusaha Aku Penuhi Saat Ini

Tak hanya mereka yang gagal menikah saja, dia yang terlihat bahagia juga tentu tahu bahwa menikah tak selalu bahagia. Hidup berdua dengan pasangan kita, menabung untuk membeli rumah, punya anak lalu membesarkannya. tentu itu semua tak semudah saat kita mengucapkannya.

Ibadah yang satu ini tentu tak seperti ibadah yang lainnya. Aku tak ingin salah dalam melangkah. Jadi wajar saja jika saat ini aku masih memilih untuk sendiri, sembari membenahi diri agar lebih baik lagi. Tak apa jika akan memakan waktu lama, karena aku ingin pernikahanku kelak untuk selamanya.

 

Kalian Mungkin Sudah Bosan Untuk Bertanya, Begitu Pula Aku Ketika Mendengarnya

Sebenarnya tak perlu repot-repot untuk mengingatku apalagi untuk sekedar menikah. Aku tentu sangat berterimakasih untuk segala bentuk cinta yang kalian jadikan pertanyaan. Tapi bagaimana jika semua rasa penasaran dan kegundahan yang ada, disatukan dalam doa. Kurasa itu jauh lebih baik daripada sekedar bertanya.

Lagi pula kalian juga tentu akan merasa bosan, karena setiap kali bertanya. Jawaban yang kuberi masih sama. Dan jika ingin tahu apa yang sedang aku rasa, mungkin sama seperti yang kalian rasa. Aku bosan untuk menjawab dengan hal yang sama.

 

Tapi Terserah Jika Memang Ingin Menilaiku Takut Menikah, Karena Ini Adalah Pilihan Yang Sedang Kupercaya

Dia yang masih belum menikah sering sekali dihubungkan dengan hal-hal buruk yang kadang belum tentu benar. Mulai dari terlalu pemilih hingga tak ada yang mau menikahi. Namun meski sering diterpa dengan bahasa yang begitu kerasnya. Aku tentu tak akan merasa keberatan ataupun marah.

Sesuatu yang sedang aku jalani adalah sebuah pilihan yang memang sudah aku yakini. Jadi meski alasanku yang belum ingin menikah dinilai sebagai sesuatu yang terlalu naif. Aku tentu tak akan membantah atau balas melempar tanya. Toh semua orang berhak menilai apa pun.

 

Karena Menikah Bukanlah Ajang Lomba Yang Harus Dimenangkan, Begitu Pula Dengan Usia Yang Sering Dijadikan Batasan

Pernikahan tak sekedar hidup berdua dengan pasangan, lebih dari itu ada hal dan tanggung jawab lainya yang patut untuk dipertimbangkan. Ketika nanti aku sudah berani untuk memutuskan untuk menikah. Itu artinya diriku telah berjanji untuk tak lagi sama.

Hidup yang kita punya tentu akan berubah, berjalan bersama dengan dia untuk menyamakan langkah. Dan tentu saja separuh hidup milikku akan menjadi miliknya.

Disisi lain, semua hal itu tentu masih jadi bahan pertimbangan. Dan jika memang sudah benar-benar ingin dan siap tentu saja aku akan menikah. Ini semua bukanlah perkara siapa yang lebih dulu dan siapa yang lebih lambat. Karena ini bukanlah sebuah ajang lomba yang harus dimenangkan. Apalagi jika alasannya adalah batas usia yang katanya sudah saatnya.

Jika saatnya akan tiba, tentu aku juga akan menikah!

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Mulai Dari 1G Hingga Kini 4G, Kamu Mengalami Era Yang Mana?

Rindu dengan si Dia yang nan jauh di sana tinggal angkat smartphone lalu lakukan video call. Semudah itu memang saat ini memecah rindu. Teknologi memang sudah sedemikian memudahkan.

