Feature

Adakah yang Salah dari Laki-laki yang Ingin Menjadi Bapak Rumah Tangga?

Iya, bapak rumah tangga!

Tak perlu mengernyitkan kening tanda tak percaya, kamu memang tak salah baca. Pilihan setelah menikah kadang memang terlihat tak seimbang, konon perempuan boleh tetap bekerja atau memilih tinggal di rumah saja. Sedangkan laki-laki? Sebagai kepala rumah tangga ya harus bekerja.

Stereotip akan sekat antara peran laki-laki dan perempuan nampaknya memang sudah mendarah daging. Padahal, kini untuk urusan bekerja dan berpenghasilan perempuan tak lagi menemukan pagar penghalang. Lalu mengapa seorang laki-laki yang berkeinginan menjadi bapak rumah tangga, masih sangat tabu untuk kita terima?

Ini Bukan Tentang Siapa yang Akan Jadi Kepala dan Ibu Dalam Rumah Tangga, Tapi Bagaimana Membagi Peran Sesuai Kesepakatan

Sebagian besar kaum adam percaya, bahwa merekalah yang pantas jadi tulang punggung keluarga. Bukan tak ingin menghargai perspektif mereka akan peran seorang laki-laki dalam keluarga. Tapi ada pandangan lain yang memang harus kita terima pula, yaitu mereka yang ingin berbagi peran dengan istrinya.

Jangan dulu bilang ini adalah bentuk dari kelemahan seorang suami, karena keputusan tersebut tentu sudah melalui mediasi. Siapa yang akan tinggal di rumah, dan siapa yang akan bekerja keluar rumah. Tak ada yang salah, jika kedua belah pihak merasa nyaman untuk tetap menjalaninya.

Dan Masalah Utamanya, Jelas Pada Ideologi yang Dipercaya Oleh Masyarakat Kita

“Perempuan bebas memilih, mau di rumah atau bekerja, yang penting laki-laki tetap cari nafkah!”

Kalimat-kalimat seperti ini kerap kita dengar, ketika sedang berada pada acara kumpul keluarga atau penikahan seorang saudara. Meski didalam hati kadang kita tak terima, karena nampaknya itu tak selalu adil untuk kita. Baik laki-laki atau perempuan.

Tak hanya datang dari kepercayaan masyarakat saja, ternyata undang-undang di negara kita juga punya pandangan serupa. Tak percaya? Coba saja lirik UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pada pasal 31 ayat yang ke 3, disana dijelaskan bahwa “Suami adalah kepala keluarga dan istri adalah ibu rumah tangga”.

Dan paham semacam ini, masih berlaku hingga kini. Ketakutan tak akan diterima oleh masyarakat kadang meluluhkan niat akan keinginan untuk menentang sesuatu yang kadang tak bisa kita terima. 

Padahal Memilih Untuk Berada di Rumah, Tak Lantas Membuat Laki-laki Kehilangan Jati Dirinya

Melonjaknya kesempatan kaum hawa untuk menunjukkan eksistensinya kadang jadi sesuatu yang membuat laki-lak mengalah. Dari hal ini sepasang suami istri mungkin bisa belajar, bahwa bertukar peran tak akan menghapus kewajiban dan tanggung jawab masing-masing. Walau untuk urusan nafkah keluarga mungkin akan ditanggung sang istri. Tapi tak selalu penuh. 

Bukan Tentang Pantas Atau Tidaknya, Semua Akan Terlihat Baik Jika Dilihat dari Sisi yang Berbeda

Katakanlah tadinya kalian bedua tadinya sama-sama bekerja, kemudian mau tak mau harus ada yang mengalah untuk mengurus rumah tangga. Tak perlu bertahan pada gengsi, tapi bagaimana kenyataan yang akan kita dapati.

Bahkan tahun lalu industri perfilman India memberikan suguhan nuansa baru lewat sebuah film berjudul “Ki & Ka”. Dimana sang suami “Ka” memutuskan untuk menjadi bapak rumah tangga yang akan mengurusi semua pekerjaan rumah, sedangkan istrinya “Ki” pergi bekerja. Meski digambarkan pada sebuah film saja, tak menutup kemungkinan bahwa ada orang-orang yang seperti mereka.  