Tapi toh kemudahan itu tak datang serta merta. Sekian proses teknologi dilalui hingga kita menjejak di era ini. Sebagian kamu bahkan mungkin sempat merasakan era itu. Tentunya worth it untuk menyimak perjalanan teknologi seluler dari waktu ke waktu ini

Bayangkan Hidup Di era 1G, Handphonemu Cuma Bisa Dipakai Telepon Saja

Angkatan pertama atau 1G, santer diperkenalkan sejak 1970-an. Seandainya saja ketika itu Mark Zuckerberg sudah lahir dan menciptakan jejaring facebook, jangan harap kamu bisa update status memakai jaringan ini. Sebab teknologi pada golongan ini masih bekerja dengan memanfaatkan transmisi sinyal analog, yang hanya diperuntukkan pada panggilan telepon saja.

Ukuran ponsel di masa 1G pun memang cukup tergolong besar, jika dibandingkan dengan ponsel masa kini. Misalnya Motorola seri DynaTAC yang cukup populer pada saat itu. Telepon genggam yang dibuat pada kurun 1984-1994 ini, memiliki bobot 794 gram alias lebih dari setengah kilogram.

Di Era 2G Baru Bisa Kirim SMS, Tak Ada Notif Sudah Dibaca Atau Belum

 

Lahir sebagai adik pertama dari layanan teknologi 1G, sang 2G datang untuk menggantikan sinyal analog ke ranah yang lebih maju yakni Digital. Yap, perbedaan utama antara kedua teknologi tersebut adalah pada sinyal radio yang digunakan.

Beberapa telepon genggam, yang menggunakan teknologi 2G mulai diperkenalkan pada kurun waktu tahun 1990. Tak hanya suara, ponsel pada era ini, sudah dapat berkirim dan menerima data dalam ukuran kecil.

Maksudnya data di sini adalah pengiriman pesan teks (SMS), pesan bergambar serta pesan multimedia (MMS). Kamu yan kebetulan lahir di Era ‘90-an tentu paham, bagaimana pesan bergambar yang sedang dibicarakan. Sulitnya ketika itu jika berkirim pesan tak ada tanda centang dua bahwa pesan sudah dibaca. Kita hanya bisa mengira-ngira sendiri.

Meski sudah mulai ada data transfer, tapi paket yang terkirim masih sangat kecil. Karena itu kemudian jaringan 2G ini dimodifikasi. Dikenalkanlah istilah 2.5G mengacu pada teknologi dengan sistem General Packet Radio Service (GPRS) yang bisa mencapai 50 kbps.

Tak berhenti disitu, jaringan 2G kembali dikembangkan menjadi 2,75G. Sebuah teknologi komunikasi 2G yang dikombinasikan dengan standar Enchanced Data Rates for GSM Evolution (EDGE). Secara teori, kecepatan transfer datanya melebihi 2.5G, yaitu maksimal pada 1 Mbps.

Era 3G Mulai Memungkinkan Kamu Berselfie Dan Mengunggah Ke Sosmed

Penerapan standar GPRS pada teknologi komunikasi 2G jadi jembatan yang akhinya, membuka jalan untuk akses data yang lebih cepat. Sebab setelah kelahirannya, pada tahun 1998 muncul lagi rangkaian yang juga dikenal sebagai generasi ketiga atau 3G.

Teknologi ini sekaligus jadi mobile broadband pertama, alias jaringan pita lebar. Sebuah istilah yang menggambarkan akses pengiriman data lebih cepat. Akses yang lebih cepat ini diiringi dengan melesatnya teknologi ponsel.

Pada saat inilah kita mulai mengenal akses dunia lewat smartphone, transfer data audio, grafis hingga video. Dari sini pula kita mengenal streaming video dan video call dengan sesama pengguna 3G. Di era ini pula sosial media mulai merambat naik dan foto selfie mulai bertebaran dimana-mana

Layaknya ketika 2G dahulu, teknologi 3G juga tak diam di tempat. Dikembangkan pula teknologi yang dinamakan 3.5G dan 3.75G. Teknologinya disebut dengan High Speed Packet Access (HSPA) dan HSPA+, yang memiliki kecepatan transfer data meningkat dengan batas maksimum unduh 14 Mbps, dan kecepatan unggah 5,76 Mbps.