Emansipasi Tentu Jadi Salah Satu Hal yang Memicu Keinginan Mereka

Jangan dulu pikir bahwa pilihan ini justru akan menyusahkan istri dan para perempuan lain, toh ini sudah era emansipasi. Disamping itu, tidak sedikit perempuan yang mengaku tak mampu jadi ibu rumah tangga yang baik.

Toh menggantikan peran istri di rumah bukanlah sesuatu yang mudah. Dan laki-laki yang berani untuk mengambil pilihan ini tentulah mereka yang juga punya kemampuan baik dan pemahaman luas.  

Orang-orang seperti ini sadar, bahwa emansipasi yang banyak digadang-gadang tak hanya kesetaraan gender pada hal-hal tertentu saja. Peran didalam rumah tangga juga termasuk didalamnya.

Pilihan Ini Memang Masih Dipandang Sebelah Mata, Tapi Bukan Berarti Salah

Barangkali kita masih jarang mendengar istilah “stay home dad” atau Bapak Rumah Tangga. Tapi perlahan, seiring dengan perubahan zaman dan pemikiran beberapa orang yang telah sadar, banyak kampanye yang menyuarakan arti pentingnya laki-laki dalam mendukung pengembangan diri perempuan. Mulai dari partisipasi laki-laki dalam ranah domestik hingga peran ayah yang memang harusnya mendominasi untuk tumbuh kembang anak. Pasalnya menurut Psikiatris anak dari Amerika Serikat, Dr. Kyle D. Pruett, seorang bayi yang berusia 7 hingga 30 bulan, jauh lebih responsif pada sentuhan yang berasal dari ayah dibanding ibunya. 

Karena Bisa Jadi, Ini Adalah Salah Satu Cara Untuk Menikmati Hidup Bersama

Sebagai dua orang yang akan hidup bersama setelah menikah, tentu banyak hal yang patut dipertimbangkan. Salah satunya adalah keinginan pasangan yang akan tetap bekerja atau tidak. Jika ternyata cerita hidup yang kamu punya, justru berisi keinginan suami yang akan berhenti bekerja itu bukanlah pilihan buruk tentunya.

Bagi laki-laki yang mungkin tak nyaman dengan aturan serta ikatan dalam perusahaan, ini akan jadi berita baik. Tetap bisa bekerja dari rumah, sembari manggantikan tugas sang istri. 

Sejatinya orang yang tahu hal baik dan buruk dalam hidupmu adalah kamu dan pasangan. Tak perlu risau untuk cibiran orang. Jika ternyata itu adalah salah cara untuk hidup yang lebih bahagia, kenapa tidak?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Dibandingkan Spanyol Atau Italia, Pecinta Motor Tanah Air Jauh Lebih Gila

Kalau bicara soal motor apalagi MotoGP rasanya Italia dan Spanyol merupakan dua negara teratas. Sebagian besar pembalap kasta tertinggi balap motor dihuni oleh warga dari kedua negara tersebut. Setiap gelaran di kedua negara itu juga hampir selalu pecah rekor untuk soal jumlah penonton.

Tapi jangan salah, kalau saja MotoGP diadakan di Indonesia, bisa jadi negara kita jadi nomor satu soal antusiasme masyarakatnya dengan motor. Beberapa kali pembalap MotoGP singgah di Indonesia selalu takjub dengan kegilaan orang Indonesia akan motor.

Tak terkecuali Rrasa antusias bikers di Indonesia yang membuat Andre Iannone dan Alex Rins terpukau. Mereka tidak menyangka kalau para bikers di Indonesia sebegitu besar dan heboh. Hal ini disampaikan kala Iannone dan Rins sedang melakukan kunjungan ke Indonesia dalam event Suzuki Bike Meet Jambore Nasional 2018 yang diadakan di sentul.

Event kali ini merangkul 3.000 bikers dari 63 klub dan komunitas Suzuki yang saling bekerjasama dengan PT.SIS (Suzuki Indomobil Sales). Acara dihelat di Sentul Sirkuit, Bogor daerah Jawa Barat. Yang mana acara pembuka dilakukan dengan iring-iringan yang dipimpin kedua pembalap Team Suzuki Ecstar MotoGP 2018.

Andrea Iannone dan Alex Rins disuguhkan Suzuki GSX-R150. Tak cuma mereka brand ambassador GSX-R150, Hamish Daud sebagai ambasador GSX juga ikut serta di acara ini. GSX dipilih karena mencirikan aura MotoGP.

Tampil dengan model full fairing, GSX-R150 tampilannya memang tampak serupa dengan tunggangan pebalap di arena MotoGP. Lampu depan yang menyudut tajam memberikan kesan yang sangat agresif. Struktur jok pengemudi dan penumpang yang tinggi makin memperkuat kesan ini, karena posisi berkendara jadi menunduk.

Berbekal mesin overbore, DOHC (Double Over Head Camshaft) dengan kapasitas 150cc dan berkompresi 11,5 : 1 yang sudah dilengkapi teknologi fuel injection yang canggih untuk pembakaran maksimal, GSX-R150 menghasilkan tenaga sebesar 14,1 kw/10.500 rpm dan torsi sebesar 14 nm/9.000 rpm yang tersalurkan dengan kuat melalui transmisi 6 percepatan.

“Saya tidak menyangka kekuatan bikers Suzuki di Indonesia sangat luar biasa seperti ini. Senang sekali saya mendapatkan pengalaman yang sangat beragam dan berbeda bersama rekan balap saya dan ribuan bikers Suzuki,” ungkap Alex Rins.

Kehebohan dari komunitas dan klub terpancar dari acara yang diadakan sejak pagi hari jam 10, sudah dipenuhi oleh ribuan bikers yang berdatangan dari Tanggerang, Cikarang, Cengkareng, Parung dan lain-lain. Bahkan beberapa dari mereka ada yang berangkat ketika matahari belum terbangun dari tidurnya.

Rasa antusiasme total yang diperlihatkan bikers juga dirasakan oleh Andrea Iannone. Ia pun beranggapan antusiasme publik tanah air jadi dorongan luar biasa baginya untuk lebih berprestasi di ajang MotoGP.

“Ini adalah kali pertama bagi saya bisa larut dalam kegembiraan fans Suzuki. Saya sangat menikmati momen hari ini, dan semoga semangat teman-teman bikers Suzuki bisa menambah semangat saya sendiri untuk tampil lebih mengensankan di musim MotoGP 2018 bersama tim saya,” kata Iannone.

Meskipun acara seperti ini bukan yang pertama bagi kedua pembalap. Namun, Iannone mengungkapkan bahwa di Indonesia lebih meriah dari pada Italia dan Spanyol. Lantaran banyak bikers yang ikut serta dalam event ini apalagi pada saat konvoi yang dilakukan sepanjang track Sentul sirkuit.

“Seperti yang Iannone katakan, kami beberapa kali mengadakan acara serupa. Tapi di sini berbeda karena kami (Iannone dan Rins -red) berkendaraan dengan banyak orang. Apabila tahun ini sukses kami ingin mengdakan acara yang lebih besar,:” tambah Alex Rins.

Antusias yang diperlihatkan oleh para bikers dapat menghipnotis Alex Rins dan Andrea Iannone untuk mewujudkan kembali acara serupa di tahun mendatang. Karena selain menjadi wadah berjumpa dengan pembalap luar, hal ini juga menjadi ajang silaturahmi para klub dan komunitas Suzuki

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Jika Mengingat Kembali Momen Sial Bisa Membuatmu Tertawa, Itu Tandanya Kamu Sudah Dewasa

Pernahkah kamu mengalami yang namanya momen sial? Entah tiba-tiba terpleset saat sedang berada di keramaian, bajumu terkena kotoran burung, hingga kepala  yang terantuk tembok dan semacamnya. Kira-kira apa responmu setelahnya? Adakah yang merasa kesal dan merutuki diri sendiri? Atau justru tertawa karena merasa konyol dengan kesialan yang menimpamu? Sejatinya, kalau kamu justru tertawa saat ditimpa kemalangan kecil, itu artinya kamu sudah dewasa karena bisa menyikapi hal buruk dengan cara jenaka.