Era 4G LTE Paling Muda Tapi Paling Revolusioner

Teknologi ini menawarkan kecepatan unduh hingga 100 Mbps dan kecepatan unggah hingga 50 Mbps. Dan kecepatan tersebut bisa lebih cepat lagi, tergantung teknologi yang digunakan oleh operator yang kamu gunakan.

Inilah masa dimana para content creator memiliki panggung. Semua bisa berkreasi dan menjadi sosok yang diinginkan dengan teknologi semacam ini. Menjangkau orang-orang lain yang lebih luas bisa dilakukan dengan mudah. Mulai dari youtuber, instagram, blogger hingga content creator di berbagai platform bermunculan.

Di Indonesia sendiri munculnya teknologi 4G mengubah banyak hal. Tak hanya dari user tapi juga penyedia layanan mengubah teknologi mereka untuk menyesuaikan dengan kecanggihan dari 4G LTE.

Smartfren jadi yang paling terdepan soal ini. Smartfren telah menyesuaikan layanannya dengan gaya hidup pintar ala 4G. Yup layanan Smartfren 4G dan Smartfren 4G Plus meluncurkan kartu yang bisa digunakan di semua HP 4G. Kamu sebagai pengguna bisa memilih jenis handphone mulai dari Samsung, iPhone, Oppo, Lenovo dan Motorolla untuk menggunakan Smartfren 4G dan Smartfren 4G Plus.

Tak cuma soal kecepatan dan pilihan handphone beragam, kartu Smartfren 4G GSM dan Kartu Smartfren 4G GSM+, punya kuota 15GB dari kartu Smartfren 4G GSM dan bonus kuota 13GB dari kartu Smartfren 4G GSM+.

Tetunya bonus itu sangat worth it karena Kamu bisa puas streaming dan melakukan banyak hal yang kamu suka. Apalagi 4G yang satu ini juga terdapat fasilitas gratis chatting setahun. Kamu bisa tengok informasi soal hal tersebut di link berikut ini untuk Smartfren 4G dan yang ini untuk Smartfren 4G Plus.

Tak berhenti di tawaran bonus kuota saja, kamu juga bisa ikutan tantangannya. Ada iPhone X sebagai hadiahnya, caranya gampang banget. Kamu tinggal ambil foto kamu dengan ekspresi kamu yang paling worth it. Download imagenya dan share di sosial media kamu dengan menggunakan hastag #BARUTAHUKAN. Untuk info lengkapnya yuk kunjungi barutahukan.com.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Bukan Cuma Nasi, Air Putih Juga Bisa Basi

Pernahkah kamu membayangkan, jika sebotol air putih yang kamu diamkan berlama-lama ternyata bisa basi juga. Sayangnya, mengenali tanda-tanda kalau air putih sudah basi tak semudah mendeteksi makanan atau minuman yang lain. Karenanya, tak hanya merebus, mengolah, atau tinggal membeli air putih kemasan, sejatinya kita pun perlu jeli dan teliti saat mengonsumsi air putih

Air Putih Pun Punya Batas Kadaluwarsa Seperti Minuman Lainnya

Sama seperti jenis makanan lainnya, saat kamu membeli air putih kemasan pasti tertera tanggal kadaluwarsanya bukan? Karenanya, saat membeli, perhatikan tanda yang satu ini. Sejatinya, keberadaan tanggal kadaluwarsa memang dimaksudkan untuk menjaga konsumen dari hal-hal yang tidak diinginkan, semisal keracunan.

Sementara untukmu yang terbiasa mengonsumsi air putih dari hasil merebus, sebaiknya jangan terlalu lama mendiamkan air putih yang telah masak. Sebagian besar orang memang biasanya memasak air dalam jumlah besar agar bisa disimpan dan didiamkan selama berhari-hari, padahal sejatinya cara ini tidak baik. Biasanya, semakin lama air disimpan, maka ada perubahan rasa saat diminum.