Kamu harus bangga. Faktanya, tak semua orang bisa melakukannya. Ada yang saking kesalnya ditimpa sial, moodnya jadi berubah sepanjang hari. Tapi bicara soal momen sial, masihkah kamu bisa tertawa jika skala ‘kesialan’ yang kamu hadapi jauh lebih besar? Ataukah, sisi jenakamu akan lenyap entah kemana? Coba tanyakan dalam diri masing-masing, masihkah kamu bisa tertawa jika mendapati situasi semacam ini…

Saat Orang-orang Menertawakan Cita-cita dan Ambisimu yang dianggap Tidak Relevan…

Kamu dengan penuh percaya diri dan berapi-api selalu menyuarakan apa yang jadi cita-citamu selama ini. Sayangnya, tak semua orang bisa menerimanya. Alih-alih memberikanmu semangat dan motivasi, mereka malah menyepelekanmu karena kamu dirasa tak mampu meraih mimpimu itu. Pernahkah kamu terjebak di situasi semacam itu? Lalu bagaimana kabarmu sekarang? Sudahkah berhasil meraih apa yang dicita-citakan. Selamat, kamu telah berhasil mengalahkan segala intimidasi mereka.

Mentalmu akan dikatakan dewasa jika berhasil menyikapi semua ini secara santai dan dengan hati yang damai. Mungkin kalau diingat-ingat lagi, kamu merasa ditimpa kesialan lantaran teman-temanmu malah menertawakan cita-cita yang sudah kamu dambakan sejak lama. Tapi lihatlah, siapa yang sekarang bisa tertawa di akhir cerita?

Ketika Kamu Hendak Wawancara Kerja, Tapi Kondisi Badanmu Justru Sedang Lesu. Alhasil, Mimpi Bekerja di Tempat yang Kamu Dambakan pun Pupus Begitu Saja

Mungkin ada yang mengatakan jadwal wawancara bisa di-reschedule. Tapi sayangnya hal itu tak berlaku dengan undangan wawancara kerja yang kamu terima. Mereka memintamu datang di hari yang sudah ditentukan. Karena kondisimu benar-benar tidak fit, kamu pun tak datang. Hari itu, mungkin kamu merasa kesal, bete, hingga bergumam macam-macam dengan tubuhmu yang tak bisa diajak kompromi. Tapi lihatlah sekarang, ternyata kamu justru mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dari tawaran saat itu. Menyenangkan bukan?

Tak Banyak Orang yang Masih Bisa Tertawa Lepas Melihat ‘Ketidakadilan’ Soal Penghasilan

Dulu, sebelum gajimu sebaik sekarang ini, apakah kamu tetap bisa tertawa lepas bila mengingat banyaknya hal yang harus kamu penuhi? Belum lagi persaingan sengit di dalam kantor. Rasanya kamu merasa semesta tak adil soal penghasilan. Wah, tahan dulu dirimu. Seberat apa pun situasinya, tetap cobalah untuk bersyukur. Tengoklah orang-orang yang mungkin belum seberuntung dirimu. Menjadi dewasa bukan hanya ketika kita bisa tertawa melihat hal pahit yang kita alami, tapi juga keikhlasan hati menerima setiap jalan hidup yang harus kita lalui bukan?

Kamu Tahu Betapa Sukarnya Mengatur Waktu, Tapi Klien Seenaknya Mengganti Jadwal Bertemu

Sebagai pekerja yang terus menjalin relasi dengan klien, terkadang kita hanya bisa berencana dan klien yang menentukan. Kita sudah membuat janji sejak lama. Tapi ketika hari H justru ditunda lantaran kepentingan lain. Rasanya ingin protes, tapi tak bisa. Apa lagi mau marah. Ya sudah, terima saja. Berpikir positif saja bahwa klien memang sedang benar-benar berhalangan.

Siapa yang Bisa Tertawa Jika Setiap Hari Rasanya Hanya Kamu yang Jadi Bulan-bulanan Atasan?

Kesal memang jika tanpa disadari ternyata kita terus yang jadi objek omelan atasan. Padahal sebenarnya itu bukan kesalahan kita. Mau menyanggah pun sukar rasanya. Tapi kamu jangan patah semangat. Cobalah pelan-pelan meyakinkan atasanmu bahwa kamu tak bersalah sama sekali. Selama kamu bisa membuktikan bahwa kamu tak salah, semuanya akan baik-baik saja. Hitung-hitung juga menempa mentalmu, sebab di dunia kerja, hal-hal seperti itu sudah pasti ada. Kalau kamu berhasil melewatinya, kembali mengingat momen jadi bulan-bulanan atasan tentu akan membuatmu tertawa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Sebab Bahumu Adalah Rumahku, Jangan Pergi Jauh-jauh

Menjadi bagian dari hidupmu dalam beberapa tahun terakhir, sabar jelas jadi hal yang giat aku tumbuhkan. Hidup bersamamu di bawah atap yang sama, tentu ada yang terasa hilang tiap kali kamu tak di rumah. Aroma khas kemejamu sehabis pulang kerja, hingga pujian atas masakan makan malam di rumah pelan-pelan mulai kurindukan.

Aku paham, kamu tentu juga tak ingin kita berjauhan. Tapi dengan alasan berbagai kepentingan yang lebih banyak karena pekerjaan. Mau tak mau, aku lagi-lagi harus ditinggalkan. Perempuan lain yang bernasib sama mungkin tahu, bagaimana aku berjuang mengalahkan beratnya hari saat harus menunggu kamu yang kucinta pulang ke rumah.

Tak Ingin Beranjak dari Tidur, Pagiku Seolah Berhenti Karena Tak Ada Kamu yang Biasanya Minta Dibuatkan Kopi

“Tak akan lama, mungkin 2 sampai 3 minggu saja,” katamu di ambang pintu untuk kepergian yang entah sudah ke berapa. Kujawab dengan senyum yang kamu sendiri tahu, jelas bukan tanda bahagia. Sebab setiap kali kamu pergi, itu artinya aku akan sendiri di rumah.

Hariku memang masih berjalan seperti biasa, tapi menyadari kamu tak akan pulang saat senja datang, jadi sesuatu yang berat untuk dilewatkan. Sebab ini artinya aku hanya akan makan dan bersantai seorang diri tanpa teman. Menonton tayangan tevelisi kesukaan hingga bermalas-malasan di akhir pekan.

Hilangnya kamu sementara waktu memang tak selalu merubah hampir seluruh hidupku, sebab aku masih bisa melakoni hal-hal yang kusuka seperti biasa. Hanya saja tak ada orang yang tadinya biasa menjadi juri untuk memberi komentar secara cuma-cuma.

Di Sana Kamu Sedang Berjuang Untuk Hidup yang Katamu Akan Lebih Nyaman, Sedang Aku Hanya Bisa Menunggu Kapan Kamu Pulang

Jauh sebelum memanggilmu sebagai suami, kita memang sudah menjalani ini. Bertahan sekian lama, jadi alasan lain yang akhirnya mendorong kita meresmikan hubungan. Hal lain yang selalu membuat aku bisa meredam ketakutan, tujuanmu pergi yang memang menjadi bagian dari pekerjaan.

“Sabar sebentar ya, ini demi masa depan,” jadi perkataan selalu berhasil membuat aku tetap kuat bertahan. Sembari memberimu dorongan semangat untuk terus berjuang, aku hanya bisa mendoakanmu agar selalu dalam lindungan-Nya.

Aku Belajar Untuk Bersahabat dengan Waktu, Kesendirian, Hingga Rindu yang Terus Datang Meski Tak Diundang

Suatu kali selepas pulang dan menikmati waktu berdua dirumah, kamu pernah bertanya bagaimana aku menjalani hari setiap kali kamu jauh. Tak ingin jadi pasangan yang egois, aku memang jarang menyampaikan kerinduan agar kamu segera pulang. Karena aku tahu, setiap kali akan pergi ada kerinduan yang juga sama sedang mengisi isi kepalamu.

Dari situ aku belajar, bahwa tak hanya aku saja, ternyata kamu juga merasakan hal yang sama. Pulang bekerja dan tak disambut oleh siapa-siapa, hingga urusan lain yang akan kamu selesaikan seorang diri. Jelas lebih berat dari apa yang aku jalani.

Pelan-pelan aku mulai terbiasa memahami arti dari kesendirian yang memang hanya sementara, hingga pintar dalam hal manakar rindu yang terus membesar.

Memahami Semua Rentang Jarak yang Ada, Hingga Berdoa Agar Kamu Tak Lagi Harus Bepergian Ke Luar Kota

Tak peduli ini akan jadi doa yang kamu harapkan atau tidak, tapi biar bagaimana pun ini jadi sesuatu yang memang aku mohonkan pada Tuhan.

“Kan cuma ke luar kota, bagaimana jika ke luar negeri?” katamu dengan nada becanda.