Kalau Sudah Basi, Berhati-hatilah Karena Air Tersebut Telah Terkontaminasi Jamur, Kuman, dan Bakteri

Air putih yang basi tidak akan mengalami perubahan tekstur seperti halnya makanan atau minuman yang lain. Penyebab basinya air putih diantaranya lantaran terkontaminasi berbagai kuman, jamur, serta bakteri yang ada di sekitar air tersebut. Semakin lama air tersimpan, kian cepat pula perkembangbiakan kuman penyakit yang mengontaminasi air tersebut. Hal ini berakibat pada menurunnya kualitas air dari hari ke hari. Meski tidak mengalami perubahan tekstur, sejatinya air putih yang didiamkan terlalu lama akan mengalami perubahan rasa.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Discovery News menjelaskan secara rinci apa yang terjadi pada air ketika didiamkan dalam waktu yang lama. Hasilnya menunjukkuan bahwa air menyerap karbon dioksida yang menyebabkan pH air menurun dan membuatnya terasa agak asam. Satu hal yang tak boleh dilupakan, semakin lama kamu mendiamkan segelas air di suatu tempat, maka kian besar pula kesempatan bakteri jahat masuk dan mengontaminasi air tersebut.

Kalau kamu tak percaya, cobalah membuat eksperimen sederhana. Dengan meninggalkan air putih dalam gelas atau wadah yang terbuka selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Saat kamu melihatnya kembali, maka air putih sudah pasti berubah warna bahkan jadi sarang nyamuk dan ditumbuhi jamur. Hal ini membuktikan kalau kualitas air memang tak bisa bertahan dalam jangka waktu lama.

Karenanya Penting Sekali Menjaga Kualitas Air Putih

Soal kualitas air putih dan mencegah agar air putih tidak cepat basi, semuanya tergantung dengan bagaimana dan di mana kamu menyimpan air putih tersebut. Air putih memang tidak akan basi atau tepatnya terkontaminasi dalam waktu yang cepat. Terpenting, kamu perlu menjaga kualitasnya untuk mencegah kontaminasi dari luar. Jadi, sebaiknya hindari menyimpan air putih dengan wadah yang terbuka dalam waktu yang lama. Selain itu, lebih baik jangan menyimpan botol minummu di tempat yang langsung terkena sinar matahari.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Hati-hati, Terlalu Gemar Berswafoto Bisa Membuatmu Tak Disukai Bahkan Perlahan Dijauhi

Coba cek galeri ponselmu, kira-kira sudah ada berapa foto selfie yang tersimpan di memori ponsel? Sekarang, kebiasaan selfie—atau berswafoto tak lagi memandang gender. Jika semula selalu saja perempuan yang diidentikankan dengan kesukaan berswafoto, kini situasinya sudah tidak lagi demikian. Laki-laki atau perempuan sama saja. Sekalinya mendapati momen terbaik untuk berfoto, maka mereka seakan-akan tak ingin ketinggalan dan mengabadikannya lewat kamera.

Tak berhenti dengan sekali atau dua kali jepret. Jika sudah asyik berswafoto, biasanya seseorang tak peduli dengan kuantitas foto yang diambil. Bahkan ada yang dalam satu hari, jumlah swafotonya bisa mencapai ratusan. Usai mengoleksi foto diri sendiri dalam beragam gaya, giliran mengunggahnya ke media sosial. Supaya lengkap rasanya. Bukankah demikian? Seperti ada yang kurang bila hasil fotomu—di momen yang menurutmu berkesan—tidak kamu unggah ke media sosial.

Gemar Berswafoto Memunculkan Sifat Narsistik dan Jadi Berlebihan dalam Menyikapi Segala Sesuatu

Seberapa sering kamu mengunggah swafotomu ke media sosial? Meski perkara unggah mengunggah adalah hakmu sepenuhnya, tapi kalau terlalu sering, bisa-bisa pengikutmu di Instagram—misalnya, akan bosan dan menilaimu haus akan pujian agar dibilang cantik atau rupawan. Belum lagi kalau kamu sejatinya hendak memamerkan barang baru yang kamu miliki namun sambil berswafoto. Siap-siap saja jika ada kalimat ‘nyinyir’ sampai ke telingamu. Sebagai siasat, coba selingi unggahanmu dengan foto-foto menarik lainnya, semisal foto karyamu, foto pemandangan saat kamu jalan-jalan, atau foto apampun selain swafoto.