“Aku sudah berdoa biar kamu dapat proyek yang hanya di dalam kota saja,” kataku tak kalah bercandanya. Meski seperti katamu, posisimu yang masih dalam tahap pertimbangan membuatmu hanya bisa mengiyakan segala perintah atasan. Kamu harus siap sedia, pergi kemana saja yang diminta.

Untuk itulah aku akan terus berdoa semoga tak ada lagi, list luar kota untuk tugas yang kamu punya. Dan kuharap semesta akan mendengar dan mengamininya.

Perjalanan Kita Jelas Akan Jadi Memori, Sudah Kususun Rapi dan Kelak Akan Kuceritakan Lagi

Kamu mungkin akan menggeleng tak habis pikir mengapa aku bisa tiba-tiba menelpon dengan suara yang berat hanya karena tiba-tiba menangis karena rindu. Hingga kamu yang mendadak posesif meski aku hanya akan pergi dengan teman perempuan untuk sekedar makan di luar.

Satu per satu cerita yang sudah kita lalui, sudah mulai tersusun rapi dalam lemari. Kelak jika sedang ingin, aku akan membukanya kembali dan kubagikan pada dia yang kelak jadi buah hati. Ia harus tahu betapa ibu dan bapaknya, dulu pernah begitu rindu hanya karena jarang bertemu.

Perlahan Doa Kita Mulai Didengarkan, Kamu Tidak Lagi Harus Bepergian dan Aku Pun Tak Terus Diterkam Rasa Takut Kehilangan

Menjadi teman yang selama ini menemani kamu berjuang di kejauhan, kalimat “Aku akan stay, dan tak lagi bepergian.” jelas jadi sesuatu yang amat membahagiakan. Karena itu artinya, aku tak akan lagi tidur sendirian. Bisa bangun dengan girang, karena ada seseorang yang harus dibuatkan sarapan. Hingga menunggumu pulang dengan hati yang bahagia saat malam telah datang.

Gambaran kehidupan rumah tangga yang selama ini kita mimpikan, akhirnya akan jadi kenyataan. Bahkan meski aku tak akan menjelaskan, kamu sendiri jelas tahu seberapa senang hatiku sekarang.

Kita Pun Jadi Belajar, Jika Pasangan Adalah Alasan Indah Untuk Segera Pulang Saat Senja Datang

Tak peduli seberapa lelah dan padat kegiatanku, bayang-bayang akan bertemu denganmu di rumah saat sore tiba, jadi kenyataan lain yang kerap memberiku energi jauh lebih besar setelah lelah bekerja seharian.

Jangan pergi-pergi lagi, sebab kamu telah menjadi bagian dari nadiku, aku tak ingin kamu jauh.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Hidup Ini Pilihan, Jangan Sampai Menyesal di Kemudian Hari Karena Tak Melakukan Hal-hal Baik Ini

Ketika kamu menyadari hidupmu hari ini, pernahkah kamu berpikir kira-kira apa yang akan terjadi di kemudian hari? Atau, ketika kamu mengingat lagi masa lalu, pernahkah kamu merasa menyesal dengan apa yang telah kamu sia-siakan dahulu? Memikirkan penyesalan masa lalu, percayalah, hanya akan membuang waktumu. Dipikir sekeras apa pun, hal itu sudah tak bisa diulang lagi.

Di luar sana, banyak yang merasa menyesal dengan hidupnya yang sekarang. Mereka mengaku jika diberi waktu untuk mengulang waktu, setidaknya satu dekade terakhir, mereka siap menata hidupnya sebaik mungkin. Hanya saja, hal itu jelas tak mungkin bukan? Karenanya, ketika kamu menyadari hidupmu yang sekarang dan segala pilihan yang ditawarkan dunia, cobalah isi hidupmu dengan hal-hal yang sekiranya baik dan lakukan semuanya sebaik mungkin.

Jangan Sia-siakan Ketika Punya Banyak Teman, Merekalah yang Akan Membantumu di Masa Depan

Seiring dengan bertambahnya usia, sadar tak sadar, lingkup pertemananmu akan semakin kecil dan mengerucut. Satu per satu temanmu pergi lantaran sibuk dengan hidupnya masing-masing. Dalam menyeleksi teman memang harus jeli, tapi bukan berarti kita melupakan mereka yang dirasa kurang dekat. Apa lagi sekarang kamu hidup di era media sosial, setidaknya jagalah hubungan baik dengan teman-temanmu meski tak berkomunikasi secara intens.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top