Dalam Sehari Kamu Tak Pernah Absen untuk Swafoto, Kamu Kurang Kerjaan?

Percayalah, terlalu sering mengunggah swafoto, akan membuat teman-temanmu kehilangan minat untuk mengikuti akunmu. Apa lagi jika seluruh feedsmu didominasi oleh foto aktivitas berikut foto wajahmu. Mulai dari bangun tidur, jalan ke mall, hingga saat makan pun kamu unggah ke Instagram. Teman-temanmu pasti berpikir kamu tak ada kesibukan alias kurang kerjaan. Untuk menepisnya, kalau memang kamu punya hobi jalan-jalan, bukankah bisa mengunggah foto tempat wisata yang kamu anggap menarik? Hitung-hitung kamu sembari belajar me-review sebuah tempat. Dan hal itu jauh lebih bermanfaat bagi orang lain bukan?

Mengunggah Swafoto Terlalu Sering Menandakan Kamu Kesepian dan Butuh Diperhatikan

Salah satu tanda orang yang kesepian sejatinya bisa kamu nilai dari seberapa seringnya dia menghabiskan waktu untuk bersosialisasi di media sosial. Semakin sering, berarti ada indikasi jika orang tersebut memang sedang cari perhatian lantaran kesepian. Kamu sendiri bagaimana? Mau dianggap kesepian?

Risiko Jadi Sasaran Kejahatan Kian Meningkat Kalau Kamu Terlalu Mengekspos Segala Kegiatanmu

Terdengar menakutkan memang. Kejahatan ada sejatinya bisa karena kita terlalu memancingnya untuk terjadi. Ini bisa terjadi kalau seandainya kamu berswafoto dengan memunculkan banyak ‘clue’ semisal lokasi rumahmu, lemari tempatmu menyimpan uang, hingga kamarmu yang berisi banyak benda berharga. Memang, awalnya hanya ingin berswafoto, tapi kalau terlalu kelewatan, hal itu justru membahayakan dirimu. Bisa saja ada orang yang iri dengan keadaanmu dan berniat mencuri barang-barangmu. Menyeramkan, bukan?

Tak Bisa Berhenti Untuk Tidak Berswafoto Mengindikasikan Kamu Mengalami Depresi

Kendati untuk mengetahui seseorang mengalami depresi harus melewati tahapan diagnosa secara medis, kamu wajib waspada. Terlalu sering berswafoto bisa dianggap sebagai sebuah gangguan kejiwaan bila hal itu sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari seseorang. Hingga mengganggu aktivitas dan tanggung jawabnya. Beberapa orang bahkan ada yang sampai tidak nafsu makan hingga frustasi karena menginginkan hasil selfie yang sempurna. Jika tidak ingin hal semacam ini terjadi, tak ada salahnya mulai membatasi kegiatan swafotomu, ya.  Berswafoto memang bukanlah hal yang buruk. Tapi pastikan kamu punya batasan privasi agar tak ada hal buruk yang menimpamu.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini


Feature

Karena Kesedihan adalah Bagian Dari Kehidupan, Tapi Jangan Jadikan Hal Itu Penghalang Kebahagiaan

Saat sedang dirundung kesedihan, bercerita kepada orang terdekatmu diyakini mampu mengurangi kadar kesedihanmu. Sayangnya, tak semua orang suka bercerita dan membagi kesedihannya. Sebagian lainnya memilih bungkam dan merayakan kesedihannya seorang diri. Padahal, kebiasaan semacam ini justru berbahaya dan rentan membuat seseorang depresi. Kamu sendiri, saat sedang diliputi sendu, apa yang biasanya kamu lakukan?

Sebuah penelitian yang dilakukan Jonah Berger dari Association For Psychological Science mengatakan, orang-orang yang kondisi psikisnya tertekan berusaha mengurangi sedikit tekanan di pikirannya dengan menceritakan hal-hal yang dialami. Hal semacam ini wajar, hanya saja, kamu harus tetap menyadari kalau sedihmu itu tak serta merta jadi alat untuk membuat drama baru, bahkan berpikir kalau kamu tak bisa bahagia. Sekali lagi, bahagia adalah hak semua orang, sementara kesedihan memang sebuah bagian kehidupan yang tak bisa kita hindari.

Biasakan Bercerita Sesuai Realita, Kesedihan yang Kamu Alami Bukan Untuk Mengantarkanmu Agar Terkesan Drama

Sedihmu akan terkesan drama kalau apa yang kamu ceritakan tak sesuai dengan realita. Kamu menambahkan hal-hal baru yang sebenarnya tak terjadi demi memancing empati. Percayalah, kamu tak perlu melakukan hal itu demi mendapat perhatian. Jadilah orang yang apa adanya dalam setiap situasi. Percayalah, ketika kamu menceritakan hal-hal nyata dari kesedihanmu, naluri teman-temanmu akan tergerak sendiri agar kamu tak terus-terusan bersedih.

Saat Kesedihan Menyapa, Jangan Merasa Kamulah Satu-satunya Orang yang Paling Sengsara. Bersedihlah Sewajarnya!

Kita tak bisa mengira kapan sedih datang menyapa. Semuanya pasti muncul secara tiba-tiba. Memposisikan diri sebagai orang yang paling sedih juga sebaiknya kamu hindari. Dengan menjadikan kamu sebagai subyek yang paling menyedihkan, orang-orang justru akan jengah dan perlahan tak peduli dengan keadaanmu. Mereka akan berpikir kalau kamu terlalu berlebihan dan tak bisa mengontrol diri dalam melewati kesedihanmu ini. Padahal kenyataannya, mungkin banyak orang yang lebih sedih darimu, hanya saja kamu tak pernah tahu.

Tak Perlu Membandingkan Kesedihanmu dengan Orang Lain, Setiap Orang Punya Ceritanya Masing-masing

Hal ini juga sebaiknya tak kamu lakukan. Setiap orang punya kisah pilunya masing-masing. Membandingkan ceritamu dengan milik orang lain justru tak akan ada habisnya. Percayalah, kamu dan orang-orang itu jelas berbeda. Masalah dan kesedihannya pun juga berbeda. Belajarlah dari sekelilingmu, serta lihatlah bagaimana mereka mengontrol kesedihannya. Dengan bertemu banyak orang dan mendengarkan setiap cerita mereka, kamu akan tahu bahwa kesedihan tak sepatutnya dibiarkan berlama-lama.

Batasilah Apa Saja dan Kepada Siapa Kamu akan Bercerita, Sebab Tak Semuanya Perlu Kamu Ceritakan Kepada Sesama 

Saat kamu sedih, sejatinya kamu tengah belajar mengontrol diri. Termasuk mengontrol kepada siapa saja kamu akan bercerita. Ingatlah, tak semua orang bisa kamu percaya. Cukupkan orang-orang yang perlu tahu kisah pilumu. Batasi apa yang ingin kamu ceritakan pada mereka. Sekalipun kamu mungkin merasa mengenal dan dekat dengannya, kamu tetap perlu menjunjung privasi dalam diri agar cukup kamu dan Tuhan saja yang tahu. Semakin banyak yang tahu, semakin rentan kamu dicap pembuat drama karena tak mampu mengatasi kesedihan sewajarnya.

Menangislah Kalau Kamu Memang Tak Kuasa Menahan Air Mata, Tapi Jangan Sampai Membuat orang Lain Menganggap Kamu Terlalu Drama

Air mata pasti akan datang seiring dengan kesedihanmu. Kalau kamu tipikal yang tak bisa menahan lara, tak perlu lagi menahan air mata. Hanya saja, jangan sampai tangisanmu justru membuat orang lain yang mendengarkan ceritamu jadi tak nyaman. Menangislah secukupnya agar mereka yang peduli padamu tak menganggapmu sebegitu lemah dan kecewa karena kamu tak bisa bangkit dari kesedihanmu.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau tulisan Kamu dimuat di Gobagi.com ? Tulis Artikelmu Disini

MOST SHARE

To Top